Tuesday, 25 November 2014

Film



Saya dan suami adalah penikmat berbagai genre film. Kalo saya suka film drama, action, komedi dan kolosal. Untuk film horor tidak terlalu suka, karena kadang terlalu menakutkan dan suka terbawa mimpi. Kalo suami, ia lebih suka film kolosal, dongeng, dan action. Kebetulan kami mengoleksi banyak film yang kebanyakan masih dalam format blue ray. Bukan apa-apa, semua film koleksi ini saya dapat dari rekan kantor yang suka manfaatkan fasilitas download gratis modemnya. Alhasil, beratus-ratus mega byte film ia download, meski itu illegal. Tapi, kami hanya putar film di kalangan sendiri, tidak untuk diedarkan kembali.
Saking banyaknya film yang di-download, kadang-kadang rekan saya itu agak curang. Film yang belum tayang atau belum rilis di bioskop pun ia sudah punyai format blue ray-nya. Jangan bicara soal kualitas, karena untuk nonton di komputer atau laptop sih, film-filmnya sudah cukup bagus. Bahkan sudah dilengkapi subtitle-nya. Hebat kan!
sxc.hu
Saya sendiri selalu menonton film yang kami miliki di rumah via laptop kecil kami. Meski harus berdesak-desakan dengan suami, toh kami sudah merasa senang, apalagi hiburan yang disajikan televisi kini sudah tidak banyak yang bagus. Mending nonton film di laptop.

Ulang Tahun



Ada yang menyebutnya, hari lahir, ada yang menyebutnya milad, tepang taun (bahasa Sunda). Tapi, intinya, ini peringatan hari kelahiran seseorang yang sering disambut bahagia. Tak ayal, ucapan selamat pun mengalir deras dari orang-orang terdekat, sahabat, kolega dan siapa pun yang mengingat hari lahir kita.
sxc.hu
Tapi, tahukah sebenarnya, usia manusia semakin berkurang setiap tahunnya? Jadi, jika ada yang berbahagia menyambut datangnya hari lahir, berarti ia tidak menyadari jika umurnya semakin berkurang. Lantas mengapa harus dirayakan? Bukankah alangkah baiknya seseorang yang sudah menginjak di tanggal kelahirannya, ia merenungi apa yang selama ini telah dilakukan dalam hidupnya. Apakah hidupnya lebih banyak melakukan hal-hal positif atau sebaliknya?

Monday, 17 November 2014

Hari Ayah



“Untuk ayah tercinta dengarkanlah, aku ingin berjumpa....., walau hanya dalam mimpi....”
Semua orang pasti hapal dengan lirik lagu yang populer tahun 1990-an. Lagu yang bercerita tentang ayah ini sangat menyentuh hati, bahkan pendengarnya akan terharu. Pada lagu ini, ada rasa rindu seorang anak pada ayahnya yang mungkin sudah tak tahu rimbanya, apakah masih ada atau sudah tiada.
sxc.hu
Rupanya, tak hanya ibu peran ayah bagi seorang anak pun sangatlah besar. Ya, orang tua yang ideal memang ada dua, yaitu ibu dan ayah. Anak pun akan merasa lebih aman jika kedua orang tua ada untuk dirinya setiap saat. Hanya saja, tidak semua anak mempunyai keberuntungan yang sama, yaitu memiliki dua orang tua yang utuh.

Tuesday, 11 November 2014

Layak Anak



Minggu ini menjadi hari yang naas bagi ibu bernama Evelyn. Ia harus menyaksikan anaknya sendiri tewas mengenaskan di hadapannya, dalam sebuah mall di Jakarta. Padahal selama ini, mall menjadi tempat bermain yang dipandang cukup aman bagi siapa pun. Bocah bernama Amanda yang baru berusia 7 tahun ini tewas seketika setelah kesetrum neon box bertegangan tinggi. Padahal ia tengah duduk disamping ibunya pada sebuah kursi tak jauh dari tempat ayahnya bekerja. Sangat miris.
sxc.hu
Lebih ironis, pihak manajemen mall belum mengeluarkan komentar apa pun, jangankan bertanggung jawab atas kelalaian yang terjadi. Kasusnya kini tengah ditangani kepolisian. Dari sini saya ingin mengungkit kembali, bahasan pemerintah tentang layak anak. Beberapa waktu lalu, Pemprov DKI Jakarta ingin menjadikan Jakarta sebagai kota yang layak anak dengan rencana pembangunan sejumlah taman kota dan ruang terbuka hijau. Artinya layak ditinggali anak-anak. Namun bercermain dari kasus di atas, apakah benar pemerintah dan semua elemen masyarakat lainnya sudah berusaha untuk mewujudkan hal ini?

Monday, 10 November 2014

“President Branding”



Semua orang pasti sering melihat Presiden Jokowi menggunakan baju khasnya, setelan kemeja putih dipadukan celana panjang hitam. Sebagian orang mungkin akan berpikir, “Ah, itu hanya untuk menunjukkan ciri khasnya beliau saja yang memang senang hal-hal sederhana dan lebih merakyat.” Pasalnya, menilik presiden-presiden sebelumnya di Indonesia, belum pernah ada yang sangat “biasa” terutama dalam hal penampilannya. Maklum, presiden adalah orang nomor satu pada sebuah negara yang akan menunjukkan citra dari negara yang bersangkutan. Jika terlihat kurang meyakinkan, pandangan dari dunia luar terhadap negara itu akan terlihat negatif.
all-free-download.com
Tengok saja, presiden Soekarno meski pakaian yang digunakan terlihat sederhana, namun perawakan dan penampilannya sangat negarawan dan tegas. Presiden Soeharto, sedikit lunak meski dari kalangan militer, namun tak pernah lepas jas atau safari yang necis. Demikian pula presiden-presiden selanjutnya hingga berakhir di era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tapi, Presiden Jokowi rupanya ingin menampilkan sisi yang lain dari seorang presiden. Jika orang lain berpikir presiden adalah pejabat yang harus dihormati, Jokowi berpikir lain. Presiden baginya adalah seorang pelayan rakyat, sehingga ia tidak memusingkan seperti apa penampilannya.

Sunday, 9 November 2014

Pahlawan



Hari ini 10 November, adalah hari pahlawan. Beragam cara dilakukan orang untuk merayakannya. Peringatan heroik para pahlawan yang dulu kala merebut kemerdekaan dari para penjajah, tetap menjadi semangat bagi kita untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif. Mungkin arti pahlawan sendiri bagi setiap orang berbeda-beda. Ada yang menganggap pahlawan adalah orang yang membela tanah airnya dari penjajah. Ada pula yang menyebut pahlawan adalah orang yang selalu berbuat baik. Namun ada pula yang melihat pahlawan dari perspektif lain.
ilustrasi ini digunakan karena anak saya suka spiderman
Sebenarnya, setiap orang adalah pahlawan untuk dirinya sendiri. Siapa pun yang mampu membawa dirinya pada arah yang positif dan kemajuan, dia adalah pahlawan. Namun hal seperti ini kurang disadari beberapa orang. Karena ada tipe orang yang terkadang sulit melihat nilai baik pada setiap hal. Atau orang ini tidak dapat menghargai diri sendiri apalagi orang lain, sehingga apa pun yang dilihat dari orang lain adalah sisi negatifnya.

Thursday, 6 November 2014

Balada “Kontraktor”



Siapa pun yang sudah berumah tangga pasti memiliki impian untuk memiliki tempat tinggal sendiri yang nyaman. Tapi masalahnya, tidak semua orang bisa langsung punya rumah begitu menikah. Maklum, pendapatan orang Indonesia belum semuanya tinggi. Karena berbagai faktor dan alasan, akhirnya ada pasangan menikah yang terpaksa masih numpang di Pondok Indah mertua (PMI) maupun menyewa atau istilahnya “ngontrak”.
sxc.hu
Hal ini menjadi pilihan atau mungkin tak ada pilihan lainnya. Namun, masing-masing pilihan ada kelebihan dan kekurangannya. Hal ini saya alami sendiri dalam kehidupan berumah tangga. Selama empat tahun pertama pernikahan bersama suami. Mengingat saya bekerja di kota asal suami, akhirnya suami yang boyong ke rumah mertuanya. Sudah ada pikiran untuk hidup sendiri ketika menikah, tapi saya manut saja karena menurut suami akan lebih menghemat jika tinggal dengan orang tuanya. Lagi pula masih ada ruang yang dapat dipakai untuk kamar kami.

Monday, 3 November 2014

Pleaseee....I Need a Day Care!



Sejak sebelum menikah, bekerja pada sebuah perusahaan sudah menjadi rutinitasku. Bekerja seusai lulus kuliah memang terasa sangat menyenangkan. Selain dapat mengaplikasikan ilmu yang kudapat, bekerja menghasilkan uang. Maka, sejak lulus aku tak mau berlama-lama menganggur. Melamar sana sini demi sebuah posisi dalam perusahaan aku lakukan. Alhamdulillah, gayung bersambut ketika aku diterima di sebuah perusahaan konsultan. Honor yang kuterima dari waktu ke waktu pun terus meningkat seiring lamanya bekerja. Meski, demi pekerjaan ini aku harus rela tinggal kos yang jauh dari rumah orang tua. Tapi, sebagai lajang, aku masih dapat menikmatinya.
sxc.hu
Beberapa tahun bekerja, aku menikah. Dari yang tadinya tinggal kos, akhirnya aku pindah ke pondok mertua indah. Karena sudah terbiasa tinggal berjauhan dari orang tua, aku sih oke-oke saja. Dimana pun aku tinggal, yang penting nyaman dan bisa ditinggali. Singkat kata, setelah setahun menikah aku dikaruniai seorang anak yang lucu. Bahagia rasanya ketika menjalin rumah tangga dan akhirnya hadir si buah hati tak lama setelahnya. Rasanya lengkap sudah hidupku. Namun dibalik itu, seiring pertumbuhan anakku yang kian besar (saat ini anakku berusia 2 tahun lebih), aku mulai khawatir dan dilema.