Tuesday, 25 December 2012

frustasi....

Hmmmm, kali ini aku baru tahu jika hidup yang sebenarnya itu sulit, suliiiiiiiit banget.
Aku ga nyangka apa yang sedang aku bangun, kini perlahan-lahan mulai runtuh. Pertahanan diriku sudah tidak berfungsi, aku mulai takut....takut menjadi diriku sendiri.

foto by. anav
Mungkin orang-orang pikir, aku adalah orang yang terlihat ceria tanpa derita. Tapi mereka salah! Aku orang yang lemah dan pengecut, bahkan untuk mengetahui kelemahan dan kekuranganku sendiri.Karena itu, sikap ini hanya topeng untuk menutupi kekuranganku. Tapi mengapa, aku seringkali bersikap sombong, seolah mampu berbuat banyak. Padahal semua itu NONSENSE!!!

Ya Allah, jangan biarkan aku kehilangan peganganku padaMu,karena hanya Kaulah harapanku satu-satunya di dunia ini. Hanya Kau yang aku percaya, dan tak pernah bosan mendengar semua ocehanku yang tak pernah berhenti, bahkan mungkin sampai aku tak sanggup lagi berkata-kata dan membiru.

Anything I'm Not

foto by. sxc

Kembali serasa berada di ambang kehancuran.....
Kondisiku mulai melemah lagi. mulai berkeluh kesah, feelin that i'm the most suffering person in the world... beneran, penyakit yang menyerang kondisi kejiwaan ini mulai merambat pada kondisi fisik....
Alhasil, mmhhhmm....berujung pada kemalasan yang terlalu akut.
Eeehhh...ga sengaja, saat naik angkot ngeliat pengemis yang tengah berjibaku di tengah teriknya matahari. Muncul pikiran di kepala ku, mengapa mereka mau duduk berjam-jam di perempatan itu? Apakah mereka pernah merasa jenuh dengan apa yang mereka lakukan? Dan yang paling membuatku mual adalah, memikirkan, apakah mereka sering merasa malu mengasongkan tangan-tangan mereka yang bersisik, jauh dari kata bersih, dan terlihat menghitam terjemur mentari, pada setiap kendaraan yang lewat?
Ada lagi, penari-penari dadakan dengan dandanan yang over, berkaca mata hitam, layaknya penari sintren. Tapi mengapa mereka ada di jalan? aku yakin sebenarnya mereka inginkan panggung yang besar untuk pertunjukkan mereka, bukan lalu lalang kendaraan yang hampir melindas tubuh2 mereka.
lalu aku lihat diriku yang duduk manis dengan headset di telinga, acuh tak acuh pada mereka, dan menganggap mereka tak ada. Padahal diam-diam aku terus memikirkan bagaimana jika aku yang berada di perempatan itu? Bagaimana jika aku yang menari-nari tak jelas, dengan bibir yang disunggingkan untuk membuatku tegar.....

Thursday, 15 March 2012

Second Curve Menuju Broadband

foto by.sxc
Para pembaca pasti pernah menonton iklan-iklan komersil beberapa operator telekomunikasi di Indonesia. Jika dulu, operator-operator tersebut berlomba menyediakan dan mengklaim sebagai yang termurah untuk tarif telpon dan SMS (Short Message Services), kini tawaran mereka pun berubah. Umumnya, mereka menawarkan harga semurah-murahnya untuk bandwidth koneksi internet sebesar-besarnya. Bahkan ada satu iklan yang menawarkan kartu khusus bagi para penggemar jejaring sosial di telepon seluler.
Rupanya, ada kecenderungan perubahan tren penggunaan bidang telekomunikasi dari yang tadinya hanya berupa voice dan text menjadi konten, data dan video. Operator pun harus bekerja keras untuk mengikuti permintaan pasar. Jika tidak, siap-siap dilibas tak hanya oleh sesama operator, namun juga pemain-pemain bisnis konten provider. Hal ini ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, hampir semua negara di Asia Tenggara khususnya mengalami serupa.

Menanti Kualitas Alumni Mumpuni

foto by. sxc
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia tak pernah ada habisnya. Beragam problema selalu menyertai dunia pendidikan Indonesia mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Banyak aspek yang membuat dunia pendidikan Indonesia begitu kompleks, mulai dari kurikulum, dana pendidikan, dukungan pemerintah, standar pendidikan, dan lain-lain. Tak kalah penting, kelangsungan para peserta didik setelah menyelesaikan pendidikan mereka pun membawa persoalan tersendiri dalam pendidikan di negeri ini.
Pendidikan merupakan salah satu penentu keberhasilan dan kemajuan sebuah bangsa. Indonesia pun tak main-main dengan pendidikan bangsa ini. Menciptakan manusia seutuhnya, merupakan tujuan pendidikan yang dipilih bangsa ini. Sebuah tugas berat yang berasal dari manifestasi pemikir-pemikir bangsa terdahulu. Namun, apakah implementasi dalam wujud konkretnya akan semudah membalikkan telapak tangan?