Saya dan suami adalah
penikmat berbagai genre film. Kalo saya suka film drama, action, komedi dan kolosal. Untuk film horor tidak terlalu suka,
karena kadang terlalu menakutkan dan suka terbawa mimpi. Kalo suami, ia lebih
suka film kolosal, dongeng, dan action.
Kebetulan kami mengoleksi banyak film yang kebanyakan masih dalam format blue ray. Bukan apa-apa, semua film
koleksi ini saya dapat dari rekan kantor yang suka manfaatkan fasilitas download gratis modemnya. Alhasil, beratus-ratus
mega byte film ia download, meski itu illegal. Tapi, kami
hanya putar film di kalangan sendiri, tidak untuk diedarkan kembali.
![]() |
| sxc.hu |
Saya sendiri selalu
menonton film yang kami miliki di rumah via laptop kecil kami. Meski harus
berdesak-desakan dengan suami, toh kami sudah merasa senang, apalagi hiburan
yang disajikan televisi kini sudah tidak banyak yang bagus. Mending nonton film
di laptop.
Suatu hari, suami saya
rela bergadang nonton beberapa film sekaligus. Saat kutanya, ia bilang hampir
semua film sudah ditontonnya. Tapi masa sih, puluhan film dengan durasi
rata-rata 1-2 jam bisa selesai ditonton sekaligus. Akhirnya ia ngaku kalo
nontonnya banyak di percepat (ff).dan percakapan ini pun terjadi.
“Ih, abah koq nonton
film banyak di-ff-nya? Berarti abah ga bisa menghargai nilai sebuah film donk!”
saya ketus.
“Ah, filmnya aja itu
yang ga bisa menghargai mata abah. Kelamaan tau nontonnya.” Sambungnya.
“Tapi, film itu sudah
dibuat dengan biaya yang ga murah lho. Masa nontonnya dicepet-cepetin gitu?”
aku tak mau kalah.
“Biarin aja. Lagian kalo
filmnya membosankan gitu, siapa yang mau nonton? Lanjutnya.
“Tapi kan film ada
buat menghibur penonton, duitnya juga gede lho,” lanjutku.
Sekarang gini, film
dibuat tapi ngebosenin, dia ga bakal untung. Siapa yang mau nonton. Soalnya
siapa yang punya duit? Penonton kan……,” katanya sambil lalu.
Dipikir-pikir bener
juga. Yang datangin duit di film penonton juga, kalo filmnya ga menarik,
bagaimana mau datangin penonton……
Obrolan yang tidak
penting. Tapi saya jadi merasa bersalah juga karena sering menikmati film-film
tapi gratisan. Kasihan sekali para pengusaha film,,,,maaf yaa…..:)J
.jpg)
No comments:
Post a Comment