Tuesday, 13 January 2015

Karakter



Beberapa waktu ke belakang, banyak sekali peristiwa yang sangat buruk terjadi di negeri ini. bukan untuk menilai perbuatan sejumlah orang dari sudut pandang baik dan buruk, namun sepertinya sudah ada pergeseran makna tentang moral dan etika di negeri ini. Bangsa Indonesia yang katanya menyebut sebagai bangsa yang berbudaya dengan adat ketimuran, ternyata dalam praktiknya banyak hal buruk terjadi didalamnya. Perilaku buruk ini pun sudah tak lagi memandang usia, dari yang tua hingga remaja bahkan anak-anak, selalu ada kasus yang mencuat di media.
sxc.hu

Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan di kalangan pemerhati bangsa. Ancaman kehancuran bangsa dan negara sudah terpampang nyata seiring makin memudarnya nilai-nilai budaya positif ketimuran di negara ini. menurut Thomas Lickona dalam “Education for Character”, ada 10 karakter buruk yang menandakan kehancuran suatu bangsa.
1.       Meningkatnya tingkat kekerasan pada remaja. Hal-hal seperti ini sudah semakin mudah kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Anda tentu masih ingat kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto yang dilakukan dua dua sejoli yang juga rekan korban. Kasus ini dilatarbelakangi motif cemburu. Miris bukan, bahkan seorang remaja kini sudah mampu membunuh. Atau kasus-kasus perundungan (bullying) di lingkungan beberapa sekolah dasar yang mengakibatkan hilangnya nyawa seorang anak.
2.       Ketidakjujuran yang kian membudaya. Jika ini sepertinya tak hanya dialami generasi muda. Bahkan sejumlah pejabat pun sudah banyak yang melakukan hal ini. Tingginya tingkat korupsi mulai dari pejabat teras hingga pegawai rendahan semuanya karena ketidakjujuran.
3.       Makin berkurangnya respek pada orang tua. Jika dilihat-lihat kini banyak fenomena anak muda yang merasa lebih bisa dan tak menghargai orang tua. Bahkan dalam sejumlah pemberitaan, ada anak yang tega menggugat orang tuanya sendiri hanya karena urusan harta benda. Dimana kasih sayangnya terhadap orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya?
4.       Etos kerja menurun. Hal ini banyak terjadi belakangan ini. ujung pangkalnya, apalagi jika bukan karena uang. Kini banyak orang yang lebih mengutamakan hak dibanding kewajibannya salah satunya dalam hal pekerjaan. Mungkin anda masih ingat beberapa waktu kebelakang aksi-aksi buruh menuntut kenaikan Upah Minimum regional (UMR) tapi mengabaikan pekerjaannya sehari karena sibuk berdemo tiap hari. Bagaimana kinerja bisa meningkat kalau pekerjaan utama pun terbengkalai.
5.       Besarnya pengaruh komunitas (peer group) pada tindakan kekerasan. Ini biasanya terjadi pada anak-anak muda yang kurang pendidikan moral. Tentu banyak yang sudah mendengar berita tentang geng-geng motor yang aktivitasnya hanya melakukan pengrusakan fasilitas umum, mencelakai orang di jalan, hingga melakukan penganiayaan dan pembunuhan. Atau tawuran antar pelajar yang biasanya dipicu rasa solidaritas yang berlebihan di kalangan kelompok remaja. Ironis, karena grup atau kelompok harusnya menjadi media untuk berbagi pengetahuan bukan menularkan kekerasan pada anggotanya.
6.       Tidak adanya kepercayaan dan kebencian meningkat. Poin ini hampir sama dengan nomor 5. Kini semakin mudah orang dihasut dengan hal-hal yang bersifat kebencian, kepercayaan antar sesama pun kian berkurang bahkan tak ada.
7.       Penggunaan bahasa yang buruk. Banyak anak-anak muda yang cenderung lebih suka berbahasa slang. Hal ini tak masalah jika bahasa yang digunakan masih dalam batas wajar. Tapi banyak orang semakin mudah mengucapkan bahasa-bahasa kotor yang tidak seharusnya diucapkan di depan banyak orang.
8.       Tanggung jawab menurun. Banyak orang kini tak lagi memperdulikan tanggung jawabnya dalam berbagai bidang. Misalnya seorang guru yang harusnya bertanggung jawab akan moral anak-anak didiknya, ada yang tega berperilaku seperti binatang. Mungkin anda ingat kasus-kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah anak di beberapa sekolah formal maupun non formal yang sempat terekspos di media.
9.       Tingginya perilaku merusak diri. Kurangnya pendidikan agama dna moral, membuat orang semakin kurang menghargai dirinya sendiri. Banyak orang yang dengan mudah melakukan bunuh diri karena depresi, menggantung diri, atau menceburkan diri pada pengaruh alkohol dan narkoba. Padahal efeknya sangat fatal, yakni nyawa. Contohnya kasus miras oplosan yang membuat banyak korban berjatuhan. Hanya karena ingin mabuk tapi murah, banyak orang mengoplos miras dengan berbagai macam obat yang tidak seharusnya.
10.   Pedoman moral yang kian memudar. Di negeri ini banyak peraturan yang dibuat, namun banyak pula yang dilanggar sendiri. Itu untuk aturan-aturan tertulis, terlebih lagi untuk aturan-aturan yang bersifat normatif, sudah tidak terlalu dianggap.  
Untuk itu, generasi muda sebagai penerus bangsa, harus memiliki karakter yang bagus. Tapi membangun karakter tak dapat dilakukan secara instan. Butuh waktu dan tak dapat didapatkan melalui pendidikan formal. Pengembangan karakter harus diterapkan sejak dini, ketika seseorang mulai mengerti baik dan buruk dari suatu hal. Patrick O’Brien dalam bukunya “Making College Count” menyebutkan, ada tujuh karakter pemenang (seven winning character) yang harus dimiliki seseorang. Ketujuh karakter ini antara lain kemampuan berkomunikasi (communication skills), kemampuan berorganisasi (organizational skills), kepemimpinan (leadership), logis (logics), mau berusaha (effort), kemampuan dalam grup atau kerjasama (group skills), dan memiliki etika (ethics).
Agaknya, jika apa yang dikatakan Patrick O’Brien sudah mulai dimiliki generasi muda, berbagai tndakan negatif dapat direduksi. Namun ini tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi untuk kultur bangsa ini yang sudah banyak dipengaruhi budaya-budaya luar (westernisasi). Mungkin kita dapat sedikit mencontoh gaya Jepang dalam membudayakan kedisiplinan dan memelihara sistem nilai tradisional yang positif dalam kehidupan modern. bangsa yang tahun 1945 luluh lantak karena kalah perang dari sekutu, tak sampai 30 tahun sudah mampu membangun negerinya tanpa menghilangkan aspek-aspek tradisi yang teguh. Kabarnya, ketika jepang berambisi membangun kembali negerinya, ada dua profesi yang digenjot kualitasdan kuantitasnya, yaitu guru dan ibu.
Guru, sangat relevan dengan penanaman karakter terutama generasi muda dalam pendidikan dasarnya. Sistem pendidikan di jepang pun sangat mengedepankan moral dan kemampuan softskill lainnya, sehingga anak didik tidak tercerabut dari norma-norma dan etika yang ada. Profesi kedua yaitu ibu, sangat dipuja di negeri matahari terbit ini. Pemerintahnya pun mengeluarkan kebijakan agar para wanita muda Jepang terutama yang berpendidikan tinggi agar menjadi ibu rumah tangga yang fokus mendidik anak-anaknya. Ternyata banyak pula wanita Jepang yang menganggap hal ini sebagai salah satu profesi yang menjanjikan. Bagaimana tidak, pemerintah Jepang akan memberikan semacam gaji bagi mereka yang mau fokus menjadi ibu rumah tangga. Para ibu di Jepang pun tak seperti ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Mereka menganggap, mendidik anak adalah hal yang prestise. Mereka pun menjalankan profesinya dengan sungguh-sungguh. Bahkan, ibu-ibu di Jepang menerapkan tingkat kedisiplinan yang tinggi bagi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya. Hasilnya, anda dapat melihat budaya Jepang yang sangat mengagungkan kedisiplinan, disiplin waktu, rasa hormat pada orang yang lebih tua, hingga disiplin dalam meraih target.
Namun jangan lupa, Jepang pun sangat terbantu dengan semangat tradisional dalam pembentukan karakter bangsanya, yaitu semangat Bushido. Semangat ini adalah ajaran para samurai Jepang agar tidak kenal menyerah dalam berbagai hal. Hasilnya, pencapaian perekonomian Jepang demikian pesat dalam tempo waktu tidak lebih dari 30 tahun, hingga menjadi penguasa Asia. Budaya lain yang perlu dicontoh adalah budaya malu orang Jepang ketika melakukan suatu kesalahan. Mereka akan mundur secara teratur jika memang sudah dianggap tak mampu, apalagi melakukan tindakan tidak terpuji. Bahkan, orang Jepang tergolong ekstrem, ketika melakukan hal negatif atau melakukan kesalahan. Ia akan mengakhiri hidupnya yang disebut Harakiri. Sungguh sebuah karakter yang patut diacungi jempol.
Bangsa Indonesia tidak harus meniru secara persis apa yang dilakukan bangsa Jepang. Namun setidaknya dapat mengambil nilai-nilai positif yang dapat diadopsikan dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Narasumber : Drs Lilik Leksono (Manajer Kemahasiswaan Telkom University) dan sumber-sumber lainnya.

No comments: