Pagi itu udara terasa begitu dingin. Memang belum cukup waktu disebut
pagi, lebih tepatnya dini hari. Ya, udara bulan
Desember memang tidak begitu bersahabat kali ini. Dan waktu dini hari adalah
saatnya untuk semakin merapatkan selimut tebal dan menggulung badan di
peraduan. Namun bagi Mbok Nah, waktunya hampir habis. Ia beringsut dari do’a
panjang yang ia panjatkan di sepertiga malam itu. Dikenakannya kerudung lusuh
yang tergantung di dinding gedeknya, tak lupa ia sandang tas butut yang
tergeletak di sudut dipannya. Dengan langkah gontai ia buka pintu depan
rumahnya, brrrrr…..seketika angin malam yang menusuk kulit membuatnya
merapatkan baju hangatnya yang tipis. Di punggungnya yang mulai renta, selusin cobek tanah liat dipanggulnya dalam bakul bambu yang diikat stagen layaknya
jamu gendong.
Lima belas menit
perjalanannya terasa begitu panjang, hingga ia menemukan keramaian yang
ditujunya. Pasar Glempang. Mata Mbok Nah nanar mencari tempat duduk. Tak lama
ia temui tempat yang strategis untuk menjajakan cobek yang diambilnya dari
Juragan Kardi tempo hari. Emper toko mas yang masih tutup, bersebelahan dengan
penjual aneka macam sayuran. Walau kantuk menyerang, ia bertekad menjual habis
cobek-cobek sebesar piring makan itu. Pikirannya melayang pada sosok pucat yang
terbujur tak berdaya di gubuk reotnya. Mbah Karyo. Orang yang selalu ada
disisinya setelah setengah abad ia mengarungi bahtera rumah tangga.