Thursday, 31 July 2025

pengalaman ku bermain game di warnet

pengalaman ku bermain warnet sangat menyenangkan terutama bermain game cdid dan grow a Garden, apalagi bermainnya bersama teman, harganya juga bisa dibilang cukup murah dengan harga 3 ribu sampai 4 ribu rupiah, cara memainkan nya juga sangat gampang, tinggal menekan tombol yg ada di pc nya lalu tunggu beberapa menit lalu kalau untuk gamenya untuk jalan w a + d untuk maju tekan huruf w untuk s mundur tekan s untuk belok kiri tekan dan untuk belok kanan tekan d Rizky budiman 7J di emut di kunyah asalamualaikum semuanya

Tuesday, 1 October 2024

Serba-serbi Jurnalistik


Menggeluti bisnis konsultan media, sudah saya jalani selama 11 tahun. Kebetulan, saya ditempatkan di bagian reporter yang bertugas mencari berita dari berbagai narasumber, baik untuk kebutuhan penulisan media internal suatu instansi atau buku. Tentu ada suka dukanya, terutama saat penggalian bahan berita yang mengharuskan saya melakukan wawancara.

Bicara wawancara, sudah banyak sekali tokoh yang saya wawancara. Walaupun bukan wartawan media harian, namun media internal yang kami kelola memiliki jaringan narasumber yang beragam. Mulai dari kalangan dosen, direksi sejumlah perusahaan, Bupati, Gubernur bahkan pernah hingga sekelas menteri. Gugup? Tentu… Tapi, ini tuntutan tugas yang mau tak mau harus dilakukan.

Lantas, apakah saya selalu berhasil tatkala melakukan wawancara bahan berita dengan narasumber saya? Jawabannya, TIDAK!!

Bahkan, saya pernah atau sering merasa frustasi, saat menghadapi narasumber saya. Ingat, karakter orang itu, berbeda-beda. Apalagi jika kita belum kenal sebelumnya. Orang yang kita kenal sekalipun, adakalanya menunjukkan perangai berbeda, saat diajak bicara. Siapa tahu, ia sedang ada masalah, sedang tidak mood atau bahkan sakit.

Saya pernah mewawancara dan berusaha membangun pembicaraan untuk mencairkan suasana. Tapi apa daya, si bapak hanya menjawab seperlunya. Ibaratnya, saya bertanya satu hasta, ia hanya menjawab sejengkal. KEZEL dan GEMESSS! “Apa yang bakal saya tulis nanti, kalau jawabannya tidak memadai?”

Tapi, itulah seninya berkomunikasi dengan orang lain dalam wawancara. Untuk itu, ada baiknya, kata memperhatikan beberapa hal, sebelum melakukan wawancara DENGAN SIAPA PUN.

Pertama, usahakan sebelum mewawancara, kita mengetahui sedikit karakter orang yang akan kita temui. Untuk wawancara dengan beberapa tokoh saya harus melakukan penjadwalan terlebih dulu. Hal ini sangat menguntungkan bagi reporter, karena ada persiapan yang dapat kita lakukan, termasuk mencari tahu sosok seperti apa yang akan menjadi narasumber kita. Zaman sekarang informasi mudah didapat, misalnya dengan Googling. Jika ada orang yang mengenal narasumber lebih dekat secara personal, kita bisa bertanya pada orang tersebut. Banyak sekali caranya. Minimal, kita tahu latar belakang pendidikannya, pekerjaannya, bahkan mungkin sedikit karakter dan personality-nya.  

Kedua, berikan kesan yang positif ketika bertemu dengan narasumber yang akan diwawancarai. Jangan pernah membuat narasumber menunggu di lokasi wawancara. Lebih baik jika kita yang menunggu narasumber siap diwawancara. Beberapa narasumber yang saya temui, penganut ON TIME. Terlebih bagi sejumlah dosen yang pernah sekolah S3 di Jepang. Selain itu, jagalah penampilan kita ketika menemui narasumber. Tidak perlu wah, minimal penampilan yang sopan, rapi dan wangi. Sebab, kondisi kita terkadang mempengaruhi mood selama wawancara berlangsung. Satu lagi, kita harus bersikap ramah yang sewajarnya pada narasumber dan perkenalkan secara singkat maksud dan tujuan wawancara. Jika bisa batasi waktu wawancara agar tidak mengganggu waktu narasumber.

Ketiga, selama proses wawancara berlangsung, berikan pertanyaan yang runut, tidak berbelit-belit dan TO THE POINT. Beberapa narasumber ada yang suka minta Term Of References (TOR) atau draft pertanyaan atau kisi-kisi pertanyaan, sebelum wawancara berlangsung. Selain itu, saat narasumber memberikan jawabannya, usahakan jangan menyela atau memotong penjelasannya. Ini tidak sopan!!!

Keempat, jika narasumber sudah melenceng terlalu jauh dari topik yang ditanyakan dalam wawancara, sebaiknya, segera kembalikan pada topik yang akan ditanyakan. Jika wawancara di awal ditargetkan sekitar setengah jam, usahakan jangan melebihi wkatu yang sudah ditetapkan. Kecuali, jika narasumber sendiri yang menginginkan waktu diperpanjang, karena ia belum selesai menjelaskan jawabannya.Selalu siap sedia dengan alat rekam, meski kamu bawa alat tulis. Sebab, bisa jadi ada informasi yang tidak tercatat, namun masih dapat dicek di rekaman wawancara. Setelah wawancara berlangsung, biasakan untuk mengambil foto narasumber, untuk dokumentasi dan bank data. Tentunya, pengambilan foto harus seijin narasumber. 

Kelima, wawancara selesai, bukan berarti komunikasi dengan narasumber juga selesai. Sebab, di lain waktu jika kita membutuhkan narasumber tersebut kembali, ia akan mengingat kita dan tidak sulit ditemui. bahkan, ada beberapa narasumber yang ingin melihat bahkan mengedit naskah yang kita tulis dari hasil wawancara, sebelum dipublikasikan. Sebab, bisa jadi dalam proses wawancara, narasumber memberikan jawaban yang seharusnya OFF THE RECORD. Jika sudah fix, naskah pun dapat kami berikan ke editor atau redaktur untuk diproses selanjutnya.  

Masih banyak tips dan trik yang dapat dipraktikkan dalam menghadapi narasumber ketika proses wawancara. Semua ini, ada yang berdasarkan teori, namun sebagian besar didapat dari pengalaman menghadapi narasumber wawancara. Semakin sering melakukan kegiatan wawancara, akan semakin banyak hal baru yang didapat dari berbagai macam karakter narasumber yang dihadapi.  

Monday, 11 October 2021

Kisah Politik : Eksistensi Diri Melalui Nama-nama Hewan

Ribut-ribut urusan politik di Indonesia sudah mulai terasa, meski Pemilu masih di tahun 2024. Pandemi Covid-19 saja belum usai penanganannya, tapi masalah kekuasaan lain lagi ceritanya. Para elite tampaknya sudah tak sabar untuk bertarung memperebutkan jabatan. 
Rakyat Indonesia saat ini cenderung abai dengan masalah politik, toh urusan perut saja saat ini sudah semakin sulit. Imbas Covid memang paten. Mulai dari kasus positif yang sempat naik turun sejak awal pandemi dan banyaknya kematian, turunnya perekonomian hingga terancam masuk ke jurang resesi, belum lagi masalah kebiasaan baru yang belum dapat diterapkan sepenuhnya. Urusan rakyat sudah cukup banyak. Selain bertahan hidup, tetap mendapatkan pekerjaan, serta upaya agar jangan sampai tertular Covid, masih jadi prioritas utama mereka. Tenang saja, kalau sudah dekat-dekat, biasanya rakyat akan merapat apalagi kalo amplopnya cukup padat atau minimal baju partai mah dapet. (Whattt????) 
Kondisi pemerintah, tak kalah sibuk. Bahkan mungkin lebih sibuk.....penyaluran bansos yang dalam perjalanannya ternyata dikebiri, pengendalian mobilitas warga dengan beragam istilah pembatasan sosial (PSBB, PPKM, PPKM MIkro, PPKM berlevel-level). Upaya pemerintah meng-gas-rem antara aspek kesehatan dan sisi perekonomian, memang patut diapresiasi. Meski dari jumlah utang luar negeri hingga hampir di angka 6 ribu trilyun, negeri ini akhirnya bisa terbebas dari ancaman resesi. Ekonomi mulai menggeliat lagi.

Hal ini tak lepas dari pengendalian dan upaya mencapai herd immunity, melalui gencarnya vaksinasi. Bahkan, Jawa Barat sudah melampaui vaksinasi warganya di angka 500.000 vaksin per hari. Walaupun untuk provinsi dengan penduduk sekitar 50 juta jiwa ini, ketersediaan vaksin masih dirasa 'kurang adil', karena hanya di angka 13 juta dosis vaksin dari Pusat. 

Perekonomian di level mikro pun belum sepenuhnya pulih, karena PPKM masih ada. Meski setidaknya, untuk daerah PPKM level 2, sudah bisa membuka Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas untuk anak-anak sekolah....yeeyyy!!!! Luar biasa, karena hal ini seolah jadi penawar para orang tua yang sudah berkutat dengan PJJ yang bikin emosi. 

Lantas, bagaimana dengan bidang politik? Selagi rakyat bergelut dengan berbagai persoalan lainnya, sepak terjang para WAKIL RAKYAT pun cukup dinamis rupanya. Berbagai lobi entah itu terkait Covid atau pun tidak, sudah mereka sumbangkan. Salah satunya, usulan ruang perawatan bintang lima bagi anggota wakil rakyat yang terkena Covid. Ditolak??? Ya sungguh terlalu jika mereka masih memaksakan ini, kalau warga saja banyak yang harus bikin tenda di rumah sakit, waktu terjadi lonjakan Covid. 

Tapi, ada pula lho wakil rakyat yang jeli melihat situasi. Mereka visioner sejati yang tahu kapan harus menonjolkan diri. Masa bodoh dengan persepsi dan kritik yang datang silih berganti. Eksistensi.....itu yang terpenting. Apa salahnya tho, mulai tebar pesona,dari pada nanti keburu ga dikenali. Ada yang memasang potret diri dengan kata-kata mutiara menggugah hati, ada pula yang meramaikan poster twibbone dengan background atlet yang meraih medali. Sing penting EKSIS!!! 

Semuanya tak ada yang salah, toh itu kan dana mereka.....Hanya, mereka belajar empati ga sich? Mbok ya, dari pada hanya untuk baligo atau poster yang nantinya bakalan kehujanan dan kepanasan, apa ga lebih baik kalau dananya buat sumbangan Covid aja? masih banyak lho, rakyat yang sampai sekarang belum dapat lagi kerja karena di-PHK, atau yang jadi yatim piatu akibat kehilangan orang tua karena meninggal Covid. Tapi, itu kembali lagi ke mereka yaa.... 

Oiya, hiruk pikuk menuju 2024 pun, udah mulai ramai dibahas kalangan elite yaa....Ada yang terang-terangan siap maju dan gabung di partai, ada yang sudah saling sindir dan berupaya menjatuhkan bakal calon lawannya, bahkan ada pula bakal calon yang ternyata sudah punya relawan lho...Amazing!!! saking amazing, ada yang sudah keki dibuatnya dan menganggap kalau yang tidak satu visi itu bukan banteng melainkan celeng, bebek dan beo... 

Se...se...se...iki ngomongin politik opo peternakan yaa? Temenan lho...iki perkara politik. Lha wong, sing ngomong kue jajaran elite koq!!! Ternyata, setelah babak cebong dan kampret berlalu, kirain ga bakalan ada lagi analogi-analogi yang seperti ini. Tapi sepertinya, para elite harus berguru pada ahli Shio China, supaya pemilihan hewan-hewan yang digunakan bisa mandan gagah sedikit, misalnya naga, macan....eh.

Wednesday, 22 September 2021

Ilusi di Masa Pandemi

Akhir-akhir ini, saya sering menemukan sejumlah orang yang membawa kertas dan pulpen di beberapa tempat yang tidak tepat. Saat naik angkot, terlihat beberapa kali supir angkot seperti sedang mengurutkan deretan angka. Di kesempatan lain, saya lihat penarik becak melakukan hal yang sama. Bahkan, saya pernah melihat tetangga yang (maaf) 'pengangguran', berdiskusi perihal urutan angka-angka yang terkesan acak.
Menghitung pengeluaran?! Bukan!! Nyatanya mereka sedang 'merumuskan' angka-angka yang diprediksi akan muncul dan sesuai dengan tebak-tebakan mereka. Ujung-ujungnya, tentu jika angkanya sama, akan mendapat uang. Ya, mereka sedang bertaruh dengan modal uang yang tak seberapa, demi menang lotere. Akhir Juni 2021 halaman depan Gedung Sate, Kota Bandung dikotori dengan ratusan kupon judi toto gelap alias togel berwarna-warni yang berserakan di Jalan Diponegoro yang kemudian viral, setelah diunggah akun @bandungterkini. Pada unggahannya, termuat kertas-kertas ini berisi pengumuman yang menyebutkan agar seluruh agen di Jabar untuk melakukan setoran pada sebuah rekening. Terdapat pula nama pelaksana judi togel tersebut, yakni Management Cobra beserta dua nomor yang dapat dihubungi. Bahkan, pengumuman itu disertai ajakan untuk segera mendaftar dan mengklaim jika aktivitas tersebut aman dan resmi dengan iming-iming "Omzet Jabar sehari 8 - 9 miliar". Tentu kondisi ini sangat miris, terlebih saat ini Indonesia dan sejumlah negara masih terdampak pandemi. Namun, situasi sulit ini ternyata malah menyuburkan bisnis-bisnis ilegal yang ujung-ujungnya hanya akan menguntungkan segelintir orang, tapi menyengsarakan rakyat. Ironisnya, masih banyak warga yang terbuai dengan imimng-iming palsu dari perjudian ini, di saat mereka sedang berkutat dengan masalah ekonomi sepanjang pandemi ini. Masyarakat memang sedang sulit saat ini. Terlebih, krisis akibat pandemi yang berlarut-larut dan segala aturan pemerintah yang terkesan mengekang, membuat mereka mencari pengharapan lain. Apalagi jika bukan cara-cara instan menambah pundi-pundi keuangan. Togel salah satunya. Togel sendiri, termasuk jenis perjudian yang paling mudah diikuti dan paling sulit diberantas. Tak butuh lokalisasi untuk jenis perjudian ini, terlebih saat ini semua sudah serba online. Judi pun online, dapat diakses dari mana pun meski penyelenggaranya berada di luar negeri. Judi semacam ini, ibarat jamur di musim hujan yang selalu muncul lagi dan lagi meski dibabat habis. Praktik perjudian sebenarnya sudah dilarang keras pemerintah Indonesia melalui Undang-Undang No. 7 Tahun 1974 tentang penertiban perjudian. Semua praktik perjudian di Indonesia dihapus, karena bertentangan dengan agama dan moral Pancasila. Tapi, pelarangan ini tidak membuat perjudian serta merta berhenti. Perjudian ilegal merebak di mana-mana. Pasalnya, sebelum aturan ini dibuat, Indonesia sempat melegalkan perjudian yang dananya diperuntukkan bagi dana sosial. Sebutlah, lotere buntut hingga Nalo (National Lotre) yang dilegalkan Gubernur ibukota saat itu, Ali Sadikin. Sasaran perjudian tak hanya di ibukota. Bahkan, masyarakat di pelosok seperti para petani, buruh dan lain-lain yang kecanduan bermain judi. Setelah pelarangan pun, praktik perjudian masih marak dengan berbagai kedok. Mulai dari Pekan Olahraga dan Ketangkasan (Porkas) hingga Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Meski dikeluarkan pemerintah, intinya masih sama, bermain tebak-tebakan dari kegiatan olahraga dengan iming-iming undian berhadiah. Maraknya perjudian di masa lalu dan masa pandemi saat ini, memiliki benang merah yang sama, yakni himpitan ekonomi. Kondisi ekonomi di masa lalu yang akhirnya membuat pemerintah melegalkan perjudian, untuk membantu proses pembangunan ibukota salah satunya. Situasi ekonomi saat ini pun tak beda jauh. dampak pandemi yang menggerogoti ekonomi, PHK besar-besaran, banyak usaha yang gulung tikar, membuat masyarakat kebingungan dalam mencari sumber penghasilan. Pada saat inilah, bisnis-bisnis ilegal seperti perjudian, tampak menarik minat. Bermodal seadanya, banyak yang berharap menang undian berhadiah dalam jumlah fantastis. Sialnya, satu kali ikutan dan menang, akan membuat kecanduan. Biasanya, setelah satu kali tidak akan mau berhenti sebelum kembali menang. Hingga tanpa disadari, sudah tak ada lagi uang tersisa. Sementara kemenangan tidak pernah didapat.

Thursday, 16 September 2021

Euforia PTMT Emak-emak

Rencana pemerintah kembali membuka sekolah-sekolah dan kampus (mungkin), bagi pelajar di masa pandemi Covid-19 ini sudah bukan wacana lagi. Sejumlah daerah kabupaten/kota yang berstatus dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan Masyarakat (PPKM) di level 2 bahkan sudah mulai menjalankannya. Iri....??? Tentulah buat ibu-ibu yang setiap pagi harus berkutat dengan tugas dan drama belajar anak-anak di rumah,ingin sekali anak-anak disegerakan berangkat ke sekolah kembali.
Pembukaan sekolah untuk kembali memulai Pertemuan Tatap Muka (PTM) meski masih terbatas, sudah dirasa mendesak menurut Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim. Bayangkan, setahun lebih, para siswa berkutat dalam pembelajaran secara daring (dalam jaringan) dengan berbagai masalahnya. Mulai dari kondisi dan situasi pembelajaran di rumah yang kurnag kondusif, ketersediaan jaringan internet yang memadai, hingga dampak psikologis anak dan orang tua yang sudah banyak menunjukkan tingkat stres yang tinggi. Salah satu akibat fatal dari pembelajaran daring yang dilakukan terus-menerus saat ini adalah learning loss yang akan dialami para peserta didik. Pasalnya, selama pembelajaran daring, siswa banyak terdistorsi dengan berbagai macam gangguan belajar yang membuat kompetensinya akan mengalami penurunan, jika dibandingkan dengan belajar di sekolah. Tentu berbeda kala anak belajar sambil mendengarkan guru di ruang kelas, dengan ketika diajari orang tua yang tidak memiliki kompetensi mengajar, serta ada banyak gangguan lainnya. "Peserta didik harus diselamatkan dari pembelajaran yang kurang efektif, harus diselamatkan psikologinya, melalui pembelajaran tatap muka terbatas dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan kesehatan seluruh warga sekolah," ujat Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Jumeri S.T.P., M.Si dalam Webinar 'Kebijakan PTM Terbatas Menyambut Tahun Ajaran Baru 2021/2022, 1 Juli 2021 silam. Alhasil, Juli 2021 pemerintah pusat melalui Kemendikbud mengeluarkan edaran untuk melaksanakan PTMT bagi sejumlah daerah yang sudah berstatus zona hijau dan kuning Covid-19. Implementasinya pun tidak gampang, karena banyak sekali persyaratan yang perlu dipenuhi pihak sekolah sebelum dapat menggelar PTMT. Tercatat, ada sejumlah persyaratan yang wajib diperhatikan siswa, guru, dan orang tua ketika akan menerapkan PTMT 2021 ini. 1. Kondisi kelas dalam satuan pendidikan SMA. SMK, MA, MAK, SMP, MTs, SD, Mi dan program kesetaraan lain, harus memperhatikan jaga jarak minimal 1,5 meter dengan maksimal jumlah peserta didik sebanyak 18 orang per kelas atau sekitar 50%. 2. Untuk SDLB, MILB, SMPLB, SMALB dan MALB, juga harus memperhatikan jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal hanya lima peserta didik per kelas. 3. Untuk PAUD, harus memperhatikan jaga jarak minimal 1,5 meter dan maksimal lima peserta didik per kelas, sekitar maksimal 33%. 4. Jumlah hari dan jam pembelajaran pada PTMT serta pembagian rombongan belajar (shift) yang dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dengan tetap mengutamakan kesehatan dan keselamatan warga satuan pendidikan. 5. Guru dan murid wajib menggunakan masker kain tiga lapis atau masker sekali pakai/ masker bedah yang menutupi hidung dan mulut sampai dagu, cuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir atau cairan pembersih tangan (hand sanitizer), menjaga jarak minimal 1,5 meter dan tidak melakukan kontak fisik seperti bersalaman dan cium tangan, serta menerapkan etika ketika batuk/bersin. 6. Baik guru dan murid, harus dalam kondisi sehat saat menjalankan PTMT. Jika mengidap penyakit penyerta (komorbid0, juga harus dalam kondisi terkontrol. 7.Kegiatan yang berpotensi menjadi kerumunan, tidak diperbolehkan terjadi di satuan pendidikan. Misalnya, jajan di kantin, kegiatan olahraga dan ekstrakurikuler, orang tua menunggu peserta didik, istirahat di luar kelas, pertemuan ornag tua - peserta didik, pengenalan lingkungan satuan pendidikan dan sebagainya. Jadi, dianjurkan peserta didik membawa bekal dari rumah seperti air minum. 8.Peserta didik harus membawa semua perlengkapan sekolah masing-masing serta alat penunjang kebersihan, seperti menggunakan masker berlapis, faceshield, tissu basah, hand sanitiser, serta tidak boleh saling meminjam perlengkapan sekolah dengan yang lainnya. Meski PTMT ini sudah mulai berjalan, namun karena kapasitasnya hanya 25-50%, maka pihak sekolah masih harus mengakomodasi siswa dan siswi yang masih belajar secara daring. Atau bagi ornag tua yang masih keberatan anak-anaknya mengikuti PTMT dengan alasan keselamatan dan kesehatan. Jadi, agaknya pada emak harus tetap menahan diri, meski PTMT sudah berjalan. Euforia karena sekolah kembali dibuka, tetap harus dipandang dengan sikap kehati-hatian, agar kasus positif Covid-19 tidak kembali meningkat. banyak orang tua siswa yang sangat antusias dengan mulai berburu seragam baru dan perlengkapan sekolah lainnya, menyambut PTMT 2021. Maklum, hampir dua tahun seragam sekolah anak-anak sudah banyak yang tidak muat. Namun, agaknya PTMT untuk awal pembelajaran saat ini akan diutamakan bagi siswa kelas 4 - 6. menurut informasi Dinas Pendidikan, uji coba PTMT akan dilanjutkan di bulan berikutnya bagi siswa kelas 1 - 3 jika dalam satu bulan pertama (siswa kelas 4 -6) tidak ada kendala yang berarti dan tentunya yang utama tidak ada penambahan kasus positif Covid-19. Semoga......