Buat para penikmat film Hollywood tentu tak asing dengan trilogy “The Lord of The Ring”. Film apik yang dibintangi Elijah Wood, Orlando Bloom, dan sederet bintang Hollywood ternama ini, selain menyajikan alur cerita yang detail, juga pemilihan lokasi syuting yang eksotis. Salah satunya pegunungan kapur yang konon berada di New Zealand yang masih asri. Nah, untuk para petualang alam liar dan bebas namun tidak berkantong tebal, tak perlu jauh-jauh ke New Zealand untuk menikmati keindahan alam bak di film trilogy “The Lord of The Ring”. Bahkan, kita dapat menikmati eksotisme alam seperti di film yang diangkat dari novel karya JRR. Tolkin itu, di wilayah priangan, tepatnya di Pegunungan Karst (Peg. Kapur) Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari Kota Bandung, kita sudah mampu menyaksikan keindahan karst yang terletak di kiri kanan jalan.
.jpg)
Memang, pegunungan karst ini telah terbentuk sejak zaman purba. Kawasan ini diyakini sebagai bagian dari cekungan danau Bandung yang pernah dihuni oleh manusia pra sejarah. Mengingat tak jauh dari kawasan pegunungan ini, ahli purbakala menemukan sebuah gua yang diberi nama Gua Pawon. Yaa, di sekitar pegunungan karst Padalarang memang terdapat gua karst yang telah ada sejak zaman pra sejarah. Lokasi pegunungan karst yang ada di Padalarang ini kaya akan kandungan kapur dan batu alam lainnya untuk kebutuhan industri. Kawasan pegunungan karst ini pun dimanfaatkan sebagai mata pencaharian utama warga Cipatat dan sekitarnya. Maka, sejak tahun 70-an, kawasan ini telah terekspos dan banyak dieksploitasi warga. Terkait penemuan Gua Pawon, masyarakat sekitar awalnya menganggap tempat ini sangat keramat dan angker. Selain lokasinya yang terletak di tebing karst, dijadikan sarang ribuan kelelawar, di Gua Pawon telah ditemukan fosil kerangka manusia prasejarah yang disebut Manusia Pawon.
Adapun tempat ini disebut Gua Pawon, Karena bentuknya seperti pawon atau dapur dalam bahasa Indonesia. Gua ini mempunyai kontur yang menarik, karena terdapat banyak ceruk di dalamnya mulai yang berukuran kecil, hingga yang cukup lapang. Beberapa ahli arkeologi menyimpulkan, tempat ini merupakan tempat tinggal manusia purba yang memang sering menempati ceruk-ceruk di tebing. Selain ditemukan fosil kerangka manusia pawon, di sini pun ditemukan berbagai barang prasejarah dari batu yang diyakini sebagai perkakas mereka, seperti alat peramu, kapak yang masih kasar, dan lain-lain.

.JPG)
Kini, keberadaan Gua Pawon kian mengkhawatirkan sebagai salah satu situs prasejarah. Tak hanya lokasinya yang tidak terurus, fasilitas dan akses jalan menuju ke sana pun memprihatinkan. Banyaknya truk pengangkut hasil penambangan kapur, membuat jalan menuju Gua Pawon dan sekitarnya mengalami kerusakan yang cukup parah. Selain itu, di lokasi situs sejarah ini banyak hasil vandalisme pengunjung yang menghiasi dinding-dinding gua. Bahkan, di sekitar gua dibiarkan tumbuh semak belukar yang membuat kondisi gua makin tidak menarik. Padahal, selain sebagai situs sejarah, Gua Pawon adalah tempat yang mengasyikan untuk berlatih panjat tebing bagi para pencinta rock climbing. Pemandangan sekitar Gua Pawon pun sangat memanjakan mata. Namun, sepertinya situs prasejarah dan pegunungan karst ini tak akan bertahan lama menghadapi perusakan alam dan ketidakpedulian manusia yang tidak bertanggung jawab. Mereka terus mengeruk kekayaan alam kapurnya tiada henti. Bahkan, tak sedikit yang meruntuhkan bukit-bukit karst itu dengan bahan peledak berkekuatan tinggi. Maka, segeralah ajak anak-anak dan seluruh keluarga anda mengunjungi situs ini, sebelum situs ini hanya tinggal cerita.
No comments:
Post a Comment