Memang, di awal trimester pertama begitu hasil testpack positif, dan kemudian dilakukan USG pertama kalinya, tak ada gejala-gejala kehamilan yang kurasakan. Morning sick yang di kehamilan pertama begitu intens dan hebat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, nyaris tak ada di kehamilan yang kedua ini. Hanya rasa mual yang terkadang muncul di sore hari, itu pun tidak kentara. Bahkan, energi untuk bekerja (maklum, ibu pekerja dengan kendaraan motor), tetap 'menyala'. Kadang, saya yang masih mengendarai motor sendiri, suka lupa diri kalau sedang hamil. Untung suami sering mengingatkan dan tak jarang mengantar jemput ketika bekerja ke kantor.
![]() |
| freepik.com |
Namun, memasuki bulan kedua, tetiba menjadi lebih cepat lelah terasa meski vitamin sudah dibekali dokter. saat itu hari minggu, saya mencuci baju karena terbiasa mengerjakan sendiri. Namun, setelah itu, muncul bercak kemerahan di pakaian dalam yang kemudian membuatku kaget sekaligus takut. Meski sedikit, langsung aku telpon suami yang sedang berada di luar. Akhirnya kami pun berkonsultasi ke bidan, meski tidak terlalu memuaskan. Bidan menyarankan untuk USG kembali, meski belum ada sebulan dari USG pertama.
Menuruti bidan, kami USG dan konsultasi ke dokter lain, yang kemudian menyarankan untuk segera kuretase kehamilanku. Saat itu, memang intensitas darah yang keluar menjadi lebih sering, sehingga menurutnya kecil kemungkinan untuk mempertahankan kandunganku. Pulang dari dokter, saya menangis selama perjalanan, sementara hanya bisa suami menenangkan.
Setelah kembali berkonsultasi ke bidan di dekat rumah, akhirnya disepakati untuk lakukan kuretase di salah satu RS swasta yang dapat menggunakan BPJS dan jaraknya tidak terlalu jauh dengan rumah. Meski hati ini belum menerima, namun, dari hari ke hari pendarahan yang saya alami tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti, seperti orang menstruasi. sangat aneh ketika hamil, namun pendarahan terus menerus meski tidak terlalu banyak.
Pada saat di RS, saya ditolak UGD, karena dianggap masih normal dan sehat. Alhasil, petugas menyarankan untuk periksa di Poli Kandungan. Berhubung saya pakai BPJS, hampir seharian saya baru keluar periksa di dokter RS. Namun, setelah di USG, dokter malah menyarankan saya mempertahankan kandungan, karena menurutnya masih ada dan memberikan obat penguat. Rasa gembira kembali saya rasakan, meski sedikit kuatir. Dokter sarankan untuk bedrest selama seminggu, sampai pendarahan berhenti. Anehnya, setelah hampir seminggu, pendarahan tak kunjung berhenti. Puncaknya justru di hari ketujuh, saat tiba-tiba saya mengalami pendarahan hebat hingga shock dan tak mampu lagi berjalan.
Akhirnya, saya dilarikan ke UGD RS yang sebelumnya didatangi dan disitu saya dinyatakan perdarahan aktif yang harus segera dikuretase. Rasa sakit, lemah, shock, hingga tak percaya campur aduk di tengah kepanikan anggota keluarga lainnya. Akhirnya, malam itu juga saya pasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa, jika janin ini memang bukan rejeki saya. Saya relakan saat itu juga jika memang Allah mau mengambilnya kembali. Saya hanya pikirkan supaya saya segera sehat kembali, pendarahan saya berhenti dan segera ditangani tim medis.
Alhamdulillah tim medis cekatan menanagani dan membersihkan perdarahan yang saya alami. Malam itu pula dokter yang sebelumnya memeriksa saya, langsung dihubungi untuk melakukan tindakan kuretase. Hanya sekitar 1,5 jam saya dikuret dan kembali sadar tengah malam. Ada rasa lega, namun juga khawatir efek yang ditimbulkan dari proses kuretase. Alhamdulillah, setelah mendapat petunjuk dari tim medis, diberi obat-obatan yang harus diminum, serta menyelesaikan administrasi saya bisa pulang minggu paginya. Tinggal menjalani pemulihan dna melaksanakan kontrol seminggu kemudian.
Selama seminggu saya istirahat dan menenangkan pikiran hingga akhirnya saya benar-benar mengikhlaskan rejeki yang belum dapat saya dan suami saya miliki. Alhamdulillah, kini saya sudah berangsur pulih dan beraktivitas seperti biasa. Meski masih ada rasa trauma, namun keinginan untuk tambah momongan tetap ada. Anak pertama yang beranjak besar, sepertinya sudah ingin punya teman untuk nanti setelah dewasa. Saya pun tak ingin ketika nanti kami sebagai orang tuanya sudah tak ada, ia tak punya tempat untuk berkeluh kesah dan berbagi kasih sayang, karena tak punya saudara kandung. Saya percaya Allah masih akan memberikan rejeki bagi keluarga kecil kami apa pun bentuknya, kami terima dan berusaha untuk disyukuri. Jika kami diberi amanah untuk punya anak lagi, kami ikhlas menerimanya. Aamiin yra.....

No comments:
Post a Comment