Monday, 17 February 2020

Mooi Bandung

Istilah ini saya temukan kala berselancar di dunia maya dan membaca beberapa referensi terkait sejarah kota kembang ini. Mooi berasal dari bahasa Belanda yang artinya cantik. Ya, Kota Bandung memang sangat cantik dan dari tahun ke tahun selau mempercantik diri lewat pembangunan infrastruktur-infrastruktur baru. Meski bukan tanah kelahiranku, namun Kota Bandung sudah jadi rumahku saat ini. Saat kecil, saya sering berlibur di kota ini dan bersilaturahmi dengan sanak saudara. Di kota ini pula aku mulai bekerja dan akhirnya berjodoh dengan orang Bandung. Sebelas tahun sudah tinggal disini, namun masih banyak hal menarik di kota ini yang belum saya tahu. Alhamdulillah, saat ini beragam informasi dapat dicari di internet dengan mudah.
https://banyuwangi-airport.co.id/userdata/news/ads59a59908b34fb.jpg

Asal -usul Bandung sendiri dari cerita rakyat Sangkuriang dan legenda Gunung Tangkubanparahu serta Danau Bandung. Namun, asal usul kata Bandung sendiri berbeda-beda versi. Ada yang disebut berasal dari kata Bendungan karena wilayah ini pada zaman purba merupakan sebuah danau atau bendungan. Ada juga yang menyebutkan kata Bandung dari kata banding yang merujuk pada alat penyeberangan di SUngai Citarum yang bersebelahan atau dalam bahasa Sunda ngabandingan. Yang pasti, Bandung ditemukan oleh sekelompok orang Belanda yang sedang mencari lahan baru untuk perluasan wilayah di area timur dari Batavia atau Jakarta yang saat itu sedang proses pembangunan jalan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, H.W. Daendels.
Tahun 1800-an, beberapa orang Belanda merintis pembukaan lahan di wilayah yang sekarang menajdi Kota Bandung dengan berbagai alasan. Ada yang diasingkan dari wilayah Batavia, ada yang sengaja untuk mencari tahu potensi-potensi sumber daya alam di wilayah timur Jawa. Dalam rentang beberapa tahun wilayah Bandung yang awalnya hanya hutan belantara dn sungai citarum yang belum terjamah serta tanah yang becek dan berlumpur, mengalami perkembangan pesat karena pembangunan yang dilakukan orang-orang Belanda. Ada beberapa keluarga tuan tanah yang menjadi pelopor di Bandung, seperti Preanger Planter yang membuka lahan perkebunan kopi dna teh. Seperti, Keluarga Kerkhoven, Keluarga Holle, K.A.R Bosscha, Franz Wilhelm Junghuhn, Piter Engelhard, Andries de Wilde, Willem van der Hucht.
Selain menajdi tuan tanah, beberapa dari mereka tertarik dan mendalami ilmu pengetahuan dan seni. Mislanya Junghuhn adalah seorang ahli botani dan biologi, Frederick Holle yang menyukai seni budaya Sunda, serta K.A.R. Bosscha yang juga ahli astronomi, hingga kemudian membangun peneropongan bintang  Bosscha di Lembang.
Meski jadi salah satu wilayah jajahan Belanda (waktu itu berbendera VOC), nyatanya Bandung sangat membekas di benak para kumpeni. terlebih, jauhnya jarak dari Batavia, membuat mereka perlu tempat tinggal yang juga nyaman di kota yang baru mereka temukan. Perlahan-lahan, Bandung pun mulai dijadikan sebuah kota yang nyaman. Beragam infrastruktur untuk hunian para ekspatriat yang menguasai Bandung banyak didirikan, seperti di wilayah Jalan Riau, Jalan Cipaganti, hingga Dago. Adapun untuk pusat kotanya, penguasa pribumi Bandung saat itu, R.A Wiranatakusuma ternyata sepakat dengan Daendels yang memindahkan pusat ibukota dari wilayah dayeuhkolot ke sekitaran jalan pos saat itu (Postwag) atau alun-alun saat ini. 
Tak hanya hunian mewah yang banyak dibangun, namun berbagai fasilitas umum yang menunjang gaya hidup orang-orang bule saat itu di Bandung, turut diperbanyak. Jalan raya, bioskop, cafe dan bar, hingga venue-venue untuk menonton pertunjukkan seperti opera hingga kesenian lokal. Saat mereka pertama datang, alat transportasi yang paling mewah adalah tandu bagi para meneer yang diangkat oleh empat pesuruh lokal. Seiring waktu kereta pedati yang ditarik kerbau dan andong yang ditarik kuda, mulai banyak digunakan. Pedati biasanya digunakan masyarakat lokal untuk menarik hasil-hasil bumi seperti padi, teh dan kopi. Sementara andong atau delman diguakan untuk mengangkut manusia. Kemudian, mobil bertenaga uap pun mulai diperkenalkan seiring perkembangan teknologi transportasi dari Eropa yang ditularkan ke sejumlah wilayah-wilayah jajahannya. Hingga kemudian, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta yang menghubungkan Batavia dan wilayah-wilayah sekitarnya di sebelah timur, seperti Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Pangandaran bahkan hingga Cilacap. Tujuannya, memudahkan pengangkutan komoditas dagang terutama kopi dan teh, menuju Batavia dan diangkut ke Eropa.
Kembali ke Bandung, sejak abad ke -20, penataan Kota terus dilakukan sesuai janji Daendels, kala menancapkan patok pembangunan Jalan Pos, ia ingin ketika suatu saat kembali, tempat ini sudah menjadi kota besar. Kini, ucapan Daendels sudah terbukti bahkan Bandung sangat pesat, sampai ada istilah Sunda, "Bandung heurin ku tangtung". Sudah banyak gedung tinggi yang dibangun, disamping bangunan-bangunan warisan peninggalan Belanda yang menjadi herritage. Meskipun sebagian besar sudah ada yang diratakan dengan tanah karena dalih pembangunan. Padahal, bangunan-bangunan tua yang ada dapat menjadi penanda sejarah Kota Bandung serta bahan untuk kajian studi arsitektur dan tata kota yang saat ini sudah mulai ruwet.
Untuk mengenang cantiknya Kota Bandung, saat ini sudah banyak komunitas sejarah Kota Bandung dan sekitarnya yang concern pada pelestarian beberapa bangunan herritage di Bandung serta serta sejarah yang benar terkait perkembangan Kota Bandung dari masa kolonial hingga saat ini. Untuk menjadi sebesar ini, Bandung sudah melalui banyak tahap serta peranan dari para pemimpin di masa lalu yang mengijinkan pembangunan di Masa Kolonial. Pemberian ijin ini lebih pada keterpaksaan pemimpin pribumi seperti Bupati maupun wedana demi kepentingan para penjajah. Meski begitu, ada beberapa hal yang akhirnya dapat diwariskan bagi anak cucu hingga saat ini.
Upaya pelestarian Kota Bandung pun sudah didukung pemerintah daerah, dengan adanya larangan untuk merubuhkan bangunan-bangunan bersejarah. Meskipun saat ini memang jumlahnya sudah tak banyak lagi. Saat ini, kebijakan daerah di Kota Bandung pun sudah mulai memikirkan penataan ruang dan kota yang lebih humanis, memperhatikan lingkungan, serta nilai-nilai estetik. Dalam sebuah survey, masyarakat Kota Bandung menjadi kota dnegan tingkat kebahagiaan penduduk yang cukup tinggi. Mantan Walikota Bandung, Ridwan Kamil yang saat ini menajbat Gubernur Jawa Barat, merupakan ahli arsitektur serta perencanaan kota. Ia pun banyak membangun area-area publik yang nyaman dan dapat dijadikan tempat berkumpul warganya. Sebut saja, beberapa Taman terkenal di Bandung (Taman Lansia, Taman Regol, Taman Musik, Film, Taman Balaikota, Kiara Artha Park, serta sejumlah alun-alun kecamatan dan alun-alun pusat yang telah direvitalisasi).
Masyarakat memang butuh tempat untuk berkarya dan menunjukkan eksistensinya di ruang publik, tanpa harus merasa terbebani dengan biaya masuk. Yaa, beberapa tahun terakhir ini Bandung memang menjadi surganya liburan dengan berbagai lokasi wisata yang eksotik. Syaangnya, banyak kawasan wisata di kota ini yang mematok harga masuk yang mungkin tidak akan terjangkau oleh semua orang. Untuk itu, inisiatif pemerintah untuk menyediakan area-area publik yang free dan nyaman disambut baik oleh warga. Saat ini, jika akhir pekan, hampir semua area publik di Bandung dipadati pengunjung, baik yang sekadar berolahraga, jalan-jalan santai bersama keluarga, hingga berjualan. Sayangnya, Kota Bandung pun kini mulai dihantui permasalahan lingkungan yang krusial. Maraknya pembangunan di wilayah sesar Lembang dan Kawasan Bandung Utara (KBU), membuat kota ini jadi langganan banjir di sejumlah area. Meski intensitasnya dan ketinggian banjir bervariasi, tetap saja hal-hal terkait lingkungan ini harus ditangani dengan serius. Jika ingin Kota Bandung ini hidup hingga ratusan tahun ke depan, saatnya pemerintah dan masyarakat untuk bahu membahu menciptakan Kota Bandung yang bebas banjir, macet, polusi hingga bebas kriminal.      

 
    

No comments: