Wednesday, 9 October 2019

Parenting anak SD Kelas I


Sudah lebih dari tiga bulan, Kiky (anakku) belajar di kelas I SDN dekat tempat tinggalku. Setelah masa adaptasi sekitar sebulan lebih, sekarang ia cukup menikmati kegiatannya sebagai anak SD. Berbeda dengan saat di TK yang lebih banyak bermain dan belajar hal-hal ringan, dilihat mata pelajaran di SD saat ini sudah lumayan berat dibanding masaku dulu. Namun, mungkin pembuat kurikulum sudah memperhitungkannya, mengingat anak-anak zaman sekarang sudah lebih banyak terpapar gadget, yang mungkin bisa berupa konten positif atau negatif. Banyak hal yang sudah dapat dipelajari sendiridari dalam gadget tersebut.
Sejak SD, saya berusaha untuk menerapkan beberapa pemahaman pada anak saya terkait bedanya sekolah TK dengan SD. Salah satunya, belajar di SD harus lebih serius, mata pelajarannya lebih banyak dan 'lebih formal'. Bukan menakut-nakuti, tapi, supaya ia tidak terlalu santai dan berleha-leha atau mengganggap sekolah bisa masuk dan ijin seenaknya.

Begitu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) mulai, ternyata apa yang saya khawatirkan tidak terlalu berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Melihat buku tematiknya, materi pelajaran anakku sangat berbeda dengan apa yang kupelajari dulu. Saya sebenarnya agak khawatir saat sikecil masuk SD. Meski sudah belajar dan bermain di TK selama 2 tahun, bahkan ia sudah diajarkan calistung secara ringan oleh guru TK-nya, namun kemampuan bacanya belum lancar. Alhasil, kemampuan baca menjadi satu hal yang saya push. Namun, ucapan Kepala Sekolah saat hari pertama belajar cukup menenangkan ibu-ibu termasuk saya yang waktu itu hadir untuk menyemangati anak-anaknya bersekolah.
Kemampuan baca sikecil pun mulai terasah secara perlahan, seiring KBM setiap hari dan adanay tambahan kegiatan membaca yang diberikan wali kelasnya. Alhamdulillah.....
Namun, SD sekarang, saya lihat sudah banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dikerjakan. Hampir setiap hari sikecil bilang ada PR. Kemudian, setiap hari, anak-anak harus menulis di sekolah. Saya maklum untuk yang satu ini, supaya tangan sikecil terbiasa menulis kemampuan motorik halusnya kian terasah. Sayangnya, makin kesini, tulisan sikecil semakin mirip ceker ayam. Alasannya, "Bu, Kiky itu menulis didikte sama Bu Guru, jadi takut ketinggalan. Makanya nulisnya cepet-cepet".
Anak kelas I memang mendapat porsi pelajaran yang cukup fundamental. Anak mulai lancar membaca dan dapat menyelesaikan satu bab buku. Mereka belajar menulis dan mulai menggunakan tanda baca, seperti titik, koma, dan tanda tanya. Demikian pula dalam berhitung, anak diharapkan mampu mengerti penjumlahan dan pengurangan, menyebutkan jam, menghitung uang, serta mengerti konsep lebih besar dan lebih kecil.
maka, untuk mengejar kemampuan anak dalam pemahaman hal-hal diatas, biasanya banyak sekali PR dan pekerjaan sekolah yang diberikan di tahun pertama pembelajaran. Sehingga, nanti guru dapat melihat anak-anak sesuai dengan kemampuannya dan membaginya.     
Hal ini pula yang membuat sikecil, terkadang sering terlihat kewalahan dengan tugas-tugasnya di sekolah. Ia sangat senang mengerjakan PR, namun seringkali tidak suka menyelesaikannya. Namun, jangan kaget ya Bunda.....Itu hal yang biasa dan akan berkurang seiring waktu dan kesadaran sikecil sudah mulai tinggi akan tugasnya sebagai pelajar. Peran orang tualah yang harus dimaksimalkan, untuk terus mendorong sikecil agar tetap semangat, namun tidak perlu memaksanya. Bagaimana pun ia masih dalam proses belajar.
Tapi, bunda harus waspada bila, sudah masuk SD kemampuan anak dalam membaca tampak tak ada perkembangan. Pada kondisi ini, anak tidak boleh dipaksa, tapi semangati. Ingat, jangan membandingkan kemampuan anak dengan anak lain. Di awal sekolahnya, sikecil pun jangan dibiarkan untuk terlalu banyak menonton televisi atau gadget, karena itu akan semakin memperlambat kemampuannya dalam membaca. Pasalnya, anak akan lebih menyukai dan terbiasa dengan budaya visualisasi, dibanding budaya membaca yang lebih banyak menggunakan otak.
Pada awal-awal KBM di SD, anak pun masih terbilang transisi dari masa TK. Seringkali sikecil tiba-tiba mogok sekolah atau menangis karena suatu hal, bahkan mengalami tantrum. Tidak apa-apa bunda, hal ini perlu waktu yang tepat mengajarkan pada sikecil dan membicarakan apa yang ia rasakan. Bantu ia untuk mencari solusi dari permasalahan yang dihadapinya dan tetap beri semangat. Jangan langsung menghakimi, namun berikan pengertian.
      

            

No comments: