Semua orang pasti sering melihat Presiden Jokowi
menggunakan baju khasnya, setelan kemeja putih dipadukan celana panjang hitam. Sebagian
orang mungkin akan berpikir, “Ah, itu hanya untuk menunjukkan ciri khasnya
beliau saja yang memang senang hal-hal sederhana dan lebih merakyat.” Pasalnya,
menilik presiden-presiden sebelumnya di Indonesia, belum pernah ada yang sangat
“biasa” terutama dalam hal penampilannya. Maklum, presiden adalah orang nomor
satu pada sebuah negara yang akan menunjukkan citra dari negara yang
bersangkutan. Jika terlihat kurang meyakinkan, pandangan dari dunia luar terhadap
negara itu akan terlihat negatif.
![]() |
| all-free-download.com |
Tengok saja, presiden Soekarno meski
pakaian yang digunakan terlihat sederhana, namun perawakan dan penampilannya
sangat negarawan dan tegas. Presiden Soeharto, sedikit lunak meski dari
kalangan militer, namun tak pernah lepas jas atau safari yang necis. Demikian pula
presiden-presiden selanjutnya hingga berakhir di era Presiden Soesilo Bambang
Yudhoyono (SBY). Tapi, Presiden Jokowi rupanya ingin menampilkan sisi yang lain
dari seorang presiden. Jika orang lain berpikir presiden adalah pejabat yang
harus dihormati, Jokowi berpikir lain. Presiden baginya adalah seorang pelayan
rakyat, sehingga ia tidak memusingkan seperti apa penampilannya.
Gaya berbusana Jokowi memang sudah menjadi
trending topik sejak ia masih menjadi kandidat Gubernur Jakarta. Bahkan mungkin
sejak masih menjadi Walikota Solo, Jokowi sudah seperti itu. Tidak sedikit
orang mencibir gayanya yang dianggap ndeso, ga parlente dan dinilai kurang
meyakinkan. Tapi, tidak banyak orang tahu bahwa gaya ndeso Jokowi adalah salah
satu cara “jualan” Jokowi untuk menambah dukungan rakyat. Jokowi kerap
memperlihatkan kesederhanaannya di depan publik, sehingga ia menjadi media darling saat maju sebagai calon
gubernur Jakarta.
Dalam dunia komunikasi, apa yang dilakukan
Jokowi dapat disebut bahasa semiotika. Semiotika sendiri adalah studi terkait
makna keputusan. Didalamnya ada tanda-tanda dan proses tanda (semiosis),
indikasi, penujukkan, kemiripan, analogi, metafora, simbolisme, makna dan
komunikasi. Meski semiotik erat dengan linguistik, namun di dalamnya termasuk mempelajari
sistem tanda-tanda non linguistik. Bila dikaji dalam studi semiotik, apa yang dilakukan
Jokowi terutama perihal penampilannya, akan ditemui berbagai hal yang mendasari
proses tanda-tanda yang dimunculkannya ke publik.
Sementara dari sisi Public Relation (PR), apa yang dilakukan Jokoi adalah satu bentuk personal branding terutama ketika proses
pemilu akan berlangsung. Setiap kandidat politikus harus mampu menampilkan
sesuatu yang menjual, tapi tidak terindikasi meduplikasi dari orang lain. Ciri
khas yang menjadi karakter setiap kandidat calon pemimpin akan lebih diterima
rakyat, dibanding kepura-puraan yang bukan dirinya. Hal ini rupanya dimiliki
dan sangat dimanfaatkan Jokowi serta timnya. Hal ini ternyata sangat disukai
masyarakat, sehingga hingga kini masih banyak orang yang mendukung Jokowi
karena penampilan “luarnya”. Tapi, apakah yakin dukungan masyarakat akan tetap
sebesar ini ketika Jokowi mulai mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM)
yang rencananya akan dilakukan akhir tahun 2014 ini? Apakah Jokowi masih akan
menjadi media darling, meski kemudian
banyak mengambil sejumlah kebijakan yang tak populer? Kita tunggu tanggal mainnya.
.jpg)
No comments:
Post a Comment