Beberapa hari ke belakang, Indonesia tengah
diramaikan perbincangan terkait pengumuman nama-nama menteri untuk Kabinet
kerja. Kabinet ini yang akan membantu pemerintahan Presiden Joko Widodo
(Jokowi) untuk lima tahun ke depan. Tema-teman perbincangan sangat beragam,
mulai dari dunia nyata dalam berbagai media massa, hingga media sosial yang
lebih lugas di dunia maya. Ucapan selamat kepada 34 menteri yang terpilih, sudah
pasti mengalir deras. Tapi ada juga sejumlah orang yang menyangsikan kinerja
maupun hanya sekadar nyinyir mengenai personalitas para menteri terpilih.
Mereka yang sangat mendukung dan memuji
para menteri terpilih, pastilah merupakan para pendukung pemerintahan Jokowi.
Adanya perubahan di beberapa kementerian, dianggap sebagai satu terobosan baru
Jokowi untuk mengefektifkan kinerja kementerian. Namun disisi lain, ada pula
yang menyangsikan efektivitas kinerja dari sejumlah kementerian yang mengalami
perubahan. Pasalnya, ada beberapa kementerian yang cenderung berseberangan,
namun disatukan pada satu kementerian, misalnya Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan. Satu sisi, pengelolaan lingkungan hidup dianggap biaya (cost), sementara kehutanan lebih banyak
pada pengelolaan hutan yang dapat diartikan sebagai sebuah pendapatan (income). Hal ini akan menyulitkan pada
saat ada kebijakan terkait lingkungan hidup yang tak sejalan dengan sistem
pengelolaan kehutanan.
![]() |
| sxc.hu |
Alasan lain yang menyangsikan kinerja
kabinet ini adalah para menteri yang terpilih. Tidak seperti presiden-presiden
sebelumnya, Jokowi terkesan sangat hati-hati dalam memilih para menterinya. Bahkan,
ia melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan
Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk memilih nama-nama menterinya. Sepertinya
Jokowi bercermin dari kasus yang pernah dialami presiden sebelumnya, dimana
banyak menterinya yang tersangkut korupsi, sehingga harus diganti meski masa
jabatannya belum selesai. Reshuffle kabinet
memang dianggap merepotkan, karena akan mengganggu program-progam kerja yang
sudah dicanangkan sebelumnya. Mungkin hal ini yang tidak diharapkan Jokowi ke
depannya.
Dari sebanyak 84 ada pula yang menyebut 86
nama calon menteri, Jokowi perlu waktu seminggu untuk memutuskan siapa-siapa
saja yang terpilih. Bahkan, sempat ramai diperbincangkan ada beberapa nama
calon menteri yang telah ditandai warna merah dan kuning oleh KPK, yang artinya
tidak boleh dipilih menjadi menteri. Meskipun, secara logika belum ada jaminan
para menteri terpilih saat ini tidak akan melakukan korupsi karena tidak
bertanda merah atau kuning. Siapa pun tahu, setelah menjadi pejabat, banyak
tantangan dan godaan yang menghadang, salah satunya praktik korupsi.
Alasan selanjutnya yang menyangsikan
kabinet kerja ini adalah, ada beberapa nama menteri yang dianggap tidak
kompeten maupun diindikasi hanya titipan dari partai. Mungkin sejumlah netizen
beberapa hari terakhir ini ramai memperbincangkan menteri Kelautan dan
Perikanan yang baru yaitu Susi Pudjiastuti. Pengusaha wanita ini, banyak
diperbincangkan, karena masalah pendidikannya, kebiasaannya merokok dan
memiliki tato. Susi yang merupakan pengusaha sukses di bidang perikanan dan
penerbangan perintis ini memang tak lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Berbeda dengan
para menteri lainnya yang memiliki pendidikan minimal sarjana bahkan ada yang
professor. Ada pula yang melihat Rini Sumarmo tidak cocok menjadi Menteri BUMN
dengan alasan kapabilitas. Atau yang paling santer adalah Puan Maharani yang
dianggap hanya titipan Ibu Megawati, sehingga bisa menjadi menteri.
Mungkin masih banyak alasan-alasan lain
yang terkesan kurang setuju dan menyangsikan kinerja kabinet bentukan Jokowi
ini. Namun, sejatinya hal itu tak bisa diganggu gugat karena merupakan hak
prerogatif presiden. Mungkin ada alasan yang tidak diketahui masyarakat luas
dibalik pemilihan ke-34 orang ini sehingga menjadi menteri. Jokowi adalah
presiden dengan pemikiran yang tidak dapat ditebak bahkan oleh orang-orang
disekelilingnya pun. Ia menjadi presiden Indonesia, tapi tetap saja tak akan
mampu mengawasi seluruh sektor di negeri ini hanya dengan dua matanya. Ia pun
tak akan mampu bekerja memperbaiki negeri ini ke arah kemajuan hanya dengan dua
tangan dan kakinya. Ia butuh orang-orang yang menurutnya dapat membantunya
mewujudkan semua janji kampanyenya.
Jadi, alangkah baiknya saat ini untuk
berhenti memperdebatkan dan menyangsikan kinerja para menteri ini. Toh, mereka
pun belum bekerja. Masih ada waktu lima tahun bagi semua masyarakat untuk
memperdebatkan dan memperbincangkan kinerja para menteri dan presidennya. Selain
itu, sehebat apa pun para menteri yang dipilih, mereka hanya “pembantu”
presiden. Tak lebih dari itu. Jadi, peranan yang akan mereka jalankan pun tak
lebih dari peran seorang “pembantu”. Selama para menteri itu dapat
mengimplementasikan apa yang diharapkan presidennya menjadi program nyata, barulah
kinerjanya akan terlihat.
Jika waktu pemilihan presiden bolehlah
saling menjagokan masing-masing calon atau memihak pada satu calon. Tapi ketika
sampai di tahap ini, sudah bukan waktunya lagi masyarakat Indonesia
terbagi-bagi dalam kotak-kotak yang memihak. Masyarakat harus mengawal kinerja
pemerintahan secara menyeluruh, jangan hanya mampu mendiskreditkan beberapa
pihak saja. Sudah bukan saatnya bersikap NATO alias “No Action Talk Only”. Karena
bisa jadi orang yang diperdebatkan atau didiskreditkan adalah orang yang lebih
baik dari kita. Jika kita yang berada di posisi mereka, apakah mampu
berkontribusi seperti mereka? Kalau kata Cak Lontong,
mikiiiiiiiiiiirrrrrr!!!!!!
Patimah
Patimah

No comments:
Post a Comment