Wednesday, 9 July 2014

Mbok Nah Part I




Pagi itu udara terasa begitu dingin. Memang belum cukup waktu disebut pagi, lebih tepatnya dini hari. Ya, udara bulan Desember memang tidak begitu bersahabat kali ini. Dan waktu dini hari adalah saatnya untuk semakin merapatkan selimut tebal dan menggulung badan di peraduan. Namun bagi Mbok Nah, waktunya hampir habis. Ia beringsut dari do’a panjang yang ia panjatkan di sepertiga malam itu. Dikenakannya kerudung lusuh yang tergantung di dinding gedeknya, tak lupa ia sandang tas butut yang tergeletak di sudut dipannya. Dengan langkah gontai ia buka pintu depan rumahnya, brrrrr…..seketika angin malam yang menusuk kulit membuatnya merapatkan baju hangatnya yang tipis. Di punggungnya yang mulai renta, selusin cobek tanah liat dipanggulnya dalam bakul bambu yang diikat stagen layaknya jamu gendong.  
Lima belas menit perjalanannya terasa begitu panjang, hingga ia menemukan keramaian yang ditujunya. Pasar Glempang. Mata Mbok Nah nanar mencari tempat duduk. Tak lama ia temui tempat yang strategis untuk menjajakan cobek yang diambilnya dari Juragan Kardi tempo hari. Emper toko mas yang masih tutup, bersebelahan dengan penjual aneka macam sayuran. Walau kantuk menyerang, ia bertekad menjual habis cobek-cobek sebesar piring makan itu. Pikirannya melayang pada sosok pucat yang terbujur tak berdaya di gubuk reotnya. Mbah Karyo. Orang yang selalu ada disisinya setelah setengah abad ia mengarungi bahtera rumah tangga.
“Seandainya aku punya anak, mungkin hari tuaku tak sesuram ini,” pikir Mbok Nah menerawang.
“Astagfirullah…gusti Pangeran, mikir opoo kulo iki. Esih mending kulo dhuwe bojo sing eman,” gumamnya.
Ya, mbok Nah masih bersyukur walau tak punya keturunan, ia masih memiliki tetangga yang baik dan terutama kaya. Karena alasan ini pulalah ia dapat berjualan di Pasar yang ramai seminggu tiga kali itu. Juragan Kardi yang tinggal persis bersebelahan dengannya mau merelakan sebagian barang-barang kodiannya dijual eceran oleh nenek yang hampir tumbang kala mengangkat peralatan dapur tradisional itu. Walaupun sebenarnya yang ngotot Mbok Nah diberi dagangan, adalah istri pertama Juragan Kardi, Nyi Isah yang utang budi waktu melahirkan anaknya. Mau tak mau Juragan Kardi yang terkenal pelit dan culas pun tak kuasa menolak rajukan sang istri.
Mbok ! Simbok ! Angger dagang aja nglamun, Mengko daganganne ilang nggari bingung mbayar maring Juragan lho !” Kasman si tukang sayur menimpali.
Hmmmm. Tiba-tiba dari arah jongko Engko Bun tercium semerbak aroma bawang goreng yang membangkitkan selera. Mbok Nah pun tak kuasa menelan air liurnya. Perut keroncongan yang ia rasakan sejak kemarin, membuat perutnya mulas. Tapi, hari ini uangnya belum terkumpul sepeserpun. Bahkan hanya sekedar untuk membeli nasi jagung untuk pengganjal perut.
***
“Pergi Kasman!!!Pergi kamu!!” teriakanku parau memecah kesunyian dipagi buta.
“Mau apa lagi KAMU? Belum puas kamu bikin hidupku menderita? Atau kamu sengaja ingin melihat aku mati, ANJING!!?”
PLAAKK, sesuatu yang cukup keras menerpa wajahku yang kusut. Kurasa, tamparan itu dapat kutahan, tapi ternyata darah segar mengalir disela-sela bibirku. Dan, rasanya perih.
Cukup. Habis sudah kesabaranku, kali ini. Aku tak peduli kedua mata bocah yang menangis tersedu-sedu melihat ibu mereka dihajar babak belur oleh ayah mereka sendiri. Kulirik mereka sekilas, dan rasa sesak menyeruak di dadaku. Bahkan aku kesulitan bernapas. Tiba-tiba mataku seolah membawaku pada botol beling yang tergeletak di lantai. Refleks tanganku meraih benda keras itu, dan….
BRAAKKKK….Kasman ambruk. Kepalanya dipenuhi cairan kental berwarna merah. Aku, aku bahkan tak mampu melihatnya. Sekilas kupandangi dua pasang mata malaikat yang terlihat pucat di pintu. Tiba-tiba mereka lari menghambur keluar, dan menjerit-jerit ketakutan. Aku tidak begitu mendengar persis apa yang mereka katakan, hanya…mati, itu yang aku dengar.
Tiba-tiba kupandangi sosok kaku yang terbujur dihadapanku. Kutarik mulutku ke belakang, dan anehnya aku tersenyum. Senyumku makin lama makin lebar hingga membentuk sebuah tawa, tawa pedih yang mencekam.”haa….ha…haaa…” tawaku makin membahana.
Namun seiring pagi datang, rumahku menjadi sesak. Orang-orang berkerumun dan memandangi Kasman yang tak mau bangun, sementara aku tersimpuh di sebelahnya sambil terbahak-bahak. Tiba-tiba beberapa pria berseragam cokelat dan dua orang berpakaian putih-putih mencengkram lenganku erat-erat. Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun aku menurut saja, bahkan saat mereka mengikatkan seragam putih yang bagian tangannya membuat tanganku terikat ke belakang. Tiba-tiba semuanya terasa gelap, saat sebuah tusukan jarum kurasakan ditanganku. Aku pun limbung, terasa tenang, dan hilang…..
***
Kupandangi sabana yang terbentang dihadapanku. Tak ada yang lain, hanya kehijauan yang mengisi kornea mataku. Tiba-tiba dari ujung hijau itu, seolah kulihat seorang pria melambai-lambai ke arahku. Kian lama kian dekat, dan aku tahu orang itu Kasman. Orang yang aku cintai sekaligus aku benci. Karenanya aku rela hidup berkubang kemiskinan, namun karena dia pula, aku terpuruk dan orang-orang menyebutku sinting, pembunuh, dan berbagai sebutan keji lainnya.
“Sih!! Tarsih!! Bangun! Dengar Simbok! Eling!” tiba-tiba dari sebelah kudengar ibu memanggil-manggilku sambil menangis. Perlahan, sabana itu makin kabur, dan Kasman sudah tidak jelas lagi. Tiba-tiba ruangan itu menjadi putih dengan aroma yang menyengat. Kubuka mataku dan ibu menangis sesenggukan di samping tempat tidur.
“Mboook, aku di mana?” ucapku lirih.
Ndoo, koe semaput wis rong dina, saiki nang puskesmas. Simbok khawatir. Simbok takut terjadi apa-apa sama kamu,” Mbok Karsih terbata-bata di antara isak tangisnya.
“Mbok, Supri karo Tati nang ndhie?” saat kusadari kalau kedua anakku tak kulihat di sini.
Wis, koe ora usah mikir, anak-anakmu nang omah. Nyebut ndok....” rintihan lirih ibu terasa menyayat hatiku. Namun, setelah lama terdiam aku merasa meringkik. Makin lama makin keras, setelah itu semuanya seperti hilang. Jiwaku berlari menjauhi tubuhku, simbok, dan semua orang yang berkerumun di ruang tengah. Aku ingat ketika tangan-tangan gempal mencengkramku yang berontak. Mereka mengikatku dan menjejalkan tubuhku ke sebuah benda aneh yang bergerak.. Anehnya aku bisa tertawa lepas saat itu, sedangkan orang-orang itu makin histeris menangisi kepergianku.
***
Meski terantuk-antuk karena kurang tidur, Mbok Nah tetap setia di samping dagangannya. Sejak subuh tadi, selusin cobek yang dijajakannya belum ada yang menyentuhnya satu pun. Namun, ia pantang menyerah, karena teringat suaminya yang tengah berjuang melawan TBC. Matahari sudah tergelincir, menandakan hari makin beranjak siang. Dari kejauhan dilihatnya, sesosok yang ia kenal tengah berjalan seperti hendak menghampirinya. Sosok itu dilengkapi dua pria yang mengikutinya. Tak salah lagi, itulah istri muda Juragan Kardi, Kartinem. Perasaan mbok Nah pun jadi ketar-ketir teringat akan utang-utangnya pada bos cobek itu. Namun, ia tak mungkin menghindar, karena toh akhirnya ia akan kena tagih juga. Jaraknya dengan Kartinem hanya tinggal beberapa langkah, namun anehnya istri juragan itu hanya memandangnya acuh tak acuh.
Sugeng Rawuh, den!,” Mbok Nah benar-benar terliat menghamba di depan perempuan berusia 20 tahunan itu. Sementara yang disapa tak sedikit pun menaruh hormat pada orang tua yang sudah membungkuk hingga 90 derajat itu.
Kartinem memang tidak cocok menjadi istri bangsawan macam Juragan Kardi. Mungkin karena faktor keturunan dan lingkungan tempat ia dibesarkan. Gadis berusia 20 tahun ini memikat Juragan Kardi yang sering mampir ke sebuah warung remang-remang milik ibu Kartinem di pinggir terminal Purwokerto. Tubuhnya yang sintal dan berisi selalu ia pamerkan dengan pakaian minim kala melayani para supir truk yang memesan kopi. Rupanya Kartinem pun sangat tergoda dengan uang yang dimiliki Juragan Kardi, meski lelaki ini telah beristri. Ia tak peduli. Malah, ia ingin menghancurkan perkawinan Juragan Kardi, agar ia dapat menjadi nyonya Kardi yang baru. Muslihatnya berhasil dan kini ia pun dengan bebas melenggang sebagai istri kesayangan Juragan culas itu. Meski kelakuannya, macam perempuan terminal saja.     
Angger dhuwe utang mesti dibayar gasik mbok!” tiba-tiba Kartinem mencibir saat lewat.
Njih...den, kulo durung dhuwe nggo bayare!” sanggah Mbok Nah sambil terus tertunduk.
Mangkane, aja sok-sok nyilih duit!” tukas Kartinem sambil berlalu.
***
Ruangan putih ini seharusnya menjalarkan ketenangan padaku. Tak hanya dindingnya yang putih pusat, tempat tidur, hingga baju yang kukenakan pun tampak seperti disiram pemutih. Namun, terus terang aku tak kuat mencium bau karbol yang begitu menyengat. Perlahan kubuka mata, sepertinya masih pagi... Beranjak dari tempat tidur, kupandangi beberapa orang tertawa-tawa di halaman, meski raut muka mereka tidak terlihat bahagia. Ingin rasanya aku bergabung mereka, merasakan kebebasan itu. Tiba-tiba dorongan itu begitu kuat, hingga kugebrak-gebrak jendela besi yang mirip penjara. Semakin keras aku berteriak, semakin keras pula mereka tertawa. Mereka mentertawakanku....
”Dok, pasien 64 butuh penenang!” tiba-tiba beberapa wanita muda berhamburan ke arah kamarku. Tapi aku tak peduli, karena ingin kuhajar orang-orang di luar yang telah mentertawakanku. Makin kuat pula kuhantamkan kepalaku ke sel yang dingin itu. Tiba-tiba aku merasa lemas dan mengantuk seiring tusukan jarum di lenganku.
”Tarsiiiiiiiihhhhh.....kulo demen karo koe,” teriak Kasman lantang.
Aku yang tengah berdiri di padang rumput yang luasnya tak terhingga hanya tersenyum. Aku pun menyambut uluran tangannya dan kupeluk ia erat-erat. Namun, tubuhnya menghilang bagai asap. Makin kugengggam, tubuhnya kian hampa. Aku pun menjerit sekeras mungkin. Akhirnya aku tersadar, Kasman memang tidak ada di sisiku, ia telah mati...Sejak kebiasaannya menyiksaku dikala mabok, rasa cinta dan sayangku padanya luluh lantak. Kasman yang kupilih sendiri menjadi pendamping hidupku, ternyata malah menyia-nyiakanku. Rasa sakit hatiku terasa semakin kuat, bahkan saat kesadaranku makin menghilang. Rasanya tak dapat kugambarkan, sepertinya ada lubang menganga di dadaku, sementara hatiku bagai diiris-iris ribuan silet. Bahkan obat penenang pun tak mampu mengalahkannya. Akhirnya, di ambang kesadaran yang tak jelas, aku hanya bisa menangis tersedu-sedu.
***
Matur nuwun cah bagus!” Mbok Nah mengungkapkan rasa terima kasihnya berkali-kali pada pemuda yang membeli salah satu cobek yang dijualnya. Sementara Tetuko, nama pria berusia dua puluhan itu hanya tersenyum simpul sembari menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
Waduh den, simbok ora nana jujule,” tutur Mbok Nah.
Boten napa-napa mbok, kembaliannya buat mbok saja...” Tuko kembali tersenyum.
Tak lama ia pun pamit. Meski di mata Mbok Nah sangat aneh seorang pria membeli cobek, namun ia tak peduli. Uang lima puluh ribuan yang diterimanya menjadi pelipur laranya sejak tadi pagi. Bahkan seluruh cobeknya pun jika terjual habis tak sampai seharga lima puluh ribu. Ia pun beranjak pulang setelah membeli dua nasi bungkus murahan untuknya dan suaminya. Mbok nah pun kelihatan riang selama perjalanan pulang, bahkan tak jarang ia melagukan bait-bait jawa macam Lir Ilir... Ia tak sabar ingin menjumpai belahan jiwanya, Mbah Karyo yang sudah seminggu meringkuk karena TBC. Sekitar lima meter di depan rumahnya, ia tertegun karena banyak sekali orang berkumpul di halaman rumahnya. Ia pun bertanya-tanya. Tiba-tiba tetangga sebelah rumahnya, Surti merangkulnya sembari sesenggukan. Bebannya pun bertambah, cobek di punggung dan Surti yang seperti anak kecil.
”Ti, nyebut...Eling. Ana apa karo koe?” Mbok Nah yang kebingungan berusaha menenangkan Surti.
”Mbok, sabar ya mbok...huuuuu...huuu...” Surti membalikkan ucapan Mbok Nah tanpa menghentikan tangisannya. ”Lho, piye toh Ti? Memang aku mesti sabar kenapa? Harusnya kamu yang sabar!” Mbok Nah menimpali sembari menurunkan barang dagangannya.
”Simbok yang sabar...si Mbah...Mbah Karyo....” Surti terbata-bata.
”Kenapa sama Simbah, Ti?” Mbok Nah mulai panik.
Surti memang sudah dianggap anaknya sendiri. Gadis dua puluh lima tahun ini selalu menyempatkan diri menengok dua renta tetangganya itu. Bahkan, tak jarang ia mengirim makanan pada Mbok Nah.
”Mbah Karto...huuuu..Mbah Karyo wis lewat..huuu...Simbah jatuh di kamar mandiiii....” Surti meraung-raung.
Demi mendengar berita itu, Mbok Nah langsung pucat pasi. Ia merasa ada sesuatu yang tercerabut dari jiwanya. Nasi bungkus dalam genggamnya terlepas ke tanah. Pandangannya menerawang, tapi anehnya ia tak dapat mengeluarkan air matanya sedikit pun. Akhirnya, ia terduduk lemas di tanah tanpa berucap sepatah kata pun.
***
Sudah tiga hari Tetuko menginjakkan kakinya di bumi Banyumas, ia pun kian menyukai suasana kota mendoan itu. Mahasiswa asal jakarta itu memang tengah melanjutkan pendidikanya di salah satu perguruan ternama di kota kecil itu. Hobinya pada bidang Fotografi membawanya pada Jurusan Ilmu Komunikasi. Sebenarnya, bila Tuko mau, demikian ia biasa disapa, ia bisa saja meminta orang tuanya menyekolahkannya di perguruan luar negeri sekalipun. Namun, tawaran ibu-bapaknya untuk mengambil manajemen bisnis, ditolaknya mentah-mentah.
Hari ini ia berniat hunting foto. Tak ingin berlama-lama menentukan tempat, ia memutuskan pergi ke tempat favoritnya, Baturraden. Peralatan tempurnya sudah tersusun rapi di ranselnya. Kamera digital, lensa tele terpisah, topi gunungnya tersampir ditengkuknya, botol air mineral, dan tentu saja Ipod kesayangannya. Tuko memang bukan penyuka gadget berbau hi-tech, namun Ipod ini tak pernah lepas dari genggamannya. ”Pemberian orang spesial,” ungkapnya jika teman-temannya selalu menanyakan Ipodnya. Ini pula yang selalu membuat mood-nya berubah jika lupa membawa Ipod kesayangannya.
Selain pemandangan alam, objek utama yang menarik perhatian Tuko adalah human interest. Untuk mendukung hobinya, ia telah menyewa sebuah rumah untuk dikontrak dan dijadikannya studio foto. Meski peralatan fotografinya masih banyak yang tertinggal di Jakarta. Dipandangainya, rumah kontrakannya sebelum ia menstater motor ninjanya.
”Ko, loe mo ninggalin gue yah?” Tyo menghambur ke arahnya sambil terengah-engah. Tuko langsung tertawa. Ia memang selalu terhibur dengan tingkat teman kuliahnya itu. Terlebih gaya bicaranya yang sok meniru-niru anak Jakarta, namun dengan logat medok khas Tegal. Tyo yang tinggal tak jauh dari kontrakan Tuko memang cepat akrab. Bahkan, saat kepindahan Tuko beberapa hari lalu, Tyo dengan sukarela membantu menurun-nurunkan barang bawaannya yang banyak. Tak disangka, ternyata Tyo dan Tuko kuliah di jurusan yang sama. Alhasil, mereka langsung nyobat meski baru dua hari bertemu.
”Sorry sob, gue kira loe ga ikut hunting hari ini. Buruan, ntar keburu siang!” Tukas Tuko seraya nunjuk jok motor di belakangnya.
***
”Ke mana nih? Bukannya mau ke Baturraden, koq malah ke pasar?”Tyo berteriak di antara deru motor.
”Udaaahh...loe tenang aja. Ga bakal gua bawa kabur koq! Gua inget, di pasar ini ada objek bagus! Ke Baturradennya ntar abis dari sini aja!”
Tak lama, Tuko menepikan motornya di trotoar yang berseberangan dengan Pasar Glempang. Pagi itu, pasar masih cukup ramai dengan pedagang kaki lima. Tuko clingak-clinguk, tapi tak menemukan yang dicarinya.
”Loe nyari apaan Ko? Tyo kebingungan.
”Tunggu bentar, sob. Gua ke sana dulu.” Tuko beringsut menyeberang.
”Dasar orang aneh. Kemarin beli cobek dari nenek tua, sekarang balik lagi ke pasar,” gumam Tyo. Tapi, tak ayal diturutinya juga ucapan Tuko. Ia pun duduk dijok motor sembari memperhatikan kawannya pergi. 
***
”Liir...Iliiiiirrr....,”Lamat-lamat Surti mendengar Mbok Nah melantunkan lagu dari sebelah rumahnya. Suaranya terdengar nelangsa, membuat Surti menitikan air mata. Ia baru saja menunaikan shalat Subuh, tapi Mbok Nah belum juga beranjak dari teras rumahnya. Hari ini, Surti tidak menginap di rumah janda tua itu, karena sejak semalam badannya panas. Tapi ia, selalu memikirkan tetangga tuanya itu. Sudah seminggu sejak kematian suaminya, Mbok Nah tak pernah lagi berangkat jualan ke pasar. Meski tubuhnya masih terasa lemas, Surti beranjak dari sajadahnya. Ia menuju rumah Mbok Nah. Di dapatinya wanita tua itu tengah termangu memandang langit dengan mata kosong. Lagu Lir Ilir tak berhenti ia lantunkan.
”Mbok, ora lunga maring pasar ?” Tanya Surti. Mbok Nah hanya menggeleng lemah.
”Ya wis, saiki Surti bae sing dodhol cobek. Mbok khan butuh maem...”
Surti beringsut dan memanggul cobek-cobek Mbok Nah di punggungnya. Di sini ia baru sadar betapa beratnya beban yang harus dirasakan Mbok setiap harinya. Langkahnya sedikit limbung karena ia tak biasa membawa beban sebanyak itu. Tak terasa, ia meneteskan air mata. Tak ingin terlihat sedih, Surti bergegas menuju pasar. Pasar masih terlihat ramai, ia pun menemukan tempat biasa Mbok Nah berjualan, di sebelah Parjo, tukang sayur di seberang jongko Engko Bun yang cukup mewah. Kelihatannya jongkonya masih tutup, Parjo menyapanya.
”Ti, koe gantiin Mbok Nah jualan?” Piye kabare Mbok Nah?” Parjo bertanya meski tangannya sibuk menata sayuran.
”Iya mas, Simbok lagi kurang enak badan.” Surti mulai berbenah cobek-cobeknya.
”Kemarin bojone Juragan Kardi nagih utang, kayane simbok urung mbayar utang. Kartinem mencak-mencak Ti. Koe, ati-ati bae ya!” Parjo berbisik-bisik sambil tengok kiri kanan. Surti hanya mengangguk dan tersenyum.
”Mbak numpang tanya, kalo mbok tua yang suka jualan cobek di sini pindah ke mana yah?” Tuko menyapa Surti yang sedang bengong.
”Oh...maaf, maksud mas, Mbok Nah? Surti terlihat kaget.
”Oh..jadi namanya Mbok Nah! Itu ibunya mbak yah?”
Surti menggeleng sembari tersenyum, ”Tapi dia sudah saya anggap ibu. Ngomong-ngomong, mas ini siapa yah? Koq menanyakan Mbok Nah?”
”Saya ingin menawarinya jadi model foto saya,” ujar Tuko serius.
Surti pun tak bisa menahan tawanya yang renyah. Ia merasa lucu, karena Mbok nah yang sudah uzur tak mungkin bisa jadi model foto. Ia tertawa sambil memegangi perut kecilnya. Tuko merasa sedikit kesal dengan kelakuan gadis kecil di depannya.
”Mbak, saya serius!
    

  
  
         

No comments: