Menyitir salah satu portal berita online, Mendikbud Nadiem
Makarim mengharuskan siswa sekolah untuk memiliki dua skill diatas. Saya
yang awan dalam bidang pendidikan jadi penasaran dengan kedua istilah ini.
Apakah keterampilan lama dalam edukasi anak atau hal yang baru? Pasalnya saya
pun memiliki anak di usia sekolah, jadi tak ada salahnya memahami hal ini.
![]() |
| sxc.hu |
Setelah beberapa kali searching dan googling,
saya mendapati beberapa definisi compassion baik sebagai kata kerja
maupun kata benda. Compassion sebagai kata benda artinya sebuah
kesadaran dan simpati mendalam pada penderitaan orang lain. Ada pula yang
menyebutkan sebagai kualitas manusia untuk mengerti penderitaan orang lain dan
ingin melakukan sesuatu karena penderitaan tersebut. Sementara untuk kata
kerjanya compassion berarti merasa kasihan atau mengasihani.
Adapun alasan compassion menjadi skill yang
harus dikuasai anak, karena mendukung pemahaman dan kecakapan menghadapi
tantangan di era industri 4.0. Ya, kemampuan softskill menjadi salah
satu yang perlu diperhatikan sejak dini. Pendidikan moral yang kian pudar
ditambah gempuran arus westernisasi yang kian gencar melalui berbagai platform,
membuat ketidakseimbangan pada generasi muda era milenial. Kehadiran internet
dengan kemudahan arus informasi didalamnya menjadi salah satu penyebab munculnya
degradasi moral. Untuk itu, pendidikan usia dini, harus memperbanyak aspek
moral dan kemampuan softskill lainnya dibanding mengejar hardskill
anak.
Compassion sendiri merupakan istilah yang lekat dalam
bidang Psikologi. Meski tak ada yang dapat menggambarkan compassion
secara tepat dalam Bahasa Indonesia, compassion dapat membantu orang
untuk pulih, berubah secara positif dan menjalani hidup dengan sejahtera. Definisi
yang paling mendekati adalah perasaan iba, terharu atau belas kasih, menurut
John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris Indonesia (2003).
Pada istilah terapi Psikologi, compassion merupakan
bagian dari Psikologi Ketimuran yang erat dengan terapi Morita dan Naikan.
Terapi Morita adalah terapi yang berorietasi ekologis, berpusat pada tujuan dan
respons yang diciptakan melalui penelitian berbasis kasus. Diciptakan Shoma
Morita, terapi ini bertujuan agar pasien menerima kehidupan apa adanya. Morita
membiarkan alam mengambil jalurnya, namun bukan berarti pasien harus pasrah
dengan penyakit mental. Namun membantu pasien memahami bahwa emosi, positif
atau negatif adalah aspek dari menjadi manusia. Sementara terapi Naikan itu
berarti “melihat lebih dalam” atau “melihat diri sendiri dengan mata bathin”.
Metode ini refleksi diri terstruktur yang membantu seseorang untuk memahami
diri sendiri, hubungan diri sendiri dengan orang lain dan sifat dasar
eksistensi manusia. Dikembangkan oleh Ishin Yoshimoto tahun 1940, dari kegiatan
mishirabe yakni metode meditasi yang sulit dan refleksi diri. Naikan
digunakan dalam konseling kesehatan mental, pengobatan kecanduan, rehabilitasi
tahanan, sekolah dan bisnis.
Dari sini dapat diungkapkan jika compassion yang
harus dimiliki anak, akan menuntun pada sikap berbelas kasih, ketulusan hati
serta keinginan untuk melayani orang lain yang mengalami penderitaan. Ada
beberapa cara untuk memulai suatu pelayanan dengan compassion. Pertama,
mulai dengan perspektif yang berbeda. Kedua, memiliki kerendahan hati. Ketiga,
belajar untuk rela berkorban. Keempat, membangun hubungan baik dengan
sesama. Kelima, berusaha agar dapat dipercata. Terakhir, memberi
nilai tambah kepada orang lain dengan memberikan pujian yang pantas.
Memiliki compassion memang tak mudah, karena butuh
latihan dan pendidikan. Namun compassion dapat menumbuhkan sifat-sifat
kepemimpinan dalam diri anak. Pasalnya, pemimpin sejati adalah yang dapat
menyentuh hati lalu berusaha menggerakkan orang lain. Selain itu, memberi
adalah cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu. Terakhir, pemimpin yang
baik akan mencoba untuk memahami kebutuhan orang lain.
Menurut Patch Adams, ada enam cara untuk meningkatkan
kemampuan compassion. Antara lain, mendengarkan orang lain (listen,
more than just hear), fokus pada solusi bukan pada masalah, melihat apa
yang tidak dilihat orang lain atau apa yang tidak ingin dilihat oleh orang
lain, keluar dari zona nyaman pribadi, berempati terhadap orang lain, serta
berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi orang lain.

No comments:
Post a Comment