Tuesday, 20 April 2010

Me VS Monkey


Pernahkah Anda membayangkan seandainya hidup di zaman pra-sejarah ? Jika tidak, saya akan sedikit menggambarkannya. Tetapi, jangan harap saya akan membahas Freddy “Flinstone” di sini. Karena bukan itu yang ingin saya sampaikan. Walau sedikit mirip, namun kondisi zaman batu yang sebenarnya tidaklah seramai dan semenarik film box office Hollywood itu.

Jika dulu anda tak pernah bolos dalam mata pelajaran Sejarah atau sedikit terantuk, anda akan mengenal beberapa spesies manusia. Maaf bukannya saya kasar, tapi memang itulah sebutan untuk manusia di waktu itu. Sebut saja, “Pithecanthropus Erectus”, “Meganthropus Paleojavanicus”, atau “Homo Neanderthalensis” yang katanya nenek moyang bangsa Eropa.


Persamaan diantara “mereka” cukup jelas, belum terkategori sebagai manusia. Walaupun banyak yang menyangsikan garis keturunannya berlanjut ke masa sekarang, namun bukti-bukti otentik itu tak dapat disanggah lagi. Desa Sampiran, Mojokerto, atau salah satu Lembah di daratan Eropa adalah salah satu tempat ditemukannya sisa-sisa kehidupan “mereka”. Secara fisik, tak ada perbedaan yang substansial antara “mereka” dengan manusia zaman sekarang. Tengok saja bentuknya, “mereka” berdiri dengan dua kaki. Hanya saja, tubuh “mereka” tak setegak orang sekarang, selain itu muka “mereka” pun tampak maju beberapa centimeter (cm) dari pada manusia sekarang. Maka dari itu, “mereka” masih dikatakan sebagai monyet berdiri.

“Mereka” yang hidup di zaman pra-sejarah tak bisa kita sangkal keberadaannya. Pantas saja, Ahli Evolusi Charles Darwin begitu yakin bahwa ia dan umat manusia lainnya adalah keturunan monyet. Terang saja, banyak pihak yang menentangnya dengan alasan terlalu mengada-ada. Darwin memang tidak memperhitungkan teorinya yang sangat mengguncang berbagai kalangan itu. Ia tak berfikir, jika monyet berevolusi, mengapa zaman sekarang masih ada binatang yang disebut monyet ? Pikirkanlah !

Lalu, spesies apakah sesuatu yang bernama “Pithecanthropus Erectus” atau “Meganthropus Paleojavanicus” itu ? Ya, mereka memang pernah ada kita harus mengakuinya. Namun saya pikir, mereka adalah “eksperimen” Tuhan. Tanpa bermaksud apa-apa, namun saya pikir mereka tak cocok dikategorikan sebagai manusia. Ada beberapa perbedaan signifikan antara “mereka” dengan kita.

Di mulai bentuk fisik, “mereka” memang berjalan dengan dua kaki seperti kita. Namun tubuh “mereka” sangat condong ke depan, bungkuk, dan yang paling penting, raut wajah “mereka” yang maju beberapa cm itu tampak bodoh dengan ilustrasi tampak samping. Selama ini tak pernah ditemui ilustrasi “mereka” tampak depan atau belakang. Kurasa anda semua cukup mengerti alasannya.

Kedua, perbedaan tingkat kecerdasan. Anda dapat melihat referensi gaya hidup “mereka” dibandingkan zaman sekarang. Walau sudah cukup sociable dalam rombongan-rombongan kecil, namun “mereka” hanya mampu berteduh di ceruk-ceruk gua. Selain itu, seluruh aktivitas “mereka” hanya didukung dengan batu-batu sederhana yang tersedia di alam. Namun kurangnya volume otak “mereka” ditunjukkan dengan dandanan “topless” “mereka” sehari-hari. Hal ini selalu tergambar dalam setiap buku Sejarah sekolah. Berbeda sekali dengan manusia sekarang yang gaya hidupnya sangat beragam dan semakin tak karuan.

Terakhir, zona waktu “mereka” hidup. “Mereka” hidup disaat populasi dapat dihitung jari, dapat dibayangkan betapa sepinya dunia. Tapi, “mereka” tak pernah khawatir kelaparan. Walaupun hanya mengandalkan kemurahan alam, toh jumlah “mereka” tak akan menghabiskan makanan yang tersedia. Sedangkan kini, manusia tak ubahnya kumpulan daun kering yang terserak di mana-mana. Kini, manusia beranak pinak tak ubahnya tikus-tikus got yang berebut lahan dengan air-air comberan. Manusia pun bergerombol namun bukanlah di ceruk-ceruk gua besar yang gelap. Namun di lorong-lorong sempit yang pengap. Jika tidak, manusia dapat kita temui dengan mudah tergeletak bagai barang rongsok siap angkut di pinggir-pinggir etalase toko. Kini, jangankan mengharap kemurahan alam, dicari pun makanan susahnya minta ampun. Namun, ada tipe-tipe manusia yang meniru “mereka” dengan mengandalkan alam yang tak lagi murah hati. Akhirnya bukan makanan yang didapat, namun mereka hanya bisa mengais gundukan-gundukan penyakit yang bernama “Bantar Gebang”. Cukup miris.

Nah, lewat sedikit perbedaan yang telah diungkapkan, masihkan Anda berfikir jika kita adalah kerabat “mereka” ? Charles Darwin mungkin memang pintar, namun ia tak berbudi. Ia memandang sejarah kehidupan manusia tak jauh berbeda dengan sekumpulan burung di Kep. Galapagos yang ditelitinya. Menurutnya, jika hewan mengalami perubahan dalam bentuk evolusi, kenapa manusia tidak ?

Bukan hal yang salah dengan evolusi. Karena manusia memang mengalami evolusi, namun perubahan fisik manusia tidak separah “Pithecanthropus Erectus” atau “Meganthropus Paleojavanicus” yang sangat ekstrim. Perubahan manusia hanya pada ukuran saja. Tengoklah kuburan orang-orang zaman dulu, pusara mereka lebih panjang beberapa puluh centi, dibandingkan manusia sekarang. Inilah bukti yang lebih kuat, jika manusia zaman dulu lebih tinggi, dibandingkan manusia sekarang. Namun bentuk muka atau tingkat kecerdasan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia sekarang. Hal ini tercermin dari hyeroglif zaman Mesir Kuno atau bangunan Candi yang tersebar di seantero Jawa. Manusia dulu sudah pintar bukan ? Bahkan mungkin lebih pintar dari manusia sekarang yang kebanyakan tak kreatif, plagiat, dan hanya bisa mencuri (korupsi).

Lalu bagaimana dengan “mereka” ? Masih adakah sisa-sisa mereka di zaman sekarang ? Seperti di awal diungkapkan, saya rasa Tuhan Yang Maha Kuasa telah memperhitungkan, bahwa mereka tidak akan mampu bertahan di zaman seperti sekarang. Banyak cerita pemusnahan Tuhan bagi mahluk-mahluknya yang dinilai kurang sempurna. Ilmu mencatat, dunia pernah mengalami masa Pleistosen atau dikenal dengan zaman es. Tak menutup kemungkinan “mereka” tak mampu melewati zaman itu yang terkenal berkali-kali lipat dinginnya dengan Kutub Selatan. Wallahualam.

Sudah ah, tak penting juga membicarakan hal yang tidak jelas keberadaannya. Intinya saya tidak setuju dengan pemikiran Darwin, karena saya masih lebih percaya agama saya dari pada Ilmuwan Inggris yang belum tentu beragama.

No comments: