Tuesday, 7 November 2017

Rafting Cikandang, Edaaaaannn......




Jarum jam bergerak terasa sangat lambat, hawa dingin pun masih terasa menyeruak menusuk tulang. Maklum, ini jam satu dinihari. Terlebih lokasi tempat saya menunggu, sangat jauh dari kata nyaman. Bagaimana tidak, selagi menunggu rekan-rekan lain berkumpul di titik temu, saya terpaksa tidur hanya beralas selembar karpet tipis dan berselimut jas hujan pinjaman. Belum lagi serangan nyamuk-nyamuk ganas, hingga sulit memejamkan mata ini.  Beruntung, di lokasi titik temu yang merupakan sanggar kelompok pencinta alam ini, masih ada benda yang cukup mewah, televisi. Untuk menghilangkan kesunyian, saya pun ditemani suara televisi yang sengaja distel keras-keras. Sementara rekan saya terdengar mendengkur di pojok ruangan.  

Menjelang pukul dua dini hari, kawan-kawan pun berdatangan satu-persatu. Alhamdulilah, meski tidak lelap saya bisa istirahat sejenak sebelum memulai perjalanan panjang di pagi buta. Setelah jumlah kawanan yang berjumlah dua belas orang ini lengkap, kami pun mulai bersiap-siap. Mengecek kesiapan peralatan dan perlengkapan yang harus dibawa masing-masing, dan menitipkan kendaraan masing-masing di sanggar yang terletak di daerah Ciwastra, daerah Bandung Selatan itu. Sementara kami menunggu mobil carteran menjemput, kami ngobrol-ngobrol dengan sesama anggota lain. Maklum, beberapa diantara kami belum saling kenal, karena berasal dari latar belakang pekerjaan dan tempat tinggal yang berbeda-beda. Hanya satu kesamaan kami, sama-sama menyukai kegiatan-kegiatan luar ruangan (outdoor) yang menantang adrenalin, salah satunya arung jeram (rafting).   

doc.private
Tepat pukul dua dinihari, kami pun berangkat menggunakan mobil carteran tipe Travello yang lumayan nyaman dan mewah. Tujuan kami kali ini, Sungai Cikandang yang berada di Kabupaten Garut bagian Selatan. Meski masing-masing anggota kawanan telah memiliki pengalaman rafting di beberapa sungai wilayah Jawa Barat, tetap saja hati kami dag dig dug. Pasalnya, inilah kali pertama bagi kami semua mencoba menaklukkan ganasnya arus Sungai Cikandang yang langsung bermuara ke Laut Pameungpeuk, Garut itu.

Meski secara de jure, jarak Bandung – Garut hanya sekitar dua jam. Namun, faktanya  tujuan kami kali ini diperkirakan menghabiskan waktu sekitar enam jam. Terang saja, lokasi Sungai Cikandang memang berada jauh di pelosok Kabupaten Garut sendiri. Awalnya perjalanan kami berlangsung lancar dan tepat waktu, sehingga kami bisa meregangkan kaki sejenak dan memenuhi panggilan Yang Kuasa di Mesjid Agung Kota Garut di waktu Subuh yang cukup dingin. Meski begitu, kami tidak dapat berlama-lama istirahat, karena perjalanan masih jauh. Apalagi, fajar sudah lama menyingsing di awal Mei yang cukup cerah. Satu hal, meski lokasi pengarungan sungai jauh berada di pelosok Garut, namun pengelola arung jeram Sungai Cikandang berada di Kota Garut. Maka, kami pun sekalian membawa perlengkapan arung jeram, yakni dua buah perahu karet, pelampung, helm, dayung, tali, serta dua orang skipper yang telah kami sewa dari Kota Garut. Perjalanan pun kami lanjutkan.

Perjalanan yang awalnya sangat lancar karena terhindar macet dan didukung kondisi jalan yang mulus, mulai berubah ketika kami meninggalkan Kota Garut. Perjalanan kami ambil via Bayongbong menuju ke arah Bungbulang karena dirasa lebih cepat, meski kondisi jalannya sangat labil. Kendati suasana perjalanan mulai terasa seperti offroad, kami tetap bergembira. Bagaimana tidak, pemandangan kiri kanan jalan sungguh memanjakan mata kami. Rencana tidur selama perjalanan pun menguap entah kemana, karena kami disuguhi pemandangan Garut yang eksotis di pagi hari. Apalagi, cuaca pagi hari ini sangat cerah. Mulai dari pesawahan, jajaran pegunungan, hutan, dan hingga perkebunan teh yang sangat luas. Bahkan, di beberapa spot, kami sempat berhenti untuk berfoto-foto.

Selama perjalanan, mata kami tetap awas memperhatikan kiri kanan jalan. Bukan lagi pemandangan alam yang kami cari, melainkan warung nasi. Maklum, perjalanan ini cukup melelahkan, sehingga perut kami sudah keroncongan minta diisi. Perdebatan pun muncul saat penentuan menu antara yellow rice alias nasi kuning atau cukup membeli gorengan yang lebih mudah dicari. Akhirnya, pilihan sarapan kami pagi ini, jatuh di sebuah warung sederhana yang terletak di sebuah persimpangan. Alhamdulillah, menu di warung ini cukup beragam. Kami pun memesan beraneka
doc. private

doc. private

doc.
menu sarapan. Waktu menunjukkan pukul delapan, lokasi pengarungan sudah hampir tercapai. Kami pun bergegas.

Starting point arung jeram kali ini, tidak kami mulai dari lokasi yang biasanya dipakai. Menurut Skipper kami, lokasinya cukup berbahaya, karena arus sungai masih tinggi dan berada di pertemuan dua arus sungai. Kami putuskan untuk mencoba start pengarungan lebih hilir. Setelah bersiap-siap di pinggir jalan raya dan mengenakan helm dan pelampung, peralatan dan bekal makanan kami bawa ke pinggir sungai. Termasuk tiga buah perahu karet yang dua di antaranya sudah dipompa. Sambil portaging membawa perahu, kami mencapai bibir sungai. Bahkan, jalanan sempit dan sawah-sawah yang membuat perahu dalam portaging oleng pun tidak kami hiraukan. Rupanya, semua anggota kawanan sudah tak sabar mengarungi derasnya Sungai Cikandang.

Sebelum memulai pengarungan, kami berdoa terlebih dulu. Maklum, Sungai Cikandang yang kami lalui kali ini masuk kategori level 4 atau cukup berbahaya untuk dilalui. Pasalnya, tak kurang dari 80% aliran sungai penuh dengan jeram-jeram yang bisa saja mengobrak-abrik perahu karet kami. Bahkan, skipper kami bilang, peserta rafting di sungai Cikandang tidak boleh pemula. Minimal sudah pernah melakukan rafting sebelumnya. Hanya dua perahu karet yang kami gunakan, mengingat jumlah kami tak lebih dari 14 orang dengan satu skipper andal di masing-masing perahu. Melihat derasnya aliran sungai, sedikit ciut nyali kami. Setelah melakukan stretching dan peregangan otot, satu persatu mulai menaiki perahu sambil menenteng dayung. Tak lupa sejumlah perbekalan sudah kami siapkan di dry bag, karena kami akan berada di air selama tak kurang dari enam jam hingga finish.

Dan, wusshhhh…belum ada lima menit kami di perahu, jeram yang cukup besar sudah menanti. Kami pun dibuat sedikit panik dan sport jantung. Bahkan, arahan skipper untuk terus mendayung kuat menghadapi jeram, tidak kami indahkan. Beberapa dari kami hanya berteriak kencang sambil memegang tali pengaman di perahu karet erat-erat. Badan kami pun terguncang kuat, seolah sedang naik trampolin. Jika saja kaki tak dikaitkan ke sela-sela perahu dan tali tak dipegang erat, badan kami sudah terjungkal ke air dan terseret arus. Belum lagi habis rasa deg-degan akibat jeram pertama, jeram berikutnya sudah menghadang kami…..kami pun tak bisa bersantai-santai. Bahkan mengobrol pun tak sempat. Dayung yang kupegang pun hanya menjadi aksesoris, sementara tangan lainnya sibuk berpegangan. Mulutku pun tak henti-hentinya menjerit setiap jeram besar muncul dan membuat perahu kami hampir oleng. Tak jarang, skipper berteriak STOPPP!!! Untuk mendayung dan membiarkan perahu kami bergerak mengikuti arus. Di kesempatan lain, skipper dengan tegas mengomando kami untuk berdiri di tengah perahu dan menginjak-injak perahu, ketika ada batu besar menghalangi jalan kami. Tak jarang, suara-suara batu kerikil terasa berderit di bawah perahu kami, ketika melewati bagian sungai yang cukup dangkal. Ketakutan perahu karet kami kempis tertusuk batu pun berkelebatan di antara jeram-jeram besar yang kami lewati.  

Di tengah perjalanan, dua perahu karet kami rehat sejenak untuk melepas lelah dan mengisi perut keroncongan kami. Nasi bungkus, beragam biskuit, air mineral, dan bekal lainnya rupanya tak kuat menahan gempuran air. Isinya sudah tidak karuan. Tapi dasar perut sedang lapar, semua makanan itu tetap kami gasak. Perlu diketahui, kawanan kami waktu itu terdiri dari 10 orang laki-laki dan dua orang perempuan ditambah dua orang skipper lokal. Dasar memang narsis, saya dan teman wanita yang lain tak lupa berfoto ria mengabadikan diri di tengah perjalanan ini. masalahnya, selama berada di perahu, kami tak bisa melakukannya. Boro-boro foto-foto, perhatian kami sudah tersita dengan jeram-jeram yang cukup ganas.

Usai beristirahat, kami siap melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang. Masing-masing pun menaiki perahu dan duduk di posisi semula. Aku yang duduk di sisi kiri tengah sedikit kurang enak hati, karena perjalanan masih jauh dan jeram-jeramnya masih banyak dan berbahaya. Aku ingat ucapan skipper tadi, jika jatuh ke sungai di Cikandang ini, kemungkinan badan kita akan terseret hingga satu atau dua kilometer ke depan sebelum akhirnya tersangkut di antara bebatuan. Tak bisa kubayangkan jika itu terjadi, terlebih aku sama sekali tak bisa berenang. Jadi, meski pelampung terpasang kuat di badan, bayangan bahaya itu masih mengganggu pikiranku.

Wusshhhhh….byurrrrr….air menimpa wajahku ketika perahu terapung-apung di antara jeram besar, kulihat air seperti bergolak diantara bebatuan sungai yang tak tampak dari permukaan. Tali perahu terus kupegang erat, meski posisi badanku kadang terdorong ke tengah perahu atau sedikit miring ke air. Komando untuk mendayung sudah tak kudengar, hanya sebagian teman lelaki yang melakukannya. Itu pun yang sudah cukup senior di kegiatan rafting. Beberapa diantaranya malah kulihat pucat pasi sepertiku saat jeram menghadang. Di tengah-tengah pengarungan dan jeram yang seolah tak henti, tiba-tiba tubuhku merasa terguncang kuat dan sedikit terlempar. Air terasa kuat membasahi seluruh badanku, tapi tanganku tak lepas sedikit pun dari tali perahu. Tidakkkkk…..rupanya aku terjungkal dari perahu, beruntung, salah satu teman ada yang menarikku dengan dayungnya dan langsung terangkat kembali ke atas perahu. Mungkin karena tubuhku cukup mungil, jadi sedikit ringan. Tapi, kulihat teman di belakangku yang gantian masuk ke air. Rupanya ia bermaksud menolongku, tapi aku sendiri sudah terangkat, sementara ia kesulitan kembali menaiki perahu. Kulihat dua teman yang lain segera mengangkat tubuhnya, sebelum menubruk sebuah batu. Fiuuuhhhh….kejadian ini begitu cepat, sampai aku tak bisa bernapas. Dan itu semua terjadi bersamaan dengan skipper kami yang mendayung sendirian menghadapi jeram besar. Berulang kali kuucap syukur, aku masih selamat. Benar-benar petualangan dan olahraga air yang cukup menegangkan.     

Sungai yang kami arungi mempunyai jeram level empat. Tak heran, sepanjang perjalanan, kami hampir tak bisa bersantai. Namun, Sungai Cikandang yang langsung bermuara ke laut di Garut Selatan menyajikan pemandangan yang memanjakan mata. Sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS), kami dapat menyaksikan ladang dan sawah, bebatuan, hingga tebing-tebing batu yang menjulang di kiri kanan sungai. Bahkan, beberapa kali kulihat biawak –biawak ukuran sedang tampak berjemur santai di atas bebatuan. Sungai memang menjadi salah satu habitat biawak yang sedikit mirip komodo. Meski begitu, tak ada buaya di sungai ini, jadi cukup aman untuk para rafter.

Semakin siang, pengarungan kami kian mendekati pantai. Udara pun terasa kian panas. Untungnya, baju lengan panjang cukup menutupi kulitku, jadi hanya mukaku yang sedikit terbakar matahari. Setiap saat kami berharap ada bagian sungai yang tidak berjeram. Bukan apa-apa, kami ingin mengbadikankan petualangan kami saat berada di atas sungai. Kawanan kami memang turut membawa kamera SLR untuk dokumentasi kegiatan. Beruntung, sebelum mencapai ujung pengarungan, kami sempat berfoto ria di atas perahu. Itu pun setelah sang skipper mengijinkan, karena tidak ada jeram di sekitar sungai yang bisa merusak kamera kami. Kami pun bergaya dengan dayung masing-masing di tangan. Beberapa saat kemudian, skipper mengingatkan untuk segera memasukkan kamera ke dry bag. Sudah ada jeram yang menanti kami di depan. Tapi, semakin mendekati pantai, jeram-jeramnya sudah tidak terlalu mencekam. Mungkin karena kami pun sudah terbiasa dengan tubuh kami yang sedikit terbanting-banting.

Akhirnyaa……sampai juga kami di garis finish pengarungan Sungai Cikandang sekitar pukul 14.00 WIB. Dengan kata lain, kami sudah mengarungi sungai selama kurang lebih 6 jam. Padahal, sebelumnya paling lama saya berarung jeram hanya sekitar 4 jam di trek panjang Sungai Citarum di daerah Saguling Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Itu pun jeramnya tidak sampai 50 % dari keseluruhan jalur pengarungan kami. Sangkaan kami, perahu akan langsung masuk ke bibir pantai, ternyata, ujung pengarungan ini masih sekitar I kilometer dari bibir pantai. Alasannya, skipper tidak ingin perahu kami terseret ombak, jika finish-nya benar-benar di pinggir laut. Berlokasi di bawah jembatan besar jalan di jalur selatan, kami menarik dua perahu karet kami ke darat. Tapi, sebagai anggota kawanan perempuan, saya tak perlu repot-repot membantu. Malah, saya dan anggota perempuan yang satu lagi dapat leluasa berfoto-foto di pinggir sungai, sementara rekan-rekan kami sudah portaging menuju jalan raya.

Namun, rafting di sungai ini rupanya ada kekurangannya. Tak ada masyarakat yang menyediakan fasilitas untuk membersihkan diri atau minimal fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di lokasi ini. Padahal, rumah penduduk cukup banyak di daerah ini. Mungkin mereka belum menyadari potensi ekonomi dari hobi mahal ini. Alhasil, kami hanya bisa gemetaran di pinggir jalan sambil menunggu mobil menjemput kami. Tapi, tak peduli badan kami gatal-gatal terkena air sungai dan baju kami yang lembab, pemandangan dari sini ke arah pantai cukup jelas. Setidaknya ini dapat sedikit mengobati kekecewaan kami.   






   

No comments: