![]() |
| sxc.hu |
‘Cause the hardest part of this…is leaving you….’
Ujung reffrain “Cancer” milik My Chemical Romance ini
sungguh menyayat hati. Bertutur tentang bagaimana rasanya berada di ujung
kehidupan, terasa sangat menyakitkan bagi siapa pun. Kematian, entah apa pun
sebabnya, akan menyisakan pilu bagi orang-orang terdekatnya.
Bahkan, Islam mengibaratkan kematian sebagai bentuk kiamat
sugro bagi keluarga yang ditinggalkan. Apa pasal? Ya, kematian memutus semua
hal yang bersifat keragawian bagi seseorang yang mengalaminya. Kematian memutus
jiwa (ruhani) dengan raganya. Kematian memutus hubungan dengan orang-orang di
sekitar. Kematian memutus berbagai nikmat yang pernah dirasakan serta
amalan-amalan ibadah yang biasa dilakukan.
Kematian nyatanya sebuah lingkaran yang akan semakin
mengerucut di setiap dan menghampiri siapa pun. Saat kita kecil, kematian
terasa sangat jauh, karena hanya dialami orang-orang yang jauh. Sanak saudara
masih lengkap, kakek nenek, ibu bapak, paman bibi, dan seterusnya. Barulah,
ketika kematian mendatangi kita yang paling dekat, seketika terasa bahwa
kematian tengah mengintai. Itu pun jika kematian datang sesuai urutan usia.
Padahal, saat ini kematian tak selalu datang dari silsilah umur tertua. Banyak
orang tua renta yang sudah sakit-sakitan, tapi didahului oleh mereka yang masih
muda, sehat dan tampak kuat.
Banyak tokoh agama yang bilang, jangan kau takut pada
kematian. Karena sesungguhnya, kita hanya berkunjung di dunia ini. Layaknya orang
berkunjung, ada waktunya datang dan pergi. Namun, siapa pun tak akan siap
menghadapi kematian, seorang ustadz sekalipun. Dalam arti, keikhlasan kita pada
saat kita harus kembali pulang, harus menyerahkan kehidupan ragawi yang sangat
menyenangkan pada Snag Empunya. Sulit!!!
Rasa takut pun akan membayangi kita, karena perilaku kita
selama berkunjung di dunia ini, tidak selalu benar. Semua yang kita lakukan pasti
harus dipertanggungjawabkan pada Sang Khaliq yang sudah memberikan kesempatan
selama di dunia. Jika kesempatan itu malah disia-siakan, sang Khaliq tidak akan
suka. Ketakutan akan kematian adalah apa yang akan kita hadapi setelah kematian
itu sendiri.
Bagi orang beriman, jalan kematian setiap orang dipercaya
ditentukan oleh tindakan selama di dunia. “Apa yang kau tanam, itu yang kau
tuai”, begitulah peribahasa menjabarkan. Orang beriman percaya, kita akan
meninggal dalam berbagai cara tergantung dari baik atau buruknya kita hidup. Tak
hanya itu, apa yang sudah kita lakukan selama di dunia, akan menjadi penolong
setelah kita mati. Saya percaya!!!
Tapi, jangan lupa manusia hidup di dunia selain didampingi
malaikat juga disertai jin dan iblis. Maka, tak akan selamanya manusia berbuat
kebajikan selama di dunia. Mungkin sedikit aneh, ketika Sang Khaliq mengirim
manusia di dunia, ia menyertakan malaikat dan iblis yang berbeda peran. Tapi,
ketika pulang manusia berharap lebih banyak amalan baik dibanding yang buruk. Jelas, Sang Khaliq sedang menguji. Ia menawarkan Surga, namun menciptakan pula neraka.
Padahal, tak ada seorang pun manusia yang ingin masuk neraka. Itulah, karena
sang Khaliq sebenarnya memperingatkan kita agar tidak masuk neraka. Namun,
ketika di dunia, banyak orang yang lupa akan perjanjiannya dengan Sang Khaliq
saat masih di Lauhil Mahfudz. Umumnya, mereka teringat janji itu pada saat
kematian datang menjemput. Akhirnya, sudha tak ada waktu untuk memperbaikinya,
karena waktu berkunjung sudah habis. Mau tak mau, suka tak suka, ia harus pergi
dari dunia ini. Maka dari itu, tak ada salahnya untuk selalu mengingat
kematian, karena itu bukan hal tabu. Justru kita harus lebih banyak mengingat
mati daripada memikirkan urusan duniawi.
Sulit? Jelas, ini hal yang sulit.
Gemerlap dunia ibarat
magnet yang selalu menyedot nafsu manusia. Tak heran, banyak manusia yang lupa diri ketika masih di dunia. Tak ingat perjanjiannya dengan Sang Khaliq akan waktunya, sampai tiba-tiba diminta pulang. Manusia mati dalam keterkejutan dan tanpa persiapan. Bahkan, ada yang bilang, manusia yang kini menunggu di alam Barzah, banyak yang menyesal karena tak pernah berbuat baik dan beribadah selama hidup. Mereka menangis dan berharap bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki kesalahannya. Namun, ajal sudah ditentukan untuk setiap orang dan yang mati tak bisa kembali. Jangankan ketika sudah dihadapkan pada pilihan Surga dan Neraka, manusia mati di alam Barzah pun akan mendapat balasan atas perbuatannya selama di dunia.
Kematian adalah keniscayaan......
Jangan terlalu anggap enteng kematian, tapi jangan terlalu takut untuk kita pulang nanti. Takutlah jika kita tidak bersiap diri menghadapi kematian dengan amalan-amalan yang baik. Hidup seimbang dengan berusaha sebaik-baiknya ketika di dunia seperti akan hidup selamanya dan ibadahlah serajin-rajinnya seakan besok hari kematian kita.
Kematian adalah keniscayaan......
Jangan terlalu anggap enteng kematian, tapi jangan terlalu takut untuk kita pulang nanti. Takutlah jika kita tidak bersiap diri menghadapi kematian dengan amalan-amalan yang baik. Hidup seimbang dengan berusaha sebaik-baiknya ketika di dunia seperti akan hidup selamanya dan ibadahlah serajin-rajinnya seakan besok hari kematian kita.

No comments:
Post a Comment