Iring-iringan yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara, paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan bentuk segi lima atau segi empat.
Mungkin seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500 tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah Gn. Gede yang berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.