Bagaimana rasanya jika seseorang yang
terlahir normal, tiba-tiba harus menjadi orang cacat karena suatu hal? Atau
orang yang asalnya hidup berkecukupan tiba-tiba jatuh miskin karena PHK? Atau
orang yang terbiasa mendapat limpahan kasih sayang orang tua, tiba-tiba menjadi
yatim piatu ? Rasa tidak nyaman, takut, stres, hingga akhirnya frustrasi
mungkin beberapa kata yang dapat menggambarkannya.
Namun, tahukah anda bahwa setiap orang
selalu berharap menjalani hari-harinya dengan penuh kenyamanan? Sudah menjadi
sifat dasar manusia yang tidak pernah merasakan kepuasan. Pada satu posisi yang
dijalaninya, ia akan selalu berusaha mencari cara menuju hidup nyaman. Itulah
sebabnya, banyak orang yang tak ingin berhenti atau berpindah ketika sudah
mereguk kenyamanan hidup. Ia akan selalu mempertahankan posisi nyaman untuk
dirinya, bahkan mencari hal lain lagi yang menurutnya dapat membuatnya lebih
nyaman menjalani hidupnya. Manusia selalu berusaha memuaskan dirinya, meski itu
tidak akan terjadi, karena manusia tak akan pernah merasa puas.
Pertanyaannya, ketika semua kenyamanan
hidup itu harus terenggut darinya, mampukah manusia membalikkan keadaan hingga
akhirnya ia tetap merasa nyaman dalam kondisinya yang baru? Jawabannya, ada
pada diri masing-masing orang. Tak mudah memang menjalani hari-hari
pengangguran bagi seseorang yang sudah terbiasa bekerja. Tak mudah membiasakan
diri dengan kebutaan, bagi yang asalnya dapat melihat indahnya dunia. Tapi, ketika
hal yang dikatakan buruk itu terjadi, mau tak mau seseorang harus menjalaninya,
jika masih ingin hidup.
Saya menyimak paparn singkat dari seorang
Sociopreneur difabel yang cukup sukses, Angki Yudistia. Hidupnya seakan berubah
180 derajat ketika ia dinyatakan tuli di usia 10 tahun. Dapat dibayangkan, masa
indah anak-anak seorang Angki seakan terenggut karena salah satu inderanya
tiba-tiba tidak berfungsi. Rasa takut, minder, bingung dan marah mungkin
menghinggapinya saat itu. Tapi, Nyatanya Angki dapat bangkit dari
keterpurukannya dan menjelma jadi pribadi yang baru dan berguna bagi dirinya
dan orang lain.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Angki
hingga ia bisa keluar dari zona nyaman dan mampu bertahan di zona tak nyaman
dalam hidupnya? Kunci pertama, melihat semua hal dari sudut pandang yang
positif. Seseorang yang selalu berpikiran positif, akan membawa aura yang baik
bagi diri dan lingkungannya. Kunci kedua, cobalah untuk melihat lingkungan
sekitar dengan saksama. Melalui lingkunganlah, kita bisa belajar memaknai
hidup. Ketika kita merasa menjadi orang yang paling menderita, Nyatanya masih
lebih banyak orang yang hidupnya lebih susah dan serba kekurangan. Ketika kita
hanya mampu makan dengan lauk tahu tempe, di luar sana masih banyak orang yang
bahkan sulit sekali mendapat makanan. Kita masih bisa makan tiga kali sehari,
sementara orang lain makan sekali pun belum tentu. Pikiran-pikiran sederhana
tentang rasa syukur pada Yang Maha Kuasa seperti inilah yang akan memberikan
pemikiran positif pada seseorang.
Kunci selanjutnya, jangan hanya melihat
lingkungan, tapi mulailah cari tahu apa yang bisa dilakukan dengan kondisi kita
yang sekarang. Tentu tak mudah melakukannya, butuh kreativitas untuk
menemukannya. Mungkin semuanya dapat dimulai dengan berusaha peduli pada diri
sendiri dan lingkungan. Daripada meratapi keterpurukan, masih banyak hal lain
yang dapat dilakukan. Cobalah memulainya dari hobi yang dapat dikerjakan, tapi jangan
terlalu memaksa diri. Tapi biasanya, seseorang yang terpaksa menjalani zona tak
nyaman, akan terpaksa berbuat demi mendapatkan kembali zona nyamannya atau
menciptakan zona nyaman yang baru. Selama ia mendapat dukungan penuh dari
orang-orang di sekitarnya dan masih memiliki keyakinan kuat dirinya mampu
bangkit. Dua hal inilah yang akan memompa semangat dan menghasilkan motivasi
bagi seseorang. Jika dua hal ini hilang, mungkin yang akan terjadi adalah rasa
frustrasi, stres, bahkan mungkin hanya ingin mengakhiri hidup.
Sigmund Freud mengatakan, “Ego tak akan
pernah merasakan kepuasan. Ia selalu merakan ketegangan akibat keinginan yang
tidak terpuaskan”. Jangan sampai hal ini terjadi pada kita semua. Manusia
memiliki ego, namun jangan sampai ini memperbudak seseorang untuk selalu
memenuhi keinginannya. Maka hidup yang seimbang adalah yang harus dikedepankan.
Seimbang menjalani kehidupan duniawi dan rohani. Manusia perlu pula memelihara
emosi, agar menjadi kekuatan ketiga yang dapat membantunya menjalani hidup.
Berikut adalah link untuk presentasi Angki
Yudistia dalam seminar TedEx di Tangerang. https://www.youtube.com/watch?v=2T9Zq_vrw1c
No comments:
Post a Comment