| Salah satu batu yang dapat mengeluarkan bunyi seperti gamelan |
![]() |
| Areal tengah punden di tingkat pertama yang menyerupai ruangan karena dipagari bebatuan di sekelilingnya |
Iring-iringan
yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak
tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara,
paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit
menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah
suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai
altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak
yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan
bentuk segi lima atau segi empat.
Mungkin
seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500
tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran
Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang
menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah penguasa Gn. Gede yang
berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di
Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs
purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.
Punden
berundak di Gn. Padang mempunyai lima tingkat, di mana hampir seluruh
permukaannya terhampar batu-batu andesit dalam ukuran yang hampir sama. Di
tingkat pertama, terdapat beberapa batu yang dapat mengeluarkan bunyi-bunti
layaknya sebuah alat musik gamelan. Tak hanya itu, di tengah-tengah terdapat
semacam panggung pertunjukkan, terlihat dengan adanya batu-batu yang lebih
tinggi dibanding keadaan sekitarnya. Sementara di sebelah kiri, berdekatan
dengan tempat alat musik, terdapat sebuah tempat berbentuk persegi panjang yang
dipagari oleh batu-batu. Diperkirakan, ini merupakan tempat untuk menyaksikan
pertunjukkan di panggung yang berada di tengah.
Untuk
menuju ke tingkat dua, anak tangga dari tingkat satu cukup terjal. Di tingkat
dua yang sedikit lebih sempit, hamparan batu masih meliputi sebagian besar
tanah, meski tidak sebanyak di tingkat satu. Di tingkat ini pun kita dapat
melihat yang disebut batu korsi,
yakni beberapa buah batu yang menyerupai singgasana yang diperkirakan sebagai
tempat duduk raja dan menerima bawahan-bawahannya. Tak hanya itu, di tingkat
dua terdapat batu lumbung yang
bentuknya berbeda dari batu-batu di sekitarnya. Bentuknya bulat seperti tempat
menampung hasil-hasil pertanian. Karena itu, batu ini disebut batu lumbung.
Selanjutnya,
kita sampai di tingkat tiga yang berada sekitar setengah meter tingginya dari
tingkat sebelumnya. Jumlah hamparan batu di tingkat ini semakin berkurang. Satu
hal yang istimewa dari tingkat ini, terdapat sebuah batu yang berukuran cukup
besar berbeda dengan batu-batu lain, yang disebut batu macan. Berdasarkan keterangan Nanang, batu ini disebut batu
macan karena di permukaan terdapat jejak seperti bekas telapak kaki harimau.
Meski ini situs prasejarah, banyak orang mempercayai, konon batu macan ini
merupakan peninggalan Prabu Siliwangi, pemimpin Kerajaan Padjadjaran yang pernah
menyambangi kawasan ini di masa ia berkuasa di tanah Pasundan setelah manusia
purba lenyap dari tempat ini.
Menginjak
ke tingkat empat yang tingginya hanya sekitar setengah meter dari tingkat
sebelumnya, hamparan batu andesit berganti dengan tanah merah. Menurut Nanang,
saat ditemukan, di tingkat ini memang tidak ada hamparan batu besar. Untuk
menutupi permukaan tanah di tingkat ini dan beberapa tingkat lain yang tidak
ada batunya, pengelola menanaminya dengan rumput Jepang. Bahkan, menurut Nanang,
pengunjung dapat berkemah di tingkat empat, karena cukup luas dan tidak
berbatu. Di tingkat empat pun terdapat batu
penasiban, yakni batu berbentuk tabung yang diletakkan dalam sebuah
lingkaran batu di pojok kiri. Menurut mitos setempat, barang siapa dapat
mengangkat batu penasiban, maka akan bernasib baik. Wallahuallam......
Akhirnya
perjalanan kita berakhir di tingkat akhir yakni tingkat lima. Di puncak punden
berundak ini terdapat sebuah altar batu yang terletak di tengah-tengah tingkat
lima. Sementara beberapa bagian tingkat ini dipenuhi hamparan batu. Kondisi
tingkat lima memang sedikit kotor oleh rumput-rumput liar yang tumbuh di
sekitar batu. Rumput Jepang pun hanya tumbuh sedikit di tingkat ini. Tak hanya
rumput liar, di tingkat ini pun banyak berserakan puntung rokok, sisa makanan,
dan bekas lelehan lilin. Banyaknya pengunjung yang memanfaatkan tingkat lima
punden berundak Gn. Padang untuk melakukan ritual penasiban yang berbau mistik
dan klenik disinyalir menjadi penyebab banyaknya sampah di tempat itu.
Itulah
sekelumit kisah yang dapat saya ceritakan tentang situs megalith Gn. Padang.
Sayang sekali, salah satu situs prasejarah peradaban manusia di Indonesia ini
kurang terawat. Tak hanya kondisinya yang terabaikan, namun kondiis jalan ke
situs ini pun cukup memperihatinkan. Meski beberapa akses jalan di sekitar
perkebunan teh menuju ke Gn. Padang cukup baik, namun sebagian besar kondisi
jalannya berlubang, masih berbatu dengan kondisi naik turun. Tak hanya itu,
fasilitas lain seperti toilet umum, belum tersedia di lokasi situs ini. Bagi
pengunjung, disarankan sebelum mendaki puncak bukit Gn. Padang agar buang air
kecil terlebih dulu, di gerbang tangga. Karena, sangat disayangkan keasyikan
menikmati pemandangan gunung Gede dari puncak bukit Gn. Padang bila terganggu
dengan HIV (Hasrat Ingin Vivis) alis kebelet buang air kecil.
Puas
menikmati pemandangan bukit Gn. Padang dan melihat-lihat situs prasejarah ini,
pengunjung dapat meninggalkan lokasi menggunakan jalan tangga yang berbeda
dengan tangga ketika naik. Pengelola situs cukup berbaik hati menyiapkan tangga
turun dari puncak bukit yang lebih landai di sisi sebelah kiri bukit.
Pemandangan dari tangga ini pun tidak kalah menarik, meski tangganya lebih
sempit dari tangga naik.
Berita
terbaru, situs purbakala Gn. Padang kini tengah menunggu ekskavasi dari para
arkeolog untuk mencari tahu nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Bahkan,
sejumlah pihak mengklaim ada kandungan emas tertimbun di sekitar areal situs
Gn. Padang. Namun sekali lagi, hal ini perlu dibuktikan kebenarannya. Tak
heran, kini akses untuk menuju situs Gn. Padang dari Kota Cianjur sudah cukup
baik. Semoga, penelitian yang sedang dilakukan di situs prasejarah ini tidak
sampai merusak dan menghilangkan nilai-nilai sejarah yang sudah ada.

No comments:
Post a Comment