Monday, 10 November 2014

“President Branding”



Semua orang pasti sering melihat Presiden Jokowi menggunakan baju khasnya, setelan kemeja putih dipadukan celana panjang hitam. Sebagian orang mungkin akan berpikir, “Ah, itu hanya untuk menunjukkan ciri khasnya beliau saja yang memang senang hal-hal sederhana dan lebih merakyat.” Pasalnya, menilik presiden-presiden sebelumnya di Indonesia, belum pernah ada yang sangat “biasa” terutama dalam hal penampilannya. Maklum, presiden adalah orang nomor satu pada sebuah negara yang akan menunjukkan citra dari negara yang bersangkutan. Jika terlihat kurang meyakinkan, pandangan dari dunia luar terhadap negara itu akan terlihat negatif.
all-free-download.com
Tengok saja, presiden Soekarno meski pakaian yang digunakan terlihat sederhana, namun perawakan dan penampilannya sangat negarawan dan tegas. Presiden Soeharto, sedikit lunak meski dari kalangan militer, namun tak pernah lepas jas atau safari yang necis. Demikian pula presiden-presiden selanjutnya hingga berakhir di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tapi, Presiden Jokowi rupanya ingin menampilkan sisi yang lain dari seorang presiden. Jika orang lain berpikir presiden adalah pejabat yang harus dihormati, Jokowi berpikir lain. Presiden baginya adalah seorang pelayan rakyat, sehingga ia tidak memusingkan seperti apa penampilannya.

Gaya berbusana Jokowi memang sudah menjadi trending topik sejak ia masih menjadi kandidat Gubernur Jakarta. Bahkan mungkin sejak masih menjadi Walikota Solo, Jokowi sudah seperti itu. Tidak sedikit orang mencibir gayanya yang dianggap ndeso, ga parlente dan dinilai kurang meyakinkan. Tapi, tidak banyak orang tahu bahwa gaya ndeso Jokowi adalah salah satu cara “jualan” Jokowi untuk menambah dukungan rakyat. Jokowi kerap memperlihatkan kesederhanaannya di depan publik, sehingga ia menjadi media darling saat maju sebagai calon gubernur Jakarta.
Dalam dunia komunikasi, apa yang dilakukan Jokowi dapat disebut bahasa semiotika. Semiotika sendiri adalah studi terkait makna keputusan. Didalamnya ada tanda-tanda dan proses tanda (semiosis), indikasi, penujukkan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna dan komunikasi. Meski semiotik erat dengan linguistik, namun di dalamnya termasuk mempelajari sistem tanda-tanda non linguistik. Bila dikaji dalam studi semiotik, apa yang dilakukan Jokowi terutama perihal penampilannya, akan ditemui berbagai hal yang mendasari proses tanda-tanda yang dimunculkannya ke publik.
Sementara dari sisi Public Relation (PR), apa yang dilakukan Jokoi adalah satu bentuk personal branding terutama ketika proses pemilu akan berlangsung. Setiap kandidat politikus harus mampu menampilkan sesuatu yang menjual, tapi tidak terindikasi meduplikasi dari orang lain. Ciri khas yang menjadi karakter setiap kandidat calon pemimpin akan lebih diterima rakyat, dibanding kepura-puraan yang bukan dirinya. Hal ini rupanya dimiliki dan sangat dimanfaatkan Jokowi serta timnya. Hal ini ternyata sangat disukai masyarakat, sehingga hingga kini masih banyak orang yang mendukung Jokowi karena penampilan “luarnya”. Tapi, apakah yakin dukungan masyarakat akan tetap sebesar ini ketika Jokowi mulai mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang rencananya akan dilakukan akhir tahun 2014 ini? Apakah Jokowi masih akan menjadi media darling, meski kemudian banyak mengambil sejumlah kebijakan yang tak populer? Kita tunggu tanggal mainnya.  

No comments: