Thursday, 31 July 2025
pengalaman ku bermain game di warnet
Tuesday, 1 October 2024
Serba-serbi Jurnalistik
Menggeluti bisnis konsultan media, sudah saya jalani selama 11 tahun. Kebetulan, saya ditempatkan di bagian reporter yang bertugas mencari berita dari berbagai narasumber, baik untuk kebutuhan penulisan media internal suatu instansi atau buku. Tentu ada suka dukanya, terutama saat penggalian bahan berita yang mengharuskan saya melakukan wawancara.
Bicara wawancara, sudah banyak sekali tokoh yang saya wawancara. Walaupun bukan wartawan media harian, namun media internal yang kami kelola memiliki jaringan narasumber yang beragam. Mulai dari kalangan dosen, direksi sejumlah perusahaan, Bupati, Gubernur bahkan pernah hingga sekelas menteri. Gugup? Tentu… Tapi, ini tuntutan tugas yang mau tak mau harus dilakukan.
Lantas, apakah saya selalu berhasil tatkala melakukan wawancara bahan berita dengan narasumber saya? Jawabannya, TIDAK!!
Bahkan, saya pernah atau sering merasa frustasi, saat menghadapi narasumber saya. Ingat, karakter orang itu, berbeda-beda. Apalagi jika kita belum kenal sebelumnya. Orang yang kita kenal sekalipun, adakalanya menunjukkan perangai berbeda, saat diajak bicara. Siapa tahu, ia sedang ada masalah, sedang tidak mood atau bahkan sakit.
Saya pernah mewawancara dan berusaha membangun pembicaraan untuk mencairkan suasana. Tapi apa daya, si bapak hanya menjawab seperlunya. Ibaratnya, saya bertanya satu hasta, ia hanya menjawab sejengkal. KEZEL dan GEMESSS! “Apa yang bakal saya tulis nanti, kalau jawabannya tidak memadai?”
Tapi, itulah seninya berkomunikasi dengan orang lain dalam wawancara. Untuk itu, ada baiknya, kata memperhatikan beberapa hal, sebelum melakukan wawancara DENGAN SIAPA PUN.
Pertama, usahakan sebelum mewawancara, kita mengetahui sedikit karakter orang yang akan kita temui. Untuk wawancara dengan beberapa tokoh saya harus melakukan penjadwalan terlebih dulu. Hal ini sangat menguntungkan bagi reporter, karena ada persiapan yang dapat kita lakukan, termasuk mencari tahu sosok seperti apa yang akan menjadi narasumber kita. Zaman sekarang informasi mudah didapat, misalnya dengan Googling. Jika ada orang yang mengenal narasumber lebih dekat secara personal, kita bisa bertanya pada orang tersebut. Banyak sekali caranya. Minimal, kita tahu latar belakang pendidikannya, pekerjaannya, bahkan mungkin sedikit karakter dan personality-nya.
Kedua, berikan kesan yang positif ketika bertemu dengan
narasumber yang akan diwawancarai. Jangan pernah membuat narasumber menunggu di lokasi wawancara. Lebih baik jika kita yang menunggu narasumber siap diwawancara. Beberapa narasumber yang saya temui, penganut ON TIME. Terlebih bagi sejumlah dosen yang pernah sekolah S3 di Jepang. Selain itu, jagalah penampilan kita ketika menemui narasumber. Tidak perlu wah, minimal penampilan yang sopan, rapi dan wangi. Sebab, kondisi kita terkadang mempengaruhi mood selama wawancara berlangsung. Satu lagi, kita harus bersikap ramah yang sewajarnya pada narasumber dan perkenalkan secara singkat maksud dan tujuan wawancara. Jika bisa batasi waktu wawancara agar tidak mengganggu waktu narasumber.
Ketiga, selama proses wawancara berlangsung, berikan pertanyaan yang runut, tidak berbelit-belit dan TO THE POINT. Beberapa narasumber ada yang suka minta Term Of References (TOR) atau draft pertanyaan atau kisi-kisi pertanyaan, sebelum wawancara berlangsung. Selain itu, saat narasumber memberikan jawabannya, usahakan jangan menyela atau memotong penjelasannya. Ini tidak sopan!!!
Keempat, jika narasumber sudah melenceng terlalu jauh dari topik yang ditanyakan dalam wawancara, sebaiknya, segera kembalikan pada topik yang akan ditanyakan. Jika wawancara di awal ditargetkan sekitar setengah jam, usahakan jangan melebihi wkatu yang sudah ditetapkan. Kecuali, jika narasumber sendiri yang menginginkan waktu diperpanjang, karena ia belum selesai menjelaskan jawabannya.Selalu siap sedia dengan alat rekam, meski kamu bawa alat tulis. Sebab, bisa jadi ada informasi yang tidak tercatat, namun masih dapat dicek di rekaman wawancara. Setelah wawancara berlangsung, biasakan untuk mengambil foto narasumber, untuk dokumentasi dan bank data. Tentunya, pengambilan foto harus seijin narasumber.
Kelima, wawancara selesai, bukan berarti komunikasi dengan narasumber juga selesai. Sebab, di lain waktu jika kita membutuhkan narasumber tersebut kembali, ia akan mengingat kita dan tidak sulit ditemui. bahkan, ada beberapa narasumber yang ingin melihat bahkan mengedit naskah yang kita tulis dari hasil wawancara, sebelum dipublikasikan. Sebab, bisa jadi dalam proses wawancara, narasumber memberikan jawaban yang seharusnya OFF THE RECORD. Jika sudah fix, naskah pun dapat kami berikan ke editor atau redaktur untuk diproses selanjutnya.
Masih banyak tips dan trik yang dapat dipraktikkan dalam menghadapi narasumber ketika proses wawancara. Semua ini, ada yang berdasarkan teori, namun sebagian besar didapat dari pengalaman menghadapi narasumber wawancara. Semakin sering melakukan kegiatan wawancara, akan semakin banyak hal baru yang didapat dari berbagai macam karakter narasumber yang dihadapi.
Monday, 11 October 2021
Kisah Politik : Eksistensi Diri Melalui Nama-nama Hewan
Hal ini tak lepas dari pengendalian dan upaya mencapai herd immunity, melalui gencarnya vaksinasi. Bahkan, Jawa Barat sudah melampaui vaksinasi warganya di angka 500.000 vaksin per hari. Walaupun untuk provinsi dengan penduduk sekitar 50 juta jiwa ini, ketersediaan vaksin masih dirasa 'kurang adil', karena hanya di angka 13 juta dosis vaksin dari Pusat.
Perekonomian di level mikro pun belum sepenuhnya pulih, karena PPKM masih ada. Meski setidaknya, untuk daerah PPKM level 2, sudah bisa membuka Pertemuan Tatap Muka (PTM) Terbatas untuk anak-anak sekolah....yeeyyy!!!! Luar biasa, karena hal ini seolah jadi penawar para orang tua yang sudah berkutat dengan PJJ yang bikin emosi.
Lantas, bagaimana dengan bidang politik? Selagi rakyat bergelut dengan berbagai persoalan lainnya, sepak terjang para WAKIL RAKYAT pun cukup dinamis rupanya. Berbagai lobi entah itu terkait Covid atau pun tidak, sudah mereka sumbangkan. Salah satunya, usulan ruang perawatan bintang lima bagi anggota wakil rakyat yang terkena Covid. Ditolak??? Ya sungguh terlalu jika mereka masih memaksakan ini, kalau warga saja banyak yang harus bikin tenda di rumah sakit, waktu terjadi lonjakan Covid.
Tapi, ada pula lho wakil rakyat yang jeli melihat situasi. Mereka visioner sejati yang tahu kapan harus menonjolkan diri. Masa bodoh dengan persepsi dan kritik yang datang silih berganti. Eksistensi.....itu yang terpenting. Apa salahnya tho, mulai tebar pesona,dari pada nanti keburu ga dikenali. Ada yang memasang potret diri dengan kata-kata mutiara menggugah hati, ada pula yang meramaikan poster twibbone dengan background atlet yang meraih medali. Sing penting EKSIS!!!
Semuanya tak ada yang salah, toh itu kan dana mereka.....Hanya, mereka belajar empati ga sich? Mbok ya, dari pada hanya untuk baligo atau poster yang nantinya bakalan kehujanan dan kepanasan, apa ga lebih baik kalau dananya buat sumbangan Covid aja? masih banyak lho, rakyat yang sampai sekarang belum dapat lagi kerja karena di-PHK, atau yang jadi yatim piatu akibat kehilangan orang tua karena meninggal Covid. Tapi, itu kembali lagi ke mereka yaa....
Oiya, hiruk pikuk menuju 2024 pun, udah mulai ramai dibahas kalangan elite yaa....Ada yang terang-terangan siap maju dan gabung di partai, ada yang sudah saling sindir dan berupaya menjatuhkan bakal calon lawannya, bahkan ada pula bakal calon yang ternyata sudah punya relawan lho...Amazing!!! saking amazing, ada yang sudah keki dibuatnya dan menganggap kalau yang tidak satu visi itu bukan banteng melainkan celeng, bebek dan beo...
Se...se...se...iki ngomongin politik opo peternakan yaa? Temenan lho...iki perkara politik. Lha wong, sing ngomong kue jajaran elite koq!!! Ternyata, setelah babak cebong dan kampret berlalu, kirain ga bakalan ada lagi analogi-analogi yang seperti ini. Tapi sepertinya, para elite harus berguru pada ahli Shio China, supaya pemilihan hewan-hewan yang digunakan bisa mandan gagah sedikit, misalnya naga, macan....eh.
Wednesday, 22 September 2021
Ilusi di Masa Pandemi
Thursday, 16 September 2021
Euforia PTMT Emak-emak
Wednesday, 1 September 2021
Cerita Vaksinasi Covid-19
Monday, 9 August 2021
Pawai Obor
| Dok.Pribadi |
Selamat tahun baru Hijriyah, 1 Muharram 1443 H. Ya, bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021 ini, adalah Tahun baru Hijriyah 1 Muharram. Bagi umat Muslim, tahun baru Hijriyah sama istimewanya dengan tahun baru pada penanggalan masehi. Bahkan, bagi kalangan fanatik, seharusnya perayaan tahun baru Islam berlangsung lebih ramai dan meriah dari tahun baru Masehi yang penanggalannya berasal dari Bangsa Romawi.
Wednesday, 30 September 2020
Ade Londok dan S3 Marketing
Beberapa waktu lalu, Bandung dihebohkan dnegan viralnya Odading Mang Oleh yang rasanya Anj*** banget!!!
![]() |
| all-free-download.com |
Terkesan kasar, ngegas dan bahasanya pun belepotan. Tapi, berkat pria bernama Ade Londok ini, Odading Mang Oleh langsung diserbu pembeli bahkan youtuber-youtuber kuliner ternama. Yaa...walaupun, pas diulas sama para Youtuber itu, rasa Odading mang oleh hampir saa dengan odading kebanyakan.....Ya iyalah, da odading mah kitu-kitu keneh, kalo kata orang Sunda mah!!!
Namun, faktanya setelah Odading yang viral ini, di sisi lain banyak marketer andal di luaran sana yang merasa frustasi dengan cara promo Mang Ade Londok. bahkan, di Twitter sempat bertebaran, ajakan marketer buat resign aja, gegara hasil brainstorming strategi marketing bertahun-tahun mereka, langsung kalah sama S3 Marketing ala Mang Ade Londok.
Itulah hebatnya digital media di era 4.0 Bukan hanya disrupsi teknologi, hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang terkesan remeh, nyatanya dapat memecahkan rekor. Lantas, apa sebenarnya yang mmebuat Odading Mang Oleh jadi viral dan laku diserbu pelanggan? Mang Oleh bilang, dari yang awalnya sehari habis sekitar 30 kg tepung untuk bahan odading, setelah viral, warung odadingnya bisa menghabiskan 100 kg tepung per harinya. Keren ga tuh???!!!
Apakah karena rasa odadingnya yang khas? Atau si promotornya Mang Ade Londok itu? Lalu, apa istimewanya si Promotor ini hingga omongannya yang ngegaaas dan belepotan itu bisa menarik banyak pembeli?
Jawabannya bukan pada teknik promosinya, tapi ketulusan dan kepolosan Mang Ade Londok saat mempromosikan Odading Mang Oleh ini. Mungkin dari segi jenjang pendidikan mang Ade Londok tak tahu menahu apa itu strategi marketing, apa itu konsumen dan lain-lain. Ia hanya tahu, jika odading yang sedang digigitnya itu, terasa nikmat di mulut. Saking enaknya (mungkin karena sedang lapar), saat habis menyantap odading ini, ia merasa bertenaga, sehingga seperti superhero yang bisa terbang, Iron Man.
Mengapa Mang Ade memilih Iron Man, bukan Hulk, Captain Amerika atau Thor? Meski jawaban sebenarnya mungkin hanya Mang Ade dan Tuhan yang tahu, namun menurut saya, Iron Man dipilih, karena diantara superhero lainnya, Iron Man adalah paket komplit. Super kaya, Kuat pula (namanya aja iron artinya besi), tampilan lumayan menarik, cerdas dan sukses. Pokoknya idaman semua orang lah si Iron Man ini....jadi, mungkin itu juga yang membuat Mang Ade Londok mengagumi sosok Iron Man dan akhirnya terlontar celetukan "seperti menjadi Iron Man", saat menyantap Odading Mang oleh ini.
Lantas, mengapa banyak orang yang menyebt gaya promo Mang Ade Londok ini sebagai S3 marketing bahkan S4 Marketing? Mungkin ini hanya jokes karena dengan promo alakadarnya saja Mang Ade Londok berhasil memviralkan Odading sebagai kuliner jajanan khas Bandung yang wajib dicoba. Namun, disisi lain, dengan viralnya gaya marketing Mang Ade Londok ini (sedikit ngegass, tata bahasa berantakan), mampu mengalahkan strategi marketing dari para lulusan sarjana bahkan S2. Selebihnya, peran Dewi Fortuna mungkin yang sedang menaungi Mang Ade Londok di tahun ini, sehingga bisa viral dan terkenal. Bahkan, dinobatkan sebagai Agen Promo Kuliner Khas Bandung, oleh Kang Emil (Gubernur Jabar). Ia pun dihadiahi sebuah smartphone untuk mendukung kegiatan promo dan endorse berbagai produk kuliner setiap harinya di sosial media. Yaa.....penjahit permak ini menemukan jalannya di tahun 2020, disaat orang sedang misuh-musih gegara pandemi.....
Monday, 14 September 2020
Istigfar
Scroll Facebook, tak sengaja dengerin potongan ceramahnya Ust. Adi Hidayat.......
Ia menyampaikan PENTINGNYA Dzikir untuk dibaca dan dilafalkan setiap saat, terutama setelah dua waktu yang penting. Yakni setiap setelah selesai sholat dan sebelum waktu shubuh.
Saya merasa tertampar, Karena seringkali begitu mengucap salam ke kanan dan ke kiri, saya hanya langsung berdo'a dan melepas mukena. Memang terkadang saya menyempatkan diri untuk berdzikir dan sholawat sejenak. Tapi, jika sedang terburu-buru, kadang, saya langsung beranjak. Tapi, menurut Pak Ust. Adi, ini tidak benar. Seburu-buru apa pun kita, selesai sholat, lantunan dzikir tetap harus dilakukan. Apakah itu saat kita langsung berkendaraan ketika akan berangkat kerja, atau beraktivitas lain di dalam atau luar rumah.
Kalimat Dzikir yang paling utama adalah Istigfar. Kalimat Istigfar tak selalu dikaitkan dengan perbuatan dosa, tapi menunjuk ketawaduan yang membacanya, dapat menjadi penenang bagi siapa pun yang mengucapkannya. Ucapannya boleh versi pendek, "Astagfirullah" atau versi lengkap "Astagfirullah Hal'adzim Lailahaillallah huwal hayyulqoyyum waatuubuuilaihi. Antasalam wamin kassalam."
Apa sih keutamaan kalimat Istigfar ini? Pertama, membuat siapa pun yang mengucapkannya akan dilindungi Allah dari perbuatan dosa, keji dan munkar. Kedua, cepat dikabulkan do'anya. Terakhir, membuat hati lebih tenang. Biasakanlah beristigfar setiap saat dalam kondisi apa pun.
Kalimat dzikir lainnya yang harus dilakukan adalah kalimat toyyibah lainnya, Subhanallah, Walhamdulillahirobbil'alamin dan Allahuakbar.....
Sunday, 13 September 2020
Persimpangan Jalan Kehidupan
Detak itu bergulir seakan memburu
Membuatku terpacu meski langkah terasa kaku
Ingin ku berlari kencang menuju senja
Sayangnya aku terikat
Terikat simpul bernama keluarga
Terikat simpul darah yang tak dapat kutinggalkan
Ada kalanya hati terasa kalut untuk memilih
Namun aku harus berlogika
Bahwa tak ada yang dapat kupilih
Yang ada, jika tanganku menggenggam erat di kanan, kiriku akan terluka
Ingin kugenggam erat dua-duanya, tapi hanya sakit yang kurasa
Ataukah harus kulepas saja semuanya?
Lalu, untuk apa semua keringatku selama ini?
Ya Rabb.....picik sekali diriku ini
Berharap yang tinggi, namun tak pernah patuh
Tapi, bukankah itulah manusia?
Selalu merasa kurang dan jelata
Padahal anugerah Tuhan sudah ada menempel di diri kita.
Ya Rabb.....semoga doaku masih pantas untuk Kau dengar
Semoga aku tetap menjadi mahluk yang termasuk pada hamba-Mu
Aamiinnnn.....Ya Rabbal 'Alamin
Wednesday, 9 September 2020
Belajar LURING, Kesempatan atau Ancaman ?
Oke....
Beberapa hari lalu, Kota Bandung kembali kejutkan hasil swab test di kantor Pemkot. 117 orang positif....Whaatttt????? Yup....setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) alias New Normal diberlakukan, anehnya saat ini, kondisi di sejumlah kota termasuk Bandung, seolah-olah sudah dalam keadaan NORMAL....Padahal beda toh....yang namanya new normal itu, tetap dapat beraktivitas keluar rumah, tapi ya protokol kesehatannya tetep dilakukan. Mulai dari memakai masker dan kalo ada sarung tangan, membawa hand sanitizer, bahkan ada jua yang menambahkan face shield, hingga jaga jarak.
![]() |
| all-free-download.com |
Ribet? Iyalah....apalagi saat ini udah masuk musim kemarau. Udara kering, angin kencang, pokoknya bikin tenggorokan sakit. Alat tempur ini rasanya gerah dibadan. Tapi mau gimana lagi, ketentuannya gitu.
Parahnya, ga semua orang mengerti dan menerapkan new normal yang benar. Tengok saja, kerumunan orang masih banyak, kesadaran memakai masker masih kurang, dan lain-lain. jangan heran kali muncul lagi klaster-klaster penyebaran COVID-19 ini. Bahkan DKI Jakarta siap-siap PSBB total lagi, karena khawatir RS kewalahan.
Tapi, dibalik itu, ada bidang yang mungkin butuh penyegaran dari penerapan new normal ini. Ya, ANAK SEKOLAH. Mereka sudah belajar lebih dari enam bulan di rumah! Wuih, kebayang khan anak-anak dari mulai tingkat TK sampe perguruan tinggi, stress-nya kayak gimana? Untuk level menengah hingga perguruan tinggi belajar tatap muka diganti sistem online dengan berbagai aplikasi macam, Google Classroom, Google Meet, Zoom, dan lain-lain. Untuk anak SD ada yang sudah menerapkan Zoom dan Google Classroom, ada pula yang hanya belajar via video di WA.
Nah....mengingat anak-anak, orang tua hingga gurunya sendiri sudah pada pusing dengan sekolah daring melalui aplikasi yang kurang memperlihatkan kemajuan kompetensi siswa, sejumlah sekolah mulai menggagas kegiatan sekolah di luar jaringan (luring) untuk anak-anak. Walaupun, pihak dinas pendidikan masih belum menyetujui hal ini, beberapa sekolah tetap menerapkan luring ini, dengan cara diam-diam dan tidak dilakukan di area sekolah. Guru mendatangi siswa di salah satu rumah siswa dan memberikan pengajaran singkat bagi yang belum mengerti mata pelajaran di buku. kegiatan luring ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti anak-anak harus menggunakan masker, membawa alas duduk dan meja sendiri, serta hand sanitizer. Jumlah satu rombongan belajarnya pun dibatasi untuk setiap luring.
Melihat antusias anak-anak, luring menjadi oase disaat belajar di rumah bikin stress. pelajaran yang kurang dimengerti, cara penyampaian materi oleh orang tua yang selalu menggunakan nada tinggi, atau kebosanan yang melanda, karena setiap hari hanya berkutat dengan rangkuman catatan dan tugas-tugas isian di modul pelajaran. Luring pun menjadi ajang si anak bersua dengan rekan-rekannya di sekolah, meski tidak semuanya. Feel ketika belajar di sekolah bersama Pak Guru atau Bu Guru, kembali terasa setelah enam bulan berlalu.
Namun, sebagai orang tua, kita tetap harus waspada. Ancaman COVID-19 belum usai. Luring bisa menjadi boomerang bagi para siswa, ketika sedikit saja mengabaikan protokol kesehatan. Berkumpul bersama teman-teman saat luring, bisa jadi memiliki kekhawatiran tersendiri, karena tidak tahu lingkungan masing-masing anak di sekitar rumahnya. Apakah mereka sehat semua sepenuhnya? Itu yang harus tetap kita jaga dan waspadai. Untuk itu, peran guru sebagai pembimbing siswa pada saat luring harus tetap ada. Pastikan guru juga harus dalam keadaan sehat, karena kita tidak tahu niat baik para guru untuk memberi pengajaran pada siswa saat luring, memiliki ancaman kesehatan yang mematikan bagi para siswa.
Tetap semangat dan maju terus pendidikan Indonesia. Semoga COVID-19 segera berlalu !
Tuesday, 8 September 2020
S(t)orry Telling
Beberapa hari ini, pikiranku sedikit tegang.....Bukan apa-apa, tapi mungkin karena aku terlalu excited dengan sesuatu.
OK, kita cerita saat aku masih duduk di Kelas 2 SMP. Aku yang cenderung introvert dan pemalu, ternyata terpilih jadi salah satu kandidat Story Teller di sekolahku yang akan diadu hingga tingkat kabupaten. Terbayang donk senangnya???!!
![]() |
| all-free-download.com |
Waktu itu, aku terpilih karena memang kemampuan bahasa Inggrisku agak lumayan dan kata guruku, pronounciation-nya cukup bagus. Aku masih ingat, Dongeng Kelinci dan Buaya yang ditulis dalam Bahasa Inggris, menjadi materi seleksi calon Story Teller di sekolahku. Sepanjang hari aku dan beberapa temanku sibuk berlatih bercerita dalam bahasa Ratu Elisabeth ini, hingga waktu seleksi tiba. Sayangnya, aku ternyata tidak terpilih, karena pengucapanku kurang lantang dan tidak dapat membuat suara yang berbeda antara tokoh kelinci dan buaya.
Waktu itu aku sedih sekali, karena ini pertama kalinya aku ikut lomba dan berharap minimal dapat berlaga dengan anak-anak lain dari luar sekolahku. Aku merasa sudah berusaha keras, menghapalkan dialog-dialognya maupun pengucapannya. Tapi apa boleh buat,demam panggungku lebih kuat. mau tak mau, aku mengalah.
Nah, kembali ke alasan pikiranku yang tegang beberapa hari ini......tiba-tiba aku ditawari untuk menjadi story teller cerita anak-anak yang akan di-upload di platform youtube. Aku sempat ragu, meski di satu sisi sangat senang. Bahkan terlalu senang. meski ini hal baru dalam pekerjaanku, namun story telling bukan hal baru dalam hidupku.
Tapi, tentunya sangat berbeda story telling di masa SMP, dengan tuntutan pekerjaan yang harus aku jalani saat ini. Bahkan, hingga saat ini, aku belum selesai mengerjakan project ini, karena selain deadline-nya yang belum jelas. Aku pun belum mampu menghasilkan rekaman story telling-ku dengan baik, karena masalah teknis.
Jadinya, kegiatan story telling yang ingin sekali aku lakukan, sampai saat ini belum terlaksanakan. Sorry to say.....aku masih terlalu kurang percaya diri dengan kondisiku seperti waktu masih SMP....
Anjaaayyyyy.....
Start goin to be update...hahahaha...
Yup, judul di atas emang lagi hype bangeeettt, akhir-akhir ini.....Setelah seorang youtuber yang tetiba ngebahas kata "Anjay" ini sampai menghadirkan ahli bahasa dan ulama! Ya, hanya untuk menunjukkan kalo kata ini sangat sangat tidak layak digunakan. Padahal, kata anjay ini sudah menjadi salah satu bahasa gaulnya generasi millenial, terutama yang ada di perkotaan....
Bahasa slang ini memang awalnya merupakan plesetan dari kata "anjing" yang sering digunakan sebagai kata umpatan atau makian. Setelah kian populer setelah dibahas si youtuber, kata Anjay ini makin ramai bahkan jadi trending di Twitter. Pro kontra pun terjadi di ranah netizen, bahkan aksi saling sindir pun terjadi hanya karena kata anjay.
Kepopuleran Anajy ini, akhirnya sampai ke telinga Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan membawanya ke DPR, dengan harapan, penggunaan kata anjay yang TUJUANNYA merendahkan martabat orang lain yang diajak bicara, Sampai di level ini pun, pro kontra tetap terjadi, karena kata anjay sendiri memiliki makna yang ambigu. Banyak anak muda mengucapkan anjay sangat jauh dari maksud untuk merendahan martabat orang lain, karena yang diajak bicara adalah sobat akrabnya sendiri.
Melansir Kompas.com, kata anjay yang dapat dipidanakan menurut KPAI adalah jika bermakna untuk merendahkan martabat seseorang. menurut Komnas PA, kata ini termasuk dalam kekerasan verbal dan dapat dipidanakan. namun, diksi yang sama jika digunakan untuk menunjukkan kekaguman, rasa salut, pujian dan sebagainya, maka tidak ada masalah, karena bukan mengandung kekerasan dan tidak berpotensi menimbulkan ketersinggungan, sakit hati atau kerugian.
Tapi, kalau melihat di kalangan millenial sendiri, kata anjay umumnya digunakan sebagai kata slang yang cenderung menunjukkan kekagumn atau hanya bahasa candaan dengan teman sebaya. jadi, jika gegara kata anjay ini, banyak orang dipidanakan, rasanya terlalu berlebihan dan sedikit kurang kerjaan. Jika kaitannya dengan bullying, tinggal dilihat saja konteks kalimat yang dipakai dalam kata anjay atau perasaan dari lawan bicara yang diajak bicara. Sesimple itu.
Meski begitu, banyaknya kata-kata slang dalam bahasa yang digunakan sehari-hari, baik itu kata yang terdengar sederhana hingga yang kasar, dikhawatirkan akan mengikis penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. terlebih di kalangan geenrasi muda, akulturasi dan westernisasi membuat penggunaan berbahasa menjadi rancu hingga tidak tepat. termasuk penggunaan kata anjay ini, atau kata-kata lainnya. Jika sudha begini, tugas kitalah untuk menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu, agar masih dapat dinikmati anak cucu kelak......
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Larangan Penggunaan "Anjay", Reaksi Netizen, dan Kata Ahli Bahasa", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/31/081829965/larangan-penggunaan-anjay-reaksi-netizen-dan-kata-ahli-bahasa?page=all.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3hXWJ0L
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Larangan Penggunaan "Anjay", Reaksi Netizen, dan Kata Ahli Bahasa", Klik untuk baca: https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/31/081829965/larangan-penggunaan-anjay-reaksi-netizen-dan-kata-ahli-bahasa?page=all.
Penulis : Luthfia Ayu Azanella
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat:
Android: https://bit.ly/3g85pkA
iOS: https://apple.co/3h
Thursday, 27 August 2020
Liburan....? Tunggu Dululah!!!!
Bagaimana rasanya saat tak ada uang, tiba-tiba ada yang mengajak berlibur? Rasanya mungkin siapa pun akan mengangguk setuju tanpa berpikir dua kali. Tapi, anehnya, saya malah merasa kesal, sedikit marah dan merasa orang tersebut tidak mengerti situasi. Tapi percuma juga untuk memberi tahu. Paling disebutnya, "Ga punya duit aja bangga, woro-woro". Atau, "Salah sendiri ga mau nabung!".
Yaa...setiap ornag punya masalah yang tak akan dipahami orang lain. Karakter orang Indonesia, kalau tidak mengasihani, paling juga nyinyir atau julid (judes lidah) dan menyalahkan. Wajar sih, karena simpati dan empati menjadi barang langka di sini. Seringnya, orang akan lebih merasa senang jika melihat orang lain susah atau sebaliknya.
OK, kembali pada ajakan liburan tadi disaat saya pegang uang, bagi saya sedikit menghina. Apalagi ini tanggal tua, dimana saya belum mendapat gaji. Tapi, ya itu dia, namanya orang tak sama. Atau, mungkin saja ia bermaksud baik dan sungguh-sungguh mengajak. Tapi tetap saja, saya merasa di-PHP-in. Kadang saya berpikkir dan ingin sekali berucap, silakan kalau mau pergi berlibur, tapi mohon tanyakan dulu bersedia atau tidak, apa alasannya, dan jangan koar-koar dululah. Kesannya kamseupay dech kalau kata orang gaul mah, alias kampungan...Mo liburan koq woro-woro, keliatan banget kan jarang liburan atau malah kayak yang ga pernah liburan ajah!....Sebel dech.
Kesalnya lagi, orang terdekat kita mbok yaa, dikasih pengertian itu sadar diri dengan kondisi yang sedang dihadapi. Eehhh....ini malah podo wae, pake bilang kasian anaklah kalo ga ikut.....Ga nyadar kondisi lagi sulit begini, belum lagi ancaman COVID-19 yang masih tinggi. Urgensi liburan ini snagat tidak masuk akal. Jika alasannya sudah stress sudah terlalu lama di rumah, helloooowwww....bukannya sebelumnya sudah pernah jalan-jalan menengok besan dan anak cucu menantu?
Aaahhh...tapi ya sudahlah, saya pusing kalau memikirkan hal yang tidak penting ini. kepala tambah mumet, tapi juga tak ada gunanya. saya mau memikirkan hal yang lebih penting untuk saya dan keluarga kecil saya saat ini. RUMAH TINGGAL.....Bagaimana caranya rumah yang sudah saya cicil susah payah, bisa segera ditempati dan layak dengan ketersediaan air yang layak pakai. Itu saja!!!!!
Wednesday, 15 July 2020
Sekolah Daring, Emak yang Pusing
Sayangnya, karena si COVID-19 belum juga hilang, dengan berat hati sebagian besar (atau semuanya untuk zona merah), kegiatan sekolah dilakukan kembali dari rumah alias sekolah daring. bermacam-macam caraya, tergantung usia anak sekolah dan kondisi orang tua tentunya. Ada yang sekolah daring hanya menyimak pelajaran dari TVRI, ada yang ditambah dengan tatap muka secara virtual via aplikasi Google Classroom, Zoom Meeting hingga video call WhatApps. Bahkan, setiap sekolah memiliki kebijakan berbeda terkait pelaksanaan sekolah daring ini. Ada pula tambahan tugas lain di setiap harinya yang berasal dari sekolah dan harus dikerjakan siswa.
![]() |
| sxc.hu |
Tuesday, 30 June 2020
Compassion & Computational Thinking (Part II)
![]() |
| all-free-download |
I LOVE Tay-Tay
Thursday, 27 February 2020
Jepun, I Love U !!!
![]() |
| id.wikihow.com |
Wednesday, 26 February 2020
Compassion & Computational Thinking (Part 1)
![]() |
| sxc.hu |
Monday, 17 February 2020
Mooi Bandung
![]() |
| https://banyuwangi-airport.co.id/userdata/news/ads59a59908b34fb.jpg |














