Siapa pun yang sudah berumah tangga pasti
memiliki impian untuk memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman. Tapi masalahnya,
tidak semua orang bisa langsung punya rumah begitu menikah. Maklum, pendapatan
orang Indonesia belum semuanya tinggi. Karena berbagai faktor dan alasan,
akhirnya ada pasangan menikah yang terpaksa masih numpang di Pondok Indah
mertua (PMI) maupun menyewa atau istilahnya “ngontrak”.
![]() |
| sxc.hu |
Hal ini menjadi pilihan atau mungkin tak
ada pilihan lainnya. Namun, masing-masing pilihan ada kelebihan dan
kekurangannya. Hal ini saya alami sendiri dalam kehidupan berumah tangga.
Selama empat tahun pertama pernikahan bersama suami. Mengingat saya bekerja di
kota asal suami, akhirnya suami yang boyong ke rumah mertuanya. Sudah ada
pikiran untuk hidup sendiri ketika menikah, tapi saya manut saja karena menurut
suami akan lebih menghemat jika tinggal dengan orang tuanya. Lagi pula masih
ada ruang yang dapat dipakai untuk kamar kami.
Seiring waktu, suasana di rumah mertua
menjadi cenderung crowded, karena ada
empat keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Padahal, idealnya satu rumah tak
boleh ditempati lebih dari 2 keluarga. Terlebih masing-masing keluarga sudah
memiliki anak, kecuali mertua kami. Sebenarnya hal-hal kecil seperti ini tidak
masalah, selama semua orang dalam rumah dapat berkoordinasi dengan baik dan
menjalankan aktivitasnya bergiliran. Misalnya, waktu mandi yang terkadang harus
antri lama, padahal jadwal bangun tidur, hampir bersamaan. Sementara semuanya
akan pergi bekerja pagi. Belum lagi jika ada satu anggota keluarga yang
mandinya tidak bisa sebentar. Repot kan???
Masalah lainnya adalah ketersediaan sumber
daya untuk mendukung aktivitas kami dalam rumah, salah satunya air bersih. Sebanyak
apa pun air yang tersedia, apalagi jika persediaan air cenderung pas-pasan,
akan cepat habis dan kurang mengenakkan. Padahal, air dibutuhkan tak hanya
untuk mandi, tapi mencuci baju, mencuci piring dan lain-lain.
Memang keinginan orang tua kami pun, setiap
anaknya dapat memiliki rumah tinggal yang nyaman dan terpidah dari orang tua.
Selain lebih nyaman, anak-anak yang sudah berumah tangga dapat lebih mandiir dalam
segala hal. Karena pada dasarnya anak yang sudah berkeluarga adalah orang lain
yang tidak bisa tetap menggantungkan hidup dari orang tuanya. Tapi apa daya,
kami semua belum memiliki uang yang cukup untuk membeli sebuah rumah meski
kecil tapi cukup ditinggali.
Akhirnya setelah melalui berbagai
pertimbangan, saya dan suami memutuskan untuk belajar hidup sendiri. Meski
berat, karena kami belum memiliki rumah, pilihan satu-satunya adalah “ngontrak”.
Ngontrak adalah menyewa sebuah rumah yang kadang terkesan jauh dari kata ideal
untuk ditinggali. Namun, apa boleh buat dari pada kami harus tidur di jalanan
atau tetap ikut orang tua, kami tak akan mandiri. Yang penting, rumah kontrakan
yang disewa sudah memiliki ruang cukup untuk sekadar merebahkan diri, dan mck
(mandi, cuci kakus) dengan air yang cukup.
Sebenarnya, kami belum merasakan sepenuhnya
suka duka dari hidup mengontrak. Kami baru mulai. Namun, setidaknya kami akan
belajar, bagaimana hidup berhemat, mengatur pengeluaran sehari-hari untuk
konsumsi makanan dan hal-hal lainnya. Jika ketika bersama orang tua, kami tidak
perlu memikirkan apa yang akan dimakan hari ini dan esok hari, karena semua
sudah tersedia. Kini, kami hraus berpikir keras, untuk menyajikan makanan
sehari-hari dan mengupayakan agar uang bisa cukup hingga masa gajian
berukitnya. Syukur-syukur, kami bisa menabung. Ini yang menjadi tantangan
terberatnya. Untuk itu, kekompakan suami dan istri menjadi taruhannya. Tak hanya
itu, kemampuan mengelola keuangan pada istri harus dilakukan seketat mungkin. Doakan
saya berhasil teman-teman menjalani masa ini. dan doakan pula say atidak
terlalu lama menjalaninya, hingga saya mempunyai rumah milik sendiri yang
nyaman untuk ditinggali. Tak perlu rumah yang besar, rumah kecil tapi asri untuk
keluarga kecil kami, seperti gambar rumah pada ilustrasi ini J.....Ganbate kudasai....!!!!!!!

No comments:
Post a Comment