Wednesday, 23 April 2014

Auditor Tak Wajib Deteksi Manipulasi



Temans, saya mau share salah satu tulisan karya saya di majalah internal Telkom University "Cyber" edisi November tahun 2013 
 
Foto by.SXC
Banyak orang bilang, uang selalu mempunyai dua sisi, sisi positif dan negatif. Di satu sisi, uang dapat memberikan banyak  hal. Tapi disisi lain, uang dapat membawa bencana jika jatuh ke tangan yang salah. Pengelolaan uang memang gampang-gampang susah, terlebih jika jumlahnya sudah jutaan atau milyaran. Pencatatan keuangan dalam laporan keuangan pun, bukan jalan satu-satunya untuk mengelola uang. Tapi, laporan keuangan tersebut perlu diperiksa kembali untuk mencari tahu ada atau tidaknya manipulasi pencatatan keuangan.
Pemeriksaan laporan keuangan sudah lumrah dilakukan di sejumlah lembaga yang mempunyai aliran dana cukup besar dan transaksi yang rutin. Baik itu perusahaan maupun lembaga pemerintahan, semuanya harus memiliki laporan keuangan yang jelas. Pemeriksaan keuangan dilakukan oleh Akuntan publik yang memang memiliki kapabilitas dalam memeriksa dan meneliti laporan keuangan. Seharusnya, tak akan ada lagi kecurangan karena laporan keuangan sudah diperiksa oleh ahlinya. Tapi, mengapa kecurangan laporan keuangan masih sering terjadi, bahkan dapat membuat sebuah perusahaan bangkrut atau berakhir di meja hijau bagi lembaga pemerintah?

belajar Ngeblog (lagi)

Waduh,
Sudah lama yaa ga masuk sini....maklum, kerjaan ga kelar-kelar. Walaupun tetep duduk depan komputer dan menulis, tapi tulisan yang harus selesai ga berhenti. adaaaa aja tiap harinya. Itu pas masih ngerjain majalah internal. Gimana ga repot coba, setiap saya menggarap dua majalah yang terbit tidak berjauhan. Satu majalah bulanan, satu lagi majalah dua bulanan. Yang repot kalo pas dua2nya terbit barengan, pusing deh!
Oiya, saya lupa ngasih tahu,
Saya udah merrit.....bahkan punya anak. Merit tahun 2011, anak pertama saya lahir tahun 2012. Yaa...skrg lagi lucu-lucunya...tapi kadang-kadang suka bikin kesel juga, kalo lagi minta diperhatiin. Soalnya emaknya kerja terus siiih... Maklum, kejar setoran, mumpung masih muda kaleee....masih ada tenaga dan otak.
Temans, mungkin belajar nge-blog nya dicukupkan dulu segini yaa....
Ide sebenarnya banyak banget, tuh ampe mau luber di kepala. Tapi waktunya kadang ga sinkron. Apalagi kalo lagi diburu deadline....gempor saya nulis mulu. Tapi, insya allah sih, ke depan saya ingin banyak cerita di blog. Ga muluk-muluk, seputar persoalan sehari-hari aja yang ringan-ringan.... Mulai dari masalah kerjaan, baby, rumah tangga (kebetulan saya udah pengalaman semua nih,hehehe...), fenomena-fenomena yang lagi banyak dibicarakan, dan lain-lain......
Ingatkan saya terus yaa, supaya ga bolos-bolos nge-blog nya.....

Friday, 26 April 2013

Asa Hilang, Dosa Terbilang



Ada kantuk dalam suntuk
Ada penat dalam lelah
Ada haru dalam hariku

Muak aku dalam cemburu
Bosan aku mengingat hidup
Jengah aku mengingat mati
foto by sxc

Pergilah kau suntuk…
Hilanglah kau cemburu…
Enyahlah kau lelah…
Datanglah kau kau tenang…
Hinggaplah kau senang…

Berikan aku harapan
Berikan aku impian
Jalani hidup dengan damai
Thiz poem by :
Ipeth…

Andai Ia Kembali



Jarum jam itu tak mau berhenti
Ku lari ‘tuk menyusulnya
Nihil, sia-sia, percuma
Kuteriaki waktu yang telah meninggalkanku
Kumaki setengah mati
Namun ia berlalu, berlalu dan terus berlalu
 
foto by. sxc
Salahkah ia yang telah meninggalkanku sendiri, dengan beban dipundak yang makin menimpaku ?
Salahkah aku bila memakinya, karena ia tak mau memperdulikanku ?
Salahkah ia bila aku terikai , karena ia tak tak mau kembali ?

Ternyata aku pengecut
Ternyata aku pecundang
Ternyata aku telah tertinggal jauh
Kuterus salahkan waktu
Kuterus memaki waktu
Kuterus teriyaki waktu
Tanpa sadar kalau semua itu adalah, SALAHKU SENDIRI !!!
Thiz Poem By :
 Ipeth…


Thursday, 25 April 2013

Menerawang Gunung Padang

Salah satu batu yang dapat mengeluarkan bunyi seperti gamelan

Areal tengah punden di tingkat pertama yang menyerupai ruangan karena dipagari bebatuan di sekelilingnya


Iring-iringan yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara, paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan bentuk segi lima atau segi empat.

Mungkin seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500 tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah penguasa Gn. Gede yang berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.