Tuesday, 30 June 2020

Compassion & Computational Thinking (Part II)



“The role of teacher is to create the conditions for invention rather than provide ready-made knowledge” - Seymour Papert 

Ungkapan ini diungkapkan S. Papert dalam buku bertajuk “Mindstorm” yang menjadi awal munculnya istilah computational thinking. Awalnya, ia memfokuskan pada dua aspek komputasi. Pertama, bagaimana menggunakan komputasi untuk menciptakan pengetahuan baru. Kedua, bagaimana menggunakan komputer untuk meningkatkan pemikiran dan perubahan pola akses ke pengetahuan.
all-free-download


Pemikiran S. Papert ini sejalan dengan Psikolog Jean Piaget mempelopori teori belajar sebagai konstruktivisme. Piaget menyebutkan, peserta didik membangun pengetahuan baru dalam pikiran mereka dari interaksi pengalaman mereka dengan pengetahuan sebelumnya. Papert mengembangkan teori konstruktivisme dengan menambahkan gagasan bahwa pembelajaran ditingkatkan ketika pelajar terlibat dalam “membangun produk yang bermakna”.  Adapun Jeannete M. Wing menyebutkan, pemikiran komputasi sebagai keterampilan dasar untuk kemampuan analitis semua orang, sama dengan membaca, menulis dan berhitung. Pemikiran ini disambut baik para ahli pedagogi terutama di tingkat dasar dan menengah yag sangat bertanggung jawab dan berpengaruh dalam pengembangan kecakapan dan karakter peserta didik.

Tahun 2012, kurikulum nasional Inggris mulai memperkenalkan ilmu komputer atau computer science pada siswa. Di Singapura, sebagai bagian dari inisiatif “Smart Nation”, telah memberi label pengembangan CT sebagai “kemampuan nasional”. Bahkan, beberapa negara seperti Finlandia, Korea Selatan, Cina, Australia hingga Selandia Baru, telah meluncurkan upaya skala besar untuk memperkenalkan CT di sekolah-sekolah, sebagai bagian dari kurikulum CS baru atau diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang ada. Bahkan, Amerika Serikat meminta semua siswa tingkat SD - SMA untuk dilengkapi dengan keterampilan CT sebagai bagian dari inisiatif “Computer Science for All” pada tahun 2016.

Lalu, apa itu sebenarnya pemikiran /berpikir komputasi? Singkatnya, dapat disebut sebagai cara berpikir (atau memecahkan masalah) seperti seorang ilmuwan komputer. Jadi, computational thinking adalah sebuah metode pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program. Berpikir komputasi memiliki teknik pemecahan masalah yang sangat luas wilayah penerapannya. Bukan hanya untuk menyelesaikan masalah seputar ilmu komputer, namun juga dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Melalui teknik ini, para siswa akan belajar untuk berpikir secara terstruktur, seperti para software engineer saat menganalisa kebutuhan dan merencanakan pengembangan software.

Teknik berpikir komputasi merupakan pendekatan penting yang yang harus dikuasai para siswa untuk mmebantu dalam menstrukturisasi penyelesaian masalah yang rumit. Untuk itu, dibutuhkan dua kecakapan utama, yakni complex problem solving dan berpikir kritis. Penguasaan akan kecakapan ini, akan membuat para siswa lebih siap dalam bertahan dan bersaing di masa mendatang, dimana akan banyak hilangnya profesi yang ada dan berganti dengan profesi-profesi baru yang sesuai perkembangan zaman.

Ada empat metode berpikir komputasi dalam pemecahan masalah. Pertama, decomposition artinya memecah masalah menjadi lebih kecil dan sampai pada pokok masalah, hingga dapat diselesaikan satu persatu dan diidentifikasi perbagian sumber permasalahan tersebut. Kedua, pattern recognition, mencari pola-pola tertentu yang ada dalam sebuah masalah untuk dipecahkan dan dituntut untuk mengetahui sendiri bagaimana pola tersebut.

Ketiga, abstraksi, yakni menggeneralisasi dan mengidentifikasi prinsip-prinsip umum yang menghasilkan pola, tren dan keteraturan, karena dengan  melihat karakteristik umum juga dapat dibuat model suatu penyelesaian. Terakhir, algorithm, yakni mengembangkan petunjuk pemecahan masalah yang sama secara step by step, sesuai tahapannya, sehingga orang lain dapat menggunakan langkah /informasi tersebut untuk menyelesaikan permasalahan yang sama.

Mengajarkan computational thinking di sekolah

Bukan hal mudah untuk menerapkan metode computational thinking di tingkat sekolah dasar. Pasalnya, sistem pedagogi yang selama ini diterapkan di sekolah, masih menggunakan metode lama. Namun, adaya pergeseran paradigma di masyarakat, membuat penerapan computational thinking menjadi hal yang perlu dilakukan. Keran informasi yang sangat cepat dan massif sebagai akibat dari pertumbuhan internet serta pergeseran budaya di generasi milenial, membuat adab-adab sedikit terdegradasi. Pengaruh westernisasi, liberalisasi dan sasi-sasi lainnya, membuat generasi muda mudah terpengaruh dan terlena. Misalnya, pengaruh gadget yang membuat anak-anak malas berpikir dan mengurangi minat membaca dan menulis. 
Untuk itu, metode pendidikan pun harus diubah dan mulai menerapkan computational thinking
Computational thinking diimplementasikan dengan memahami masalah, mengumpulkan semua data, kemudian mencari solusi sesuai dengan masalah. Pada computational thinking, ada proses dekomposisi dimana kita memecaka suatu masalah yang kompleks menjadi masalah-masalah yang kecil untuk diselesaikan. Pendekatan pembelajaran dalam computational thinking dapat dilakukan dengan pembelajaran berbasis proyek atau pembelajaran berbasis inkuiri (Inquiry Based Learning), dalam pelajaran sains.
Berpikir dalam computational thinking adalah berpikir dengan algoritma dimana kita berpikir dengan mengurutkan langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah agar menjadi logis, berurutan, teratur dan mudah dipahami oleh orang lain.      







 

No comments: