Monday, 15 September 2014

The Marriage



Menikah, mungkin itu adalah pengalaman yang diinginkan sebagian besar para gadis. Termasuk aku.....secara, banyak wanita yang tak ingin menjadi perawan tua. Tapi, menikah ternyata bukan hanya usaha mengganti status. Ada banyak hal yang bahkan masih tak kumengerti, meski sudah menjalaninya sendiri. Satu lagi, meski namanya sama, MENIKAH tapi pengalaman yang akan didapat setiap orang berbeda-beda.
Empat tahun lalu, kuputuskan mengakhiri masa lajangku. Umurku baru 27 tahun waktu itu. Ups, buat wanita ternyata menikah diusia segitu sudah cukup tua lho.....bahkan, jauh sebelum usiaku 25 tahun, pertanyaan “Kapan nikah?” sudah sering aku dengar dari kerabat terutama nenek. Padahal, umur 20an, aku masih harus berkutat dengan penelitian skripsi di kampusku. Boro-boro pengen cepet menikah. Tapi namanya juga orang tua, selalu khawatir ga kesampaian melihat anak cucunya menikah, atau anaknya telat menikah dibanding anak-anak gadis tetangga.
Keputusan untuk menikah di umur 27 tahun sebenarnya, bukan keputusan yang matang saat itu. Yaa, walaupun calon sudah ada, aku sudah bekerja, tapi tabunganku masih cenderung minim. Maka, ini adalah keputusan paling berani yang pernah kulakukan. Tapi, alhamdulillah niat baik selalu diberikan jalan yang baik pula oleh Tuhan. Awalnya terasa berat, dan masih ragu. Soalnya, aku dan calon suamiku baru kenal hanya beberapa bulan saja. Kami memutuskan menikah setelah menjalani masa perkenalan selama enam bulan. Terserah orang mau bilang kami pacaran, tapi kami berusaha mengenal satu sama lain, tanpa menutup-nutupi sisi buruk kami. Sementara orang pacaran biasanya hanya memperlihatkan yang bagus-bagusnya aja. Begitu nikah aja, ketahuan sifat-sifat aslinya.
Setelah kedua keluarga setuju dan menentukan hari baik, kami menikah juga. Mungkin orang lain merasa deg-degan ketika akan melangsungkan ijab qabul ataupun menggelar resepsi pernikahan. Banyak yang merasa khawatir, acaranya tidak lancar atau bahkan mungkin sempat ada yang berpikir bagaimana kalau hidangan untuk para undangan tidak cukup? Alhamdulillah hal-hal bersifat seremonial itu tak menggangguku. Dari awal, kami memang berniat menggelar pernikahan kami dengan menggelar syukuran, tanpa bermaksud bermewah-mewahan. Yang penting para tetangga dan kerabat dekat maupun jauh dapat ikut berbahagia bersama kami. Dan alhamdulillah, para tamu undangan terlihat gembira ketika menghadiri pernikahan kami. Itu kan salah satu tujuan resepsi pernikahan, supaya tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Banyak yang menggelar pernikahan tertutup, omongan yang beredar, hamil duluanlah, tidak direstuilah, banyak utang dan lain sebagainya. Padahal, itu hak masing-masing orang mau menggelar pesta atau tidak.
Menjadi pengantin atau raja dan ratu sehari memang menyenangkan, kami hanya perlu duduk manis. Tapi, cukup sekali saja aku berdandan sebagai pengantin. Amiiin.... terus terang, semua orang berharap pernikahannya hanya sekali untuk seumur hidup. Aku pun berharap begitu. Selain itu, menjadi pengantin ternyata sedikit menyiksa bagi orang yang tak pernah berdandan sepertiku.
Akhir kata, pesta pernikahanku berjalan lancar mulai dari akad nikah hingga menerima tamu undangan terakhir. Semuanya pun kembali ke rumah ibu, dengan sisa rasa capek yang menggelayut, karena berkostum tidak biasa sepanjang hari. Belum lagi mukaku sudah tak kuat menanggung beban make up yang begitu tebal. Aku pun masih merasakan tinggal bersama orang tua selama tiga hari, sebelum suamiku memboyongku ke rumah mertua. Saat itu aku berkata, “welcome to the jungle”. Hahahaaa,,,,no heart fealing, aku tidak bermaksud apa-apa, tapi kehidupanku yang sebenarnya memang baru mulai setelah kami disatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana menjalani hidup berdua setelah sekian lama terbiasa hidup sendiri.
Itulah intinya pernikahan, sebulan pertama adalah masa bulan madu bagi pengantin baru. Selanjutnya, dalam kehidupan masalah pun muncul. Memang bagi kami waktu itu tidak ada hal berarti yang menyerang kami, yaa...hanya pertengkaran-pertengkaran kecil sebagai tanda sayang..... terlebih, aku mulai menunjukkan kehamilanku di bulan ketiga setelah kami menikah. Kami yang baru menikah ternyata sudah diberi amanah oleh Yang Kuasa, dengan rizki yang besar, yaitu anak. Kami sempat berpikir, apakah kami mampu untuk menerimanya, karena waktu itu kehidupan kami secara ekonomi masih jauh dari kata cukup. Namun keluarga besar dan suami selalu mendukung dan memang sudah menginginkan kehadiran seorang anak. Aku pun berusaha menjalaninya.
Di awal-awal kehamilan, bukan hal yang mudah terlebih masih tinggal bersama mertua. Seringkali morning sick menyiksaku. Aku yang terbiasa menjalani aktivitasku dengan lancar pun mulai tumbang. Hampir-hampir aku memutuskan keluar dari pekerjaanku di sebuah kantor konsultan. Rasa malu karena sering ijin sakit, lalu malu pada mertua karena lebih sering terbaring lemah di kamar, adalah siksaan pertamaku dalam pernikahan. Beruntung, aku memiliki suami dan keluarga yang selalu menyemangatiku untuk tetap bersabar demi calon buah hati. Menginjak usia keempat bulan, kehamilanku mulai stabil dan tidak terlalu bermasalah. Aku pun masih dapat bekerja, meski tidak terlalu berat.
Seiring waktu, kehamilan yang bertambah besar akhirnya, aku melahirkan bayi laki-laki yang lucu. Pada saat itu, adalah siksaan kedua sekaligus obat penawar bagiku dalam pernikahanku. I have a baby.......meski rasa sakit yang masih terus terbayang ketika proses persalinan, namun aku selalu takjub melihat jabang bayiku, yang bermata sama sepertiku. Kami pun sepakat menamainya Rizky Budiman, sebagai rasa syukur kami yang telah diberi rejeki anak dan amanah yang besar. Kami pun resmi menjadi orang tua (Abah dan Ambu).
Namun, Tuhan tak pernah memberi nikmat senang saja pada umatnya. Rupanya selain rasa gembira, tuhan pun memberi kami hadiah lain. Pernikahan kami baru menginjak tahun kedua, ketika kami dikaruniai bayi yang lucu. Ternyata, pernikahan kami mulai dirongrong kerikil yang sangat mengganggu terutama buatku. Ada seseorang yang ingin memasuki kehidupan kecil kami dan mungkin mengganggu pernikahan kami. Awalnya, aku tak menyadarinya, karena terlalu bahagia dengan si kecil, sehingga hampir lupa bahwa aku pun memiliki suami yang butuh perhatian. Memang aku sendiri tak merasa menelantarkan suamiku, meski kuakui perhatian untuk si kecil demikian besarnya. Hal ini pun aku pikir perlu menjadi catatan istri manapun ketika menikah dan memiliki anak, suami terkadang terlupakan.
Namun disisi lain, aku pikir suami pun harus mengerti kondisi istri yang sudah tersiksa dan kepayahan menghadapi persalinan yang berat. Belum lagi harus membiasakan diri dengan lahirnya seorang bayi yang pasti membutuhkan perhatian besar. Sehingga perlu adanya kompromi dan saling mengerti atas apa yang terjadi. Tentunya, ini pukulan buatku. Disaat bayiku baru beberapa bulan, ternyata ada orang kurang ajar yang sangat tidak tahu diri menawarkan diri pada suamiku. Inilah siksaan pernikahan yang ketiga bagiku, ketika merasa dikhianati oleh orang yang sangat dekat dan aku percaya. Untungnya, aku tidak sempat bertemu muka dengan orang itu. Jika saja sampai bertemu muka, sudah kutarik jilbabnya dan kujambak rambutnya.
Tapi aku masih bisa menahan diri. Aku berpikir buat apa menghabiskan energi untuk mengurusi orang tak tahu diri, lebih baik aku fokus pada keutuhan rumah tanggaku. Meski rasa kecewa ini sangat menyesakkan dada, aku selalu terhibur jika melihat anakku terus tumbuh besar dan selalu sehat. Biarlah orang tersebut mendapat karmanya sendiri. Misalnya, nikahnya telah atau susah jodohnya? Heheheee,,,astagfirullahal adzim, jangan menyumpahi orang, biarlah Tuhan yang balas.
Alhamdulillah, memasuki tahun keempat pernikahan kami, aku semakin banyak merenungi yang sudah terjadi. Memang sebagai istri, aku masih banyak kekurangan terhadap suamiku. Demikian pula suamiku. Mungkin aku tak seperti Siti Khadijah yang sangat bijaksana, tak seperti Siti Fatimah yang sangat berani, tapi aku selalu berusaha meneladaninya. Selain itu, aku selalu berusaha menjadi orang tua yang baik dan benar bagi anakku yang semakin tumbuh besar. Aku tak ingin anakku selalu mencontoh hal-hal buruk dariku, karena dia adalah cerminan kami sebagai orang tuanya.
Semakin lama, kami menjalani pernikahan seperti layaknya partner dalam memecahkan berbagai persoalan. Persoalan ekonomi, visi dan misi ke depan, bahkan hingga persoalan wangi sabun mandi. Kenapa? Hal-hal kecil seperti inilah yang menurutku akan memperkuat ikatan antara suami dan istri dalam pernikahan. Sebulan sekali menggunakan sabun dengan wangi yang berbeda hanya untuk mengetahui mana yang lebih wangi, membeli farfum yang berbeda-beda setiap bulan untuk mengetahui mana yang lebih wangi. Atau sekadar membelikan jajanan untuk istri atau suami sepulang kerja. Kami pun berusaha menjaga cinta yang menggebu-gebu ketika awal pernikahan tidak pernah luntur hingga saat ini. Yaa...walaupun terkadang ada saatnya sebagai istri merasa kesal pada suami ketika banyak kerjaan di luar. Atau sebaliknya, suamiku yang kesal padaku gara-gara lupa memberinya minum ketika pulang kerja. Kami berusaha saling introspeksi diri masing-masing.
Aku pun selalu berusaha ikhlas pada semua kekurangan suamiku, agar ia dapat menjadi suami yang baik dan mampu membawa anak istrinya pada kebaikan. Untuk suamiku, kudo’akan agar menjadi suami yang mampu membawa keluarganya pada kebaikan, dipanjangkan usianya, selalu diberi kemudahan dalam mencari rizkinya dengan rizki yang halal dan berlimpah, diberikan kesehatan lahir dan bathin, dijauhkan dari marabahaya, serta diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah. Amiiiiiiin.
Sementara untuk anakku tersayang, Rizki Budiman, semoga menjadi anak yang sholeh, makin pintar dan sehat selalu, panjang umur, diberi rizki dan ilmu yang berlimpah dan barokah, dijauhkan dari marabahaya, serta diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah. Amiiiiiiin.
Sementara untuk diriku, mudah-mudahan aku sellau bisa menjadi istri dan ibu yang baik buat suami, semakin mengerti suami, mendapat rizki yang halal dan berlimpah, sehat selalu, dijauhkan dari marabahaya, panjang umur dan menyaksikan anakku tumbuh dewasa. Jika kelak aku meninggal, mudah-mudahan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Amiiiiinnn...

No comments: