Thursday, 11 March 2010

Menerawang Gn. Padang

Iring-iringan yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara, paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan bentuk segi lima atau segi empat.

Mungkin seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500 tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah Gn. Gede yang berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.


Situs ini pertama kali ditemukan seorang ilmuwan Belanda bernama Kroem tahun 1914. Namun karena tidak dikembangkan, situs ini kembali tertutup belukar, hingga akhirnya ditemukan masyarakat sekitar tahun 60-an. Tahun 1972, pemerintah memulai membuka situs ini untuk umum dan tahun 80-an situs ini resmi menjadi peninggalan purbakala yang dilindungi Undang-undang. Punden berundak (semacam piramid pemujaan) di situs megalith Gn. Padang memang berukuran besar dengan luas mencapai 3,5 hektar. Letaknya yang berada di atas bukit sangat cocok untuk membangun sebuah punden, yang bertingkat-tingkat. Bersama salah satu petugas situs megalith Gn. Padang dari Balai Pelestari peninggalan Purbakala (BP3) Serang, Nanang, kita akan menyusuri jejak langkah manusia purba di Gn. Padang.

Punden berundak di Gn. Padang mempunyai lima tingkat, di mana hampir seluruh permukaannya terhampar batu-batu andesit dalam ukuran yang hampir sama. Di tingkat pertama, terdapat beberapa batu yang dapat mengeluarkan bunyi-bunti layaknya sebuah alat musik gamelan. Tak hanya itu, di tengah-tengah terdapat semacam panggung pertunjukkan, terlihat dengan adanya batu-batu yang lebih tinggi dibanding keadaan sekitarnya. Sementara di sebelah kiri, berdekatan dengan tempat alat musik, terdapat sebuah tempat berbentuk persegi panjang yang dipagari oleh batu-batu. Diperkirakan, ini merupakan tempat untuk menyaksikan pertunjukkan di panggung yang berada di tengah.

Untuk menuju ke tingkat dua, anak tangga dari tingkat satu cukup terjal. Di tingkat dua yang sedikit lebih sempit, hamparan batu masih meliputi sebagian besar tanah, meski tidak sebanyak di tingkat satu. Di tingkat ini pun kita dapat melihat yang disebut batu korsi, yakni beberapa buah batu yang menyerupai singgasana yang diperkirakan sebagai tempat duduk raja dan menerima bawahan-bawahannya. Tak hanya itu, di tingkat dua terdapat batu lumbung yang bentuknya berbeda dari batu-batu di sekitarnya. Bentuknya bulat seperti tempat menampung hasil-hasil pertanian. Karena itu, batu ini disebut batu lumbung.

Selanjutnya, kita sampai di tingkat tiga yang berada sekitar setengah meter tingginya dari tingkat sebelumnya. Jumlah hamparan batu di tingkat ini semakin berkurang. Satu hal yang istimewa dari tingkat ini, terdapat sebuah batu yang berukuran cukup besar berbeda dengan batu-batu lain, yang disebut batu macan. Berdasarkan keterangan Nanang, batu ini disebut batu macan karena di permukaan terdapat jejak seperti bekas telapak kaki harimau. Meski ini situs prasejarah, banyak orang mempercayai, konon batu macan ini merupakan peninggalan Prabu Siliwangi, pemimpin kerajaan Padjadjaran yang pernah menyambangi kawasan ini di masa ia berkuasa di tanah Pasundan setelah manusia purba lenyap dari tempat ini.

Menginjak ke tingkat empat yang tingginya hanya sekitar setengah meter dari tingkat sebelumnya, hamparan batu andesit berganti dengan tanah merah. Menurut Nanang, saat ditemukan, di tingkat ini memang tidak ada hamparan batu besar. Untuk menutupi permukaan tanah di tingkat ini dan beberapa tingkat lain yang tidak ada batunya, pengelola menanaminya dengan rumput Jepang. Bahkan, menurut Nanang, pengunjung dapat berkemah di tingkat empat, karena cukp luas dan tidak berbatu. Di tingkat empat pun terdapat batu penasiban, yakni batu berbentuk tabung yang diletakkan dalam sebuah lingkaran batu di pojok kiri. Menurut mitos setempat, barang siapa dapat mengangkat batu penasiban, maka akan bernasib baik. Wallahuallam......

Akhirnya perjalanan kita berakhir di tingkat akhir yakni tingkat lima. Di puncak punden berundak ini terdapat sebuah altar batu yang terletak di tengah-tengah tingkat lima. Sementara beberapa bagian tingkat ini dipenuhi hamparan batu. Kondisi tingkat lima memang sedikit kotor oleh rumput-rumput liar yang tumbuh di sekitar batu. Rumput Jepang pun hanya tumbuh sedikit di tingkat ini. Tak hanya rumput liar, di tingkat ini pun banyak berserakan puntung rokok, sisa makanan, dan bekas lelehan lilin. Banyaknya pengunjung yang memanfaatkan tingkat lima punden berundak Gn. Padang untuk melakukan ritual penasiban yang berbau mistik dan klenik disinyalir menjadi penyebab banyaknya sampah di tempat itu.

Itulah sekelumit kisah yang dapat saya ceritakan tentang situs megalith Gn. Padang.

No comments: