Thursday, 15 March 2012

Second Curve Menuju Broadband

foto by.sxc
Para pembaca pasti pernah menonton iklan-iklan komersil beberapa operator telekomunikasi di Indonesia. Jika dulu, operator-operator tersebut berlomba menyediakan dan mengklaim sebagai yang termurah untuk tarif telpon dan SMS (Short Message Services), kini tawaran mereka pun berubah. Umumnya, mereka menawarkan harga semurah-murahnya untuk bandwidth koneksi internet sebesar-besarnya. Bahkan ada satu iklan yang menawarkan kartu khusus bagi para penggemar jejaring sosial di telepon seluler.
Rupanya, ada kecenderungan perubahan tren penggunaan bidang telekomunikasi dari yang tadinya hanya berupa voice dan text menjadi konten, data dan video. Operator pun harus bekerja keras untuk mengikuti permintaan pasar. Jika tidak, siap-siap dilibas tak hanya oleh sesama operator, namun juga pemain-pemain bisnis konten provider. Hal ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, hampir semua negara di Asia Tenggara khususnya mengalami serupa.

Menanti Kualitas Alumni Mumpuni

foto by. sxc
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tak pernah ada habisnya. Beragam problema selalu menyertai dunia pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Banyak aspek yang membuat dunia pendidikan Indonesia begitu kompleks, mulai dari kurikulum, dana pendidikan, dukungan pemerintah, standar pendidikan, dan lain-lain. Tak kalah penting, kelangsungan para peserta didik setelah menyelesaikan pendidikan mereka pun membawa persoalan tersendiri dalam pendidikan di negeri ini.
Pendidikan merupakan salah satu penentu keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa. Indonesia pun tak main-main dengan pendidikan bangsa ini. Menciptakan manusia seutuhnya, merupakan tujuan pendidikan yang dipilih bangsa ini. Sebuah tugas berat yang berasal dari manifestasi pemikir-pemikir bangsa terdahulu. Namun, apakah implementasi dalam wujud konkretnya akan semudah membalikkan telapak tangan?