Wednesday, 15 July 2020

Sekolah Daring, Emak yang Pusing

Tahun ajaran baru sudah dimulai, sodara-sodara.....
Sayangnya, karena si COVID-19 belum juga hilang, dengan berat hati sebagian besar (atau semuanya untuk zona merah), kegiatan sekolah dilakukan kembali dari rumah alias sekolah daring. bermacam-macam caraya, tergantung usia anak sekolah dan kondisi orang tua tentunya. Ada yang sekolah daring hanya menyimak pelajaran dari TVRI, ada yang ditambah dengan tatap muka secara virtual via aplikasi Google Classroom, Zoom Meeting hingga video call WhatApps. Bahkan, setiap sekolah memiliki kebijakan berbeda terkait pelaksanaan sekolah daring ini. Ada pula tambahan tugas lain di setiap harinya yang berasal dari sekolah dan harus dikerjakan siswa.
sxc.hu


Namun, ada perbedaan signifikan pada pelaksanaan sekolah daring kali ini dibanding sebelumnya. Jika tahun ajaran sebelumnya, sekolah daring ibarat percobaan, karena saat itu, pandemi baru terjadi dan pihak sekolah hingga Dinas Pendidikan (Disdik), cenderung longgar dalam memberi penilaian siswa. Alasannya, karena semua dipaksa menjalani proses pembelajaran secara daring, untuk menghindari kerumunan dan terhindar dari COVID-19.
Nah, sekolah daring tahun ajaran baru iniiii...yang harus benar-benar diperhatikan pihak sekolah (guru) dan orang tua murid. Saya masih ingat saat rapat dua hari sebelum sekolah daring dimulai, Guru menekankan, perlunya orang tua mendampingi siswa belajar SETIAP HARINYA!!!! Bahkan, jika siswa tidak memberikan laporan kegiatan setiap harinya, siswa berpotensi TIDAK NAIK KELAS ke tingkat berikutnya......Ngeri ga sich????!!!!
Tapiiii, orang tua tak bisa juga menyalahkan guru sekolah yang memberikan berbagai macam tugas pada siswa di sekolah daring kali ini. Karenaaaa, mereka (guru-red) juga sebenarnya pusing tauuuuu.....Mereka harus mampu menilai kompetensi siswa-siswinya yang banyak itu, tapi hanya berdasarkan laporan-laporan tugas yang setiap hari dikirimkan via WA atau aplikasi sekolah virtual lainnya. Maka dari itu, sekolah daring saat ini ga boleh lagi dianggap sepele...
Baik guru maupun orang tua siswa, harus bahu membahu memberikan pengetahuan sesuai dengan tingkatan siswa. Mengapa orang tua penting peranannya dalam sekolah daring ini? Jika tidak, siswa hanya akan jadi siswa pekerja atau sebatas mengerjakan tugas-tugas yang setiap hari diberikan. Namun, isi otaknya tidak akan mengalami peningkatan kemampuan berfikir. Dengan kata lain, kompetensinya tidak akan bertambah.
Hal inilah yang dikhawatirkan dari proses pembelajaran sekolah daring yang terlalu dianggap remeh. Tetiba, di ujung kegiatan pembelajaran siswa siswi dihadapkan dengan ujian yang harus dikerjakan secara mandiri. Akan sulit tentu jika selama proses sekolah daring, siswa tidak mendapat pemahaman materi yang benar. 

No comments: