Wednesday, 9 September 2020

Belajar LURING, Kesempatan atau Ancaman ?

Oke....

Beberapa hari lalu, Kota Bandung kembali kejutkan hasil swab test di kantor Pemkot. 117 orang positif....Whaatttt????? Yup....setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) alias New Normal diberlakukan, anehnya saat ini, kondisi di sejumlah kota termasuk Bandung, seolah-olah sudah dalam keadaan NORMAL....Padahal beda toh....yang namanya new normal itu, tetap dapat beraktivitas keluar rumah, tapi ya protokol kesehatannya tetep dilakukan. Mulai dari memakai masker dan kalo ada sarung tangan, membawa hand sanitizer, bahkan ada jua yang menambahkan face shield, hingga jaga jarak. 

all-free-download.com

Ribet? Iyalah....apalagi saat ini udah masuk musim kemarau. Udara kering, angin kencang, pokoknya bikin tenggorokan sakit. Alat tempur ini rasanya gerah dibadan. Tapi mau gimana lagi, ketentuannya gitu.

Parahnya, ga semua orang mengerti dan menerapkan new normal yang benar. Tengok saja, kerumunan orang masih banyak, kesadaran memakai masker masih kurang, dan lain-lain. jangan heran kali muncul lagi klaster-klaster penyebaran COVID-19 ini. Bahkan DKI Jakarta siap-siap PSBB total lagi, karena khawatir RS kewalahan. 

Tapi, dibalik itu, ada bidang yang mungkin butuh penyegaran dari penerapan new normal ini. Ya, ANAK SEKOLAH. Mereka sudah belajar lebih dari enam bulan di rumah! Wuih, kebayang khan anak-anak dari mulai tingkat TK sampe perguruan tinggi, stress-nya kayak gimana? Untuk level menengah hingga perguruan tinggi belajar tatap muka diganti sistem online dengan berbagai aplikasi macam, Google Classroom, Google Meet, Zoom, dan lain-lain. Untuk anak SD ada yang sudah menerapkan Zoom dan Google Classroom, ada pula yang hanya belajar via video di WA. 

Nah....mengingat anak-anak, orang tua hingga gurunya sendiri sudah pada pusing dengan sekolah daring melalui aplikasi yang kurang memperlihatkan kemajuan kompetensi siswa, sejumlah sekolah mulai menggagas kegiatan sekolah di luar jaringan (luring) untuk anak-anak. Walaupun, pihak dinas pendidikan masih belum menyetujui hal ini, beberapa sekolah tetap menerapkan luring ini, dengan cara diam-diam dan tidak dilakukan di area sekolah. Guru mendatangi siswa di salah satu rumah siswa dan memberikan pengajaran singkat bagi yang belum mengerti mata pelajaran di buku. kegiatan luring ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti anak-anak harus menggunakan masker, membawa alas duduk dan meja sendiri, serta hand sanitizer. Jumlah satu rombongan belajarnya pun dibatasi untuk setiap luring.

Melihat antusias anak-anak, luring menjadi oase disaat belajar di rumah bikin stress. pelajaran yang kurang dimengerti, cara penyampaian materi oleh orang tua yang selalu menggunakan nada tinggi, atau kebosanan yang melanda, karena setiap hari hanya berkutat dengan rangkuman catatan dan tugas-tugas isian di modul pelajaran. Luring pun menjadi ajang si anak bersua dengan rekan-rekannya di sekolah, meski tidak semuanya. Feel ketika belajar di sekolah bersama Pak Guru atau Bu Guru, kembali terasa setelah enam bulan berlalu. 

Namun, sebagai orang tua, kita tetap harus waspada. Ancaman COVID-19 belum usai. Luring bisa menjadi boomerang bagi para siswa, ketika sedikit saja mengabaikan protokol kesehatan. Berkumpul bersama teman-teman saat luring, bisa jadi memiliki kekhawatiran tersendiri, karena tidak tahu lingkungan masing-masing anak di sekitar rumahnya. Apakah mereka sehat semua sepenuhnya? Itu yang harus tetap kita jaga dan waspadai. Untuk itu, peran guru sebagai pembimbing siswa pada saat luring harus tetap ada. Pastikan guru juga harus dalam keadaan sehat, karena kita tidak tahu niat baik para guru untuk memberi pengajaran pada siswa saat luring, memiliki ancaman kesehatan yang mematikan bagi para siswa.  

Tetap semangat dan maju terus pendidikan Indonesia. Semoga COVID-19 segera berlalu !


 

No comments: