Thursday, 8 January 2015

Musik (Part I)



Beberapa hari ini lagu “Blank Space” dari Taylor Swift sangat enak didengar. Irama popnya sangat enak di kuping, meski liriknya membahas tentang perselingkuhan. Sebelumnya, “All About That Bass” dari Meghan Trainor sukses buat saya berdendang sambil menggoyang-goyangkan badan. Lagu berirama riang ini dominan diisi instrumen bass yang menceritakan tentang oversize body. Katanya, siapa pun yang berbadan over tak perlu minder karena masing-masing orang punya aura kecantikan sendiri-sendiri.
sxc.hu 
Ah, saya jadi berpikir bagaimana hidup saya jika tak ada musik yaa? Pasti membosankan, mati gaya dan minim kreativitas. Setahu saya, sejak diri ini mulai mampu mengingat sesuatu, musik sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Masih balita pun selalu dinyanyikan lagu Nina Bobo supaya cepat tidur. Masa kanak-kanak pun musik selalu menemani. Puluhan bahkan ratusan lagu anak-anak pun bisa saya hapal. Mulai lagu-lagu anak karangan AT Mahmud dan Bu Kasur, hingga lagu-lagu anak yang dipopulerkan di televisi. Sungguh menyenangkan!
Sepertinya, urusan menyenangi alunan dan irama musik, tak hanya milik saya, semua orang pun demikian. Saya memang tidak menjadi seorang musisi pada akhirnya, tapi tetap saja saya sangat menikmati beberapa genre musik. Buktinya, musik menjadi salah satu penyemangat ketika bekerja. Dan mungkin sampai saya tua.
Sebenarnya, apa kira-kira yang membuat musik sangat menarik? Nada yang dihasilkan dan iramanya. Ada musik yang beralun lambat, mendayu-dayu, ada yang nge-beat, hingga asyik untuk bergoyang. Tapi ada musik yang kurang saya sukai, musik koplo, grunge, hardcore, dan sejenisnya. Musik koplo, itu biasanya musik dangdut yang diaransemen ulang dan kini sedang marak. Sayang musik koplo kadang tidak mengindahkan kuping pendengar. Semua jenis lagu dangdut diaransemen ulang dan dibubuhi musik disko atau beat yang terlalu cepet. Jadi, musik terdengar sangat ramai, irama menghentak-hentak, tapi tak nyaman di kuping pendengar.
Lain halnya dengan musik grunge, hardcore atau jenis-jenis musik metal lainnya. Saya suka jenis musik rock, namun rock yang masih ramah dengan kuping. Tapi kalau sudah grunge, hardcore, dan sejenisnya, saya sudah tidak bisa menikmatinya. Malah dapat membuat stres. Fungsi musik yang awalnya untuk menghilangkan stres, malah terbalik.
Saya ingin mengutip dari seorang violis ternama Indonesia kelahiran Berlin, Iskandar Widjaya – Hadar. Menurutnya, “Musik memiliki efek memebersihkan dan menjernihkan pikiran. Segala unsur negatif dari diri kita akan luruh. Musik itu energi dan manusia eksis karena energi”.
Lantas, bagaimana dengan jenis-jenis musik yang saya sebutkan di atas? Saya pikir itu bukan bagian musik yang akan menghasilkan energi positif pada diri seseorang. Namun musik memiliki beberapa fungsi, salah satunya membuat pendengarnya lupa pada semua hal yang membebaninya. Dengan musik, semua orang seolah ingin melenyapkan beban yang bertumpuk di pundaknya. Di era modern ini, ada beragam lirik dan irama musik yang dapat dipakai untuk menghibur diri. Banyak pencipta lagu dan irama musik yang mumpuni hingga karya-karyanya begitu digilai orang-orang yang mendengarnya. Tapi jangan salah, ada pula musik yang ditengarai dapat memperparah beban stres seseorang bahkan hingga menyebabkan bunuh diri. Meski belum ada penelitian yang signifikan, mengenai keterhubungan ini.
Tapi berbicara musik, kapan sih musik mulai ada di dunia ini? mungkin sejak zaman prasejarah, musik dalam bentuk yang paling sederhana sudah hadir. Bebunyian itu awalnya berasal dari alam. Desahan dedaunan, angin, hingga bunyi hewan-hewan di hutan.

No comments: