Menggeluti bisnis konsultan media, sudah saya jalani selama 11 tahun. Kebetulan, saya ditempatkan di bagian reporter yang bertugas mencari berita dari berbagai narasumber, baik untuk kebutuhan penulisan media internal suatu instansi atau buku. Tentu ada suka dukanya, terutama saat penggalian bahan berita yang mengharuskan saya melakukan wawancara.
Bicara wawancara, sudah banyak sekali tokoh yang saya wawancara. Walaupun bukan wartawan media harian, namun media internal yang kami kelola memiliki jaringan narasumber yang beragam. Mulai dari kalangan dosen, direksi sejumlah perusahaan, Bupati, Gubernur bahkan pernah hingga sekelas menteri. Gugup? Tentu… Tapi, ini tuntutan tugas yang mau tak mau harus dilakukan.
Lantas, apakah saya selalu berhasil tatkala melakukan wawancara bahan berita dengan narasumber saya? Jawabannya, TIDAK!!
Bahkan, saya pernah atau sering merasa frustasi, saat menghadapi narasumber saya. Ingat, karakter orang itu, berbeda-beda. Apalagi jika kita belum kenal sebelumnya. Orang yang kita kenal sekalipun, adakalanya menunjukkan perangai berbeda, saat diajak bicara. Siapa tahu, ia sedang ada masalah, sedang tidak mood atau bahkan sakit.
Saya pernah mewawancara dan berusaha membangun pembicaraan untuk mencairkan suasana. Tapi apa daya, si bapak hanya menjawab seperlunya. Ibaratnya, saya bertanya satu hasta, ia hanya menjawab sejengkal. KEZEL dan GEMESSS! “Apa yang bakal saya tulis nanti, kalau jawabannya tidak memadai?”
Tapi, itulah seninya berkomunikasi dengan orang lain dalam wawancara. Untuk itu, ada baiknya, kata memperhatikan beberapa hal, sebelum melakukan wawancara DENGAN SIAPA PUN.
Pertama, usahakan sebelum mewawancara, kita mengetahui sedikit karakter orang yang akan kita temui. Untuk wawancara dengan beberapa tokoh saya harus melakukan penjadwalan terlebih dulu. Hal ini sangat menguntungkan bagi reporter, karena ada persiapan yang dapat kita lakukan, termasuk mencari tahu sosok seperti apa yang akan menjadi narasumber kita. Zaman sekarang informasi mudah didapat, misalnya dengan Googling. Jika ada orang yang mengenal narasumber lebih dekat secara personal, kita bisa bertanya pada orang tersebut. Banyak sekali caranya. Minimal, kita tahu latar belakang pendidikannya, pekerjaannya, bahkan mungkin sedikit karakter dan personality-nya.
Kedua, berikan kesan yang positif ketika bertemu dengan
narasumber yang akan diwawancarai. Jangan pernah membuat narasumber menunggu di lokasi wawancara. Lebih baik jika kita yang menunggu narasumber siap diwawancara. Beberapa narasumber yang saya temui, penganut ON TIME. Terlebih bagi sejumlah dosen yang pernah sekolah S3 di Jepang. Selain itu, jagalah penampilan kita ketika menemui narasumber. Tidak perlu wah, minimal penampilan yang sopan, rapi dan wangi. Sebab, kondisi kita terkadang mempengaruhi mood selama wawancara berlangsung. Satu lagi, kita harus bersikap ramah yang sewajarnya pada narasumber dan perkenalkan secara singkat maksud dan tujuan wawancara. Jika bisa batasi waktu wawancara agar tidak mengganggu waktu narasumber.
Ketiga, selama proses wawancara berlangsung, berikan pertanyaan yang runut, tidak berbelit-belit dan TO THE POINT. Beberapa narasumber ada yang suka minta Term Of References (TOR) atau draft pertanyaan atau kisi-kisi pertanyaan, sebelum wawancara berlangsung. Selain itu, saat narasumber memberikan jawabannya, usahakan jangan menyela atau memotong penjelasannya. Ini tidak sopan!!!
Keempat, jika narasumber sudah melenceng terlalu jauh dari topik yang ditanyakan dalam wawancara, sebaiknya, segera kembalikan pada topik yang akan ditanyakan. Jika wawancara di awal ditargetkan sekitar setengah jam, usahakan jangan melebihi wkatu yang sudah ditetapkan. Kecuali, jika narasumber sendiri yang menginginkan waktu diperpanjang, karena ia belum selesai menjelaskan jawabannya.Selalu siap sedia dengan alat rekam, meski kamu bawa alat tulis. Sebab, bisa jadi ada informasi yang tidak tercatat, namun masih dapat dicek di rekaman wawancara. Setelah wawancara berlangsung, biasakan untuk mengambil foto narasumber, untuk dokumentasi dan bank data. Tentunya, pengambilan foto harus seijin narasumber.
Kelima, wawancara selesai, bukan berarti komunikasi dengan narasumber juga selesai. Sebab, di lain waktu jika kita membutuhkan narasumber tersebut kembali, ia akan mengingat kita dan tidak sulit ditemui. bahkan, ada beberapa narasumber yang ingin melihat bahkan mengedit naskah yang kita tulis dari hasil wawancara, sebelum dipublikasikan. Sebab, bisa jadi dalam proses wawancara, narasumber memberikan jawaban yang seharusnya OFF THE RECORD. Jika sudah fix, naskah pun dapat kami berikan ke editor atau redaktur untuk diproses selanjutnya.
Masih banyak tips dan trik yang dapat dipraktikkan dalam menghadapi narasumber ketika proses wawancara. Semua ini, ada yang berdasarkan teori, namun sebagian besar didapat dari pengalaman menghadapi narasumber wawancara. Semakin sering melakukan kegiatan wawancara, akan semakin banyak hal baru yang didapat dari berbagai macam karakter narasumber yang dihadapi.
No comments:
Post a Comment