![]() |
| foto by. sxc |
Pendidikan merupakan salah satu penentu keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa. Indonesia pun tak main-main dengan pendidikan bangsa ini. Menciptakan manusia seutuhnya, merupakan tujuan pendidikan yang dipilih bangsa ini. Sebuah tugas berat yang berasal dari manifestasi pemikir-pemikir bangsa terdahulu. Namun, apakah implementasi dalam wujud konkretnya akan semudah membalikkan telapak tangan?
Menilik kondisi Indonesia saat ini, tentu bukan hal mudah untuk menjabarkan tujuan pendidikan di atas. Mengingat produk yang dihasilkan dari proses pendidikan adalah manusia, bukan benda mati. Namun, setiap insan pendidikan mempunyai sudut pandang tersendiri dalam menyikapi tujuan pendidikan di atas dalam visi dan misinya. Salah satu penyelenggaraan pendidikan terpenting di Indonesia adalah perguruan tinggi yang merupakan muara proses pendidikan tertinggi. Tak heran, perguruan tinggi selalu menjadi sorotan, mulai dari kurikulumnya, standar pendidikannya, proses penyelenggaraannya, hingga kualitas alumni yang dihasilkan.
Sebagaimana diketahui, jumlah perguruan tinggi di Indonesia tak kurang dari 3.000 buah dengan beragam program studi (prodi) dan jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Kualitas lulusan yang dihasilkan pun akan berbeda-beda. Namun, bukan itu intinya. Bidang-bidang yang dipelajari di perguruan tinggilah yang penting. Mengingat bidang-bidang ini saling berkaitan dan yang akan membawa bangsa Indonesia pada kemajuan atau kemunduran. Hal ini diungkapkan Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IV Jabar – Banten, Prof. Dr. Abdul Hakim Halim, M.Sc.
“Sebenarnya yang menjadi generator pembangunan di Indonesia adalah bidang Teknik, karena bidang ini yang akan menciptakan lapangan pekerjaan. Setelah itu, bidang lainnya akan mengikuti. Jika pembangunan tumbuh, maka bidang sosial dan ekonomi serta yang lainnya akan ikut tumbuh bersamaan dengan perkembangan bidang teknik. Maka, pembangunan bidang ini harus menjadi fokus dengan terus mengembangkan bidang-bidang yang mendasarinya. Selain itu, bidang pertanian perlu dikembangkan, karena Indonesia pada dasarnya adalah negara agraris,” ujar Hakim.
Meski begitu, Hakim menilai ada tiga bidang yang dibutuhkan bagi pengembangan Indonesia, yakni Ilmu Dasar, Ilmu Teknik, dan Ilmu Pertanian. Pasalnya, jika ketiga bidang ini tidak berkembang, maka bidang-bidang lain pun tak akan berkembang. Meski tak ada data yang pasti, namun Hakim melihat perhatian pemerintah terhadap ketiga bidang ini sudah mulai meningkat. Hanya saja, hakim menilai masyarakat masih menganggap bidang-bidang ini tidak terlalu penting. Hal ini terlihat dari adanya penurunan jumlah peminat di beberapa perguruan tinggi salah satunya untuk bidang pertanian.
“Seharusnya, hal ini tidak boleh terjadi. Mungkin ada semacam miskomunikasi. Harus ada pemicu dari program pemerintah untuk bidang-bidang ini, seperti sekolah kejuruan yang sedang booming karena di-generate program pemerintah. Meski saya lihat untuk bidang Teknik, di beberapa perguruan tinggi sudah ada peningkatan terutama untuk jumlah mahasiswanya,” tambahnya.
Perguruan Tinggi dan Tri Dharma Pendidikan
Menyoal bidang kajian di perguruan tinggi untuk bidang teknik maupun bidang-bidang lainnya, menurut Hakim setiap perguruan tinggi harus mempunyai modal kerja (working capital) sebelum memulai penyelenggaraan pendidikannya. Tujuannya, agar setiap perguruan tinggi mampu memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan mahasiswa sebelum memulai penyelenggaraan pendidikan. Hal tentunya akan berimbas pada kualitas yang dihasilkan dari sebuah perguruan tinggi.
“Banyak perguruan tinggi yang sudah merasa puas, meski masih pas-pasan. Padahal, modal kerja ini penting untuk memenuhi pelaksanaan operasional pendidikan, misalnya keuangan serta pengadaan sarana dan prasarana. Banyak perguruan tinggi yang berpikir untuk mengembangkan modal kerja setelah penyelenggaraan pendidikan berjalan satu atau dua tahun. Seharusnya, semuanya sudah dipersiapkan sejak awal, karena modal kerja itu penting,” paparnya.
Hakim melanjutkan, pemenuhan modal kerja merupakan bentuk investasi awal perguruan tinggi yang bersifat jangka panjang. Meski manfaatnya tidak akan terasa sekaligus, namun ada hasilnya. Untuk itu, ia menghimbau bagi pihak-pihak penyelenggaran pendidikan tinggi jangan merasa ragu untuk melengkapi sarana dan prasarana kampus, menyekolahkan para dosen, dan lain-lain.
Tak cukup sampai di sini, perguruan tinggi pun harus mengimplementasikan Tri Dharmanya secara holistik. Bahkan, Hakim beranggapan jika ada perguruan tinggi yang hanya mengejar Research University atau perguruan tinggi berbasis riset, itu belum selesai. Tri Dharma perguruan tinggi terdiri dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Jika hanya salah satu yang berjalan, perguruan tinggi tersebut akan pincang. Sementara jika Tri Dharma sudah berjalan semuanya, maka eksistensi sebuah perguruan tinggi akan lebih baik dan disebut Interprenerior University. Bahkan, perguruan tinggi tersebut dapat menghasilkan non tuition fee tersendiri.
“Jadi, perguruan tinggi harusnya mampu menjual riset-risetnya dan membiayai pendidikan di perguruan tinggi tersebut, sehingga kebutuhan dana untuk Tri Dharma tidak hanya dari mahasiswa tapi juga dari penjualan riset. Dana pendidikan yang didapat dari mahasiswa maupun pengelola perguruan tinggi mempunyai keterbatasan,” lanjutnya.
Meningkatkan Kualitas Pendidikan Teknik
Selain menjadi salah satu lokomotif pembangunan bangsa, bidang teknik dinilai potensial di Indonesia. Pasalnya, produk-produk bidang teknik dapat laris manis di pasar Indonesia yang berpenduduk banyak. Tengok saja, saat ini masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif selalu tertarik dengan beragam produk elektronik, otomotif, manufaktur, dan lain-lain yang berasal dari Jepang, China, dan Korea. Jika pengembangan bidang teknik yang luas di Indonesia sudah bagus, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak produk karya anak bangsa yang laku di pasaran. Untuk itu, semuanya harus diawali dari peningkatan kualitas pendidikan di bidang teknik yang akan menghasilkan SDM-SDM berkualitas.
Menurut Hakim, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan perguruan tinggi teknik untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi alumninya. Pertama, pada saat membuka program studi (prodi) bidang Teknik. Saat ini, beragam jenis prodi bidang teknik sudah banyak ditawarkan perguruan tinggi. Namun apapun jenisnya, semua prodi teknik harus memenuhi standar minimum dari Dirjen Dikti, seperti rasio dosen dengan mahasiswa, jumlah sarana prasarana laboratorium, dan lain-lain.
“Untuk prodi yang sudah ada dalam klasifikasi prodi, standarnya biasanya sudah ada di Dikti sehingga tidak sulit. Namun, bagi prodi yang belum ada, perguruan tinggi harus bisa menjelaskan manfaat dan fungsi prodi yang dibuat sebelum mendapat ijin dari Dikti. Dikti merupakan lembaga yang berwenang mengeluarkan aturan dan perijinan terkait pembentukan prodi. Sementara Kopertis hanya sebatas melaksanakan aturan memberi masukan. Saat ini perkembangan keilmuan begitu cepat, sehingga memang ada pembahasan mengenai aturan untuk mengatur pembentukan prodi, agar menjadi acuan bagi perguruan tinggi saat membuka prodi baru,” jelas Hakim.
Kedua, ada peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi. Caranya, perguruan tinggi jangan selalu berpanduan pada standar minimum pendidikan, namun berusahalah untuk meningkatkan diri pada standar maksimum dalam segala hal, seperti pengajaran, rasio dosen, kegiatan riset, dan lain-lain. “Dengan adanya penambahan jumlah mahasiswa, maka rasio dosen tetap pun harus bertambah agar dapat lebih banyak melakukan penelitian. Jika dosen banyak meneliti, maka ia akan semakin baik mengajarnya karena berdasar pada hasil riset. Alumni yang akan diluluskan ke depan, bukan lagi para calon pekerja, namun yang harus bisa berinovasi. Permasalahan yang nanti dihadapi di masyarakat mungkin sudah tidak relevan lagi dengan apa yang dipelajari, sehingga kegiatan riset harus ditingkatkan,” lanjutnya.
Hakim pun menilai, perguruan tinggi di Indonesia perlu meningkatkan wawasan keilmuan internasional. “Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan, harus mencontoh kegiatan riset di luar negeri yang sudah sangat bagus. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan alumni yang berkelas dunia. Terlebih, dengan adanya free trade area, alumni tak hanya akan bersaing dengan lulusna dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Jangan hanya mengejar standar minimum, tapi harus maksimal. Di luar negeri tak ada standar minimum, sehingga masing-masing berlomba menjadi yang terbaik,” tambahnya.
Selanjutnya, pendidikan teknik wajib disertai dengan sertifikasi baik pendidikan maupun profesi. Meski sudah ada, sertifikasi untuk bidang teknik memang dianggap masih longgar dan belum semuanya mematuhi. Berbeda dengan bidang Kedokteran, Farmasi, Notaris, Akuntan, dan Pajak yang sudah diwajibkan. Bidang teknik yang sudah menerapkan sertifikasi wajib saat bekerja baru Arsitek. Masih banyak orang yang tidak menganggap sertifikasi sebagai hal penting. “Ini perlu dikembangkan, tak hanya dari pihak penyelenggara sertifikasi, namun juga user-nya harus ada dorongan. Seharusnya, seorang sarjana teknik yang belum memiliki sertifiksi, belum boleh bekerja, agar standarnya jelas,” hakim menyayangkan.
Terakhir, perguruan tinggi teknik harus menjadi pelopor untuk menghasilkan entrepreneur-entrepreneur baru. Caranya, dengan memanfaatkan riset-riset yang dibuat di dalamnya. Setelah kuantitas dan kualitas risetnya membaik, perguruan tinggi dapat menjualnya pada masyarakat dalam hal ini pihak industri yang membutuhkan. Syaratnya, perguruan tinggi harus mempunyai link yang kuat ke industri.
“Minimal ada media untuk menyalurkan produk-produk yang dihasilkan perguruan tinggi teknik. Misalnya dari Teknik Mesin, harus mampu membuat dan mengembnagkan mesin yang bagus dan efisien dipakai. Jika produknya dipakai industri, perguruan tinggi akan mendapat imbalan. Teknik itu intinya perancangan, jadi harus mampu merancang sesuatu. Selama ini, riset di perguruan tinggi kebanyakan baru sebatas publikasi,” keluh Hakim.
Hakim berharap, perguruan – perguruan tinggi mampu memperhatikan kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan meningkatkan aspek-aspek di dalamnya. “Saat ini perkembangan teknologi dan keilmuan semakin cepat. Proses pendidikan dan pemahaman keilmuan pun harus semakin cepat dan diperdalam. Terlebih adanya internet, kalau dosen mengajarnya itu-itu saja, mungkin mahasiswanya sudah lebih dulu tahu dari internet,” tandasnya.

No comments:
Post a Comment