Jarum
jam bergerak terasa sangat lambat, hawa dingin pun masih terasa menyeruak
menusuk tulang. Maklum, ini jam satu dinihari. Terlebih lokasi tempat saya
menunggu, sangat jauh dari kata nyaman. Bagaimana tidak, selagi menunggu
rekan-rekan lain berkumpul di titik temu, saya terpaksa tidur hanya beralas
selembar karpet tipis dan berselimut jas hujan pinjaman. Belum lagi serangan
nyamuk-nyamuk ganas, hingga sulit memejamkan mata ini. Beruntung, di lokasi titik temu yang merupakan
sanggar kelompok pencinta alam ini, masih ada benda yang cukup mewah, televisi.
Untuk menghilangkan kesunyian, saya pun ditemani suara televisi yang sengaja
distel keras-keras. Sementara rekan saya terdengar mendengkur di pojok ruangan.
Menjelang
pukul dua dini hari, kawan-kawan pun berdatangan satu-persatu. Alhamdulilah,
meski tidak lelap saya bisa istirahat sejenak sebelum memulai perjalanan
panjang di pagi buta. Setelah jumlah kawanan yang berjumlah dua belas orang ini
lengkap, kami pun mulai bersiap-siap. Mengecek kesiapan peralatan dan
perlengkapan yang harus dibawa masing-masing, dan menitipkan kendaraan
masing-masing di sanggar yang terletak di daerah Ciwastra, daerah Bandung Selatan
itu. Sementara kami menunggu mobil carteran menjemput, kami ngobrol-ngobrol
dengan sesama anggota lain. Maklum, beberapa diantara kami belum saling
kenal, karena berasal dari latar belakang pekerjaan dan tempat tinggal yang
berbeda-beda. Hanya satu kesamaan kami, sama-sama menyukai kegiatan-kegiatan
luar ruangan (outdoor) yang menantang
adrenalin, salah satunya arung jeram (rafting).
![]() |
| doc.private |
Tepat
pukul dua dinihari, kami pun berangkat menggunakan mobil carteran tipe Travello
yang lumayan nyaman dan mewah. Tujuan kami kali ini, Sungai Cikandang yang
berada di Kabupaten Garut bagian Selatan. Meski masing-masing anggota kawanan
telah memiliki pengalaman rafting di beberapa sungai wilayah Jawa Barat, tetap saja hati kami dag dig dug. Pasalnya, inilah kali pertama bagi kami
semua mencoba menaklukkan ganasnya arus Sungai Cikandang yang langsung bermuara
ke Laut Pameungpeuk, Garut itu.
Meski
secara de jure, jarak Bandung – Garut hanya sekitar dua jam. Namun, faktanya tujuan kami kali ini diperkirakan menghabiskan
waktu sekitar enam jam. Terang saja, lokasi Sungai Cikandang memang berada jauh
di pelosok Kabupaten Garut sendiri. Awalnya perjalanan kami berlangsung lancar
dan tepat waktu, sehingga kami bisa meregangkan kaki sejenak dan memenuhi
panggilan Yang Kuasa di Mesjid Agung Kota Garut di waktu Subuh yang cukup
dingin. Meski begitu, kami tidak
dapat berlama-lama istirahat, karena perjalanan masih jauh. Apalagi, fajar
sudah lama menyingsing di awal Mei yang cukup cerah. Satu hal, meski lokasi
pengarungan sungai jauh berada di pelosok Garut, namun pengelola arung jeram
Sungai Cikandang berada di Kota Garut. Maka, kami pun sekalian membawa
perlengkapan arung jeram, yakni dua buah perahu karet, pelampung, helm,
dayung, tali, serta dua orang skipper
yang telah kami sewa dari Kota
Garut. Perjalanan pun kami lanjutkan.
Perjalanan
yang awalnya sangat lancar karena terhindar macet dan didukung kondisi jalan
yang mulus, mulai berubah ketika kami meninggalkan Kota Garut. Perjalanan kami
ambil via Bayongbong menuju ke arah Bungbulang karena dirasa lebih cepat, meski
kondisi jalannya sangat labil. Kendati suasana perjalanan mulai terasa seperti
offroad, kami tetap bergembira. Bagaimana
tidak, pemandangan kiri kanan jalan sungguh memanjakan mata kami. Rencana tidur
selama perjalanan pun menguap entah kemana, karena kami disuguhi pemandangan
Garut yang eksotis di pagi hari. Apalagi, cuaca pagi hari ini sangat cerah.
Mulai dari pesawahan, jajaran pegunungan, hutan, dan hingga perkebunan teh yang
sangat luas. Bahkan, di beberapa spot, kami
sempat berhenti untuk berfoto-foto.
Selama
perjalanan, mata kami tetap awas memperhatikan kiri kanan jalan. Bukan lagi
pemandangan alam yang kami cari, melainkan warung nasi. Maklum, perjalanan ini
cukup melelahkan, sehingga perut kami sudah keroncongan minta diisi. Perdebatan
pun muncul saat penentuan menu antara yellow
rice alias nasi kuning atau cukup membeli gorengan yang lebih mudah dicari.
Akhirnya, pilihan sarapan kami pagi ini, jatuh di sebuah warung sederhana yang
terletak di sebuah persimpangan. Alhamdulillah, menu di warung ini cukup
beragam. Kami pun memesan beraneka
| doc. private |
| doc. private |
| doc. |
Starting point arung jeram kali ini, tidak kami mulai dari lokasi
yang biasanya dipakai. Menurut Skipper
kami, lokasinya cukup berbahaya, karena arus sungai masih tinggi dan berada di
pertemuan dua arus sungai. Kami putuskan untuk mencoba start pengarungan lebih hilir. Setelah bersiap-siap di pinggir
jalan raya dan mengenakan helm dan pelampung, peralatan dan bekal makanan kami
bawa ke pinggir sungai. Termasuk tiga buah perahu karet yang dua di antaranya
sudah dipompa. Sambil portaging
membawa perahu, kami mencapai bibir sungai. Bahkan, jalanan sempit dan
sawah-sawah yang membuat perahu dalam portaging
oleng pun tidak kami hiraukan. Rupanya, semua anggota kawanan sudah tak sabar
mengarungi derasnya Sungai Cikandang.
Sebelum memulai pengarungan, kami berdoa terlebih
dulu. Maklum, Sungai Cikandang yang kami lalui kali ini masuk kategori level 4
atau cukup berbahaya untuk dilalui. Pasalnya, tak kurang dari 80% aliran sungai
penuh dengan jeram-jeram yang bisa saja mengobrak-abrik perahu karet kami. Bahkan,
skipper kami bilang, peserta rafting di sungai Cikandang tidak boleh
pemula. Minimal sudah pernah melakukan rafting
sebelumnya. Hanya dua perahu karet yang kami gunakan, mengingat jumlah kami tak
lebih dari 14 orang dengan satu skipper
andal di masing-masing perahu. Melihat derasnya aliran sungai, sedikit ciut
nyali kami. Setelah melakukan stretching
dan peregangan otot, satu persatu mulai menaiki perahu sambil menenteng dayung.
Tak lupa sejumlah perbekalan sudah kami siapkan di dry bag, karena kami akan berada di air selama tak kurang dari enam
jam hingga finish.
Dan, wusshhhh…belum ada lima menit kami di perahu,
jeram yang cukup besar sudah menanti. Kami pun dibuat sedikit panik dan sport jantung. Bahkan, arahan skipper untuk terus mendayung kuat
menghadapi jeram, tidak kami indahkan. Beberapa dari kami hanya berteriak
kencang sambil memegang tali pengaman di perahu karet erat-erat. Badan kami pun
terguncang kuat, seolah sedang naik trampolin. Jika saja kaki tak dikaitkan ke
sela-sela perahu dan tali tak dipegang erat, badan kami sudah terjungkal ke air
dan terseret arus. Belum lagi habis rasa deg-degan akibat jeram pertama, jeram
berikutnya sudah menghadang kami…..kami pun tak bisa bersantai-santai. Bahkan
mengobrol pun tak sempat. Dayung yang kupegang pun hanya menjadi aksesoris,
sementara tangan lainnya sibuk berpegangan. Mulutku pun tak henti-hentinya
menjerit setiap jeram besar muncul dan membuat perahu kami hampir oleng. Tak
jarang, skipper berteriak STOPPP!!!
Untuk mendayung dan membiarkan perahu kami bergerak mengikuti arus. Di
kesempatan lain, skipper dengan tegas
mengomando kami untuk berdiri di tengah perahu dan menginjak-injak perahu,
ketika ada batu besar menghalangi jalan kami. Tak jarang, suara-suara batu
kerikil terasa berderit di bawah perahu kami, ketika melewati bagian sungai
yang cukup dangkal. Ketakutan perahu karet kami kempis tertusuk batu pun
berkelebatan di antara jeram-jeram besar yang kami lewati.
Di tengah perjalanan, dua perahu karet kami rehat
sejenak untuk melepas lelah dan mengisi perut keroncongan kami. Nasi bungkus,
beragam biskuit, air mineral, dan bekal lainnya rupanya tak kuat menahan
gempuran air. Isinya sudah tidak karuan. Tapi dasar perut sedang lapar, semua
makanan itu tetap kami gasak. Perlu diketahui, kawanan kami waktu itu terdiri
dari 10 orang laki-laki dan dua orang perempuan ditambah dua orang skipper lokal. Dasar memang narsis, saya
dan teman wanita yang lain tak lupa berfoto ria mengabadikan diri di tengah
perjalanan ini. masalahnya, selama berada di perahu, kami tak bisa
melakukannya. Boro-boro foto-foto, perhatian kami sudah tersita dengan
jeram-jeram yang cukup ganas.
Usai beristirahat, kami siap melanjutkan perjalanan dengan
perut kenyang. Masing-masing pun menaiki perahu dan duduk di posisi semula. Aku
yang duduk di sisi kiri tengah sedikit kurang enak hati, karena perjalanan
masih jauh dan jeram-jeramnya masih banyak dan berbahaya. Aku ingat ucapan skipper tadi, jika jatuh ke sungai di
Cikandang ini, kemungkinan badan kita akan terseret hingga satu atau dua
kilometer ke depan sebelum akhirnya tersangkut di antara bebatuan. Tak bisa
kubayangkan jika itu terjadi, terlebih aku sama sekali tak bisa berenang. Jadi,
meski pelampung terpasang kuat di badan, bayangan bahaya itu masih mengganggu
pikiranku.
Wusshhhhh….byurrrrr….air menimpa wajahku ketika perahu
terapung-apung di antara jeram besar, kulihat air seperti bergolak diantara
bebatuan sungai yang tak tampak dari permukaan. Tali perahu terus kupegang
erat, meski posisi badanku kadang terdorong ke tengah perahu atau sedikit
miring ke air. Komando untuk mendayung sudah tak kudengar, hanya sebagian teman
lelaki yang melakukannya. Itu pun yang sudah cukup senior di kegiatan rafting. Beberapa diantaranya malah
kulihat pucat pasi sepertiku saat jeram menghadang. Di tengah-tengah
pengarungan dan jeram yang seolah tak henti, tiba-tiba tubuhku merasa
terguncang kuat dan sedikit terlempar. Air terasa kuat membasahi seluruh badanku,
tapi tanganku tak lepas sedikit pun dari tali perahu. Tidakkkkk…..rupanya aku
terjungkal dari perahu, beruntung, salah satu teman ada yang menarikku dengan
dayungnya dan langsung terangkat kembali ke atas perahu. Mungkin karena tubuhku
cukup mungil, jadi sedikit ringan. Tapi, kulihat teman di belakangku yang gantian
masuk ke air. Rupanya ia bermaksud menolongku, tapi aku sendiri sudah
terangkat, sementara ia kesulitan kembali menaiki perahu. Kulihat dua teman
yang lain segera mengangkat tubuhnya, sebelum menubruk sebuah batu. Fiuuuhhhh….kejadian
ini begitu cepat, sampai aku tak bisa bernapas. Dan itu semua terjadi bersamaan
dengan skipper kami yang mendayung
sendirian menghadapi jeram besar. Berulang kali kuucap syukur, aku masih
selamat. Benar-benar petualangan dan olahraga air yang cukup menegangkan.
Sungai yang kami arungi mempunyai jeram level empat.
Tak heran, sepanjang perjalanan, kami hampir tak bisa bersantai. Namun, Sungai
Cikandang yang langsung bermuara ke laut di Garut Selatan menyajikan
pemandangan yang memanjakan mata. Sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), kami
dapat menyaksikan ladang dan sawah, bebatuan, hingga tebing-tebing batu yang menjulang di
kiri kanan sungai. Bahkan, beberapa kali kulihat biawak –biawak ukuran sedang tampak
berjemur santai di atas bebatuan. Sungai memang menjadi salah
satu habitat biawak yang sedikit mirip komodo. Meski begitu, tak ada buaya di
sungai ini, jadi cukup aman untuk para rafter.
Semakin siang, pengarungan kami kian mendekati pantai.
Udara pun terasa kian panas. Untungnya, baju lengan panjang cukup menutupi
kulitku, jadi hanya mukaku yang sedikit terbakar matahari. Setiap saat kami
berharap ada bagian sungai yang tidak berjeram. Bukan apa-apa, kami ingin mengbadikankan
petualangan kami saat berada di atas sungai. Kawanan kami memang turut membawa
kamera SLR untuk dokumentasi kegiatan. Beruntung, sebelum mencapai ujung
pengarungan, kami sempat berfoto ria di atas perahu. Itu pun setelah sang skipper mengijinkan, karena tidak ada
jeram di sekitar sungai yang bisa merusak kamera kami. Kami pun bergaya dengan
dayung masing-masing di tangan. Beberapa saat kemudian, skipper mengingatkan untuk segera memasukkan kamera ke dry bag. Sudah ada jeram yang
menanti kami di depan. Tapi, semakin mendekati pantai, jeram-jeramnya sudah
tidak terlalu mencekam. Mungkin karena kami pun sudah terbiasa dengan tubuh
kami yang sedikit terbanting-banting.
Akhirnyaa……sampai juga kami di garis finish pengarungan Sungai Cikandang
sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan kata lain, kami sudah mengarungi sungai selama
kurang lebih 6 jam. Padahal, sebelumnya paling lama saya berarung jeram hanya
sekitar 4 jam di trek panjang Sungai Citarum di daerah Saguling Padalarang,
Kabupaten Bandung Barat. Itu pun jeramnya tidak sampai 50 % dari keseluruhan
jalur pengarungan kami. Sangkaan kami, perahu akan langsung masuk ke bibir
pantai, ternyata, ujung pengarungan ini masih sekitar I kilometer dari bibir
pantai. Alasannya, skipper tidak
ingin perahu kami terseret ombak, jika finish-nya
benar-benar di pinggir laut. Berlokasi di bawah jembatan besar jalan di jalur
selatan, kami menarik dua perahu karet kami ke darat. Tapi, sebagai anggota
kawanan perempuan, saya tak perlu repot-repot membantu. Malah, saya dan anggota
perempuan yang satu lagi dapat leluasa berfoto-foto di pinggir sungai,
sementara rekan-rekan kami sudah portaging
menuju jalan raya.
Namun, rafting
di sungai ini rupanya ada kekurangannya. Tak ada masyarakat yang menyediakan
fasilitas untuk membersihkan diri atau minimal fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK)
di lokasi ini. Padahal, rumah penduduk cukup banyak di daerah ini. Mungkin
mereka belum menyadari potensi ekonomi dari hobi mahal ini. Alhasil, kami hanya
bisa gemetaran di pinggir jalan sambil menunggu mobil menjemput kami. Tapi, tak
peduli badan kami gatal-gatal terkena air sungai dan baju kami yang lembab,
pemandangan dari sini ke arah pantai cukup jelas. Setidaknya ini dapat sedikit
mengobati kekecewaan kami.

No comments:
Post a Comment