Friday, 30 April 2010

Kisah Buku Harian Lamaku

Dear diary, apa kabar ?
Sudah lama sekali aku tidak menggoreskan tinta di atas permukaanmu yang putih polos ini. Bahkan, terakhir kali aku melihatmu, kau sudah berselimut debu di dalam kardus yang berisi kumpulan buku-buku lamaku.
Tapi, begitu aku buka, dalamnya masih utuh, jelas, dan sama meski tintanya sedikit memudar. Bahkan, aku masih bisa tertawa, sedih, dan terharu saat membaca beberapa coretan tanganku yang mirip cakar ayam.
Bagaimana tidak ? Kau telah menemani hari-hariku sejak bangku sekolah menengah hingga empat tahun masa-masa sulit kuliah. Kau bukan hanya tempat curhat dan marah-marah. Kau pun tempat pelampiasanku saat rasa suntuk dan bosan menyerangku.
Akhirnya, kubuka dan semakin kubuka, ternyata masih ada ruang kosong…..Tapi, aku bingung….mau menulis apa yah?
Akhir-akhir ini, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Facebook atau Fb, jejaring sosial yang tengah digandrungi berbagai kalangan dan usia beberapa tahun terakhir ini. Memang, hadirnya Fb sedikit membuatku ketagihan. Fiturnya yang banyak, membuatku rela merogoh kocek lebih dalam, demi akses Fb setiap saat. Tak hanya untuk menunjukkan eksistensi diri, karena bisa menampilkan foto, aku pun bisa menumpahkan unek-unek di Fb. Yang lebih istimewa lagi, orang lain pun dapat langsung mengomentari semua yang mencerminkan perasaanku saat ini.

Jika dulu hal-hal pribadi cenderung aku simpan sendiri di buku harian kecilku yang kusimpan rapi di kamarku. Bahkan, beberapa teman malah menambahkan kunci gembok di buku harian mereka, agar tidak ada seorang pun yang bisa membuka buku hariannya.
Kini, entah mengapa semua orang sepertinya menjadi lebih terbuka karena Fb, termasuk aku. Bahkan, aku bisa memaki-maki orang yang tidak aku sukai sepuas hati.
Lantas, bagaimana nasibmu, buku harian lamaku ???? Akankah kau ditinggalkan karena sudah terlalu kuno atau karena merusak lingkungan ??? Seperti diketahui, kau (buku harian lamaku) tercipta dari hasil menebang pohon-pohon. Sementara, isu global warming semakin hari makin mencuat dan orang-orang sudah mengkampanyekan untuk “paperless” dalam segala hal.
Tapi, tenang saja kawan…..
Aku tahu kau semakin tidak populer bahkan di kalangan ABG yang identik dengan diary. Tapi, aku masih akan memanfaatkanmu. Karena, walau bagaimanapun aku tidak akan sebegitu terbukanya di Fb. Tetap saja ada bagian-bagian hidupku yang tetap jadi “top secret”. Dan bagian itu, hanya akan aku bagi denganmu, bukan orang lain. Karena, berbincang denganmu terasa lebih menyenangkan dan membuatku terbebas dari semua beban hidup. Selain itu, sayang sekali jika halaman-halaman terakhirmu tetap dibiarkan kosong.
Tunggu saja……..

No comments: