Beberapa hari ini lagu “Blank Space” dari Taylor
Swift sangat enak didengar. Irama popnya sangat enak di kuping, meski liriknya
membahas tentang perselingkuhan. Sebelumnya, “All About That Bass” dari Meghan Trainor
sukses buat saya berdendang sambil menggoyang-goyangkan badan. Lagu berirama
riang ini dominan diisi instrumen bass yang menceritakan tentang oversize body. Katanya, siapa pun yang
berbadan over tak perlu minder karena
masing-masing orang punya aura kecantikan sendiri-sendiri.
![]() | |
| sxc.hu |
Ah, saya jadi berpikir bagaimana hidup saya
jika tak ada musik yaa? Pasti membosankan, mati gaya dan minim kreativitas. Setahu
saya, sejak diri ini mulai mampu mengingat sesuatu, musik sudah menjadi bagian
yang tak terpisahkan. Masih balita pun selalu dinyanyikan lagu Nina Bobo supaya
cepat tidur. Masa kanak-kanak pun musik selalu menemani. Puluhan bahkan ratusan
lagu anak-anak pun bisa saya hapal. Mulai lagu-lagu anak karangan AT Mahmud dan
Bu Kasur, hingga lagu-lagu anak yang dipopulerkan di televisi. Sungguh
menyenangkan!
Sepertinya, urusan menyenangi alunan dan
irama musik, tak hanya milik saya, semua orang pun demikian. Saya memang tidak
menjadi seorang musisi pada akhirnya, tapi tetap saja saya sangat menikmati
beberapa genre musik. Buktinya, musik menjadi salah satu penyemangat ketika
bekerja. Dan mungkin sampai saya tua.
Sebenarnya, apa kira-kira yang membuat
musik sangat menarik? Nada yang dihasilkan dan iramanya. Ada musik yang beralun
lambat, mendayu-dayu, ada yang nge-beat, hingga asyik untuk bergoyang. Tapi ada
musik yang kurang saya sukai, musik koplo, grunge,
hardcore, dan sejenisnya. Musik
koplo, itu biasanya musik dangdut yang diaransemen ulang dan kini sedang marak.
Sayang musik koplo kadang tidak mengindahkan kuping pendengar. Semua jenis lagu
dangdut diaransemen ulang dan dibubuhi musik disko atau beat yang terlalu
cepet. Jadi, musik terdengar sangat ramai, irama menghentak-hentak, tapi tak
nyaman di kuping pendengar.
Lain halnya dengan musik grunge, hardcore atau
jenis-jenis musik metal lainnya. Saya suka jenis musik rock, namun rock yang
masih ramah dengan kuping. Tapi kalau sudah grunge,
hardcore, dan sejenisnya, saya sudah
tidak bisa menikmatinya. Malah dapat membuat stres. Fungsi musik yang awalnya
untuk menghilangkan stres, malah terbalik.
Saya ingin mengutip dari seorang violis
ternama Indonesia kelahiran Berlin, Iskandar Widjaya – Hadar. Menurutnya,
“Musik memiliki efek memebersihkan dan menjernihkan pikiran. Segala unsur
negatif dari diri kita akan luruh. Musik itu energi dan manusia eksis karena
energi”.
Lantas, bagaimana dengan jenis-jenis musik
yang saya sebutkan di atas? Saya pikir itu bukan bagian musik yang akan
menghasilkan energi positif pada diri seseorang. Namun musik memiliki beberapa
fungsi, salah satunya membuat pendengarnya lupa pada semua hal yang
membebaninya. Dengan musik, semua orang seolah ingin melenyapkan beban yang
bertumpuk di pundaknya. Di era modern ini, ada beragam lirik dan irama musik
yang dapat dipakai untuk menghibur diri. Banyak pencipta lagu dan irama musik
yang mumpuni hingga karya-karyanya begitu digilai orang-orang yang
mendengarnya. Tapi jangan salah, ada pula musik yang ditengarai dapat
memperparah beban stres seseorang bahkan hingga menyebabkan bunuh diri. Meski belum
ada penelitian yang signifikan, mengenai keterhubungan ini.
Tapi berbicara musik, kapan sih musik mulai
ada di dunia ini? mungkin sejak zaman prasejarah, musik dalam bentuk yang
paling sederhana sudah hadir. Bebunyian itu awalnya berasal dari alam. Desahan dedaunan,
angin, hingga bunyi hewan-hewan di hutan.
.jpg)
No comments:
Post a Comment