Wednesday, 26 February 2020

Compassion & Computational Thinking (Part 1)



Menyitir salah satu portal berita online, Mendikbud Nadiem Makarim mengharuskan siswa sekolah untuk memiliki dua skill diatas. Saya yang awan dalam bidang pendidikan jadi penasaran dengan kedua istilah ini. Apakah keterampilan lama dalam edukasi anak atau hal yang baru? Pasalnya saya pun memiliki anak di usia sekolah, jadi tak ada salahnya memahami hal ini.
sxc.hu

Setelah beberapa kali searching dan googling, saya mendapati beberapa definisi compassion baik sebagai kata kerja maupun kata benda. Compassion sebagai kata benda artinya sebuah kesadaran dan simpati mendalam pada penderitaan orang lain. Ada pula yang menyebutkan sebagai kualitas manusia untuk mengerti penderitaan orang lain dan ingin melakukan sesuatu karena penderitaan tersebut. Sementara untuk kata kerjanya compassion berarti merasa kasihan atau mengasihani.  
Adapun alasan compassion menjadi skill yang harus dikuasai anak, karena mendukung pemahaman dan kecakapan menghadapi tantangan di era industri 4.0. Ya, kemampuan softskill menjadi salah satu yang perlu diperhatikan sejak dini. Pendidikan moral yang kian pudar ditambah gempuran arus westernisasi yang kian gencar melalui berbagai platform, membuat ketidakseimbangan pada generasi muda era milenial. Kehadiran internet dengan kemudahan arus informasi didalamnya menjadi salah satu penyebab munculnya degradasi moral. Untuk itu, pendidikan usia dini, harus memperbanyak aspek moral dan kemampuan softskill lainnya dibanding mengejar hardskill anak.
Compassion sendiri merupakan istilah yang lekat dalam bidang Psikologi. Meski tak ada yang dapat menggambarkan compassion secara tepat dalam Bahasa Indonesia, compassion dapat membantu orang untuk pulih, berubah secara positif dan menjalani hidup dengan sejahtera. Definisi yang paling mendekati adalah perasaan iba, terharu atau belas kasih, menurut John M.Echols dan Hassan Shadily dalam Kamus Inggris Indonesia (2003).
Pada istilah terapi Psikologi, compassion merupakan bagian dari Psikologi Ketimuran yang erat dengan terapi Morita dan Naikan. Terapi Morita adalah terapi yang berorietasi ekologis, berpusat pada tujuan dan respons yang diciptakan melalui penelitian berbasis kasus. Diciptakan Shoma Morita, terapi ini bertujuan agar pasien menerima kehidupan apa adanya. Morita membiarkan alam mengambil jalurnya, namun bukan berarti pasien harus pasrah dengan penyakit mental. Namun membantu pasien memahami bahwa emosi, positif atau negatif adalah aspek dari menjadi manusia. Sementara terapi Naikan itu berarti “melihat lebih dalam” atau “melihat diri sendiri dengan mata bathin”. Metode ini refleksi diri terstruktur yang membantu seseorang untuk memahami diri sendiri, hubungan diri sendiri dengan orang lain dan sifat dasar eksistensi manusia. Dikembangkan oleh Ishin Yoshimoto tahun 1940, dari kegiatan mishirabe yakni metode meditasi yang sulit dan refleksi diri. Naikan digunakan dalam konseling kesehatan mental, pengobatan kecanduan, rehabilitasi tahanan, sekolah dan bisnis.  
Dari sini dapat diungkapkan jika compassion yang harus dimiliki anak, akan menuntun pada sikap berbelas kasih, ketulusan hati serta keinginan untuk melayani orang lain yang mengalami penderitaan. Ada beberapa cara untuk memulai suatu pelayanan dengan compassion. Pertama, mulai dengan perspektif yang berbeda. Kedua, memiliki kerendahan hati. Ketiga, belajar untuk rela berkorban. Keempat, membangun hubungan baik dengan sesama. Kelima, berusaha agar dapat dipercata. Terakhir, memberi nilai tambah kepada orang lain dengan memberikan pujian yang pantas.
Memiliki compassion memang tak mudah, karena butuh latihan dan pendidikan. Namun compassion dapat menumbuhkan sifat-sifat kepemimpinan dalam diri anak. Pasalnya, pemimpin sejati adalah yang dapat menyentuh hati lalu berusaha menggerakkan orang lain. Selain itu, memberi adalah cara terbaik untuk mendapatkan sesuatu. Terakhir, pemimpin yang baik akan mencoba untuk memahami kebutuhan orang lain.  
Menurut Patch Adams, ada enam cara untuk meningkatkan kemampuan compassion. Antara lain, mendengarkan orang lain (listen, more than just hear), fokus pada solusi bukan pada masalah, melihat apa yang tidak dilihat orang lain atau apa yang tidak ingin dilihat oleh orang lain, keluar dari zona nyaman pribadi, berempati terhadap orang lain, serta berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi orang lain.

No comments: