Menikah, mungkin itu adalah pengalaman yang
diinginkan sebagian besar para gadis. Termasuk aku.....secara, banyak wanita
yang tak ingin menjadi perawan tua. Tapi, menikah ternyata bukan hanya usaha
mengganti status. Ada banyak hal yang bahkan masih tak kumengerti, meski sudah
menjalaninya sendiri. Satu lagi, meski namanya sama, MENIKAH tapi pengalaman
yang akan didapat setiap orang berbeda-beda.
Empat tahun lalu, kuputuskan mengakhiri
masa lajangku. Umurku baru 27 tahun waktu itu. Ups, buat wanita ternyata
menikah diusia segitu sudah cukup tua lho.....bahkan, jauh sebelum usiaku 25
tahun, pertanyaan “Kapan nikah?” sudah sering aku dengar dari kerabat terutama
nenek. Padahal, umur 20an, aku masih harus berkutat dengan penelitian skripsi
di kampusku. Boro-boro pengen cepet menikah. Tapi namanya juga orang tua,
selalu khawatir ga kesampaian melihat anak cucunya menikah, atau anaknya telat
menikah dibanding anak-anak gadis tetangga.
Setelah kedua keluarga setuju dan
menentukan hari baik, kami menikah juga. Mungkin orang lain merasa deg-degan
ketika akan melangsungkan ijab qabul
ataupun menggelar resepsi pernikahan. Banyak yang merasa khawatir, acaranya
tidak lancar atau bahkan mungkin sempat ada yang berpikir bagaimana kalau
hidangan untuk para undangan tidak cukup? Alhamdulillah
hal-hal bersifat seremonial itu tak menggangguku. Dari awal, kami memang
berniat menggelar pernikahan kami dengan menggelar syukuran, tanpa bermaksud
bermewah-mewahan. Yang penting para tetangga dan kerabat dekat maupun jauh
dapat ikut berbahagia bersama kami. Dan alhamdulillah,
para tamu undangan terlihat gembira ketika menghadiri pernikahan kami. Itu kan
salah satu tujuan resepsi pernikahan, supaya tidak menimbulkan fitnah bagi
orang lain. Banyak yang menggelar pernikahan tertutup, omongan yang beredar,
hamil duluanlah, tidak direstuilah, banyak utang dan lain sebagainya. Padahal,
itu hak masing-masing orang mau menggelar pesta atau tidak.
Menjadi pengantin atau raja dan ratu sehari
memang menyenangkan, kami hanya perlu duduk manis. Tapi, cukup sekali saja aku
berdandan sebagai pengantin. Amiiin.... terus terang, semua orang berharap
pernikahannya hanya sekali untuk seumur hidup. Aku pun berharap begitu. Selain
itu, menjadi pengantin ternyata sedikit menyiksa bagi orang yang tak pernah
berdandan sepertiku.
Akhir kata, pesta pernikahanku berjalan
lancar mulai dari akad nikah hingga menerima tamu undangan terakhir. Semuanya
pun kembali ke rumah ibu, dengan sisa rasa capek yang menggelayut, karena
berkostum tidak biasa sepanjang hari. Belum lagi mukaku sudah tak kuat
menanggung beban make up yang begitu
tebal. Aku pun masih merasakan tinggal bersama orang tua selama tiga hari,
sebelum suamiku memboyongku ke rumah mertua. Saat itu aku berkata, “welcome to
the jungle”. Hahahaaa,,,,no heart fealing,
aku tidak bermaksud apa-apa, tapi kehidupanku yang sebenarnya memang baru mulai
setelah kami disatukan dalam ikatan pernikahan. Bagaimana menjalani hidup
berdua setelah sekian lama terbiasa hidup sendiri.
Itulah intinya pernikahan, sebulan pertama
adalah masa bulan madu bagi pengantin baru. Selanjutnya, dalam kehidupan
masalah pun muncul. Memang bagi kami waktu itu tidak ada hal berarti yang
menyerang kami, yaa...hanya pertengkaran-pertengkaran kecil sebagai tanda
sayang..... terlebih, aku mulai menunjukkan kehamilanku di bulan ketiga setelah
kami menikah. Kami yang baru menikah ternyata sudah diberi amanah oleh Yang
Kuasa, dengan rizki yang besar, yaitu anak. Kami sempat berpikir, apakah kami
mampu untuk menerimanya, karena waktu itu kehidupan kami secara ekonomi masih
jauh dari kata cukup. Namun keluarga besar dan suami selalu mendukung dan
memang sudah menginginkan kehadiran seorang anak. Aku pun berusaha menjalaninya.
Di awal-awal kehamilan, bukan hal yang
mudah terlebih masih tinggal bersama mertua. Seringkali morning sick menyiksaku. Aku yang terbiasa menjalani aktivitasku
dengan lancar pun mulai tumbang. Hampir-hampir aku memutuskan keluar dari
pekerjaanku di sebuah kantor konsultan. Rasa malu karena sering ijin sakit,
lalu malu pada mertua karena lebih sering terbaring lemah di kamar, adalah
siksaan pertamaku dalam pernikahan. Beruntung, aku memiliki suami dan keluarga
yang selalu menyemangatiku untuk tetap bersabar demi calon buah hati. Menginjak
usia keempat bulan, kehamilanku mulai stabil dan tidak terlalu bermasalah. Aku
pun masih dapat bekerja, meski tidak terlalu berat.
Seiring waktu, kehamilan yang bertambah
besar akhirnya, aku melahirkan bayi laki-laki yang lucu. Pada saat itu, adalah
siksaan kedua sekaligus obat penawar bagiku dalam pernikahanku. I have a baby.......meski rasa sakit
yang masih terus terbayang ketika proses persalinan, namun aku selalu takjub
melihat jabang bayiku, yang bermata sama sepertiku. Kami pun sepakat menamainya
Rizky Budiman, sebagai rasa syukur kami yang telah diberi rejeki anak dan
amanah yang besar. Kami pun resmi menjadi orang tua (Abah dan Ambu).
Namun, Tuhan tak pernah memberi nikmat
senang saja pada umatnya. Rupanya selain rasa gembira, tuhan pun memberi kami
hadiah lain. Pernikahan kami baru menginjak tahun kedua, ketika kami dikaruniai
bayi yang lucu. Ternyata, pernikahan kami mulai dirongrong kerikil yang sangat mengganggu
terutama buatku. Ada seseorang yang ingin memasuki kehidupan kecil kami dan
mungkin mengganggu pernikahan kami. Awalnya, aku tak menyadarinya, karena
terlalu bahagia dengan si kecil, sehingga hampir lupa bahwa aku pun memiliki
suami yang butuh perhatian. Memang aku sendiri tak merasa menelantarkan
suamiku, meski kuakui perhatian untuk si kecil demikian besarnya. Hal ini pun
aku pikir perlu menjadi catatan istri manapun ketika menikah dan memiliki anak,
suami terkadang terlupakan.
Namun disisi lain, aku pikir suami pun
harus mengerti kondisi istri yang sudah tersiksa dan kepayahan menghadapi
persalinan yang berat. Belum lagi harus membiasakan diri dengan lahirnya
seorang bayi yang pasti membutuhkan perhatian besar. Sehingga perlu adanya
kompromi dan saling mengerti atas apa yang terjadi. Tentunya, ini pukulan
buatku. Disaat bayiku baru beberapa bulan, ternyata ada orang kurang ajar yang
sangat tidak tahu diri menawarkan diri pada suamiku. Inilah siksaan pernikahan
yang ketiga bagiku, ketika merasa dikhianati oleh orang yang sangat dekat dan
aku percaya. Untungnya, aku tidak sempat bertemu muka dengan orang itu. Jika
saja sampai bertemu muka, sudah kutarik jilbabnya dan kujambak rambutnya.
Tapi aku masih bisa menahan diri. Aku
berpikir buat apa menghabiskan energi untuk mengurusi orang tak tahu diri,
lebih baik aku fokus pada keutuhan rumah tanggaku. Meski rasa kecewa ini sangat
menyesakkan dada, aku selalu terhibur jika melihat anakku terus tumbuh besar
dan selalu sehat. Biarlah orang tersebut mendapat karmanya sendiri. Misalnya,
nikahnya telah atau susah jodohnya? Heheheee,,,astagfirullahal adzim, jangan menyumpahi orang, biarlah Tuhan yang
balas.
Alhamdulillah, memasuki tahun keempat pernikahan kami, aku semakin banyak
merenungi yang sudah terjadi. Memang sebagai istri, aku masih banyak kekurangan
terhadap suamiku. Demikian pula suamiku. Mungkin aku tak seperti Siti Khadijah
yang sangat bijaksana, tak seperti Siti Fatimah yang sangat berani, tapi aku
selalu berusaha meneladaninya. Selain itu, aku selalu berusaha menjadi orang
tua yang baik dan benar bagi anakku yang semakin tumbuh besar. Aku tak ingin
anakku selalu mencontoh hal-hal buruk dariku, karena dia adalah cerminan kami sebagai
orang tuanya.
Semakin lama, kami menjalani pernikahan
seperti layaknya partner dalam
memecahkan berbagai persoalan. Persoalan ekonomi, visi dan misi ke depan,
bahkan hingga persoalan wangi sabun mandi. Kenapa? Hal-hal kecil seperti inilah
yang menurutku akan memperkuat ikatan antara suami dan istri dalam pernikahan. Sebulan
sekali menggunakan sabun dengan wangi yang berbeda hanya untuk mengetahui mana
yang lebih wangi, membeli farfum yang berbeda-beda setiap bulan untuk
mengetahui mana yang lebih wangi. Atau sekadar membelikan jajanan untuk istri
atau suami sepulang kerja. Kami pun berusaha menjaga cinta yang menggebu-gebu
ketika awal pernikahan tidak pernah luntur hingga saat ini. Yaa...walaupun
terkadang ada saatnya sebagai istri merasa kesal pada suami ketika banyak
kerjaan di luar. Atau sebaliknya, suamiku yang kesal padaku gara-gara lupa
memberinya minum ketika pulang kerja. Kami berusaha saling introspeksi diri
masing-masing.
Aku pun selalu berusaha ikhlas pada semua
kekurangan suamiku, agar ia dapat menjadi suami yang baik dan mampu membawa
anak istrinya pada kebaikan. Untuk suamiku, kudo’akan agar menjadi suami yang
mampu membawa keluarganya pada kebaikan, dipanjangkan usianya, selalu diberi
kemudahan dalam mencari rizkinya dengan rizki yang halal dan berlimpah,
diberikan kesehatan lahir dan bathin, dijauhkan dari marabahaya, serta
diwafatkan dalam keadaan khusnul khatimah.
Amiiiiiiin.
Sementara untuk anakku tersayang, Rizki
Budiman, semoga menjadi anak yang sholeh, makin pintar dan sehat selalu,
panjang umur, diberi rizki dan ilmu yang berlimpah dan barokah, dijauhkan dari
marabahaya, serta diwafatkan dalam keadaan khusnul
khatimah. Amiiiiiiin.
Sementara untuk diriku, mudah-mudahan aku
sellau bisa menjadi istri dan ibu yang baik buat suami, semakin mengerti suami,
mendapat rizki yang halal dan berlimpah, sehat selalu, dijauhkan dari
marabahaya, panjang umur dan menyaksikan anakku tumbuh dewasa. Jika kelak aku
meninggal, mudah-mudahan meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Amiiiiinnn...

No comments:
Post a Comment