Sekilas tak ada yang aneh dengan bocah
berusia lima tahun ini. Tingkahnya sama seperti anak seusianya, energik, ceria,
namun sedikit nakal. Ia tak pernah berhenti beraktivitas terutama dengan
sejumlah mainan yang dimilikinya atau kala bermain di luar rumah bersama
teman-temannya. Namun jika ditelisik lebih cermat, anak ini menderita penyakit
kulit yang cukup parah. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka bekas garukan yang
sangat kencang, borok-borok yang bernanah, hingga luka baret akibat terlalu
sering digaruk. Sungguh miris.
![]() |
| istimewa |
Padahal, sekitar dua tahun silam anak itu
terlihat sangat lucu, manis dan mempunyai kulit yang bersih. Tingkah lakunya
pun snagat menyenangkan dan membuat gemas siapa pun yang melihatnya. Namun,
semua hal-hal indah ini mulai berubah, atau mulai terlihat, ketika orang tuanya
sudah tak harmonis lagi. Sebenarnya, anak ini meski terlahir sempurna dan
sangat lucu, merupakan anak yang tak pernah diharapkan terutama oleh sang ibu.
Ibunya hamil ketika masih berpacaran, meski sang lelaki mau bertanggung jawab
dan menikahinya. Toh, ternyata ini tidak pernah menghilangkan rasa sakit hati
sang ibu yang merasa kebebasan masa mudanya terenggut, karena hamil. Padahal
jika ditelusuri, sang ibu pun turut andil dalam dosa ini.
Akhirnya, pernikahan yang dijalani hampir
selama lima tahun pun hanya seperti kamuflase untuk status sanga anak. Bahkan,
sejak sang anak lahir, si ibu tak pernah mau mengurusnya, bahkan tidak
sekalipun memberinya ASI. Sungguh doa yang berlipat-lipat. Sudah berbuat zina,
ketika anak lahir pun tidak ada tanggung jawabnya. Beruntung, nenek dan kakek
anak ini demikian sayang, baik dari pihak ibu maupun ayahnya. Ia pun tumbuh
besar lebih banyak dalam kasih sayang kakek neneknya.
Sayangnya, meski selama lima tahun menikah
sang ibu tak ‘menikmati’ pernikahannya, ternyata ia hamil kembali dan
melahirkan anak kedua yang berjarak dua tahun. Alhasil, inilah masa-masa suram
si anak pertama dalam hidupnya. Sang ibu lebih memperhatikan anak keduanya yang
ia lahirkan, bahkan mau menyusuinya secara eksklusif. Tak hanya itu, nutrisi
dan gizi anak kedua sangat terjaga. Sementara anak pertamanya, hampir tak
diperhatikan sama sekali. Namun anehnya, sang ibu pun menganggap anak keduanya
tidak diharapkan. Sungguh orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Alhasil, baik anak pertama maupun anak
kedua, lebih banyak ‘dititipkan’ pada kakek nenek maupun saudaranya. Ia sendiri
lebih banyak menghabiskan waktu hangout bersama teman-temannya. Tak heran, pada
saat itu sudah muncul benih-benih kebencian terutama dari anak pertama pada ibu
maupun adiknya. Bertumpuknya kekecewaan ditambah dengan buruknya pola didik sang
ibu yang tidak bertanggung jawab, membuat anak-anaknya tumbuh sangat liar.
Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan dua anaknya berkelahi ketika memperebutkan sebuah mainan. Seorang
ibu yang baik, akan memberi pengertian dengan kasih sayang pada dua anaknya
untuk saling berbagi, bukannya membuat dua anaknya bersitegang, hingga baku
hantam.
Singkat cerita, perceraian menjadi cara jitu
untuk membuat sang ibu meraih kebebasan dari pernikahan yang dijalaninya selama
ini. Bahkan, ia pun tak mempermasalahkan hak asuh anak yang diambil mantan
suaminya. Toh ia tidak memiliki pekerjaan, mau dikasih makan apa anak-anaknya
kelak jika ia mempertahankan hak asuh anaknya. Padahal suaminya sudah berusaha
sekuat tenaga mempertahankan biduk rumah tangganya. Sayang, si ibu sudah tidak
memiliki itikad baik terhadap pernikahannya.
Anak yang paling merasakan dampak dari
perceraian ini adalah anak pertama yang sudah mengerti arti keluarga dan kasih
sayang. Sejak dilahirkan ia tak pernah mendapat kasih sayang yang tulus dari
ibunya, kini ia merasa dibuang. Tak heran, si anak pertama tak ada rasa rindu
pada ibunya, bahkan tak mau menyebutnya sama sekali. Lambat laun, perilakunya
pun mulai berubah, menjadi lebih agresif dan nakal. Tak hanya itu, ia lebih
banyak melampiaskan kekesalan dan rasa marahnya pada sang adik yang belum
mengerti apa-apa. Tak ayal, perseteruan, percekcokan dan baku hantam hanya karena
masalah sepele pun sering tak terhindarkan antara dua anak yang kini diasuh
kakek dan neneknya.
Selang waktu berlalu, ayah si anak sudah
dapat melanjutkan hidupnya dan menikah lagi. Beruntung, sang istri ternyata
cukup menyayangi kedua anaknya meski bukan anak kandungnya. Akhirnya, si anak
sulung kembali merasakan kasih sayang dari orang tua yang lengkap. Namun
sayang, si anak sulung rupanya belum pernah diajari cara berbagi bahkan dengan
adiknya sendiri. Akhirnya, pertengkaran-pertengkaran dengan sang adik masih
terus terjadi. Jadi, peran orang tuanya yang harus lebih besar dan banyak
meluangkan waktu bagi sang anak. Tak hanya itu, sebagai orang tua, harus mampu
mendidik anak dengan sikap-sikap yang terpuji
dan belajar untuk saling berbagi.
Sayangnya, kesibukan orang tuanya membuat
sang anak tetap kurang perhatian. Meski sehari-hari berada di bawah pengawasan
sang nenek, tapi peran orang tuanya sangat kurang. Sementara perhatian dari
segi materi lebih diutamakan. Padahal, tidak selamanya anak membutuhkan materi
yang besar. Ada kalanya kualitas kebersamaan lebih dibutuhkan dalam
kebersamaan. Hal inilah yang belum disadari kedua orang tuanya. Selain sibuk
bekerja, mereka tidak mau menyempatkan diri menyediakan waktu berkualitas (quality time) bersama sang anak.
Seringkali pergi kerja ketika anak masih tertidur dan baru datang ke rumah
setelah anak-anaknya tertidur pulas. Bagaimana akan tahu perkembangan
anak-anaknya? Jangankan mendampingi mereka saat belajar atau menyuapi saat
mereka makan, mengobrol pun tak sempat.
Memang idealnya salah satu orang tua berada
di rumah dan fokus membesarkan anak-anak. Namun, hal seperti ini pun tidak
menjadi halangan bagi para ibu pekerja, jika mereka mau berusaha. Terkesan
sangat repot mungkin, ketika orang tua terutama sang ibu yang baru pulang
bekerja, ketika sampai di rumah tidak dapat istirahat karena harus mengurus
anak. Tapi, itu adalah kewajiban dan tak mungkin dapat tergantikan meski sudah
ada pembantu di rumah , misalnya.
Semuanya sapat disiasati secermat mungkin.
Misalnya, sebelum bekerja berusaha menyempatkan diri memandikan dan menyuapi
anak. Kemudian jika sedang waktu istirahat di tempat kerja, menyempatkan diri
menanyakan kabar anak pada orang yang mengasuh di rumah. Lebih bagus jika orang
tua menyempatkan mengobrol dengan anak dan menanyakan aktivitasnya meski hanya
melalui telepon. Jangan lupa ucapkan ungkapan sayang pada anak, supaya anak
merasa tenang dan mengetahui jika orang tuanya memperhatikannya. Pun demikian
ketika pulang dari tempat kerja. Usahakan pulang secepat mungkin, jika
memungkinkan. Ketika sampai di rumah, usahakan sapa anak pertama kali dan
tanyakan aktivitasnya hari itu. Hal ini akan membuat anak maupun ibu senang. Jika
bisa, usahakan anak dimandikan dan disuapi ibunya di sore hari. Namun, jika
orang tua pulang setelah malam, usahakan sediakan waktu berkumpul dan bersenda
gurau dengan anak. Dan yang paling penting, antarkan anak tidur dengan cerita
atau obrolan santai dengan orang tua. Tak lupa, orang tua harus menanyakan
aktivtas dan perkembangan anak pada pengasuh, untuk mengetahui kondisi anak
yang sebenarnya. Selain itu, perhatikan kondisi fisik anak, untuk melihat
apakah ada tanda-tanda yang tak wajar pada tubuh anak.
Pasalnya, sudah banyak anak diserahkan pada
pengasuh, tapi malah berakhir tragis. Mungkin saja anak terjatuh karena kurang
diawasi atau bisa jadi anak mendapat penganiayaan dari pengasuh. Hal-hal
seperti ini harus diketahui oleh orang tua mana pun. Jangan sampai tumbuh kembang anak jadi terabaikan karena orang tua
yang tidak berusaha sebaik mungkin menjaga anaknya. Contoh di atas adalah satu
bentuk kegagalan orang tua dalam mengurus, mengasuh dan mendidik anak. Padahal,
menjadi orang tua tak harus sempurna, karena tidak ada yang dapat sempurna.
Namun setidaknya, orang tua yang selalu mau belajar dalam mengurus dan mendidik
anaknya adalah yang terbaik.

No comments:
Post a Comment