![]() |
| demo mahasiswa (google.com) |
Miris memang. Aksi yang diawali dari mosi tidak percaya yang dilemparkan bagi para anggota DPR ini, disertai dengan berbagai rumor yang masih simpang siur. Bahkan, tuntutan unjuk rasa pun kian melebar. Dari yang awalnya berupa ketidakpuasan terhadap revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK), RUU KUHP, RUU Pemasyarakatan, RUU Agraria, dan beberapa produk DPR yang terkesan terburu-buru di akhir masa jabatan. Ada pula yang meneriakkan untuk menuntut Presiden Joko Widodo (Jokowi) mundur. (Padahal ia dilantik saja belum).
Sejatinya, demonstrasi mahasiswa ditujukan untuk DPR yang terkesan tidak menggubris aspirasi rakyat, untuk menunda pengesahan RUU-RUU di atas. Mereka yang habis masa jabatannya September 2019 ini, seakan 'ngebut' mengesahkan UU yang tentu akan diaplikasikan bagi lima tahun ke depan minimal.
Sayangnya, entah karena 'ngebut' tadi atau sengaja untuk mengkerdilkan peran KPK, banyak pasal-pasal di dalamnya yang dianggap sejumlah kalangan dapat menjaid indikasi pelemahan terhadap lembaga anti rasuah tersebut. Pun dengan RUU lainnya, yang banyak memunculkan pasal-pasal karet, pasal kontroversial, dan dianggap kurang masuk akal. Bahkan, ada tuduhan pembuatan RUU-RUU ini hanya untuk memuaskan sebagian golongan. Wallahualam bisshowab.....
Yang past, gelombang unjuk rasa, yang mulai bergema sejak tanggal 22 September 2019 ini, semakin hari semakin mengkhawatirkan banyak pihak. Di satu sisi, demonstrasi adalah media bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasinya di hadapan pemerintah. Entah itu, pemerintah eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Namun, demonstrasi juga rentan dengan aksi provokator yang bisa berakhir pada tindakan anarkis, berupa pengrusakan fasilitas-fasilitas umum, mengganggu ketertiban, bahkan berujung bentrok antara peserta unjuk rasa dengan aparat keamanan hingga dapat menyebabkan cidera bahkan kematian.
Jika sudah begini, semua pihak mengalami kerugian materil dan immateril. Imbas yang lebih mengerikan adalah stabilitas perekonomian, sosial dan politik di negeri ini akan terganggu atau lumpuh. Tengok saja gelombang unjuk rasa jelang Era reformasi tahun 1998 silam. berapa banyak kerugian negara ini yang harus ditanggung?
Tahun 2019, seolah momentum bagi kita terutama para mahasiswa dan mantan mahasiswa yang pernah berunjuk rasa untuk mengenang tahun 1998. Bagaimana kerasnya situasi saat itu, demonstrasi yang sangat melelahkan dnegan berbagai aksi mahaisswa yang berargumen politik cukup keras, dan berapi-api untuk menumbangkan rezim orde baru. Kerasnya situasi saat itu, dapat digambarkan sejumlah poster yang jadi senjata para mahasiswa dalam menyuarakan aspirasinya. Selain TOA dan microphone yang menggelegar untuk menyerukan yel-yel perubahan, poster-poster bernada sarkastik dan sangat tajam dapat membuat pemerintah cukup terganggu. Tak sedikit tulisan gob***, anj***, dan ungkapan kasar lainnya.
Tapi, anehnya, naskah-naskah poster dalam aksi unjuk rasa tahun 2019, sedikit berbeda dari tahun 1998 silam. Secara zaman, memang ada perbedaan kehidupan sosial budaya pada mahasiswa di era 1998 dengan saat ini. Mahasiswa saat ini atau yang biasa disebut kaum millenial, adalah generasi yang lahir ketika sudah era gadget dimana ada kemudahan gelontoran informasi yang sangat banyak. Mereka hidup di era internet dan digital 4.0, dimana sudah terbiasa dengan pola pikir yang kreatif dan unik. Hal-hal yang terlihat biasa pun, ditangan kaum millenial bisa jadi luar biasa.
Contohnya, generasi saat ini sangat lekat dengan berbagai meme yang biasanya diambil dari sesuatu yang sedang viral (booming) di masyarakat. Lihat saja, saat di luar negeri sedang viral-viralnya "Ice Bucket Challenge", esok lusa, kaum muda di Indonesia sudah berlomba-lomba membuat video tantangan itu.
Hal ini pun dapat dilihat dari gelaran aksi unjuk rasa yang beberapa hari ini turut mewarnai layar televisi, media massa mainstream, hingga berbagai media sosial yang banyak dipakai anak-anak muda.
Diantara sekian tuntutan mahasiswa pada pemerintah, terselip sejumlah poster menarik, unik, dan nyentrik dalam tata bahasanya, yang membuat awak media dan aparat terpaksa menyunggingkan senyum di sela-sela tugas mereka mengamankan demonstrasi. Alhasil, poster-poster ini sedikit mencairkan suasana unjuk rasa di tengah teriknya mentari tropis.
![]() |
| poster unik demo mahasiswa (google.com) |


No comments:
Post a Comment