Friday, 26 September 2014

Dilema Ibu Pekerja



Orang bilang pengalaman adalah guru yang paling berharga. Hal ini pun ternyata saya alami dalam kehidupan selama ini. Mungkin kehidupan yang dijalani terkesan biasa-biasa saja, tanpa ada masalah yang sangat serius, namun berbagai hal bahkan yang terkecil sekalipun sangat berpengaruh terhadap hidup saya. Semuanya dapat menjadi pelajaran berharga bila dicermati. Salah satunya pengalaman saya menjadi seorang ibu tak lama setelah menikah.
(http://www.google.co.id/imgres)

Friday, 19 September 2014

Konjungtivis Vernalis



Jika melihat namanya, istilah ini cenderung dekat dengan istilah kesehatan. Betul sekali, ini adalah bahasa kerennya sakit mata yang ciri-cirinya dapat terlihat dari warna mata yang kemerahan dan sangat tidak nyaman bagi penderitanya. Seperti yang sedang saya alami tiga hari ini. Secara fisik, penyakit ini tidak banyak berpengaruh pada aktivitas saya baik di rumah maupun di tempat kerja. Pasalnya, seluruh tubuh saya masih dapat beraktivitas, berjalan, makan, dan menulis dan lain-lain. Namun, jika dilihat dari sisi kenyamanan, penyakit ini dapat membuat penderitanya malas beraktivitas. Mengapa? Siapa sih yang tak merasa risih beraktivitas terlebih di luar rumah dengan kondisi mata yang kemerahan, sering berair, bahkan selalu keluar kotoran (belek).
www.google.com

Monday, 15 September 2014

The Marriage



Menikah, mungkin itu adalah pengalaman yang diinginkan sebagian besar para gadis. Termasuk aku.....secara, banyak wanita yang tak ingin menjadi perawan tua. Tapi, menikah ternyata bukan hanya usaha mengganti status. Ada banyak hal yang bahkan masih tak kumengerti, meski sudah menjalaninya sendiri. Satu lagi, meski namanya sama, MENIKAH tapi pengalaman yang akan didapat setiap orang berbeda-beda.
Empat tahun lalu, kuputuskan mengakhiri masa lajangku. Umurku baru 27 tahun waktu itu. Ups, buat wanita ternyata menikah diusia segitu sudah cukup tua lho.....bahkan, jauh sebelum usiaku 25 tahun, pertanyaan “Kapan nikah?” sudah sering aku dengar dari kerabat terutama nenek. Padahal, umur 20an, aku masih harus berkutat dengan penelitian skripsi di kampusku. Boro-boro pengen cepet menikah. Tapi namanya juga orang tua, selalu khawatir ga kesampaian melihat anak cucunya menikah, atau anaknya telat menikah dibanding anak-anak gadis tetangga.

Wednesday, 9 July 2014

Mbok Nah Part I




Pagi itu udara terasa begitu dingin. Memang belum cukup waktu disebut pagi, lebih tepatnya dini hari. Ya, udara bulan Desember memang tidak begitu bersahabat kali ini. Dan waktu dini hari adalah saatnya untuk semakin merapatkan selimut tebal dan menggulung badan di peraduan. Namun bagi Mbok Nah, waktunya hampir habis. Ia beringsut dari do’a panjang yang ia panjatkan di sepertiga malam itu. Dikenakannya kerudung lusuh yang tergantung di dinding gedeknya, tak lupa ia sandang tas butut yang tergeletak di sudut dipannya. Dengan langkah gontai ia buka pintu depan rumahnya, brrrrr…..seketika angin malam yang menusuk kulit membuatnya merapatkan baju hangatnya yang tipis. Di punggungnya yang mulai renta, selusin cobek tanah liat dipanggulnya dalam bakul bambu yang diikat stagen layaknya jamu gendong.  
Lima belas menit perjalanannya terasa begitu panjang, hingga ia menemukan keramaian yang ditujunya. Pasar Glempang. Mata Mbok Nah nanar mencari tempat duduk. Tak lama ia temui tempat yang strategis untuk menjajakan cobek yang diambilnya dari Juragan Kardi tempo hari. Emper toko mas yang masih tutup, bersebelahan dengan penjual aneka macam sayuran. Walau kantuk menyerang, ia bertekad menjual habis cobek-cobek sebesar piring makan itu. Pikirannya melayang pada sosok pucat yang terbujur tak berdaya di gubuk reotnya. Mbah Karyo. Orang yang selalu ada disisinya setelah setengah abad ia mengarungi bahtera rumah tangga.

Pilpres yang Bikin Stres



Dimasa kampanye untuk pemilihan presiden 9 Juli 2014 mendatang, beragam cara dilakukan tim sukses masing-masing kubu untuk memenangkan calon yang mereka usung. Selain menonjolkan visi dan misi yang sudah disampaikan masing-masing calon, cara-cara tak rasional pun sering ditempuh untuk mendongkrak elektabilitasnya. Terlebih jika hasil polling yang dilakukan berbagai media survei menunjukkan adanya penurunan kemungkinan perolehan dukungan suara dari masyarakat.
Tak jarang, cara-cara tak sehat ini malah lebih mudah dilakukan untuk mempengaruhi para pemilih yang masih belum menentukan pilihannya. Bahkan, kini masyarakat seolah sudah terbiasa dengan yang disebut kampanye hitam (black campaign) dan kampanye negatif. Berita-berita yang belum tentu benar dihembuskan masing-masing tim sukses calon presiden tentang calon presiden lawan.