Sejak sebelum menikah, bekerja pada sebuah
perusahaan sudah menjadi rutinitasku. Bekerja seusai lulus kuliah memang terasa
sangat menyenangkan. Selain dapat mengaplikasikan ilmu yang kudapat, bekerja
menghasilkan uang. Maka, sejak lulus aku tak mau berlama-lama menganggur.
Melamar sana sini demi sebuah posisi dalam perusahaan aku lakukan. Alhamdulillah, gayung bersambut ketika
aku diterima di sebuah perusahaan konsultan. Honor yang kuterima dari waktu ke
waktu pun terus meningkat seiring lamanya bekerja. Meski, demi pekerjaan ini
aku harus rela tinggal kos yang jauh dari rumah orang tua. Tapi, sebagai
lajang, aku masih dapat menikmatinya.
![]() |
| sxc.hu |
Beberapa tahun bekerja, aku menikah. Dari
yang tadinya tinggal kos, akhirnya aku pindah ke pondok mertua indah. Karena
sudah terbiasa tinggal berjauhan dari orang tua, aku sih oke-oke saja. Dimana
pun aku tinggal, yang penting nyaman dan bisa ditinggali. Singkat kata, setelah
setahun menikah aku dikaruniai seorang anak yang lucu. Bahagia rasanya ketika
menjalin rumah tangga dan akhirnya hadir si buah hati tak lama setelahnya.
Rasanya lengkap sudah hidupku. Namun dibalik itu, seiring pertumbuhan anakku
yang kian besar (saat ini anakku berusia 2 tahun lebih), aku mulai khawatir dan
dilema.
Aku mulai dilema, karena dihadapkan pada
dua pilihan yang sulit, pekerjaan dan mengasuh anak. Memang, ibu mertuaku cukup
baik dan bersedia mengasuh anakku selagi aku kerja. Tapi, rupanya cucu ibu
mertua bukan anakku saja. Ibu mertuaku harus mengasuh dua cucunya yang lain.
Jadi ditambah dengan anakku, jadi tiga balita yang harus diasuh. Terbayang
pusingnya khan?
Lambat laun, ibu mertuaku mulai sering
sakit-sakitan, mungkin karena terlalu lelah menjaga tiga balita yang sangat
aktif. Aku pun mulai banyak mengajukan “cuti” dadakan ke kantor tempat bekerja,
karena harus mengutamakan si kecil. Bahkan, aku sempat berpikir untuk berhenti
saja bekerja, dari pada malu karena terlalu sering ijin tak masuk kantor dengan
alasan mengasuh anak. Mungkin jika ini aku lakukan di perusahaan besar yang
memiliki aturan kerja yang ketat, aku sudah di”rumahkan” dari jauh-jauh hari. Beruntungnya
karena tempat kerjaku sangat fleksibel, meski terkadang aku merasa tak enak.
Hal lain yang membuatku merasa tak enak,
jika aku tak cuti mendadak atau ijin mendadak, aku pun terkadang mau tak mau
harus memboyong si kecil ke kantor. Hal ini aku lakukan biasanya, jika di rumah
tak ada yang bisa mengasuh, sementara aku pun tak bisa ijin karena sudah
memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan. Yaa....walaupun aku tahu sebagian
rekan kerjaku pasti sedikit terganggu dengan kehadiran anakku yang tak bisa
diam. Tapi aku harus berusaha berpura-pura tak peka. Mau bagaimana lagi?
Untungnya, seiring pertambahan usia, anakku
kini semakin mengerti dan tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh jika dibawa ke
kantor. Tapi, tetap saja rasa risih menghinggapiku, karena sejatinya kantor
tempat bekerja bukan penitipan anak (day
care). Untuk itu, kini saya sedang sangat membutuhkan jasa baby sitter atau pun pengasuh anak yang
dapat menjaganya selama aku bekerja. Beberapa
kali aku menanyakan tarif seorang baby
sitter informal yang bisa menjaga anakku. Aku tidak muluk-muluk dalam
mencari seorang baby sitter. Tak perlu seorang sarjana atau baby sitter dengan seragam yang sangat concern pada asupan nutrisi maupun pola
asuh yang dapat membuat anak pintar. Aku hanya perlu orang yang mau dengan
sabar dan tulus memperhatikan anakku ketika ia asyik bermain agar tidak
membahayakan dirinya dan lingkungan sekitarnya. Aku pun hanya butuh orang yang
bersedia menyuapi anakku makan pada waktu makan siang, sehingga anakku tak
merasa kelaparan. Serta aku hanya ingin seseorang yang mau mengajak anakku
berjalan-jalan dan mengenal lingkungan yang baik, disaat aku sedang bekerja.
Hanya itu.
Tapi ternyata, mencari orang yang seperti
ini. tarif seorang baby sitter pun
tak pernah bisa aku ketahui secara pasti, karena banyak orang membandingkan
antara pekerjaan sebagai baby sitter
dengan bekerja di pabrik. Saat ini banyak orang yang memilih bekerja sebagai
buruh pabrik dari pada harus pusing mengurus anak kecil apalagi yang bukan
saudara maupun kerabatnya. Inilah salah satu alasan mengapa aku buat tulisan
ini, karena saat ini aku sangat butuh seorang baby sitter atau setidaknya sebuah penitipan anak (day care) yang tak jauh dari lokasi
pekerjaanku. Jadi, meski aku mempercayakan anakku pada orang lain, aku masih
ada waktu untuk memantaunya sewaktu-waktu......pleaseeee, i need a day care.....

No comments:
Post a Comment