Wednesday, 30 September 2020

Ade Londok dan S3 Marketing

 Beberapa waktu lalu, Bandung dihebohkan dnegan viralnya Odading Mang Oleh yang rasanya Anj*** banget!!!

all-free-download.com

Terkesan kasar, ngegas dan bahasanya pun belepotan. Tapi, berkat pria bernama Ade Londok ini, Odading Mang Oleh langsung diserbu pembeli bahkan youtuber-youtuber kuliner ternama. Yaa...walaupun, pas diulas sama para Youtuber itu, rasa Odading mang oleh hampir saa dengan odading kebanyakan.....Ya iyalah, da odading mah kitu-kitu keneh, kalo kata orang Sunda mah!!!

Namun, faktanya setelah Odading yang viral ini, di sisi lain banyak marketer andal di luaran sana yang merasa frustasi dengan cara promo Mang Ade Londok. bahkan, di Twitter sempat bertebaran, ajakan marketer buat resign aja, gegara hasil brainstorming strategi marketing bertahun-tahun mereka, langsung kalah sama S3 Marketing ala Mang Ade Londok. 

Itulah hebatnya digital media di era 4.0 Bukan hanya disrupsi teknologi, hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang terkesan remeh, nyatanya dapat memecahkan rekor. Lantas, apa sebenarnya yang mmebuat Odading Mang Oleh jadi viral dan laku diserbu pelanggan? Mang Oleh bilang, dari yang awalnya sehari habis sekitar 30 kg tepung untuk bahan odading, setelah viral, warung odadingnya bisa menghabiskan 100 kg tepung per harinya. Keren ga tuh???!!!

Apakah karena rasa odadingnya yang khas? Atau si promotornya Mang Ade Londok itu? Lalu, apa istimewanya si Promotor ini hingga omongannya yang ngegaaas dan belepotan itu bisa menarik banyak pembeli?

Jawabannya bukan pada teknik promosinya, tapi ketulusan dan kepolosan Mang Ade Londok saat mempromosikan Odading Mang Oleh ini. Mungkin dari segi jenjang pendidikan mang Ade Londok tak tahu menahu apa itu strategi marketing, apa itu konsumen dan lain-lain. Ia hanya tahu, jika odading yang sedang digigitnya itu, terasa nikmat di mulut. Saking enaknya (mungkin karena sedang lapar), saat habis menyantap odading ini, ia merasa bertenaga, sehingga seperti superhero yang bisa terbang, Iron Man. 

Mengapa Mang Ade memilih Iron Man, bukan Hulk, Captain Amerika atau Thor? Meski jawaban sebenarnya mungkin hanya Mang Ade dan Tuhan yang tahu, namun menurut saya, Iron Man dipilih, karena diantara superhero lainnya, Iron Man adalah paket komplit. Super kaya, Kuat pula (namanya aja iron artinya besi), tampilan lumayan menarik, cerdas dan sukses. Pokoknya idaman semua orang lah si Iron Man ini....jadi, mungkin itu juga yang membuat Mang Ade Londok mengagumi sosok Iron Man dan akhirnya terlontar celetukan "seperti menjadi Iron Man", saat menyantap Odading Mang oleh ini. 

Lantas, mengapa banyak orang yang menyebt gaya promo Mang Ade Londok ini sebagai S3 marketing bahkan S4 Marketing? Mungkin ini hanya jokes karena dengan promo alakadarnya saja Mang Ade Londok berhasil memviralkan Odading sebagai kuliner jajanan khas Bandung yang wajib dicoba. Namun, disisi lain, dengan viralnya gaya marketing Mang Ade Londok ini (sedikit ngegass, tata bahasa berantakan), mampu mengalahkan strategi marketing dari para lulusan sarjana bahkan S2. Selebihnya, peran Dewi Fortuna mungkin yang sedang menaungi Mang Ade Londok di tahun ini, sehingga bisa viral dan terkenal. Bahkan, dinobatkan sebagai Agen Promo Kuliner Khas Bandung, oleh Kang Emil (Gubernur Jabar). Ia pun dihadiahi sebuah smartphone untuk mendukung kegiatan promo dan endorse berbagai produk kuliner setiap harinya di sosial media. Yaa.....penjahit permak ini menemukan jalannya di tahun 2020, disaat orang sedang misuh-musih gegara pandemi.....

   

Monday, 14 September 2020

Istigfar

 Scroll Facebook, tak sengaja dengerin potongan ceramahnya Ust. Adi Hidayat.......

Ia menyampaikan PENTINGNYA Dzikir untuk dibaca dan dilafalkan setiap saat, terutama setelah dua waktu yang penting. Yakni setiap setelah selesai sholat dan sebelum waktu shubuh. 

Saya merasa tertampar, Karena seringkali begitu mengucap salam ke kanan dan ke kiri, saya hanya langsung berdo'a dan melepas mukena. Memang terkadang saya menyempatkan diri untuk berdzikir dan sholawat sejenak. Tapi, jika sedang terburu-buru, kadang, saya langsung beranjak. Tapi, menurut Pak Ust. Adi, ini tidak benar. Seburu-buru apa pun kita, selesai sholat, lantunan dzikir tetap harus dilakukan. Apakah itu saat kita langsung berkendaraan ketika akan berangkat kerja, atau beraktivitas lain di dalam atau luar rumah.

Kalimat Dzikir yang paling utama adalah Istigfar. Kalimat Istigfar tak selalu dikaitkan dengan perbuatan dosa, tapi menunjuk ketawaduan yang membacanya, dapat menjadi penenang bagi siapa pun yang mengucapkannya. Ucapannya boleh versi pendek, "Astagfirullah" atau versi lengkap "Astagfirullah Hal'adzim Lailahaillallah huwal hayyulqoyyum waatuubuuilaihi. Antasalam wamin kassalam."

Apa sih keutamaan kalimat Istigfar ini? Pertama, membuat siapa pun yang mengucapkannya akan dilindungi Allah dari perbuatan dosa, keji dan munkar. Kedua, cepat dikabulkan do'anya. Terakhir, membuat hati lebih tenang. Biasakanlah beristigfar setiap saat dalam kondisi apa pun. 

Kalimat dzikir lainnya yang harus dilakukan adalah kalimat toyyibah lainnya, Subhanallah, Walhamdulillahirobbil'alamin dan Allahuakbar.....

Sunday, 13 September 2020

Persimpangan Jalan Kehidupan

Detak itu bergulir seakan memburu

Membuatku terpacu meski langkah terasa kaku

Ingin ku berlari kencang menuju senja

Sayangnya aku terikat

Terikat simpul bernama keluarga

Terikat simpul darah yang tak dapat kutinggalkan

Ada kalanya hati terasa kalut untuk memilih

Namun aku harus berlogika

Bahwa tak ada yang dapat kupilih

Yang ada, jika tanganku menggenggam erat di kanan, kiriku akan terluka

Ingin kugenggam erat dua-duanya, tapi hanya sakit yang kurasa

Ataukah harus kulepas saja semuanya?

Lalu, untuk apa semua keringatku selama ini?

Ya Rabb.....picik sekali diriku ini

Berharap yang tinggi, namun tak pernah patuh

Tapi, bukankah itulah manusia? 

Selalu merasa kurang dan jelata

Padahal anugerah Tuhan sudah ada menempel di diri kita.

Ya Rabb.....semoga doaku masih pantas untuk Kau dengar

Semoga aku tetap menjadi mahluk yang termasuk pada hamba-Mu

Aamiinnnn.....Ya Rabbal 'Alamin

Wednesday, 9 September 2020

Belajar LURING, Kesempatan atau Ancaman ?

Oke....

Beberapa hari lalu, Kota Bandung kembali kejutkan hasil swab test di kantor Pemkot. 117 orang positif....Whaatttt????? Yup....setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) alias New Normal diberlakukan, anehnya saat ini, kondisi di sejumlah kota termasuk Bandung, seolah-olah sudah dalam keadaan NORMAL....Padahal beda toh....yang namanya new normal itu, tetap dapat beraktivitas keluar rumah, tapi ya protokol kesehatannya tetep dilakukan. Mulai dari memakai masker dan kalo ada sarung tangan, membawa hand sanitizer, bahkan ada jua yang menambahkan face shield, hingga jaga jarak. 

all-free-download.com

Ribet? Iyalah....apalagi saat ini udah masuk musim kemarau. Udara kering, angin kencang, pokoknya bikin tenggorokan sakit. Alat tempur ini rasanya gerah dibadan. Tapi mau gimana lagi, ketentuannya gitu.

Parahnya, ga semua orang mengerti dan menerapkan new normal yang benar. Tengok saja, kerumunan orang masih banyak, kesadaran memakai masker masih kurang, dan lain-lain. jangan heran kali muncul lagi klaster-klaster penyebaran COVID-19 ini. Bahkan DKI Jakarta siap-siap PSBB total lagi, karena khawatir RS kewalahan. 

Tapi, dibalik itu, ada bidang yang mungkin butuh penyegaran dari penerapan new normal ini. Ya, ANAK SEKOLAH. Mereka sudah belajar lebih dari enam bulan di rumah! Wuih, kebayang khan anak-anak dari mulai tingkat TK sampe perguruan tinggi, stress-nya kayak gimana? Untuk level menengah hingga perguruan tinggi belajar tatap muka diganti sistem online dengan berbagai aplikasi macam, Google Classroom, Google Meet, Zoom, dan lain-lain. Untuk anak SD ada yang sudah menerapkan Zoom dan Google Classroom, ada pula yang hanya belajar via video di WA. 

Nah....mengingat anak-anak, orang tua hingga gurunya sendiri sudah pada pusing dengan sekolah daring melalui aplikasi yang kurang memperlihatkan kemajuan kompetensi siswa, sejumlah sekolah mulai menggagas kegiatan sekolah di luar jaringan (luring) untuk anak-anak. Walaupun, pihak dinas pendidikan masih belum menyetujui hal ini, beberapa sekolah tetap menerapkan luring ini, dengan cara diam-diam dan tidak dilakukan di area sekolah. Guru mendatangi siswa di salah satu rumah siswa dan memberikan pengajaran singkat bagi yang belum mengerti mata pelajaran di buku. kegiatan luring ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti anak-anak harus menggunakan masker, membawa alas duduk dan meja sendiri, serta hand sanitizer. Jumlah satu rombongan belajarnya pun dibatasi untuk setiap luring.

Melihat antusias anak-anak, luring menjadi oase disaat belajar di rumah bikin stress. pelajaran yang kurang dimengerti, cara penyampaian materi oleh orang tua yang selalu menggunakan nada tinggi, atau kebosanan yang melanda, karena setiap hari hanya berkutat dengan rangkuman catatan dan tugas-tugas isian di modul pelajaran. Luring pun menjadi ajang si anak bersua dengan rekan-rekannya di sekolah, meski tidak semuanya. Feel ketika belajar di sekolah bersama Pak Guru atau Bu Guru, kembali terasa setelah enam bulan berlalu. 

Namun, sebagai orang tua, kita tetap harus waspada. Ancaman COVID-19 belum usai. Luring bisa menjadi boomerang bagi para siswa, ketika sedikit saja mengabaikan protokol kesehatan. Berkumpul bersama teman-teman saat luring, bisa jadi memiliki kekhawatiran tersendiri, karena tidak tahu lingkungan masing-masing anak di sekitar rumahnya. Apakah mereka sehat semua sepenuhnya? Itu yang harus tetap kita jaga dan waspadai. Untuk itu, peran guru sebagai pembimbing siswa pada saat luring harus tetap ada. Pastikan guru juga harus dalam keadaan sehat, karena kita tidak tahu niat baik para guru untuk memberi pengajaran pada siswa saat luring, memiliki ancaman kesehatan yang mematikan bagi para siswa.  

Tetap semangat dan maju terus pendidikan Indonesia. Semoga COVID-19 segera berlalu !


 

Tuesday, 8 September 2020

S(t)orry Telling

Beberapa hari ini, pikiranku sedikit tegang.....Bukan apa-apa, tapi mungkin karena aku terlalu excited dengan sesuatu.
OK, kita cerita saat aku masih duduk di Kelas 2 SMP. Aku yang cenderung introvert dan pemalu, ternyata terpilih jadi salah satu kandidat Story Teller di sekolahku yang akan diadu hingga tingkat kabupaten. Terbayang donk senangnya???!!

all-free-download.com


Waktu itu, aku terpilih karena memang kemampuan bahasa Inggrisku agak lumayan dan kata guruku, pronounciation-nya cukup bagus. Aku masih ingat, Dongeng Kelinci dan Buaya yang ditulis dalam Bahasa Inggris, menjadi materi seleksi calon Story Teller di sekolahku. Sepanjang hari aku dan beberapa temanku sibuk berlatih bercerita dalam bahasa Ratu Elisabeth ini, hingga waktu seleksi tiba. Sayangnya, aku ternyata tidak terpilih, karena pengucapanku kurang lantang dan tidak dapat membuat suara yang berbeda antara tokoh kelinci dan buaya.
Waktu itu aku sedih sekali, karena ini pertama kalinya aku ikut lomba dan berharap minimal dapat berlaga dengan anak-anak lain dari luar sekolahku. Aku merasa sudah berusaha keras, menghapalkan dialog-dialognya maupun pengucapannya. Tapi apa boleh buat,demam panggungku lebih kuat. mau tak mau, aku mengalah. 

Nah, kembali ke alasan pikiranku yang tegang beberapa hari ini......tiba-tiba aku ditawari untuk menjadi story teller cerita anak-anak yang akan di-upload di platform youtube. Aku sempat ragu, meski di satu sisi sangat senang. Bahkan terlalu senang. meski ini hal baru dalam pekerjaanku, namun story telling bukan hal baru dalam hidupku. 

Tapi, tentunya sangat berbeda story telling di masa SMP, dengan tuntutan pekerjaan yang harus aku jalani saat ini. Bahkan, hingga saat ini, aku belum selesai mengerjakan project ini, karena selain deadline-nya yang belum jelas. Aku pun belum mampu menghasilkan rekaman story telling-ku dengan baik, karena masalah teknis. 

Jadinya, kegiatan story telling yang ingin sekali aku lakukan, sampai saat ini belum terlaksanakan. Sorry to say.....aku masih terlalu kurang percaya diri dengan kondisiku seperti waktu masih SMP....


Anjaaayyyyy.....

Start goin to be update...hahahaha...

Yup, judul di atas emang lagi hype bangeeettt, akhir-akhir ini.....Setelah seorang youtuber yang tetiba ngebahas kata "Anjay" ini sampai menghadirkan ahli bahasa dan ulama! Ya, hanya untuk menunjukkan kalo kata ini sangat sangat tidak layak digunakan. Padahal, kata anjay ini sudah menjadi salah satu bahasa gaulnya generasi millenial, terutama yang ada di perkotaan....
Bahasa slang ini memang awalnya merupakan plesetan dari kata "anjing" yang sering digunakan sebagai kata umpatan atau makian. Setelah kian populer setelah dibahas si youtuber, kata Anjay ini makin ramai bahkan jadi trending di Twitter. Pro kontra pun terjadi di ranah netizen, bahkan aksi saling sindir pun terjadi hanya karena kata anjay.

Kepopuleran Anajy ini, akhirnya sampai ke telinga Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan membawanya ke DPR, dengan harapan, penggunaan kata anjay yang TUJUANNYA merendahkan martabat orang lain yang diajak bicara, Sampai di level ini pun, pro kontra tetap terjadi, karena kata anjay sendiri memiliki makna yang ambigu. Banyak anak muda mengucapkan anjay sangat jauh dari maksud untuk merendahan martabat orang lain, karena yang diajak bicara adalah sobat akrabnya sendiri. 

Melansir Kompas.com, kata anjay yang dapat dipidanakan menurut KPAI adalah jika bermakna untuk merendahkan martabat seseorang. menurut Komnas PA, kata ini termasuk dalam kekerasan verbal dan dapat dipidanakan. namun, diksi yang sama jika digunakan untuk menunjukkan kekaguman, rasa salut, pujian dan sebagainya, maka tidak ada masalah, karena bukan mengandung kekerasan dan tidak berpotensi menimbulkan ketersinggungan, sakit hati atau kerugian. 

Tapi, kalau melihat di kalangan millenial sendiri, kata anjay umumnya digunakan sebagai kata slang yang cenderung menunjukkan kekagumn atau hanya bahasa candaan dengan teman sebaya. jadi, jika gegara kata anjay ini, banyak orang dipidanakan, rasanya terlalu berlebihan dan sedikit kurang kerjaan. Jika kaitannya dengan bullying, tinggal dilihat saja konteks kalimat yang dipakai dalam kata anjay atau perasaan dari lawan bicara yang diajak bicara. Sesimple itu. 

Meski begitu, banyaknya kata-kata slang dalam bahasa yang digunakan sehari-hari, baik itu kata yang terdengar sederhana hingga yang kasar, dikhawatirkan akan mengikis penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. terlebih di kalangan geenrasi muda, akulturasi dan westernisasi membuat penggunaan berbahasa menjadi rancu hingga tidak tepat. termasuk penggunaan kata anjay ini, atau kata-kata lainnya. Jika sudha begini, tugas kitalah untuk menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, agar masih dapat dinikmati anak cucu kelak......  

 

 

" Anjay" yang digunakan dalam satu kalimat bermakna merendahkan martabat seseorang dianggap Komnas PA termasuk dalam kekerasan verbal dan dapat dipidanakan. Sementara, diksi yang sama jika digunakan untuk menunjukkan kekaguman, rasa salut, pujian, dan sebagainya, maka tidak ada masalah karena bukan mengandung kekerasan dan tidak berpotensi menimbulkan ketersinggungan, sakit hati, atau kerugian. "Penggunaan istilah 'anjay' harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tempat, dan makna," tulis keterangan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait dan Sekretaris Jenderal, Dhanang Sasongko. Jika unsur kekerasan dalam penggunaan istilah itu terpenuhi dinilai dapat merendahkan martabat orang lain dan mengandung makna perisakan atau bullying maka pelaku dapat dipidanakan. Hal ini mengacu pada UU No 34 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Larangan Penggunaan "Anjay", Reaksi Netizen, dan Kata Ahli Bahasa", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/31/081829965/larangan-penggunaan-anjay-reaksi-netizen-dan-kata-ahli-bahasa?page=all.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L

 

 

" Anjay" yang digunakan dalam satu kalimat bermakna merendahkan martabat seseorang dianggap Komnas PA termasuk dalam kekerasan verbal dan dapat dipidanakan. Sementara, diksi yang sama jika digunakan untuk menunjukkan kekaguman, rasa salut, pujian, dan sebagainya, maka tidak ada masalah karena bukan mengandung kekerasan dan tidak berpotensi menimbulkan ketersinggungan, sakit hati, atau kerugian. "Penggunaan istilah 'anjay' harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tempat, dan makna," tulis keterangan resmi yang ditandatangani Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait dan Sekretaris Jenderal, Dhanang Sasongko. Jika unsur kekerasan dalam penggunaan istilah itu terpenuhi dinilai dapat merendahkan martabat orang lain dan mengandung makna perisakan atau bullying maka pelaku dapat dipidanakan. Hal ini mengacu pada UU No 34 Tahun 2004 tentang Perlindungan Anak.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Larangan Penggunaan "Anjay", Reaksi Netizen, dan Kata Ahli Bahasa", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/31/081829965/larangan-penggunaan-anjay-reaksi-netizen-dan-kata-ahli-bahasa?page=all.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3h