Beberapa waktu ke belakang, banyak sekali
peristiwa yang sangat buruk terjadi di negeri ini. bukan untuk menilai
perbuatan sejumlah orang dari sudut pandang baik dan buruk, namun sepertinya
sudah ada pergeseran makna tentang moral dan etika di negeri ini. Bangsa
Indonesia yang katanya menyebut sebagai bangsa yang berbudaya dengan adat
ketimuran, ternyata dalam praktiknya banyak hal buruk terjadi didalamnya. Perilaku
buruk ini pun sudah tak lagi memandang usia, dari yang tua hingga remaja bahkan
anak-anak, selalu ada kasus yang mencuat di media.
![]() |
| sxc.hu |
Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan di
kalangan pemerhati bangsa. Ancaman kehancuran bangsa dan negara sudah
terpampang nyata seiring makin memudarnya nilai-nilai budaya positif ketimuran
di negara ini. menurut Thomas Lickona dalam “Education for Character”, ada 10
karakter buruk yang menandakan kehancuran suatu bangsa.
1.
Meningkatnya tingkat kekerasan
pada remaja. Hal-hal seperti ini sudah semakin mudah kita temui dalam kehidupan
sehari-hari. Anda tentu masih ingat kasus pembunuhan Ade Sara Angelina Suroto
yang dilakukan dua dua sejoli yang juga rekan korban. Kasus ini
dilatarbelakangi motif cemburu. Miris bukan, bahkan seorang remaja kini sudah
mampu membunuh. Atau kasus-kasus perundungan (bullying) di lingkungan beberapa sekolah dasar yang mengakibatkan
hilangnya nyawa seorang anak.
2.
Ketidakjujuran yang kian membudaya.
Jika ini sepertinya tak hanya dialami generasi muda. Bahkan sejumlah pejabat
pun sudah banyak yang melakukan hal ini. Tingginya tingkat korupsi mulai dari
pejabat teras hingga pegawai rendahan semuanya karena ketidakjujuran.
3.
Makin berkurangnya respek pada
orang tua. Jika dilihat-lihat kini banyak fenomena anak muda yang merasa lebih
bisa dan tak menghargai orang tua. Bahkan dalam sejumlah pemberitaan, ada anak
yang tega menggugat orang tuanya sendiri hanya karena urusan harta benda. Dimana
kasih sayangnya terhadap orang yang sudah melahirkan dan membesarkannya?
4.
Etos kerja menurun. Hal ini
banyak terjadi belakangan ini. ujung pangkalnya, apalagi jika bukan karena
uang. Kini banyak orang yang lebih mengutamakan hak dibanding kewajibannya
salah satunya dalam hal pekerjaan. Mungkin anda masih ingat beberapa waktu
kebelakang aksi-aksi buruh menuntut kenaikan Upah Minimum regional (UMR) tapi
mengabaikan pekerjaannya sehari karena sibuk berdemo tiap hari. Bagaimana
kinerja bisa meningkat kalau pekerjaan utama pun terbengkalai.
5.
Besarnya pengaruh komunitas (peer group) pada tindakan kekerasan. Ini
biasanya terjadi pada anak-anak muda yang kurang pendidikan moral. Tentu banyak
yang sudah mendengar berita tentang geng-geng motor yang aktivitasnya hanya
melakukan pengrusakan fasilitas umum, mencelakai orang di jalan, hingga
melakukan penganiayaan dan pembunuhan. Atau tawuran antar pelajar yang biasanya
dipicu rasa solidaritas yang berlebihan di kalangan kelompok remaja. Ironis, karena
grup atau kelompok harusnya menjadi media untuk berbagi pengetahuan bukan
menularkan kekerasan pada anggotanya.
6.
Tidak adanya kepercayaan dan
kebencian meningkat. Poin ini hampir sama dengan nomor 5. Kini semakin mudah
orang dihasut dengan hal-hal yang bersifat kebencian, kepercayaan antar sesama
pun kian berkurang bahkan tak ada.
7.
Penggunaan bahasa yang buruk.
Banyak anak-anak muda yang cenderung lebih suka berbahasa slang. Hal ini tak
masalah jika bahasa yang digunakan masih dalam batas wajar. Tapi banyak orang
semakin mudah mengucapkan bahasa-bahasa kotor yang tidak seharusnya diucapkan
di depan banyak orang.
8.
Tanggung jawab menurun. Banyak
orang kini tak lagi memperdulikan tanggung jawabnya dalam berbagai bidang.
Misalnya seorang guru yang harusnya bertanggung jawab akan moral anak-anak
didiknya, ada yang tega berperilaku seperti binatang. Mungkin anda ingat
kasus-kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah anak di beberapa sekolah formal
maupun non formal yang sempat terekspos di media.
9.
Tingginya perilaku merusak
diri. Kurangnya pendidikan agama dna moral, membuat orang semakin kurang
menghargai dirinya sendiri. Banyak orang yang dengan mudah melakukan bunuh diri
karena depresi, menggantung diri, atau menceburkan diri pada pengaruh alkohol
dan narkoba. Padahal efeknya sangat fatal, yakni nyawa. Contohnya kasus miras
oplosan yang membuat banyak korban berjatuhan. Hanya karena ingin mabuk tapi
murah, banyak orang mengoplos miras dengan berbagai macam obat yang tidak
seharusnya.
10.
Pedoman moral yang kian
memudar. Di negeri ini banyak peraturan yang dibuat, namun banyak pula yang
dilanggar sendiri. Itu untuk aturan-aturan tertulis, terlebih lagi untuk
aturan-aturan yang bersifat normatif, sudah tidak terlalu dianggap.
Untuk itu, generasi muda sebagai penerus
bangsa, harus memiliki karakter yang bagus. Tapi membangun karakter tak dapat
dilakukan secara instan. Butuh waktu dan tak dapat didapatkan melalui
pendidikan formal. Pengembangan karakter harus diterapkan sejak dini, ketika
seseorang mulai mengerti baik dan buruk dari suatu hal. Patrick O’Brien dalam
bukunya “Making College Count” menyebutkan, ada tujuh karakter pemenang (seven winning character) yang harus
dimiliki seseorang. Ketujuh karakter ini antara lain kemampuan berkomunikasi (communication skills), kemampuan
berorganisasi (organizational skills),
kepemimpinan (leadership), logis (logics), mau berusaha (effort), kemampuan dalam grup atau
kerjasama (group skills), dan memiliki
etika (ethics).
Agaknya, jika apa yang dikatakan Patrick O’Brien
sudah mulai dimiliki generasi muda, berbagai tndakan negatif dapat direduksi. Namun
ini tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi untuk kultur bangsa ini
yang sudah banyak dipengaruhi budaya-budaya luar (westernisasi). Mungkin kita
dapat sedikit mencontoh gaya Jepang dalam membudayakan kedisiplinan dan
memelihara sistem nilai tradisional yang positif dalam kehidupan modern. bangsa
yang tahun 1945 luluh lantak karena kalah perang dari sekutu, tak sampai 30
tahun sudah mampu membangun negerinya tanpa menghilangkan aspek-aspek tradisi
yang teguh. Kabarnya, ketika jepang berambisi membangun kembali negerinya, ada
dua profesi yang digenjot kualitasdan kuantitasnya, yaitu guru dan ibu.
Guru, sangat relevan dengan penanaman
karakter terutama generasi muda dalam pendidikan dasarnya. Sistem pendidikan di
jepang pun sangat mengedepankan moral dan kemampuan softskill lainnya, sehingga
anak didik tidak tercerabut dari norma-norma dan etika yang ada. Profesi kedua
yaitu ibu, sangat dipuja di negeri matahari terbit ini. Pemerintahnya pun mengeluarkan
kebijakan agar para wanita muda Jepang terutama yang berpendidikan tinggi agar
menjadi ibu rumah tangga yang fokus mendidik anak-anaknya. Ternyata banyak pula
wanita Jepang yang menganggap hal ini sebagai salah satu profesi yang
menjanjikan. Bagaimana tidak, pemerintah Jepang akan memberikan semacam gaji
bagi mereka yang mau fokus menjadi ibu rumah tangga. Para ibu di Jepang pun tak
seperti ibu-ibu rumah tangga pada umumnya. Mereka menganggap, mendidik anak
adalah hal yang prestise. Mereka pun menjalankan profesinya dengan
sungguh-sungguh. Bahkan, ibu-ibu di Jepang menerapkan tingkat kedisiplinan yang
tinggi bagi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya. Hasilnya, anda dapat
melihat budaya Jepang yang sangat mengagungkan kedisiplinan, disiplin waktu,
rasa hormat pada orang yang lebih tua, hingga disiplin dalam meraih target.
Namun jangan lupa, Jepang pun sangat
terbantu dengan semangat tradisional dalam pembentukan karakter bangsanya,
yaitu semangat Bushido. Semangat ini
adalah ajaran para samurai Jepang agar tidak kenal menyerah dalam berbagai hal.
Hasilnya, pencapaian perekonomian Jepang demikian pesat dalam tempo waktu tidak
lebih dari 30 tahun, hingga menjadi penguasa Asia. Budaya lain yang perlu
dicontoh adalah budaya malu orang Jepang ketika melakukan suatu kesalahan. Mereka
akan mundur secara teratur jika memang sudah dianggap tak mampu, apalagi
melakukan tindakan tidak terpuji. Bahkan, orang Jepang tergolong ekstrem,
ketika melakukan hal negatif atau melakukan kesalahan. Ia akan mengakhiri
hidupnya yang disebut Harakiri. Sungguh
sebuah karakter yang patut diacungi jempol.
Bangsa Indonesia tidak harus meniru secara
persis apa yang dilakukan bangsa Jepang. Namun setidaknya dapat mengambil
nilai-nilai positif yang dapat diadopsikan dalam kehidupan pribadi,
berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa.
Narasumber : Drs Lilik Leksono (Manajer Kemahasiswaan
Telkom University) dan sumber-sumber lainnya.

No comments:
Post a Comment