Sunday, 17 October 2010

“Cinta Kilat Ga Pake Syarat”

Kedengarannya tak adil. Tapi itulah CINTA, emang ga bisa dimengerti. Pernah mengalami ? Atau mungkin orang terdekat kita ada yang pernah mengalaminya ? Jangan anggap bodoh orang itu, karena ga nutup kemungkinan kita sendiri pun akan mengalaminya. Benar, ini kejadian dialami salah satu yaa.. bisa dibilang teman yang cukup akrab. Namun jangan beranggapan, saya sendiri “korbannya”. Karena sampai kapan pun aku tak akan mengalami yang namanya CINTA kilat (surat kalee kilat khusus…). Tahu apa sebabnya ? seumur hidup aku belum pernah mempercayai orang terdekat sekalipun, gimana mau CINTA kilat coba ? Ok, back to topic, temen aku itu, memang orang yang sedang limbung (kayak pingsan aja limbung) mencari partner hidupnya. Bukan apa-apa, seiring bertambahnya umur, tekanan untuk melangkah ke jenjang perkawinan makin kencang. Kalau difikir-fikir cukup bikin telinga merah dan otak jangar. Namun, dengan semangat menggebu-gebu ia pun selalu pasang strategi tiap bertemu calon yang dikira cocok. Bahkan saking gigihnya, ia tak peduli lagi ongkos demi menjalin komunikasi dengan si-Dia. Yah, namanya juga usaha.

Friday, 30 April 2010

Kisah Buku Harian Lamaku

Dear diary, apa kabar ?
Sudah lama sekali aku tidak menggoreskan tinta di atas permukaanmu yang putih polos ini. Bahkan, terakhir kali aku melihatmu, kau sudah berselimut debu di dalam kardus yang berisi kumpulan buku-buku lamaku.
Tapi, begitu aku buka, dalamnya masih utuh, jelas, dan sama meski tintanya sedikit memudar. Bahkan, aku masih bisa tertawa, sedih, dan terharu saat membaca beberapa coretan tanganku yang mirip cakar ayam.
Bagaimana tidak ? Kau telah menemani hari-hariku sejak bangku sekolah menengah hingga empat tahun masa-masa sulit kuliah. Kau bukan hanya tempat curhat dan marah-marah. Kau pun tempat pelampiasanku saat rasa suntuk dan bosan menyerangku.
Akhirnya, kubuka dan semakin kubuka, ternyata masih ada ruang kosong…..Tapi, aku bingung….mau menulis apa yah?
Akhir-akhir ini, aku memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Facebook atau Fb, jejaring sosial yang tengah digandrungi berbagai kalangan dan usia beberapa tahun terakhir ini. Memang, hadirnya Fb sedikit membuatku ketagihan. Fiturnya yang banyak, membuatku rela merogoh kocek lebih dalam, demi akses Fb setiap saat. Tak hanya untuk menunjukkan eksistensi diri, karena bisa menampilkan foto, aku pun bisa menumpahkan unek-unek di Fb. Yang lebih istimewa lagi, orang lain pun dapat langsung mengomentari semua yang mencerminkan perasaanku saat ini.

Thursday, 22 April 2010

Gua Pawon dan Eksistensi Karst Padalarang

Buat para penikmat film Hollywood tentu tak asing dengan trilogy “The Lord of The Ring”. Film apik yang dibintangi Elijah Wood, Orlando Bloom, dan sederet bintang Hollywood ternama ini, selain menyajikan alur cerita yang detail, juga pemilihan lokasi syuting yang eksotis. Salah satunya pegunungan kapur yang konon berada di New Zealand yang masih asri. Nah, untuk para petualang alam liar dan bebas namun tidak berkantong tebal, tak perlu jauh-jauh ke New Zealand untuk menikmati keindahan alam bak di film trilogy “The Lord of The Ring”. Bahkan, kita dapat menikmati eksotisme alam seperti di film yang diangkat dari novel karya JRR. Tolkin itu, di wilayah priangan, tepatnya di Pegunungan Karst (Peg. Kapur) Cipatat, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari Kota Bandung, kita sudah mampu menyaksikan keindahan karst yang terletak di kiri kanan jalan.
Memang, pegunungan karst ini telah terbentuk sejak zaman purba. Kawasan ini diyakini sebagai bagian dari cekungan danau Bandung yang pernah dihuni oleh manusia pra sejarah. Mengingat tak jauh dari kawasan pegunungan ini, ahli purbakala menemukan sebuah gua yang diberi nama Gua Pawon. Yaa, di sekitar pegunungan karst Padalarang memang terdapat gua karst yang telah ada sejak zaman pra sejarah. Lokasi pegunungan karst yang ada di Padalarang ini kaya akan kandungan kapur dan batu alam lainnya untuk kebutuhan industri. Kawasan pegunungan karst ini pun dimanfaatkan sebagai mata pencaharian utama warga Cipatat dan sekitarnya. Maka, sejak tahun 70-an, kawasan ini telah terekspos dan banyak dieksploitasi warga. Terkait penemuan Gua Pawon, masyarakat sekitar awalnya menganggap tempat ini sangat keramat dan angker. Selain lokasinya yang terletak di tebing karst, dijadikan sarang ribuan kelelawar, di Gua Pawon telah ditemukan fosil kerangka manusia prasejarah yang disebut Manusia Pawon.

Tuesday, 20 April 2010

Me VS Monkey


Pernahkah Anda membayangkan seandainya hidup di zaman pra-sejarah ? Jika tidak, saya akan sedikit menggambarkannya. Tetapi, jangan harap saya akan membahas Freddy “Flinstone” di sini. Karena bukan itu yang ingin saya sampaikan. Walau sedikit mirip, namun kondisi zaman batu yang sebenarnya tidaklah seramai dan semenarik film box office Hollywood itu.

Jika dulu anda tak pernah bolos dalam mata pelajaran Sejarah atau sedikit terantuk, anda akan mengenal beberapa spesies manusia. Maaf bukannya saya kasar, tapi memang itulah sebutan untuk manusia di waktu itu. Sebut saja, “Pithecanthropus Erectus”, “Meganthropus Paleojavanicus”, atau “Homo Neanderthalensis” yang katanya nenek moyang bangsa Eropa.


Sunday, 18 April 2010

Cordon, Without Chicken Steak blue !!!

Cordon, Without Chicken Steak blue !!!

Ada yang bilang “enak!” saat kusebut namamu
Ada yang bilang, “Wow, benar-benar berkelas !” padamu
Bahkan, air liur pun akan menetes
Bila di meja terlihat sesuatu yang serupa namamu

Tapi, mereka salah!!!
Namamu memang sama dengan maksud semua orang
Aku pun begitu saat pertama mendengarmu

Kini, yang kuingat darimu….
Kau bau, sampai hidungku sakit menciumnya
Kau ruwet, hingga aku sesak melintasimu
Dan yang pasti, kau menjijikkan!!!

Saat ku melewatimu,
Pusing kepalaku dibuatnya
Tapi, tua, muda, pria, wanita, dan anak-anak
Jongkok berdesak-desakan di bibir trotoar
Asyik membujuk pedagang nakal yang semena-mena tawarkan harga
Tak peduli pantat mereka hampir tergilas kendaraan yang lewat di depanmu

Namun, bagaimanapun keadaanmu
Orang-orang tak kan meninggalkanmu
Kau selalu ramai sepanjang hari
Beragam barang terpampang di dekatmu
Pisang, aneka sayur, hingga beragam sandang murah

Yaa…Pasar Cordon.
Itulah dirimu, sudut kecil keramaian kota yang terpinggirkan
Hiruk pikuk yang selalu dinantikan
Jangan bandingkan dirimu dengan “Cordon” yang lain
Walau kau tak enak, tak berkelas, dan tak mungkin ada di meja makan
Namun banyak orang mengandalkanmu
Mengais-ngais rezeki di balik tumpukan sampah yang menutupimu.

Thursday, 11 March 2010

Menerawang Gn. Padang

Iring-iringan yang membawa berbagai persembahan tampak khidmat menaiki satu persatu anak tangga batu di jalan setapak yang menanjak sekitar 45 derajat. Sementara, paduan musik alam yang berasal dari balok batu segi lima di puncak bukit menghasilkan bebunyian melengking laksana gamelan Bonang dan Saron, menambah suasana sakral. Akhirnya, rombongan pun tiba di atas bukit meski belum mencapai altar persembahan. Masih ada sekitar lima tahap menunju puncak punden berundak yang tersusun dari batu-batu andesit sepanjang satu hingga tiga meter dengan bentuk segi lima atau segi empat.

Mungkin seperti itulah gambaran suasana pemujaan yang dilakukan kurang lebih 3.500 tahun lalu oleh manusia purba di Gunung (Gn.) Padang, yang masih menganut ajaran Dinamisme. Konon, lokasi altar pemujaan punden berundak di Gn. Padang yang menghadap ke arah Utara dimaksudkan untuk menyembah Gn. Gede yang berada tepat di sebelah Utara Gn Padang. Kini, lokasi Gn. Padang yang berada di Desa Karyamukti, Kec. Campaka, Kab. Cianjur ini, menjadi salah satu situs purbakala zaman Megalithikum yang masih menggunakan batu-batu berukuran besar.