Friday, 26 April 2013

Asa Hilang, Dosa Terbilang



Ada kantuk dalam suntuk
Ada penat dalam lelah
Ada haru dalam hariku

Muak aku dalam cemburu
Bosan aku mengingat hidup
Jengah aku mengingat mati
foto by sxc

Pergilah kau suntuk…
Hilanglah kau cemburu…
Enyahlah kau lelah…
Datanglah kau kau tenang…
Hinggaplah kau senang…

Berikan aku harapan
Berikan aku impian
Jalani hidup dengan damai
Thiz poem by :
Ipeth…

Andai Ia Kembali



Jarum jam itu tak mau berhenti
Ku lari ‘tuk menyusulnya
Nihil, sia-sia, percuma
Kuteriaki waktu yang telah meninggalkanku
Kumaki setengah mati
Namun ia berlalu, berlalu dan terus berlalu
 
foto by. sxc
Salahkah ia yang telah meninggalkanku sendiri, dengan beban dipundak yang makin menimpaku ?
Salahkah aku bila memakinya, karena ia tak mau memperdulikanku ?
Salahkah ia bila aku terikai , karena ia tak tak mau kembali ?

Ternyata aku pengecut
Ternyata aku pecundang
Ternyata aku telah tertinggal jauh
Kuterus salahkan waktu
Kuterus memaki waktu
Kuterus teriyaki waktu
Tanpa sadar kalau semua itu adalah, SALAHKU SENDIRI !!!
Thiz Poem By :
 Ipeth…


Thursday, 25 April 2013

Menerawang Gunung Padang

Salah satu batu yang dapat mengeluarkan bunyi seperti gamelan

Areal tengah punden di tingkat pertama yang menyerupai ruangan karena dipagari bebatuan di sekelilingnya


Iring-iringan yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara, paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan bentuk segi lima atau segi empat.

Mungkin seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500 tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah penguasa Gn. Gede yang berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.

Tuesday, 25 December 2012

frustasi....

Hmmmm, kali ini aku baru tahu jika hidup yang sebenarnya itu sulit, suliiiiiiiit banget.
Aku ga nyangka apa yang sedang aku bangun, kini perlahan-lahan mulai runtuh. Pertahanan diriku sudah tidak berfungsi, aku mulai takut....takut menjadi diriku sendiri.

foto by. anav
Mungkin orang-orang pikir, aku adalah orang yang terlihat ceria tanpa derita. Tapi mereka salah! Aku orang yang lemah dan pengecut, bahkan untuk mengetahui kelemahan dan kekuranganku sendiri.Karena itu, sikap ini hanya topeng untuk menutupi kekuranganku. Tapi mengapa, aku seringkali bersikap sombong, seolah mampu berbuat banyak. Padahal semua itu NONSENSE!!!

Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan peganganku padaMu,karena hanya Kaulah harapanku satu-satunya di dunia ini. Hanya Kau yang aku percaya, dan tak pernah bosan mendengar semua ocehanku yang tak pernah berhenti, bahkan mungkin sampai aku tak sanggup lagi berkata-kata dan membiru.

Anything I'm Not

foto by. sxc

Kembali serasa berada di ambang kehancuran.....
Kondisiku mulai melemah lagi. mulai berkeluh kesah, feelin that i'm the most suffering person in the world... beneran, penyakit yang menyerang kondisi kejiwaan ini mulai merambat pada kondisi fisik....
Alhasil, mmhhhmm....berujung pada kemalasan yang terlalu akut.
Eeehhh...ga sengaja, saat naik angkot ngeliat pengemis yang tengah berjibaku di tengah teriknya matahari. Muncul pikiran di kepala ku, mengapa mereka mau duduk berjam-jam di perempatan itu? Apakah mereka pernah merasa jenuh dengan apa yang mereka lakukan? Dan yang paling membuatku mual adalah, memikirkan, apakah mereka sering merasa malu mengasongkan tangan-tangan mereka yang bersisik, jauh dari kata bersih, dan terlihat menghitam terjemur mentari, pada setiap kendaraan yang lewat?
Ada lagi, penari-penari dadakan dengan dandanan yang over, berkaca mata hitam, layaknya penari sintren. Tapi mengapa mereka ada di jalan? aku yakin sebenarnya mereka inginkan panggung yang besar untuk pertunjukkan mereka, bukan lalu lalang kendaraan yang hampir melindas tubuh2 mereka.
lalu aku lihat diriku yang duduk manis dengan headset di telinga, acuh tak acuh pada mereka, dan menganggap mereka tak ada. Padahal diam-diam aku terus memikirkan bagaimana jika aku yang berada di perempatan itu? Bagaimana jika aku yang menari-nari tak jelas, dengan bibir yang disunggingkan untuk membuatku tegar.....