![]() |
| foto by.sxc |
Rupanya, ada kecenderungan perubahan tren penggunaan bidang telekomunikasi dari yang tadinya hanya berupa voice dan text menjadi konten, data dan video. Operator pun harus bekerja keras untuk mengikuti permintaan pasar. Jika tidak, siap-siap dilibas tak hanya oleh sesama operator, namun juga pemain-pemain bisnis konten provider. Hal ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, hampir semua negara di Asia Tenggara khususnya mengalami serupa.
Kondisi industri telekomunikasi saat ini disebut-sebut tengah memasuki second curve period. Para pelaku industri telekomunikasi seluler berusaha menerapkan strategi baru agar berada dalam kurva kedua untuk menaikkan kembali pertumbuhan industrinya. Kolaborasi inovasi pun sangat dibutuhkan terutama dalam hal service content.
Indonesia yang memiliki operator tak kurang dari 11 tengah mengalami kejenuhan dari penetrasi voice dan sms saja. Hal ini terlihat dengan penurunan Average Revenue Per Unit (ARPU) di beberapa operator. Misalnya Telkomsel yang tahun 2007 gross-nya mencapai 36%, tahun 2010 menurun tinggal 15%. menurut Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Dr. Ir. Iwan Krisnadi, MBA, operator dituntut untuk melakukan pembenahan.
“Saat ini operator harus berusaha kreatif dalam usahanya untuk menaikkan pendapatannya. Di sini sudah masuk titik jenuh, sehingga pertumbuhan pendapatan bukan lagi dari telpon saja. terkadang orang sering menggunakan telpon seluler untuk berinternet. Menurut data revenue, inilah yang akan naik di kemudian hari,” paparnya.
![]() |
| foto by.sxc |
Sebagai upaya meningkatkan kembali revenue-nya, industri telekomunikasi pun berbondong-bondong mulai melirik layanan broadband yang memang tengah digandrungi berbagai kalangan di seluruh dunia. Terlebih, penetrasi penggunaan internet semakin meningkat dari tahun ke tahun sejak kemunculan beberapa media sosial seperti facebook, twitter, dan lain-lain. Namun, perubahan ini ada konsekuensinya, perlu ada penguatan infrastruktur jaringan agar tidak mengecewakan pelanggan. Hal serupa dilakukan PT Telkom sebagai incumbent operator telekomunikasi di Indonesia.
Infrastruktur Siap, Broadband Mantap
Secara lugas, Djatmiko dari PT Telkom menjabarkan langkah-langkah yang dilakukan perusahaannya untuk menghadapi era broadband dan menggungguli pesaing-pesaingnya di industri telekomunikasi. Untuk itu, langkah pertama yang dilakukan Telkom adalah mengubah arah bisnisnya tak hanya di telekomunikasi. Maka, Telkom dan operator-operator lain memperlebar jaringan bisnisnya menjadi Telecommunication, Information, media, dan Edutainment. Nah, dengan perubahan ini otomatis industri telekomunikasi pun butuh dukungan kesiapan infrastruktur, dana, dan Sumber Daya manusia (SDM)-nya.
“Untuk dukungan infrastruktur, kami bagi dua. Pertama, penyiapan infrastruktur backbone dengan pemasangan fiber optik yang menghubungkan antar kota, pulau, dan antar negara. Misalnya, Telkom saat ini mempunyai jaringan backbone fiber optik Batam-Jakarta, Jakarta-Batam, Batam-Singapura, dan Singapura-Hongkong. Kedua, membangun lastmile access, yaitu jaringan-jaringan yang menghubungkan rumah per rumah,” ujar Djatmiko.
Saat ini pembangunan backbone untuk seluruh Indonesia yang tengah dilakukan PT Telkom ditargetkan selesai pada 2013. Namun menurut Iwan, pembangunan backbone tak hanya dilakukan satu operator saja. “Indonesia sedang membangun Palapa Ring. Tahun 2015, Indonesia harus terhubung semuanya dengan broadband. Ini namanya infrastruktur roll out. Tahun 2004, international broadband hanya satu provider, tahun 2009 sudah ada enam provider. Di infrastruktur domestik, dulu hanya Telkom, sekarang sudah ada lima provider, mislanya PT XL Axiata, Icon Plus dari PLN, dan lain-lain,” tambah Iwan.
Selain infrastruktur backbone, berbagai inovasi pun dilakukan operator, salah satunya Telkom dengan tidak hanya menyediakan konektivitas. Jika hanya bertahan dengan kekuatan jaringan kabel dan transmisi saja, menurut Djatmiko, Telkom akan semakin rugi karena banyak provider-provider konten baru yang memanfaatkan jaringan milik Telkom.
“Strategi kami menghadapi tren dan persaingan ke depan, selain memperkuat infrastruktur jaringan, kami pun masuk ke bidang konten. Pesaing kini justru datang dari penyedia konten. Banyak konten yang masuk ke Indonesia via jaringan Telkom. Mereka kena charge, tapi Telkomnya sendiri tidak kebagian. Ini dialami hampir semua badan incumbent telekomunikasi di Asia Tenggara,” keluhnya.
Salah satu layanan terbaru yang ditawarkan operator di era broadband ini adalah Internet Protocol Television (IPTV). PT Telkom misalnya, telah meluncurkan Groovia TV yang berbasis internet untuk kemudahan dan kenyamanan masarakat dalam menikmati acara-acara televisi karena bersifat on demand. Produk ICT ini diperkirakan akan semakin populer ke depannya, karena sudah tidak analog. Banyak keunggulan yang ditawarkan IPTV, misalnya perekaman acara televisi oleh server operator televisinya, sehingga program dapat disaksikan kembali kapan pun. IPTV ini disebut generasi keempat dalam era telekomunikasi di mana infrastrukturnya menggunakan teknologi Next Generation Network (NGN).
Selain infrastruktur dan inovasi dalam layanan, industri telekomunikasi kini harus menyiapkan SDM yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini pun diakui Djatmiko karena sebagian besar SDM Telkom masih berfokus di bidang jaringan kabel. Sementara untuk merealisasikan TIME, perlu tenaga-tenaga baru yang kompeten. “Jika dipersentasekan, tenaga IME yang kami miliki baru 10%. Padahal ketika teknologinya kami majukan, SDM-nya pun harus diperbaharui karena proses bisnisnya akan berbeda. Bahkan, di bidang telekomunikasi saja masih ada yang tergagap-gagap ketika berpindah ke fiber optik dari jaringan kabel, karena beda sekali kulturnya,” tambah Djatmiko.
Meski berada di posisi anti-klimaks, industri telekomunikasi diperkirakan masih akan terus bergerak maju dan membesar. Dengan berbagai potensi di Indonesia, seperti populasi penduduk yang besra dan tingkat konsumerisme yang tinggi, masih banyak peluang yang bisa didapat dari industri ini. Asalkan, dibarengi kreativitas dan aturan yang kian jelas.


No comments:
Post a Comment