Dear diary, apa kabar ?
Sudah lama sekali aku tidak menggoreskan tinta di atas permukaanmu yang putih polos ini. Bahkan, terakhir kali aku melihatmu, kau sudah berselimut debu di dalam kardus yang berisi kumpulan buku-buku lamaku.
Tapi, begitu aku buka, dalamnya masih utuh, jelas, dan sama meski tintanya sedikit memudar. Bahkan, aku masih bisa tertawa, sedih, dan terharu saat membaca beberapa coretan tanganku yang mirip cakar ayam.
Bagaimana tidak ? Kau telah menemani hari-hariku sejak bangku sekolah menengah hingga empat tahun masa-masa sulit kuliah. Kau bukan hanya tempat curhat dan marah-marah. Kau pun tempat pelampiasanku saat rasa suntuk dan bosan menyerangku.
Akhirnya, kubuka dan semakin kubuka, ternyata masih ada ruang kosong…..Tapi, aku bingung….mau menulis apa yah?
Akhir-akhir ini, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Facebook atau Fb, jejaring sosial yang tengah digandrungi berbagai kalangan dan usia beberapa tahun terakhir ini. Memang, hadirnya Fb sedikit membuatku ketagihan. Fiturnya yang banyak, membuatku rela merogoh kocek lebih dalam, demi akses Fb setiap saat. Tak hanya untuk menunjukkan eksistensi diri, karena bisa menampilkan foto, aku pun bisa menumpahkan unek-unek di Fb. Yang lebih istimewa lagi, orang lain pun dapat langsung mengomentari semua yang mencerminkan perasaanku saat ini.