Hal ini tak lepas dari pengendalian dan upaya mencapai herd immunity, melalui gencarnya vaksinasi. Bahkan, Jawa Barat sudah melampaui vaksinasi warganya di angka 500.000 vaksin per hari. Walaupun untuk provinsi dengan penduduk sekitar 50 juta jiwa ini, ketersediaan vaksin masih dirasa 'kurang adil', karena hanya di angka 13 juta dosis vaksin dari Pusat.
Perekonomian di level mikro pun belum sepenuhnya pulih, karena PPKM masih ada. Meski setidaknya, untuk daerah PPKM level 2, sudah bisa membuka Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas untuk anak-anak sekolah....yeeyyy!!!! Luar biasa, karena hal ini seolah jadi penawar para orang tua yang sudah berkutat dengan PJJ yang bikin emosi.
Lantas, bagaimana dengan bidang politik? Selagi rakyat bergelut dengan berbagai persoalan lainnya, sepak terjang para WAKIL RAKYAT pun cukup dinamis rupanya. Berbagai lobi entah itu terkait Covid atau pun tidak, sudah mereka sumbangkan. Salah satunya, usulan ruang perawatan bintang lima bagi anggota wakil rakyat yang terkena Covid. Ditolak??? Ya sungguh terlalu jika mereka masih memaksakan ini, kalau warga saja banyak yang harus bikin tenda di rumah sakit, waktu terjadi lonjakan Covid.
Tapi, ada pula lho wakil rakyat yang jeli melihat situasi. Mereka visioner sejati yang tahu kapan harus menonjolkan diri. Masa bodoh dengan persepsi dan kritik yang datang silih berganti. Eksistensi.....itu yang terpenting. Apa salahnya tho, mulai tebar pesona,dari pada nanti keburu ga dikenali. Ada yang memasang potret diri dengan kata-kata mutiara menggugah hati, ada pula yang meramaikan poster twibbone dengan background atlet yang meraih medali. Sing penting EKSIS!!!
Semuanya tak ada yang salah, toh itu kan dana mereka.....Hanya, mereka belajar empati ga sich? Mbok ya, dari pada hanya untuk baligo atau poster yang nantinya bakalan kehujanan dan kepanasan, apa ga lebih baik kalau dananya buat sumbangan Covid aja? masih banyak lho, rakyat yang sampai sekarang belum dapat lagi kerja karena di-PHK, atau yang jadi yatim piatu akibat kehilangan orang tua karena meninggal Covid. Tapi, itu kembali lagi ke mereka yaa....
Oiya, hiruk pikuk menuju 2024 pun, udah mulai ramai dibahas kalangan elite yaa....Ada yang terang-terangan siap maju dan gabung di partai, ada yang sudah saling sindir dan berupaya menjatuhkan bakal calon lawannya, bahkan ada pula bakal calon yang ternyata sudah punya relawan lho...Amazing!!! saking amazing, ada yang sudah keki dibuatnya dan menganggap kalau yang tidak satu visi itu bukan banteng melainkan celeng, bebek dan beo...
Se...se...se...iki ngomongin politik opo peternakan yaa? Temenan lho...iki perkara politik. Lha wong, sing ngomong kue jajaran elite koq!!! Ternyata, setelah babak cebong dan kampret berlalu, kirain ga bakalan ada lagi analogi-analogi yang seperti ini. Tapi sepertinya, para elite harus berguru pada ahli Shio China, supaya pemilihan hewan-hewan yang digunakan bisa mandan gagah sedikit, misalnya naga, macan....eh.
