Orang bilang pengalaman adalah guru yang
paling berharga. Hal ini pun ternyata saya alami dalam kehidupan selama ini. Mungkin
kehidupan yang dijalani terkesan biasa-biasa saja, tanpa ada masalah yang sangat
serius, namun berbagai hal bahkan yang terkecil sekalipun sangat berpengaruh
terhadap hidup saya. Semuanya dapat menjadi pelajaran berharga bila dicermati. Salah
satunya pengalaman saya menjadi seorang ibu tak lama setelah menikah.
![]() |
| (http://www.google.co.id/imgres) |
Dan benar, ketika anak saya lahir, saya
belum memiliki kemampuan untuk apa pun. Memandikan, memasangkan popok, bahkan,
saya belum bisa menggendongnya dengan baik. Pasalnya, meski sudah banyak
saudara yang memiliki bayi, saya tidak pernah mau menggendongnya hingga ia
berumur tiga bulan. Takut alasanku saat itu. Namun, ketika dihadapkan pada anak
sendiri, rasa keibuan itu secara naluriah muncul. Tangan saya yang biasanya
kaku, tiba-tiba begitu nyaman menggendongnya, mulai memberinya ASI, meski belum
terbiasa. Tak perlu waktu tiga hari, saya pun sudah mampu mengganti popoknya,
meski untuk bisa memandikannya, saya masih perlu dibantu mertua.
Seiring waktu, semuanya berjalan semakin
lancar dan sangat menyenangkan. Meski ada bagian-bagian yang mungkin sangat
menguras tenaga dan pikiran, di awal kelahiran bayi saya. Namun, dukungan dari
orang-orang di sekitar terutama suami sangat menenangkan hati ini.
Hari demi hari, bayi saya pun tumbuh sehat.
Masa istirahat saya sehabis melahirkan pun usai, dan saya pun harus kembali
bekerja di sebuah perusahaan. Cuti telah berakhir, namun hati ini tak tega menjauh
dari si kecil. Terlebih, ia sudah mulai enak menyusu dan saya pun demikian. Menyusui
adalah pengalaman yang paling berharga ketika menjadi ibu. Melihat si kecil
menyusu dengan lahap dalam dekapan itu sangat tenang dan nyaman. Saya pun
merasa sangat dekat dengan si kecil, terlebih ketika ia menyusu sambil melihat
rupa ibu yang sudah melahirkannya.
Namun, bagaimana pun, saya harus mengurangi
masa-masa indah itu, karena tuntutan ekonomi keluarga. Si kecil pun mau tak mau
selama hampir 7 jam lamanya harus dititipkan pada ibu mertua. Awalnya, hati ini
tak tega dan tak rela. Namun apa boleh buat. Alhasil, pertama masuk kerja pun,
saya tak mampu berkonsentrasi pada
pekerjaan di kantor. Pikiran terus melayang pada sikecil yang mungkin sedang
menangis ingin minum susu. Tapi, sekali lagi orang-orang di sekitarku
mengatakan untuk tak khawatir pada bayiku karena ia pun mau menyusu dengan susu
formula.
Ada rasa bersalah saat itu, karena saya tak
mampu memberinya ASI secara eksklusif. Tapi mau bagaimana lagi, karena jumlah
ASI yang kuproduksi pun tidak terlalu banyak. Sikecil pun mau tak mau harus
ditambah dengan susu formula. Awal kembali ke dunia kerja, saya selalu berusaha
pulang cepat. Sebanyak apa pun pekerjaan, saya usahakan sebelum magrib sudah
ada di rumah. Bukan apa-apa, selain karena tak ingin terpisah lama dengan si
kecil, saya pun ingin punya ikatan dengan sikecil, salah satunya dengan
mengurusinya, mulai dari memandikan, menyusui dan menimang-nimangnya.
Hal ini terus dijalani hingga saat ini anak
saya menginjak usia dua tahun. Alhasil, saya terkadang kurang dapat mengikuti
tumbuh kembang si kecil, karena tidak dapat mendampinginya selama 24 jam full. Padahal,
banyak perkembangan anak yang mungkin akan sangat menyenangkan ketika dapat
dilihat oleh ibunya pada pertama kalinya. Misalnya, melihat langkah pertama si
kecil, kata-kata baru yang dapat diucapkan si kecil dan makanan yang biasa
dimakan si kecil. Sehingga terkadang keinginan untuk melepaskan diri dari
sebutan “ibu pekerja” menjadi “ibu rumah tangga” sangat membuncah di dada.
Namun, hingga saat ini, saya belum dapat
memutuskan hal ini. Apalagi jika bukan karena faktor ekonomi. Maklum, kondisi
suami saya masih belum stabil dari sisi penghasilannya. Saya pun tidak tega
membebankan kehidupan rumah tangga di tangannya sendirian, padahal saya lulusan
sarjana. Hanya saja, akhir-akhir ini saya mengalami kejenuhan akut terkait
pekerjaan dan saya pun ingin mencoba hal baru dimana saya harus mampu mencari
uang tapi tanpa menelantarkan si kecil.
Tawaran untuk berbisnis memang sudah ada beberapa
yang datang. Namun hati saya yang belum cukup berani untuk keluar dari zona
nyaman dan mencoba hal baru.

No comments:
Post a Comment