Jarum
jam bergerak terasa sangat lambat, hawa dingin pun masih terasa menyeruak
menusuk tulang. Maklum, ini jam satu dinihari. Terlebih lokasi tempat saya
menunggu, sangat jauh dari kata nyaman. Bagaimana tidak, selagi menunggu
rekan-rekan lain berkumpul di titik temu, saya terpaksa tidur hanya beralas
selembar karpet tipis dan berselimut jas hujan pinjaman. Belum lagi serangan
nyamuk-nyamuk ganas, hingga sulit memejamkan mata ini. Beruntung, di lokasi titik temu yang merupakan
sanggar kelompok pencinta alam ini, masih ada benda yang cukup mewah, televisi.
Untuk menghilangkan kesunyian, saya pun ditemani suara televisi yang sengaja
distel keras-keras. Sementara rekan saya terdengar mendengkur di pojok ruangan.
Menjelang
pukul dua dini hari, kawan-kawan pun berdatangan satu-persatu. Alhamdulilah,
meski tidak lelap saya bisa istirahat sejenak sebelum memulai perjalanan
panjang di pagi buta. Setelah jumlah kawanan yang berjumlah dua belas orang ini
lengkap, kami pun mulai bersiap-siap. Mengecek kesiapan peralatan dan
perlengkapan yang harus dibawa masing-masing, dan menitipkan kendaraan
masing-masing di sanggar yang terletak di daerah Ciwastra, daerah Bandung Selatan
itu. Sementara kami menunggu mobil carteran menjemput, kami ngobrol-ngobrol
dengan sesama anggota lain. Maklum, beberapa diantara kami belum saling
kenal, karena berasal dari latar belakang pekerjaan dan tempat tinggal yang
berbeda-beda. Hanya satu kesamaan kami, sama-sama menyukai kegiatan-kegiatan
luar ruangan (outdoor) yang menantang
adrenalin, salah satunya arung jeram (rafting).
![]() |
| doc.private |


