Wednesday, 1 September 2021

Cerita Vaksinasi Covid-19

Mungkin agak telat yaa...kalo bicara vaksinasi Covid-19, saat ini. Tapi, saya memang kebagian vaksinasi terbilang telat, ketika yang lain sudah dua kali suntik bahkan mau yang ketiga kalinya (booster). Saya baru mendapat vaksinasi Jumat, 27 Agustus 2021 kemarin. Tak apa-apa, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali khan..?
Nah, bicara vaksinasi ini, saya termasuk orang yang sedikit termakan hoax, akibat banyak membaca berita-berita terkait fek vaksinasi. Belum lagi cerita-cerita di sosial emdia atau obrolan dari mulut ke mulut. Alhasil, saya perlu memantapkan hati untuk OK...saya mau divaksin!! Saya anggap vaksinasi adalah proses ihtiar terakhir dalam usaha menghindari Covid-19 yang sempat menggila pada Juli - Agustus kemarin, karena varian Delta. Vaksinasi ini memang menjadi program pemerintah dalam upaya mendapatkan herd immunity atau kekebalan kelompok dalam mengatasi penyebaran Covid-19. Artinya, ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular tertentu, sehingga memberikan perlindungan tidak langsung atau kekebalan kelompok bagi mereka yang tidak kebal terhadap penyakit menular tersebut. Yaa....intinya, vaksinasi akan memperkecil kemungkinan penyebaran virus, karena jika orang yang sudah divaksin, seandainya terkena Covid-19 (amit amit....), tidak akan merasakan gejala yang parah. Ada beebrapa pilihan jenis vaksin yang diberikan pemerintah dalam program vaksinasi Covid-19. Mulai dari Sinovac, Sinofarm, Pfizer, Moderna, Astrazeneca dan lain-lain. Kebetulan saya dapatnya vaksin Sinovac yang kadar efektivitasnya cukup rendah yakni sekitra 56%. tapi tak mengapa, toh tetap dapat dijadikan pertahanan diri terhadap virus ini. Pertama kali mendaftar vaksinasi dan mendapat jadwal vaksin pertama kali, tentu ada rasa gugup dan deg-degan. maklumlah, tubuh kita yang sedang sehat dimasukkan virus yang sudah dilemahkan, bisa jadi efeknya beragam. Ini pula yang menjadi salah satu ketakutan saya. Takut efek yang dirasakan setelah vaksinasi dilakukan. Tapi, alhamdulillah ternyata apa yang saya dan mungkin peserta vaksin pertama kali lainnya duga, tidak terjadi. Saya termasuk penerima vaksin yang tidak merasakan gejala apa pun pasca vaksinasi. Hanya sedikit merasa lapar dan kebas di area suntik di tangan kiri. Namun, ada beberapa cerita yang mengalami efek beragam, mulai dari mengantuk, lemas, kebas di tangan, dan demam. Hal ini bisa saja terjadi, tergantung pada kondisi tubuh saat menerima vaksin. Anak kecil saja saat diimunisasi ada yang kemudian demam. Namun, seiring waktu hal ini akan menghilang. Pemberian vaksin Covid-19 dilakukan rata-rata dua kali, bahkan ada yang tiga kali (umumnya untuk para nakes). Meski begitu, ketersediaan vaksin juga turut mempengaruhi laju ekcepatan untuk mencapai herd immunity. Pasalnya, untuk wilayah jabar saja yang memiliki penduduk lebih dari 50 juta, stok vaksin dari pemerintah pusat baru sekitar 13 juta vaksin. Hal ini tentu sangat berpengaruh terhadap capaian vaksinasi yang sudah dilakukan. Selain itu, proses sosialisasi informasi sentra-sentra vaksin serta edukasi bagi masyarakat yang antivaks, perlu dijalankan terus-menerus. Tujuannya, supaya masyarakat mau mengikuti program pemerintah dan mau divaksinasi. Salah satunya, dengan mengurangi berita-berita hoax yang emmbuat masyarakat takut atau tidak mau divaksin. Pada pelaksanaan vaksinasi yang saya lakukan di tahap pertama, alhamdulillah, berjalan lancar dan tidak terjadi penumpukan peserta yang menyebabkan kerumunan. panitia cukup solid dan tanggap dalam mengakomodasi seluruh peserta vaksin dan mengatur proses vaksinasi dari awal kedatangan hingga selesai. Bahkan, untuk mengapresiasi masyarakat yang sudah bersedia divaksin, sentra-sentra vaksin memberikan bingkisan bagi para peserta vaksin.

No comments: