Monday, 3 November 2014

Pleaseee....I Need a Day Care!



Sejak sebelum menikah, bekerja pada sebuah perusahaan sudah menjadi rutinitasku. Bekerja seusai lulus kuliah memang terasa sangat menyenangkan. Selain dapat mengaplikasikan ilmu yang kudapat, bekerja menghasilkan uang. Maka, sejak lulus aku tak mau berlama-lama menganggur. Melamar sana sini demi sebuah posisi dalam perusahaan aku lakukan. Alhamdulillah, gayung bersambut ketika aku diterima di sebuah perusahaan konsultan. Honor yang kuterima dari waktu ke waktu pun terus meningkat seiring lamanya bekerja. Meski, demi pekerjaan ini aku harus rela tinggal kos yang jauh dari rumah orang tua. Tapi, sebagai lajang, aku masih dapat menikmatinya.
sxc.hu
Beberapa tahun bekerja, aku menikah. Dari yang tadinya tinggal kos, akhirnya aku pindah ke pondok mertua indah. Karena sudah terbiasa tinggal berjauhan dari orang tua, aku sih oke-oke saja. Dimana pun aku tinggal, yang penting nyaman dan bisa ditinggali. Singkat kata, setelah setahun menikah aku dikaruniai seorang anak yang lucu. Bahagia rasanya ketika menjalin rumah tangga dan akhirnya hadir si buah hati tak lama setelahnya. Rasanya lengkap sudah hidupku. Namun dibalik itu, seiring pertumbuhan anakku yang kian besar (saat ini anakku berusia 2 tahun lebih), aku mulai khawatir dan dilema.

Aku mulai dilema, karena dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, pekerjaan dan mengasuh anak. Memang, ibu mertuaku cukup baik dan bersedia mengasuh anakku selagi aku kerja. Tapi, rupanya cucu ibu mertua bukan anakku saja. Ibu mertuaku harus mengasuh dua cucunya yang lain. Jadi ditambah dengan anakku, jadi tiga balita yang harus diasuh. Terbayang pusingnya khan?
Lambat laun, ibu mertuaku mulai sering sakit-sakitan, mungkin karena terlalu lelah menjaga tiga balita yang sangat aktif. Aku pun mulai banyak mengajukan “cuti” dadakan ke kantor tempat bekerja, karena harus mengutamakan si kecil. Bahkan, aku sempat berpikir untuk berhenti saja bekerja, dari pada malu karena terlalu sering ijin tak masuk kantor dengan alasan mengasuh anak. Mungkin jika ini aku lakukan di perusahaan besar yang memiliki aturan kerja yang ketat, aku sudah di”rumahkan” dari jauh-jauh hari. Beruntungnya karena tempat kerjaku sangat fleksibel, meski terkadang aku merasa tak enak.
Hal lain yang membuatku merasa tak enak, jika aku tak cuti mendadak atau ijin mendadak, aku pun terkadang mau tak mau harus memboyong si kecil ke kantor. Hal ini aku lakukan biasanya, jika di rumah tak ada yang bisa mengasuh, sementara aku pun tak bisa ijin karena sudah memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Yaa....walaupun aku tahu sebagian rekan kerjaku pasti sedikit terganggu dengan kehadiran anakku yang tak bisa diam. Tapi aku harus berusaha berpura-pura tak peka. Mau bagaimana lagi?
Untungnya, seiring pertambahan usia, anakku kini semakin mengerti dan tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh jika dibawa ke kantor. Tapi, tetap saja rasa risih menghinggapiku, karena sejatinya kantor tempat bekerja bukan penitipan anak (day care). Untuk itu, kini saya sedang sangat membutuhkan jasa baby sitter atau pun pengasuh anak yang dapat menjaganya selama aku bekerja.  Beberapa kali aku menanyakan tarif seorang baby sitter informal yang bisa menjaga anakku. Aku tidak muluk-muluk dalam mencari seorang baby sitter. Tak perlu seorang sarjana atau baby sitter dengan seragam yang sangat concern pada asupan nutrisi maupun pola asuh yang dapat membuat anak pintar. Aku hanya perlu orang yang mau dengan sabar dan tulus memperhatikan anakku ketika ia asyik bermain agar tidak membahayakan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Aku pun hanya butuh orang yang bersedia menyuapi anakku makan pada waktu makan siang, sehingga anakku tak merasa kelaparan. Serta aku hanya ingin seseorang yang mau mengajak anakku berjalan-jalan dan mengenal lingkungan yang baik, disaat aku sedang bekerja. Hanya itu.
Tapi ternyata, mencari orang yang seperti ini. tarif seorang baby sitter pun tak pernah bisa aku ketahui secara pasti, karena banyak orang membandingkan antara pekerjaan sebagai baby sitter dengan bekerja di pabrik. Saat ini banyak orang yang memilih bekerja sebagai buruh pabrik dari pada harus pusing mengurus anak kecil apalagi yang bukan saudara maupun kerabatnya. Inilah salah satu alasan mengapa aku buat tulisan ini, karena saat ini aku sangat butuh seorang baby sitter atau setidaknya sebuah penitipan anak (day care) yang tak jauh dari lokasi pekerjaanku. Jadi, meski aku mempercayakan anakku pada orang lain, aku masih ada waktu untuk memantaunya sewaktu-waktu......pleaseeee, i need a day care.....

No comments: