Wednesday, 29 October 2014

Child



Sekilas tak ada yang aneh dengan bocah berusia lima tahun ini. Tingkahnya sama seperti anak seusianya, energik, ceria, namun sedikit nakal. Ia tak pernah berhenti beraktivitas terutama dengan sejumlah mainan yang dimilikinya atau kala bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Namun jika ditelisik lebih cermat, anak ini menderita penyakit kulit yang cukup parah. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka bekas garukan yang sangat kencang, borok-borok yang bernanah, hingga luka baret akibat terlalu sering digaruk. Sungguh miris.
istimewa
Padahal, sekitar dua tahun silam anak itu terlihat sangat lucu, manis dan mempunyai kulit yang bersih. Tingkah lakunya pun snagat menyenangkan dan membuat gemas siapa pun yang melihatnya. Namun, semua hal-hal indah ini mulai berubah, atau mulai terlihat, ketika orang tuanya sudah tak harmonis lagi. Sebenarnya, anak ini meski terlahir sempurna dan sangat lucu, merupakan anak yang tak pernah diharapkan terutama oleh sang ibu. Ibunya hamil ketika masih berpacaran, meski sang lelaki mau bertanggung jawab dan menikahinya. Toh, ternyata ini tidak pernah menghilangkan rasa sakit hati sang ibu yang merasa kebebasan masa mudanya terenggut, karena hamil. Padahal jika ditelusuri, sang ibu pun turut andil dalam dosa ini.

Akhirnya, pernikahan yang dijalani hampir selama lima tahun pun hanya seperti kamuflase untuk status sanga anak. Bahkan, sejak sang anak lahir, si ibu tak pernah mau mengurusnya, bahkan tidak sekalipun memberinya ASI. Sungguh doa yang berlipat-lipat. Sudah berbuat zina, ketika anak lahir pun tidak ada tanggung jawabnya. Beruntung, nenek dan kakek anak ini demikian sayang, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. Ia pun tumbuh besar lebih banyak dalam kasih sayang kakek neneknya.
Sayangnya, meski selama lima tahun menikah sang ibu tak ‘menikmati’ pernikahannya, ternyata ia hamil kembali dan melahirkan anak kedua yang berjarak dua tahun. Alhasil, inilah masa-masa suram si anak pertama dalam hidupnya. Sang ibu lebih memperhatikan anak keduanya yang ia lahirkan, bahkan mau menyusuinya secara eksklusif. Tak hanya itu, nutrisi dan gizi anak kedua sangat terjaga. Sementara anak pertamanya, hampir tak diperhatikan sama sekali. Namun anehnya, sang ibu pun menganggap anak keduanya tidak diharapkan. Sungguh orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Alhasil, baik anak pertama maupun anak kedua, lebih banyak ‘dititipkan’ pada kakek nenek maupun saudaranya. Ia sendiri lebih banyak menghabiskan waktu hangout bersama teman-temannya. Tak heran, pada saat itu sudah muncul benih-benih kebencian terutama dari anak pertama pada ibu maupun adiknya. Bertumpuknya kekecewaan ditambah dengan buruknya pola didik sang ibu yang tidak bertanggung jawab, membuat anak-anaknya tumbuh sangat liar. Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan dua anaknya  berkelahi ketika memperebutkan sebuah mainan. Seorang ibu yang baik, akan memberi pengertian dengan kasih sayang pada dua anaknya untuk saling berbagi, bukannya membuat dua anaknya bersitegang, hingga baku hantam.
Singkat cerita, perceraian menjadi cara jitu untuk membuat sang ibu meraih kebebasan dari pernikahan yang dijalaninya selama ini. Bahkan, ia pun tak mempermasalahkan hak asuh anak yang diambil mantan suaminya. Toh ia tidak memiliki pekerjaan, mau dikasih makan apa anak-anaknya kelak jika ia mempertahankan hak asuh anaknya. Padahal suaminya sudah berusaha sekuat tenaga mempertahankan biduk rumah tangganya. Sayang, si ibu sudah tidak memiliki itikad baik terhadap pernikahannya.
Anak yang paling merasakan dampak dari perceraian ini adalah anak pertama yang sudah mengerti arti keluarga dan kasih sayang. Sejak dilahirkan ia tak pernah mendapat kasih sayang yang tulus dari ibunya, kini ia merasa dibuang. Tak heran, si anak pertama tak ada rasa rindu pada ibunya, bahkan tak mau menyebutnya sama sekali. Lambat laun, perilakunya pun mulai berubah, menjadi lebih agresif dan nakal. Tak hanya itu, ia lebih banyak melampiaskan kekesalan dan rasa marahnya pada sang adik yang belum mengerti apa-apa. Tak ayal, perseteruan, percekcokan dan baku hantam hanya karena masalah sepele pun sering tak terhindarkan antara dua anak yang kini diasuh kakek dan neneknya.
Selang waktu berlalu, ayah si anak sudah dapat melanjutkan hidupnya dan menikah lagi. Beruntung, sang istri ternyata cukup menyayangi kedua anaknya meski bukan anak kandungnya. Akhirnya, si anak sulung kembali merasakan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Namun sayang, si anak sulung rupanya belum pernah diajari cara berbagi bahkan dengan adiknya sendiri. Akhirnya, pertengkaran-pertengkaran dengan sang adik masih terus terjadi. Jadi, peran orang tuanya yang harus lebih besar dan banyak meluangkan waktu bagi sang anak. Tak hanya itu, sebagai orang tua, harus mampu mendidik anak dengan sikap-sikap yang terpuji  dan belajar untuk saling berbagi.
Sayangnya, kesibukan orang tuanya membuat sang anak tetap kurang perhatian. Meski sehari-hari berada di bawah pengawasan sang nenek, tapi peran orang tuanya sangat kurang. Sementara perhatian dari segi materi lebih diutamakan. Padahal, tidak selamanya anak membutuhkan materi yang besar. Ada kalanya kualitas kebersamaan lebih dibutuhkan dalam kebersamaan. Hal inilah yang belum disadari kedua orang tuanya. Selain sibuk bekerja, mereka tidak mau menyempatkan diri menyediakan waktu berkualitas (quality time) bersama sang anak. Seringkali pergi kerja ketika anak masih tertidur dan baru datang ke rumah setelah anak-anaknya tertidur pulas. Bagaimana akan tahu perkembangan anak-anaknya? Jangankan mendampingi mereka saat belajar atau menyuapi saat mereka makan, mengobrol pun tak sempat.
Memang idealnya salah satu orang tua berada di rumah dan fokus membesarkan anak-anak. Namun, hal seperti ini pun tidak menjadi halangan bagi para ibu pekerja, jika mereka mau berusaha. Terkesan sangat repot mungkin, ketika orang tua terutama sang ibu yang baru pulang bekerja, ketika sampai di rumah tidak dapat istirahat karena harus mengurus anak. Tapi, itu adalah kewajiban dan tak mungkin dapat tergantikan meski sudah ada pembantu di rumah , misalnya.
Semuanya sapat disiasati secermat mungkin. Misalnya, sebelum bekerja berusaha menyempatkan diri memandikan dan menyuapi anak. Kemudian jika sedang waktu istirahat di tempat kerja, menyempatkan diri menanyakan kabar anak pada orang yang mengasuh di rumah. Lebih bagus jika orang tua menyempatkan mengobrol dengan anak dan menanyakan aktivitasnya meski hanya melalui telepon. Jangan lupa ucapkan ungkapan sayang pada anak, supaya anak merasa tenang dan mengetahui jika orang tuanya memperhatikannya. Pun demikian ketika pulang dari tempat kerja. Usahakan pulang secepat mungkin, jika memungkinkan. Ketika sampai di rumah, usahakan sapa anak pertama kali dan tanyakan aktivitasnya hari itu. Hal ini akan membuat anak maupun ibu senang. Jika bisa, usahakan anak dimandikan dan disuapi ibunya di sore hari. Namun, jika orang tua pulang setelah malam, usahakan sediakan waktu berkumpul dan bersenda gurau dengan anak. Dan yang paling penting, antarkan anak tidur dengan cerita atau obrolan santai dengan orang tua. Tak lupa, orang tua harus menanyakan aktivtas dan perkembangan anak pada pengasuh, untuk mengetahui kondisi anak yang sebenarnya. Selain itu, perhatikan kondisi fisik anak, untuk melihat apakah ada tanda-tanda yang tak wajar pada tubuh anak.
Pasalnya, sudah banyak anak diserahkan pada pengasuh, tapi malah berakhir tragis. Mungkin saja anak terjatuh karena kurang diawasi atau bisa jadi anak mendapat penganiayaan dari pengasuh. Hal-hal seperti ini harus diketahui oleh orang tua mana pun. Jangan sampai tumbuh  kembang anak jadi terabaikan karena orang tua yang tidak berusaha sebaik mungkin menjaga anaknya. Contoh di atas adalah satu bentuk kegagalan orang tua dalam mengurus, mengasuh dan mendidik anak. Padahal, menjadi orang tua tak harus sempurna, karena tidak ada yang dapat sempurna. Namun setidaknya, orang tua yang selalu mau belajar dalam mengurus dan mendidik anaknya adalah yang terbaik.   


No comments: