Friday, 26 September 2014

Dilema Ibu Pekerja



Orang bilang pengalaman adalah guru yang paling berharga. Hal ini pun ternyata saya alami dalam kehidupan selama ini. Mungkin kehidupan yang dijalani terkesan biasa-biasa saja, tanpa ada masalah yang sangat serius, namun berbagai hal bahkan yang terkecil sekalipun sangat berpengaruh terhadap hidup saya. Semuanya dapat menjadi pelajaran berharga bila dicermati. Salah satunya pengalaman saya menjadi seorang ibu tak lama setelah menikah.
(http://www.google.co.id/imgres)
Dulu, saya tak pernah membayangkan menjadi seorang ibu, bagaimana cara menjadi ibu yang baik dan sebagainya. Bahkan, sempat ada kekhawatiran ketika saya akan memiliki seorang anak. Yang terbayang adalah kerepotan yang mungkin akan dihadapi setelah anak saya lahir. Terlebih, ini adalah pengalaman baru bagi saya mengurus bayi. Berbagai masukan dari orang tua dan orang-orang yang sudah terlebih dulu memiliki anak pun saya serap baik-baik. Informasi dari internet pun selalu saya cari.
Dan benar, ketika anak saya lahir, saya belum memiliki kemampuan untuk apa pun. Memandikan, memasangkan popok, bahkan, saya belum bisa menggendongnya dengan baik. Pasalnya, meski sudah banyak saudara yang memiliki bayi, saya tidak pernah mau menggendongnya hingga ia berumur tiga bulan. Takut alasanku saat itu. Namun, ketika dihadapkan pada anak sendiri, rasa keibuan itu secara naluriah muncul. Tangan saya yang biasanya kaku, tiba-tiba begitu nyaman menggendongnya, mulai memberinya ASI, meski belum terbiasa. Tak perlu waktu tiga hari, saya pun sudah mampu mengganti popoknya, meski untuk bisa memandikannya, saya masih perlu dibantu mertua.
Seiring waktu, semuanya berjalan semakin lancar dan sangat menyenangkan. Meski ada bagian-bagian yang mungkin sangat menguras tenaga dan pikiran, di awal kelahiran bayi saya. Namun, dukungan dari orang-orang di sekitar terutama suami sangat menenangkan hati ini.
Hari demi hari, bayi saya pun tumbuh sehat. Masa istirahat saya sehabis melahirkan pun usai, dan saya pun harus kembali bekerja di sebuah perusahaan. Cuti telah berakhir, namun hati ini tak tega menjauh dari si kecil. Terlebih, ia sudah mulai enak menyusu dan saya pun demikian. Menyusui adalah pengalaman yang paling berharga ketika menjadi ibu. Melihat si kecil menyusu dengan lahap dalam dekapan itu sangat tenang dan nyaman. Saya pun merasa sangat dekat dengan si kecil, terlebih ketika ia menyusu sambil melihat rupa ibu yang sudah melahirkannya.
Namun, bagaimana pun, saya harus mengurangi masa-masa indah itu, karena tuntutan ekonomi keluarga. Si kecil pun mau tak mau selama hampir 7 jam lamanya harus dititipkan pada ibu mertua. Awalnya, hati ini tak tega dan tak rela. Namun apa boleh buat. Alhasil, pertama masuk kerja pun, saya tak  mampu berkonsentrasi pada pekerjaan di kantor. Pikiran terus melayang pada sikecil yang mungkin sedang menangis ingin minum susu. Tapi, sekali lagi orang-orang di sekitarku mengatakan untuk tak khawatir pada bayiku karena ia pun mau menyusu dengan susu formula.
Ada rasa bersalah saat itu, karena saya tak mampu memberinya ASI secara eksklusif. Tapi mau bagaimana lagi, karena jumlah ASI yang kuproduksi pun tidak terlalu banyak. Sikecil pun mau tak mau harus ditambah dengan susu formula. Awal kembali ke dunia kerja, saya selalu berusaha pulang cepat. Sebanyak apa pun pekerjaan, saya usahakan sebelum magrib sudah ada di rumah. Bukan apa-apa, selain karena tak ingin terpisah lama dengan si kecil, saya pun ingin punya ikatan dengan sikecil, salah satunya dengan mengurusinya, mulai dari memandikan, menyusui dan menimang-nimangnya.
Hal ini terus dijalani hingga saat ini anak saya menginjak usia dua tahun. Alhasil, saya terkadang kurang dapat mengikuti tumbuh kembang si kecil, karena tidak dapat mendampinginya selama 24 jam full. Padahal, banyak perkembangan anak yang mungkin akan sangat menyenangkan ketika dapat dilihat oleh ibunya pada pertama kalinya. Misalnya, melihat langkah pertama si kecil, kata-kata baru yang dapat diucapkan si kecil dan makanan yang biasa dimakan si kecil. Sehingga terkadang keinginan untuk melepaskan diri dari sebutan “ibu pekerja” menjadi “ibu rumah tangga” sangat membuncah di dada.
Namun, hingga saat ini, saya belum dapat memutuskan hal ini. Apalagi jika bukan karena faktor ekonomi. Maklum, kondisi suami saya masih belum stabil dari sisi penghasilannya. Saya pun tidak tega membebankan kehidupan rumah tangga di tangannya sendirian, padahal saya lulusan sarjana. Hanya saja, akhir-akhir ini saya mengalami kejenuhan akut terkait pekerjaan dan saya pun ingin mencoba hal baru dimana saya harus mampu mencari uang tapi tanpa menelantarkan si kecil.
Tawaran untuk berbisnis memang sudah ada beberapa yang datang. Namun hati saya yang belum cukup berani untuk keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru.

No comments: