Ada yang menyebutnya, hari lahir, ada yang
menyebutnya milad, tepang taun (bahasa Sunda). Tapi, intinya, ini peringatan
hari kelahiran seseorang yang sering disambut bahagia. Tak ayal, ucapan selamat
pun mengalir deras dari orang-orang terdekat, sahabat, kolega dan siapa pun
yang mengingat hari lahir kita.
![]() |
| sxc.hu |
Tapi, tahukah sebenarnya, usia manusia
semakin berkurang setiap tahunnya? Jadi, jika ada yang berbahagia menyambut
datangnya hari lahir, berarti ia tidak menyadari jika umurnya semakin
berkurang. Lantas mengapa harus dirayakan? Bukankah alangkah baiknya seseorang
yang sudah menginjak di tanggal kelahirannya, ia merenungi apa yang selama ini
telah dilakukan dalam hidupnya. Apakah hidupnya lebih banyak melakukan hal-hal
positif atau sebaliknya?
Meski secara nominal, umur manusia kian
bertambah setiap tahunnya, secara akhirat umur manusia makin berkurang. Secara
nominal umur manusia bertambah, ia semakin tua, tapi belum tentu dari sisi
kedewasaannya. Untuk itu, momen ulang tahun (biasa disebut jika tepat di hari
lahir) bukan waktu yang tepat untuk bersuka ria, tapi berpikir dan merenung. Selama
setahun ke belakang, kontribusi apa saja yang sudah dilakukan, perbaikan sikap
apa saja yang sudah dilakukan sehingga menjadikan diri pribadi menjadi lebih
baik?
Jika dari tahun ke tahun hidup kita hanya
gitu-gitu saja, buat apa ada perayaan ulang tahun. Sesuai ungkapan lama, “hari
ini harus lebih baik dari kemarin” atau “besok harus lebih baik dari hari ini”,
harus kita implementasikan dalam hidup kita. Momen hari lahir sering digunakan
semua orang untuk berdoa dan menaruh harapan tinggi akan kehidupannya setelah
ulang tahun. Tapi jika ternyata hidupnya masih sama dnegan di umur sebelumnya
atau bahkan lebih buruk, buat apa?
Jadi, tak perlu ribut di hari ulang tahun belum
ada yang mengucapkan selamat, mentraktir atau memberikan kado. Apalagi hingga
berpesta menghambur-hamburkan uang. Jika ada yang memberikan doa, barulah kita
harus merasa senang. Karena sedikit banyak, doa yang baik akan memberi efek positif
dalam perubahan sikap dan sifat kita ke depannya. Mulailah untuk introspeksi
diri, merenungi nasib, dan berubah ke arah yang lebih baik.
.jpg)
No comments:
Post a Comment