Pagi itu udara terasa begitu dingin. Memang belum cukup waktu disebut
pagi, lebih tepatnya dini hari. Ya, udara bulan
Desember memang tidak begitu bersahabat kali ini. Dan waktu dini hari adalah
saatnya untuk semakin merapatkan selimut tebal dan menggulung badan di
peraduan. Namun bagi Mbok Nah, waktunya hampir habis. Ia beringsut dari do’a
panjang yang ia panjatkan di sepertiga malam itu. Dikenakannya kerudung lusuh
yang tergantung di dinding gedeknya, tak lupa ia sandang tas butut yang
tergeletak di sudut dipannya. Dengan langkah gontai ia buka pintu depan
rumahnya, brrrrr…..seketika angin malam yang menusuk kulit membuatnya
merapatkan baju hangatnya yang tipis. Di punggungnya yang mulai renta, selusin cobek tanah liat dipanggulnya dalam bakul bambu yang diikat stagen layaknya
jamu gendong.
Lima belas menit
perjalanannya terasa begitu panjang, hingga ia menemukan keramaian yang
ditujunya. Pasar Glempang. Mata Mbok Nah nanar mencari tempat duduk. Tak lama
ia temui tempat yang strategis untuk menjajakan cobek yang diambilnya dari
Juragan Kardi tempo hari. Emper toko mas yang masih tutup, bersebelahan dengan
penjual aneka macam sayuran. Walau kantuk menyerang, ia bertekad menjual habis
cobek-cobek sebesar piring makan itu. Pikirannya melayang pada sosok pucat yang
terbujur tak berdaya di gubuk reotnya. Mbah Karyo. Orang yang selalu ada
disisinya setelah setengah abad ia mengarungi bahtera rumah tangga.
“Astagfirullah…gusti Pangeran, mikir opoo kulo iki. Esih
mending kulo dhuwe bojo sing eman,” gumamnya.
Ya, mbok Nah masih bersyukur walau tak
punya keturunan, ia masih memiliki tetangga yang baik dan terutama kaya. Karena
alasan ini pulalah ia dapat berjualan di Pasar yang ramai seminggu tiga kali
itu. Juragan Kardi yang tinggal persis bersebelahan dengannya mau merelakan
sebagian barang-barang kodiannya dijual eceran oleh nenek yang hampir tumbang
kala mengangkat peralatan dapur tradisional itu. Walaupun sebenarnya yang
ngotot Mbok Nah diberi dagangan, adalah istri pertama Juragan Kardi, Nyi Isah
yang utang budi waktu melahirkan anaknya. Mau tak mau Juragan Kardi yang
terkenal pelit dan culas pun tak kuasa menolak rajukan sang istri.
“Mbok
! Simbok ! Angger dagang aja nglamun, Mengko daganganne ilang nggari bingung
mbayar maring Juragan lho !” Kasman si tukang sayur menimpali.
Hmmmm. Tiba-tiba dari arah jongko Engko
Bun tercium semerbak aroma bawang goreng yang membangkitkan selera. Mbok Nah pun
tak kuasa menelan air liurnya. Perut keroncongan yang ia rasakan sejak kemarin,
membuat perutnya mulas. Tapi, hari ini uangnya belum terkumpul sepeserpun.
Bahkan hanya sekedar untuk membeli nasi jagung untuk pengganjal perut.
***
“Pergi Kasman!!!Pergi kamu!!” teriakanku
parau memecah kesunyian dipagi buta.
“Mau apa lagi KAMU? Belum puas kamu
bikin hidupku menderita? Atau kamu sengaja
ingin melihat aku mati, ANJING!!?”
PLAAKK,
sesuatu yang cukup keras menerpa wajahku yang kusut. Kurasa, tamparan itu dapat
kutahan, tapi ternyata darah segar mengalir disela-sela bibirku. Dan, rasanya
perih.
Cukup. Habis
sudah kesabaranku, kali ini. Aku tak peduli kedua mata bocah yang menangis
tersedu-sedu melihat ibu mereka dihajar babak belur oleh ayah mereka sendiri.
Kulirik mereka sekilas, dan rasa sesak menyeruak di dadaku. Bahkan aku
kesulitan bernapas. Tiba-tiba mataku seolah membawaku pada botol beling yang
tergeletak di lantai. Refleks
tanganku meraih benda keras itu, dan….
BRAAKKKK….Kasman ambruk. Kepalanya
dipenuhi cairan kental berwarna merah. Aku, aku bahkan tak mampu melihatnya.
Sekilas kupandangi dua pasang mata malaikat yang terlihat pucat di pintu.
Tiba-tiba mereka lari menghambur keluar, dan menjerit-jerit ketakutan. Aku
tidak begitu mendengar persis apa yang mereka katakan, hanya…mati, itu yang aku
dengar.
Tiba-tiba kupandangi sosok kaku yang
terbujur dihadapanku. Kutarik mulutku ke belakang, dan anehnya aku tersenyum.
Senyumku makin lama makin lebar hingga membentuk sebuah tawa, tawa pedih yang
mencekam.”haa….ha…haaa…” tawaku makin membahana.
Namun seiring pagi datang, rumahku
menjadi sesak. Orang-orang berkerumun dan memandangi Kasman yang tak mau
bangun, sementara aku tersimpuh di sebelahnya sambil terbahak-bahak. Tiba-tiba
beberapa pria berseragam cokelat dan dua orang berpakaian putih-putih
mencengkram lenganku erat-erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku
menurut saja, bahkan saat mereka mengikatkan seragam putih yang bagian
tangannya membuat tanganku terikat ke belakang. Tiba-tiba semuanya terasa
gelap, saat sebuah tusukan jarum kurasakan ditanganku. Aku pun limbung, terasa
tenang, dan hilang…..
***
Kupandangi sabana yang terbentang
dihadapanku. Tak ada yang lain, hanya kehijauan yang mengisi kornea mataku.
Tiba-tiba dari ujung hijau itu, seolah kulihat seorang pria melambai-lambai ke
arahku. Kian lama kian dekat, dan aku tahu orang itu Kasman. Orang yang aku
cintai sekaligus aku benci. Karenanya aku rela hidup berkubang kemiskinan,
namun karena dia pula, aku terpuruk dan orang-orang menyebutku sinting,
pembunuh, dan berbagai sebutan keji lainnya.
“Sih!!
Tarsih!! Bangun! Dengar Simbok! Eling!” tiba-tiba dari sebelah kudengar ibu
memanggil-manggilku sambil menangis. Perlahan, sabana itu makin kabur, dan
Kasman sudah tidak jelas lagi. Tiba-tiba ruangan itu menjadi putih dengan aroma
yang menyengat. Kubuka mataku dan ibu menangis sesenggukan di samping tempat
tidur.
“Mboook, aku
di mana?” ucapku lirih.
“Ndoo, koe semaput wis rong dina, saiki nang
puskesmas. Simbok khawatir. Simbok takut terjadi apa-apa sama kamu,”
Mbok Karsih terbata-bata di antara isak tangisnya.
“Mbok, Supri
karo Tati nang ndhie?” saat kusadari kalau kedua anakku tak kulihat di sini.
“Wis, koe ora usah mikir, anak-anakmu nang omah. Nyebut ndok....” rintihan
lirih ibu terasa menyayat hatiku. Namun, setelah lama terdiam aku merasa
meringkik. Makin lama makin keras, setelah itu semuanya seperti hilang. Jiwaku
berlari menjauhi tubuhku, simbok, dan semua orang yang berkerumun di ruang
tengah. Aku ingat ketika tangan-tangan gempal mencengkramku yang berontak.
Mereka mengikatku dan menjejalkan tubuhku ke sebuah benda aneh yang bergerak..
Anehnya aku bisa tertawa lepas saat itu, sedangkan orang-orang itu makin
histeris menangisi kepergianku.
***
Meski
terantuk-antuk karena kurang tidur, Mbok Nah tetap setia di samping
dagangannya. Sejak subuh tadi, selusin cobek yang dijajakannya belum ada yang
menyentuhnya satu pun. Namun, ia pantang menyerah, karena teringat suaminya
yang tengah berjuang melawan TBC. Matahari sudah tergelincir, menandakan hari
makin beranjak siang. Dari kejauhan dilihatnya, sesosok yang ia kenal tengah
berjalan seperti hendak menghampirinya. Sosok itu dilengkapi dua pria yang
mengikutinya. Tak salah lagi, itulah istri muda Juragan Kardi, Kartinem. Perasaan
mbok Nah pun jadi ketar-ketir teringat akan utang-utangnya pada bos cobek itu. Namun,
ia tak mungkin menghindar, karena toh akhirnya ia akan kena tagih juga. Jaraknya
dengan Kartinem hanya tinggal beberapa langkah, namun anehnya istri juragan itu
hanya memandangnya acuh tak acuh.
”Sugeng Rawuh, den!,” Mbok Nah
benar-benar terliat menghamba di depan perempuan berusia 20 tahunan itu. Sementara
yang disapa tak sedikit pun menaruh hormat pada orang tua yang sudah membungkuk
hingga 90 derajat itu.
Kartinem
memang tidak cocok menjadi istri bangsawan macam Juragan Kardi. Mungkin karena
faktor keturunan dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Gadis berusia 20 tahun
ini memikat Juragan Kardi yang sering mampir ke sebuah warung remang-remang
milik ibu Kartinem di pinggir terminal Purwokerto. Tubuhnya yang sintal dan
berisi selalu ia pamerkan dengan pakaian minim kala melayani para supir truk
yang memesan kopi. Rupanya Kartinem pun sangat tergoda dengan uang yang
dimiliki Juragan Kardi, meski lelaki ini telah beristri. Ia tak peduli. Malah,
ia ingin menghancurkan perkawinan Juragan Kardi, agar ia dapat menjadi nyonya
Kardi yang baru. Muslihatnya berhasil dan kini ia pun dengan bebas melenggang
sebagai istri kesayangan Juragan culas itu. Meski kelakuannya, macam perempuan
terminal saja.
”Angger dhuwe utang mesti dibayar gasik mbok!”
tiba-tiba Kartinem mencibir saat lewat.
”Njih...den, kulo durung dhuwe nggo bayare!”
sanggah Mbok Nah sambil terus tertunduk.
”Mangkane, aja sok-sok nyilih duit!”
tukas Kartinem sambil berlalu.
***
Ruangan
putih ini seharusnya menjalarkan ketenangan padaku. Tak hanya dindingnya yang
putih pusat, tempat tidur, hingga baju yang kukenakan pun tampak seperti
disiram pemutih. Namun, terus terang aku tak kuat mencium bau karbol yang
begitu menyengat. Perlahan kubuka mata, sepertinya masih pagi... Beranjak dari
tempat tidur, kupandangi beberapa orang tertawa-tawa di halaman, meski raut
muka mereka tidak terlihat bahagia. Ingin rasanya aku bergabung mereka,
merasakan kebebasan itu. Tiba-tiba dorongan itu begitu kuat, hingga kugebrak-gebrak
jendela besi yang mirip penjara. Semakin keras aku berteriak, semakin keras
pula mereka tertawa. Mereka mentertawakanku....
”Dok, pasien
64 butuh penenang!” tiba-tiba beberapa wanita muda berhamburan ke arah kamarku.
Tapi aku tak peduli, karena ingin kuhajar orang-orang di luar yang telah
mentertawakanku. Makin kuat pula kuhantamkan kepalaku ke sel yang dingin itu.
Tiba-tiba aku merasa lemas dan mengantuk seiring tusukan jarum di lenganku.
”Tarsiiiiiiiihhhhh.....kulo demen karo koe,” teriak Kasman lantang.
Aku yang
tengah berdiri di padang rumput yang luasnya tak terhingga hanya tersenyum. Aku
pun menyambut uluran tangannya dan kupeluk ia erat-erat. Namun, tubuhnya
menghilang bagai asap. Makin kugengggam, tubuhnya kian hampa. Aku pun menjerit
sekeras mungkin. Akhirnya aku tersadar, Kasman memang tidak ada di sisiku, ia
telah mati...Sejak kebiasaannya menyiksaku dikala mabok, rasa cinta dan
sayangku padanya luluh lantak. Kasman yang kupilih sendiri menjadi pendamping
hidupku, ternyata malah menyia-nyiakanku. Rasa sakit hatiku terasa semakin
kuat, bahkan saat kesadaranku makin menghilang. Rasanya tak dapat kugambarkan,
sepertinya ada lubang menganga di dadaku, sementara hatiku bagai diiris-iris
ribuan silet. Bahkan obat penenang pun tak mampu mengalahkannya. Akhirnya, di
ambang kesadaran yang tak jelas, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu.
***
”Matur nuwun cah bagus!” Mbok Nah
mengungkapkan rasa terima kasihnya berkali-kali pada pemuda yang membeli salah
satu cobek yang dijualnya. Sementara Tetuko, nama pria berusia dua puluhan itu
hanya tersenyum simpul sembari menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
”Waduh den, simbok ora nana jujule,”
tutur Mbok Nah.
”Boten napa-napa mbok, kembaliannya buat
mbok saja...” Tuko kembali tersenyum.
Tak lama ia
pun pamit. Meski di mata Mbok Nah sangat aneh seorang pria membeli cobek, namun
ia tak peduli. Uang lima puluh ribuan yang diterimanya menjadi pelipur laranya
sejak tadi pagi. Bahkan seluruh cobeknya pun jika terjual habis tak sampai
seharga lima puluh ribu. Ia pun beranjak pulang setelah membeli dua nasi
bungkus murahan untuknya dan suaminya. Mbok nah pun kelihatan riang selama
perjalanan pulang, bahkan tak jarang ia melagukan bait-bait jawa macam Lir
Ilir... Ia tak sabar ingin menjumpai belahan jiwanya, Mbah Karyo yang sudah
seminggu meringkuk karena TBC. Sekitar lima meter di depan rumahnya, ia
tertegun karena banyak sekali orang berkumpul di halaman rumahnya. Ia pun
bertanya-tanya. Tiba-tiba tetangga sebelah rumahnya, Surti merangkulnya sembari
sesenggukan. Bebannya pun bertambah, cobek di punggung dan Surti yang seperti
anak kecil.
”Ti,
nyebut...Eling. Ana apa karo koe?”
Mbok Nah yang kebingungan berusaha menenangkan Surti.
”Mbok, sabar
ya mbok...huuuuu...huuu...” Surti membalikkan ucapan Mbok Nah tanpa menghentikan
tangisannya. ”Lho, piye toh Ti?
Memang aku mesti sabar kenapa? Harusnya kamu yang sabar!” Mbok Nah menimpali
sembari menurunkan barang dagangannya.
”Simbok yang
sabar...si Mbah...Mbah Karyo....” Surti terbata-bata.
”Kenapa sama
Simbah, Ti?” Mbok Nah mulai panik.
Surti memang
sudah dianggap anaknya sendiri. Gadis dua puluh lima tahun ini selalu
menyempatkan diri menengok dua renta tetangganya itu. Bahkan, tak jarang ia
mengirim makanan pada Mbok Nah.
”Mbah
Karto...huuuu..Mbah Karyo wis lewat..huuu...Simbah
jatuh di kamar mandiiii....” Surti meraung-raung.
Demi
mendengar berita itu, Mbok Nah langsung pucat pasi. Ia merasa ada sesuatu yang
tercerabut dari jiwanya. Nasi bungkus dalam genggamnya terlepas ke tanah. Pandangannya
menerawang, tapi anehnya ia tak dapat mengeluarkan air matanya sedikit pun. Akhirnya,
ia terduduk lemas di tanah tanpa berucap sepatah kata pun.
***
Sudah tiga hari Tetuko
menginjakkan kakinya di bumi Banyumas, ia pun kian menyukai suasana kota
mendoan itu. Mahasiswa asal jakarta itu memang tengah melanjutkan pendidikanya
di salah satu perguruan ternama di kota kecil itu. Hobinya pada bidang
Fotografi membawanya pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Sebenarnya, bila Tuko mau, demikian
ia biasa disapa, ia bisa saja meminta orang tuanya menyekolahkannya di perguruan
luar negeri sekalipun. Namun, tawaran ibu-bapaknya untuk mengambil manajemen
bisnis, ditolaknya mentah-mentah.
Hari ini ia berniat
hunting foto. Tak ingin berlama-lama
menentukan tempat, ia memutuskan pergi ke tempat favoritnya, Baturraden.
Peralatan tempurnya sudah tersusun rapi di ranselnya. Kamera digital, lensa
tele terpisah, topi gunungnya tersampir ditengkuknya, botol air mineral, dan
tentu saja Ipod kesayangannya. Tuko memang bukan penyuka gadget berbau hi-tech,
namun Ipod ini tak pernah lepas dari genggamannya. ”Pemberian orang spesial,”
ungkapnya jika teman-temannya selalu menanyakan Ipodnya. Ini pula yang selalu
membuat mood-nya berubah jika lupa
membawa Ipod kesayangannya.
Selain pemandangan
alam, objek utama yang menarik perhatian Tuko adalah human interest. Untuk mendukung hobinya, ia telah menyewa sebuah
rumah untuk dikontrak dan dijadikannya studio foto. Meski peralatan
fotografinya masih banyak yang tertinggal di Jakarta. Dipandangainya, rumah
kontrakannya sebelum ia menstater motor ninjanya.
”Ko, loe mo
ninggalin gue yah?” Tyo menghambur ke arahnya sambil terengah-engah. Tuko
langsung tertawa. Ia memang selalu terhibur dengan tingkat teman kuliahnya itu.
Terlebih gaya bicaranya yang sok meniru-niru anak Jakarta, namun dengan logat
medok khas Tegal. Tyo yang tinggal tak jauh dari kontrakan Tuko memang cepat
akrab. Bahkan, saat kepindahan Tuko beberapa hari lalu, Tyo dengan sukarela
membantu menurun-nurunkan barang bawaannya yang banyak. Tak disangka, ternyata
Tyo dan Tuko kuliah di jurusan yang sama. Alhasil, mereka langsung nyobat meski
baru dua hari bertemu.
”Sorry sob, gue
kira loe ga ikut hunting hari ini. Buruan, ntar keburu siang!” Tukas Tuko
seraya nunjuk jok motor di belakangnya.
***
”Ke mana nih? Bukannya
mau ke Baturraden, koq malah ke pasar?”Tyo berteriak di antara deru motor.
”Udaaahh...loe
tenang aja. Ga bakal gua bawa kabur koq! Gua inget, di pasar ini ada objek
bagus! Ke Baturradennya ntar abis dari sini aja!”
Tak lama, Tuko
menepikan motornya di trotoar yang berseberangan dengan Pasar Glempang. Pagi
itu, pasar masih cukup ramai dengan pedagang kaki lima. Tuko clingak-clinguk,
tapi tak menemukan yang dicarinya.
”Loe nyari apaan
Ko? Tyo kebingungan.
”Tunggu bentar,
sob. Gua ke sana dulu.” Tuko beringsut menyeberang.
”Dasar orang aneh.
Kemarin beli cobek dari nenek tua, sekarang balik lagi ke pasar,” gumam Tyo.
Tapi, tak ayal diturutinya juga ucapan Tuko. Ia pun duduk dijok motor sembari
memperhatikan kawannya pergi.
***
”Liir...Iliiiiirrr....,”Lamat-lamat
Surti mendengar Mbok Nah melantunkan lagu dari sebelah rumahnya. Suaranya
terdengar nelangsa, membuat Surti menitikan air mata. Ia baru saja menunaikan
shalat Subuh, tapi Mbok Nah belum juga beranjak dari teras rumahnya. Hari ini,
Surti tidak menginap di rumah janda tua itu, karena sejak semalam badannya
panas. Tapi ia, selalu memikirkan tetangga tuanya itu. Sudah seminggu sejak
kematian suaminya, Mbok Nah tak pernah lagi berangkat jualan ke pasar. Meski
tubuhnya masih terasa lemas, Surti beranjak dari sajadahnya. Ia menuju rumah
Mbok Nah. Di dapatinya wanita tua itu tengah termangu memandang langit dengan
mata kosong. Lagu Lir Ilir tak berhenti ia lantunkan.
”Mbok, ora lunga maring pasar ?” Tanya Surti.
Mbok Nah hanya menggeleng lemah.
”Ya wis, saiki Surti bae sing dodhol cobek.
Mbok khan butuh maem...”
Surti beringsut dan
memanggul cobek-cobek Mbok Nah di punggungnya. Di sini ia baru sadar betapa
beratnya beban yang harus dirasakan Mbok setiap harinya. Langkahnya sedikit
limbung karena ia tak biasa membawa beban sebanyak itu. Tak terasa, ia meneteskan
air mata. Tak ingin terlihat sedih, Surti bergegas menuju pasar. Pasar masih
terlihat ramai, ia pun menemukan tempat biasa Mbok Nah berjualan, di sebelah Parjo,
tukang sayur di seberang jongko Engko Bun yang cukup mewah. Kelihatannya
jongkonya masih tutup, Parjo menyapanya.
”Ti, koe gantiin Mbok Nah jualan?” Piye kabare Mbok Nah?” Parjo bertanya
meski tangannya sibuk menata sayuran.
”Iya mas, Simbok lagi
kurang enak badan.” Surti mulai berbenah cobek-cobeknya.
”Kemarin bojone Juragan Kardi nagih utang, kayane simbok urung mbayar utang. Kartinem
mencak-mencak Ti. Koe, ati-ati bae ya!”
Parjo berbisik-bisik sambil tengok kiri kanan. Surti hanya mengangguk dan
tersenyum.
”Mbak numpang
tanya, kalo mbok tua yang suka jualan cobek di sini pindah ke mana yah?” Tuko
menyapa Surti yang sedang bengong.
”Oh...maaf, maksud
mas, Mbok Nah? Surti terlihat kaget.
”Oh..jadi namanya
Mbok Nah! Itu ibunya mbak yah?”
Surti menggeleng
sembari tersenyum, ”Tapi dia sudah saya anggap ibu. Ngomong-ngomong, mas ini
siapa yah? Koq menanyakan Mbok Nah?”
”Saya ingin menawarinya
jadi model foto saya,” ujar Tuko serius.
Surti pun tak bisa
menahan tawanya yang renyah. Ia merasa lucu, karena Mbok nah yang sudah uzur
tak mungkin bisa jadi model foto. Ia tertawa sambil memegangi perut kecilnya. Tuko
merasa sedikit kesal dengan kelakuan gadis kecil di depannya.
”Mbak, saya serius!
No comments:
Post a Comment