Thursday, 12 February 2015

Keluar Dari Zona Nyaman



Bagaimana rasanya jika seseorang yang terlahir normal, tiba-tiba harus menjadi orang cacat karena suatu hal? Atau orang yang asalnya hidup berkecukupan tiba-tiba jatuh miskin karena PHK? Atau orang yang terbiasa mendapat limpahan kasih sayang orang tua, tiba-tiba menjadi yatim piatu ? Rasa tidak nyaman, takut, stres, hingga akhirnya frustrasi mungkin beberapa kata yang dapat menggambarkannya.
Namun, tahukah anda bahwa setiap orang selalu berharap menjalani hari-harinya dengan penuh kenyamanan? Sudah menjadi sifat dasar manusia yang tidak pernah merasakan kepuasan. Pada satu posisi yang dijalaninya, ia akan selalu berusaha mencari cara menuju hidup nyaman. Itulah sebabnya, banyak orang yang tak ingin berhenti atau berpindah ketika sudah mereguk kenyamanan hidup. Ia akan selalu mempertahankan posisi nyaman untuk dirinya, bahkan mencari hal lain lagi yang menurutnya dapat membuatnya lebih nyaman menjalani hidupnya. Manusia selalu berusaha memuaskan dirinya, meski itu tidak akan terjadi, karena manusia tak akan pernah merasa puas.

Pertanyaannya, ketika semua kenyamanan hidup itu harus terenggut darinya, mampukah manusia membalikkan keadaan hingga akhirnya ia tetap merasa nyaman dalam kondisinya yang baru? Jawabannya, ada pada diri masing-masing orang. Tak mudah memang menjalani hari-hari pengangguran bagi seseorang yang sudah terbiasa bekerja. Tak mudah membiasakan diri dengan kebutaan, bagi yang asalnya dapat melihat indahnya dunia. Tapi, ketika hal yang dikatakan buruk itu terjadi, mau tak mau seseorang harus menjalaninya, jika masih ingin hidup.
Saya menyimak paparn singkat dari seorang Sociopreneur difabel yang cukup sukses, Angki Yudistia. Hidupnya seakan berubah 180 derajat ketika ia dinyatakan tuli di usia 10 tahun. Dapat dibayangkan, masa indah anak-anak seorang Angki seakan terenggut karena salah satu inderanya tiba-tiba tidak berfungsi. Rasa takut, minder, bingung dan marah mungkin menghinggapinya saat itu. Tapi, Nyatanya Angki dapat bangkit dari keterpurukannya dan menjelma jadi pribadi yang baru dan berguna bagi dirinya dan orang lain.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Angki hingga ia bisa keluar dari zona nyaman dan mampu bertahan di zona tak nyaman dalam hidupnya? Kunci pertama, melihat semua hal dari sudut pandang yang positif. Seseorang yang selalu berpikiran positif, akan membawa aura yang baik bagi diri dan lingkungannya. Kunci kedua, cobalah untuk melihat lingkungan sekitar dengan saksama. Melalui lingkunganlah, kita bisa belajar memaknai hidup. Ketika kita merasa menjadi orang yang paling menderita, Nyatanya masih lebih banyak orang yang hidupnya lebih susah dan serba kekurangan. Ketika kita hanya mampu makan dengan lauk tahu tempe, di luar sana masih banyak orang yang bahkan sulit sekali mendapat makanan. Kita masih bisa makan tiga kali sehari, sementara orang lain makan sekali pun belum tentu. Pikiran-pikiran sederhana tentang rasa syukur pada Yang Maha Kuasa seperti inilah yang akan memberikan pemikiran positif pada seseorang.
Kunci selanjutnya, jangan hanya melihat lingkungan, tapi mulailah cari tahu apa yang bisa dilakukan dengan kondisi kita yang sekarang. Tentu tak mudah melakukannya, butuh kreativitas untuk menemukannya. Mungkin semuanya dapat dimulai dengan berusaha peduli pada diri sendiri dan lingkungan. Daripada meratapi keterpurukan, masih banyak hal lain yang dapat dilakukan. Cobalah memulainya dari hobi yang dapat dikerjakan, tapi jangan terlalu memaksa diri. Tapi biasanya, seseorang yang terpaksa menjalani zona tak nyaman, akan terpaksa berbuat demi mendapatkan kembali zona nyamannya atau menciptakan zona nyaman yang baru. Selama ia mendapat dukungan penuh dari orang-orang di sekitarnya dan masih memiliki keyakinan kuat dirinya mampu bangkit. Dua hal inilah yang akan memompa semangat dan menghasilkan motivasi bagi seseorang. Jika dua hal ini hilang, mungkin yang akan terjadi adalah rasa frustrasi, stres, bahkan mungkin hanya ingin mengakhiri hidup.
Sigmund Freud mengatakan, “Ego tak akan pernah merasakan kepuasan. Ia selalu merakan ketegangan akibat keinginan yang tidak terpuaskan”. Jangan sampai hal ini terjadi pada kita semua. Manusia memiliki ego, namun jangan sampai ini memperbudak seseorang untuk selalu memenuhi keinginannya. Maka hidup yang seimbang adalah yang harus dikedepankan. Seimbang menjalani kehidupan duniawi dan rohani. Manusia perlu pula memelihara emosi, agar menjadi kekuatan ketiga yang dapat membantunya menjalani hidup.
Berikut adalah link untuk presentasi Angki Yudistia dalam seminar TedEx di Tangerang. https://www.youtube.com/watch?v=2T9Zq_vrw1c

No comments: