Thursday, 6 November 2014

Balada “Kontraktor”



Siapa pun yang sudah berumah tangga pasti memiliki impian untuk memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman. Tapi masalahnya, tidak semua orang bisa langsung punya rumah begitu menikah. Maklum, pendapatan orang Indonesia belum semuanya tinggi. Karena berbagai faktor dan alasan, akhirnya ada pasangan menikah yang terpaksa masih numpang di Pondok Indah mertua (PMI) maupun menyewa atau istilahnya “ngontrak”.
sxc.hu
Hal ini menjadi pilihan atau mungkin tak ada pilihan lainnya. Namun, masing-masing pilihan ada kelebihan dan kekurangannya. Hal ini saya alami sendiri dalam kehidupan berumah tangga. Selama empat tahun pertama pernikahan bersama suami. Mengingat saya bekerja di kota asal suami, akhirnya suami yang boyong ke rumah mertuanya. Sudah ada pikiran untuk hidup sendiri ketika menikah, tapi saya manut saja karena menurut suami akan lebih menghemat jika tinggal dengan orang tuanya. Lagi pula masih ada ruang yang dapat dipakai untuk kamar kami.

Seiring waktu, suasana di rumah mertua menjadi cenderung crowded, karena ada empat keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Padahal, idealnya satu rumah tak boleh ditempati lebih dari 2 keluarga. Terlebih masing-masing keluarga sudah memiliki anak, kecuali mertua kami. Sebenarnya hal-hal kecil seperti ini tidak masalah, selama semua orang dalam rumah dapat berkoordinasi dengan baik dan menjalankan aktivitasnya bergiliran. Misalnya, waktu mandi yang terkadang harus antri lama, padahal jadwal bangun tidur, hampir bersamaan. Sementara semuanya akan pergi bekerja pagi. Belum lagi jika ada satu anggota keluarga yang mandinya tidak bisa sebentar. Repot kan???
Masalah lainnya adalah ketersediaan sumber daya untuk mendukung aktivitas kami dalam rumah, salah satunya air bersih. Sebanyak apa pun air yang tersedia, apalagi jika persediaan air cenderung pas-pasan, akan cepat habis dan kurang mengenakkan. Padahal, air dibutuhkan tak hanya untuk mandi, tapi mencuci baju, mencuci piring dan lain-lain.
Memang keinginan orang tua kami pun, setiap anaknya dapat memiliki rumah tinggal yang nyaman dan terpidah dari orang tua. Selain lebih nyaman, anak-anak yang sudah berumah tangga dapat lebih mandiir dalam segala hal. Karena pada dasarnya anak yang sudah berkeluarga adalah orang lain yang tidak bisa tetap menggantungkan hidup dari orang tuanya. Tapi apa daya, kami semua belum memiliki uang yang cukup untuk membeli sebuah rumah meski kecil tapi cukup ditinggali.
Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, saya dan suami memutuskan untuk belajar hidup sendiri. Meski berat, karena kami belum memiliki rumah, pilihan satu-satunya adalah “ngontrak”. Ngontrak adalah menyewa sebuah rumah yang kadang terkesan jauh dari kata ideal untuk ditinggali. Namun, apa boleh buat dari pada kami harus tidur di jalanan atau tetap ikut orang tua, kami tak akan mandiri. Yang penting, rumah kontrakan yang disewa sudah memiliki ruang cukup untuk sekadar merebahkan diri, dan mck (mandi, cuci kakus) dengan air yang cukup.
Sebenarnya, kami belum merasakan sepenuhnya suka duka dari hidup mengontrak. Kami baru mulai. Namun, setidaknya kami akan belajar, bagaimana hidup berhemat, mengatur pengeluaran sehari-hari untuk konsumsi makanan dan hal-hal lainnya. Jika ketika bersama orang tua, kami tidak perlu memikirkan apa yang akan dimakan hari ini dan esok hari, karena semua sudah tersedia. Kini, kami hraus berpikir keras, untuk menyajikan makanan sehari-hari dan mengupayakan agar uang bisa cukup hingga masa gajian berukitnya. Syukur-syukur, kami bisa menabung. Ini yang menjadi tantangan terberatnya. Untuk itu, kekompakan suami dan istri menjadi taruhannya. Tak hanya itu, kemampuan mengelola keuangan pada istri harus dilakukan seketat mungkin. Doakan saya berhasil teman-teman menjalani masa ini. dan doakan pula say atidak terlalu lama menjalaninya, hingga saya mempunyai rumah milik sendiri yang nyaman untuk ditinggali. Tak perlu rumah yang besar, rumah kecil tapi asri untuk keluarga kecil kami, seperti gambar rumah pada ilustrasi ini J.....Ganbate kudasai....!!!!!!!   

No comments: