![]() | |
| sxc.hu |
Ada benturan kecil di tempatku tinggal. Rasanya sangat tidak menyenangkan, terlebih, statusku yang masih numpang. Ironisnya, orang yang kuanggap paling dekat denganku, ternyata menjadi penyebabnya. Friksi di pagi hari bisa membuat mood seharian menjadi jelek. Jadi, lebih baik aku berangkat ke kantor lebih awal, meski tak ada kerjaan yang mendesak.
Ingin rasanya tak pulang kembali, tapi aku mau pergi kemana? Ada yang bilang, "Wanita kalau sudah menikah, tinggal di rumah mertua serba tak enak, tinggal di rumah orang tua, serasa tamu". Memang, sudah bukan tempatnya koq. Orang yang berumah tangga, idealnya sudah punya tempat sendiri. tapi yaa......mau bagaimana lagi, kondisiku dan suamiku belum mampu.....
Benturan yang terjadi di tempat ringgal yang mana ada orang lain juga yang mengetahui (mertua, ipar), tentu sangat tak menyenangkan. Amarah yang harus kutahan, supaya tidak mengganggu orang lain. Padahal rasanya sudah ingin membanting pintu atau berteriak sekencangnya. Ujjung-ujungnya kesal sendiri, ketus pada anak, dan raut muka yang tidak ramah pun keluar.
Kalau sudah begini, lebih baik menghindar dan menyibukkan diri dengan hal lain yang bisa membuat kekesalanku berkurang. Mungkin orang yang kreatif, bisa menyalurkan rasa marahnya menjadi sesuatu yang bisa menghasilkan, menciptakan lagu misalnya. Tapi, aku tidak.
Rasa marah yang besar, justru hanya mmebuat otakku seakan menciut dan tak mampu berpikir jernih. Pekerjaanpun terganggu. Tak mungkin bekerja dalam keadaan marah. Lebih baik, berdiam diri sejenak dan lakukan hal-hal ringan di luar pekerjaan. Celakanya, aku seorang pendendam yang tak bisa melupakan satu kekesalan dengan cepat. Bahkan untuk memaafkan orang lain.
Mungkin kekesalan dan kemarahan pagi ini akan tetap bertahan hingga sore nanti. Bisa dipastikan, aku malas pulang ke rumah, malas berbicara dengan orang-ornag yang ada di rumah,
Tapi, aku harus menekan egoku, karena di rumah itu ada anakku yang tidak tahu apa-apa. Ekspresi kemarahan dan kekesalan yang aku perlihatkan akan menjadi preseden buruk baginya. Ia akan mencontoh dan mungkin berperilaku sepertiku. Ini yang harus aku hindari. Biarlah hati ini sakit melihat ketidakpuasan dalam kehidupanku di sini, tapi tidak dengan anakku. Ia harus tumbuh normal dan merasa dicintai, bukan diabaikna atau dianggap tak penting seperti ibunya.
Ingin sekali bercerita tentang hal ini, tapi pada siapa? Orang tua yang jauh disana, tak mungkin kubebani dengan segala keluh kesah seputar kehidupan rumah tangga. Sangat tidak lucu. Kepada teman? Tidak!!!! Belum tentu ada orang yang senang mendengar curhatan orang lain. Mereka pun sudah punya masalah mereka sendiri. Lagi pula, apa aku punya teman? Rasanya tidak! Sejak menikah dan tinggal di kota besar ini, aku tak punya siapa pun yang bisa jadi tempat bicara. Fiuuuhhhh.....seandainya aku punya teman psikolog, pasti menyenangkan bisa sekadar meminta saran-saran yang bisa menjauhkanku dari rasa frustasi dan stres yang hampir meledakkan kepalaku.
Aku hanya punya media ini dan Allah SWT yang selalu mengawasiku. Namun aku belum mampu mendekatkan diriku lebih dalam dengan-Nya. Imanku masih fluktuatif dan hanya sekulit ari. Aku harus lebih banyak bersyukur dan introspeksi diri. Jangan banyak berpikir hal-hal yang bisa mengganggu ketenangan dan kesehatan. Semangat cari duit lagiiiiiiiiii!!!!!!!Who cares to them!!!!! Live for free, do what you like and like what you do, jangan dengerin kata orang yang cuma bisa ngatain, tapi ga ngerti apa-apa!

No comments:
Post a Comment